
“Hmm ... Santi, kapan Pak Rudi ke Jakarta? Atau kita ke Surabaya saja untuk lamarannya?” tanya Dani.
“Nanti aku telp papa untuk ke sini saja, kasian nanti kalau keluarga pak Reigha ke Surabaya ‘kan istrinya lagi hamil,” jawab Santi.
“Terima kasih ya, San, betapa bahagianya aku dan keluarga karena kamu bisa cepat sembuh dan bisa melupakan Kak Reigha,” ucap Anna terharu memeluk Santi.
“Aku yang harusnya terima kasih, Na. Aku gak enak hati sempat membuat onar keluarga pak Reigha, sampai-sampai ninggalin istrinya lama. Padahal pak Reigha baik, dia yang nolong aku saat itu,” balas Santi.
“Udah nangisnya, gak usah diingat-ingat lagi yang udah lalu mending kita jalan-jalan,” kata Dani.
“Kalian aja ya, aku mau pulang dulu. Gak sabar mau sampaikan kabar bahagia ini,” ucap Anna.
“Saya antar dulu, Bu. Setelah itu kami izin jalan-jalan,” balas Dani.
“Gak usah, aku naik taksi online aja. Kalian pergi saja jalan-jalan,” tolak Anna.
“Tapi, Bu. Nanti Pak Bay—”
“Udahlah, biar aku yang menghadapinya. Aku pergi dulu ya. Da!” seru Anna melambaikan tangan.
Sementara di rumah, Reigha yang belum tau kalau Santi udah gak mengharapkan lagi, Reigha memberanikan diri untuk bercerita ke Shafa. Karena, Reigha gak mau kalau Shafa sampai tau dari orang lain.
“Hmm, sayang ... boleh Mas bicara sebentar?” ucap Reigha mendekati Shafa yang tengah mengambil air minum di dapur.
“Mau bicara apa, Mas, kok mukanya serius gitu?” tanya Shafa.
“Ini memang serius, Sayang. Dan, maaf Mas baru bisa cerita sekarang, karena kemarin-kemarin ‘kan kamu lagi sakit. Jadi, beban rasanya kalau Mas belum cerita ke kamu,” jawab Reigha.
Shafa pun segera duduk di sofa samping Reigha dan menggenggam tangan Reigha.
“Oke. Shafa udah siap, silakan kalau Mas mau cerita. InsyaaAllah Shafa kuat mendengarkannya,” ucap Shafa menatap netra Reigha yang seakan ragu-ragu menceritakan hal ini.
“Hmm ... jadi gini, sebenarnya waktu di Surabaya kemarin ... ”
Reigha menjeda ucapannya, dia sangat takut kalau Shafa akan marah padanya.
“Katakan, Mas. Jangan buat Shafa penasaran,” ujar Shafa.
“Waktu di Surabaya, Mas nolong wanita yang mau bunuh diri. Wanita itu ditinggal kekasihnya dalam keadaan hamil,” Reigha pun menceritakan secara jujur tanpa ada yg di tutup-tutupi.
Shafa yang mendengarkan pun menitikan air mata.
“Gitu ceritanya, Sayang, kalau Mas tau nolongin wanita itu dan minta dinikahin, mending Mas gak nolongin aja. Mas gak ingin menduakan kamu. Tapi, semua udah terjadi,” ucap Reigha mengakhiri ceritanya, dan menunduk.
“Jadi sekarang gimana kabar wanita itu?” tanya Shafa dengan bibir yang tampak bergetar sambil menangis.
“Setelah Mas pulang ke Jakarta, Mas gak pernah tau dan gak mau tau kabar dia. Mas nyuruh Bayu untuk mencarikan rumah dia, dan Bayu juga yang mengurusnya. Kata Bayu sih, Anna ikut merawatnya dibantu dengan Dani,” jawab Reigha jujur.
__ADS_1
Shafa terus menangis. Jujur, Shafa gak rela kalau harus berbagi suami. Tapi, dia adalah tipe orang yang gak tegaan. Shafa gak tega dengan Santi yang depresi.
Shafa pun pergi ke kamar meninggalkan Reigha yang masih duduk di sofa.
“Sayang, sayang mas minta maaf!” seru Reigha menyusul langkah Shafa.
“Biarkan Shafa sendiri dulu, Mas, tolong jangan ganggu Shafa dulu,” ucap Shafa masuk ke dalam kamar.
“Sayang, maafkan Mas,” ucap Reigha yang tak didengarkan oleh Shafa.
Reigha pun memberikan ruang untuk Shafa menenangkan diri, Reigha menunggu Shafa di ruang kerja, segera dia menelepon Bayu.
“Assalamualaikum, Bay, lo ada meeting gak hari ini?” tanya Reigha saat panggilan sudah terhubung.
“Wa’alaikumsalam, Gha. Iya ini bentar lagi gue meeting, ada apa?” balas Bayu bertanya kembali.
“Bay, tadi gue cerita ke Shafa masalah Santi. Dan, Shafa syok, Bay. Gue mau minta tolong Anna suruh temenin Shafa, Anna dimana?”
“Oh ... iya, nanti gue suruh Anna pulang. Tindakan lo udah bener dengan cerita ke Shafa. Daripada Shafa tau dari orang lain. Jadi, beri Shafa waktu untuk mencerna ucapan lo tadi, Gha,” titah Bayu.
Mereka mengobrol hal penting, setelah itu Reigha menutup telponnya.
Setelah itu, Bayu segera menelepon Anna.
“Assalamualaikum, Sayang, kamu masih di rumah Santi?” tanya Bayu.
“Loh, kok gak sama Dani? Kemana dia?” balas Bayu bertanya dengan raut wajah khawatir.
“Oh ... itu Dani sama Santi lagi jalan-jalan. Nanti sampai kantor Anna ceritakan ke Abang,” ucap Anna. Lalu, telpon pun berakhir.
Bayu pun menunda meetingnya 30 menit karna harus menunggu Anna terlebih dahulu. Saat Bayu menunggu Anna, ada suara ketukan pintu, Bayu yang mengira itu Anna segera menyuruh masuk.
“Masuk saja, Sayang, tumben ngetuk pintu,” ucap Bayu tanpa melihat siapa yang datang karena bayu masih sibuk mengecek berkas untuk meeting nanti.
“Bay, udah lama gak ketemu, lo manggil gue sayang? Gak salah denger ‘kan gue?” tanya Ivanka yang tiba-tiba datang.
“Ngapain lo kesini?”
“Gue tadi ke ruangan pak Reigha. Tapi, kata sekretarisnya, Pak Reigha gak masuk dan gue disuruh ke ruangan lo, ya gue nurut aja lah,” jawab Ivanka membuat Bayu merotasikan bola matanya malas.
“Oh iya, Bay, maaf gue waktu itu gak bisa hadir di pernikahan lo,” lanjut Ivanka.
“Gapapa. Gue kan juga gak ngundang lo,” balas Bayu.
“Bay, gue mau ngajak lo makan siang, kita pergi sekarang ya. masalah kerjaan gue atur lagi nanti,” ujar Ivanka.
“Sory, gak bisa. Gue sibuk, ada meeting sebentar lagi.”
__ADS_1
“Ayolah, Bay. Kalau lo gak mau, gue akan nungguin lo di sini!” seru Ivanka yang tidak diperdulikan oleh Bayu.
Dan Anna yang mendengar ada suara Ivanka di luar langsung masuk aja tanpa permisi atau mengetuk pintu.
“Hai, Suamiku sayang, maaf ya tadi macet jadi baru sampai,” ucap Anna membuka pintu ruangan Bayu.
“Iya, gapapa, Istriku. Gimana tadi ceritanya? Duduk sini,” balas Bayu sambil menyuruh Anna duduk di pahanya.
“Eh, kalian ngapain seperti itu? Ini di kantor, gak sopan banget ya itu asisten kamu, Bay, mau-mau aja duduk di atas paha kamu. Menjijikkan!” protes Ivanka dengan raut wajah geram pada Anna.
“Eh, ada tamu ya, maaf tadi saya gak tau. Sayang, kok gak bilang kalau ada orang lain di ruangan ini?” ucap Anna dengan manjanya.
“Biarin aja, Sayang, tamu gak diundang. Dan, tolong yang sopan sama istri saya ya, Ibu Ivanka,” ucap Bayu dengan menekankan kata istri pada ucapannya.
“Istri? Jadi, kalian udah menikah? Kok bisa?” tanya Ivanka, bingung.
“Bukannya tadi lo bilang sendiri minta maaf gak bisa hadir di pernikahan gue, trus ngapain lo bingung gitu. Kan, gue memang nikahnya sama Anna,” jawab Bayu.
“Oh, gue tau. Lo kaget ya karena rencana lo gagal?” lanjut Bayu tersenyum sinis.
“Maksudnya apa, Bay, rencana apa? Gue gak ngerencanain apa-apa,” elak Ivanka.
“Gue masih berbaik hati gak ngelaporin lo ke polisi ya. Sekali lagi lo buat yang enggak-enggak sama gue dan istri gue. Ingat, gue gak akan tinggal diam. Camkan itu. Sekarang silakan keluar dari ruangan gue!” seru Bayu mengusir Ivanka.
“Tapi, Bay, gue enggak — ” Belum sempat Ivanka selesai bicara, udah dibentuk oleh Bayu.
“Keluar!” teriak Bayu.
Ivanka pun segera keluar dan pergi meninggalkan ruangan bayu dengan menghentakkan kakinya, emosi. Karena, ternyata selama ini rencananya gagal.
“Abang, jangan marah seperti itu, Anna baru tau kalau Abang marah, serem,” ujar Anna membuat Bayu menoleh, kemudian menetralkan napasnya.
“Serem? Masa iya ... kalau Abang giniin serem juga nggak?” tanya Bayu sambil menciumi seluruh wajah dan leher Anna.
“Abang ... ih. Geli, Abang ... udah-udah, Abang. Abang, ini di kantor lho,” ucap Anna sambil berusaha melepaskan diri dari Bayu.
“Abang ah, berantakan ‘kan Anna jadinya,” gerutu Anna sambil mencurutkan bibirnya.
“Kamu sih, Sayang. Gemesin banget. Tuh kan, jadi pengen, Sayang,” celetuk Bayu dengan muka mesumnya.
“Abang, ingat ini di kantor, Anna gak mau, ya!” seru Anna.
Bayu segera berdiri mengunci pintu dan segera membopong tubuh Anna masuk ke ruang istirahat Bayu.
Anna pun berteriak, “Abang, Anna gak mau sekarang, nanti aja di rumah!”
“Diamlah, Sayang. Jangan menolak, dosa tau, kalau g cepat tersalurkan nanti Abang pusing gak konsen meetingnya.”
__ADS_1