Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 8 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Kalau harus ikut kita ke rumah. Syaratnya satu. Suster Shafa dan Reigha harus resmi menikah,” ucap Papa Harun membuat Mama Dhiya, Bayu, Reigha, dan suster Shafa kaget menatap serius pada Papa Harun.


“Pa, gak bisa gitu dong!” seru Mama Dhiya.


“Ma, Reigha dan suster Shafa itu bukan mahram. Jadi, kalau memang mengharuskan suster Shafa yang merawat, setidaknya mereka berdua harus menikah.” Putus Papa Harun berlalu keluar dari ruangan karena ada kerjaan pagi ini.


“Suster Shafa, Reigha ... Mama mau jika memang kalian berdua harus menikah, cukup menikah kontrak saja. Gak perlu sampai menikah betulan. Karena kalian menikah tidak ada dasar cinta, tetapi paksaan dari keadaan,” ucap Mama Dhiya.


“Tante, walau nikah kontrak ‘kan harus ada ijab qabulnya,” sambar Bayu.


“Iya, mereka tetap akad. Emang sah menikah. Tapi, didasari oleh perjanjian. Suster Shafa menjadi istri Reigha sampai Reigha sembuh. Setelah itu, boleh cerai,” balas Mama Dhiya.


“Tapi, itu haram, Tante ... kalau Om tau bisa bahaya,” ucap Bayu mengingatkan.


“Selama gak mau kasih tau, Om gak akan tau, Bayu!” seru Mama Dhiya.


“Bu, kalau gak perlu menikah apa gak boleh?” tanya suster Shafa.


“Bukankah ini termasuk suatu bentuk pertanggung jawaban kamu? Atau bapak kamu aja yang tanggung jawab?” balas Mama Dhiya dengan pertanyaannya.


Suster Shafa hanya diam. Jika dia melawan dan menolak, pasti keluarganya yang akan kena.


“Bayu, Tante mau kamu mempersiapkan kepulangan Reigha dan pernikahan Reigha dan suster Shafa. Jadi, sampai rumah, mereka berdua langsung akad. Cukup akad aja, karena Reigha dalam keadaan sakit.” Mama Dhiya berlalu pergi keluar ruangan. Mengurus baju yang harus dipakai oleh suster Shafa saat akad nanti.


“Pak Bayu, apa bapak bisa bantu saya untuk tidak menikah?” tanya suster Shafa dengan tatapan memohon.


“Maaf, Sus. Saya gak bisa,” jawab Bayu seraya berjalan mendekat pada Reigha. Memberikan ponselnya. Sementara suster Shafa menghempaskan dirinya di sofa. Seakan tak tau harus bagaimana.


“Bayu, kalau aku nikah, Binar gimana? Dan, kasihan suster Shafa. Dia gak salah,” ketik Reigha pada ponsel Bayu.


“Gue juga gak tau, Gha. Yang jelas, lo udah gak ada hubungan lagi sama Binar, mau gak mau lo harus nikah atau lo harus mengurus diri lo sendiri, Gha.” Bayu berbisik pada Reigha sembari duduk di samping brankar.


“Hari ini kayaknya spesial banget, ya, Pak. Kabar baik dan kabar buruk datang bersamaan. Kabar baiknya, Pak Reigha sudah diperbolehkan pulang. Kabar buruknya, Saya harus menikah sama Pak Reigha,” lirih suster Shafa mengobrol pada Bayu.


“Sabar, ya, Sus. Saya tau suster bisa melewati hal ini. Saya akan selalu datang ke rumah memastikan suster baik-baik aja. Tapi, saya mau minta tolong deh, Sus,” balas Bayu.


“Apa, Pak?” tanya suster Shafa.

__ADS_1


“Tolong, dekatkan saya sama suster Anna,” jawab Bayu seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“Saya usahakan,” balas suster Shafa membuat Bayu tersenyum senang.


“Gha, sampai rumah, gue belikan lo hp baru. Setidaknya buat lo chat gue aja. Jadi, gue bisa tau lo ngomong apa,” ucap Bayu yang diangguki oleh Reigha.


Bayu membereskan laptopnya seraya berkata, “Gha, Sus, saya pamit harus ke kantor karena ada kerjaan.”


Kepergian Bayu membuat suasana menjadi canggung. Suster Shafa seakan tak berani berbicara.


Mama Dhiya tiba-tiba kembali hadir di ruangan Reigha dengan membawa tiga helai baju kebaya seraya berkata, “Suster Shafa, coba kamu coba tiga kebaya ini, pilih aja mana yang suster suka.”


“Baik, Bu.” Suster Shafa menerima tiga helai kebaya dan berjalan menuju kamar mandi.


Di kamar mandi, suster Shafa memperhatikan ketiganya, yang menarik perhatian adalah yang sebelah kanan. Tampak elegan dan tidak terlalu ramai pernak-perniknya.


Suster Shafa pun keluar memperlihatkan pada Mama Dhiya. Sungguh Mama Dhiya saja terpesona, apalagi Reigha. Tanpa olesan make up saja sudah cantik, apalagi memakainya nanti.


“Bu, jika hanya akad, kenapa harus mengadakan acara dan mengundang tamu?” tanya suster Shafa.


“Iya dong, apa kata Papa nanti kalau tak dibuat begini,” jawab Mama Dhiya membuat suster Shafa mengangguk paham.


****


Suster Shafa masuk ke dalam rumah dan kaget melihat kedua orang tuanya dan adiknya telah siap dengan baju dan make up yang mereka kenakan.


“Kak, yakin mau nikah?” tanya Anggi memastikan.


“Iya, Dek.” Shafa menyalimi kedua orang tuanya dan berlalu masuk ke dalam kamar untuk mempersiapkan diri.


Sementara Bayu yang menunggu di ruang tamu pun kini tengah mengobrol bersama orang tua suster Shafa.


Saat di kamar, suster Shafa melihat sahabatnya ada di kamarnya.


“Anna!” seru Shafa memeluk erat.


“Lo ini ... dah mau nikah aja,” ucap Anna.

__ADS_1


“Gue mau nolak, tapi gimana,” balas Shafa dengan raut wajah bingung.


“Udah, gue udah tau kok .... sekarang, jalani aja. Pasti lo bisa,” ujar Anna memberi semangat.


Shafa pun kini tengah dimake up, sementara Anna menemani sambil mengobrol. Sesekali pun mengganggu Shafa si calon manten ini.


“Fa, kalau aku buat cerita .... kayaknya judulnya gini deh, ‘Pasienku menjadi Suamiku’ yakan?” ucap Anna sembari tertawa.


“Mbak, kayaknya itu gak cocok deh judulnya. Mending ‘Menikahi Susterku’ cocok ya?” sambar mbak MUA yang ternyata nyambung dengan obrolan kedua sahabat itu.


“Ih bener, cocok tuh. Kayak judul novel deh jadinya,” celetuk Anna membuat Shafa mencurutkan bibirnya.


Belum lama, Anna kembali bersuara, “Nyonya Reigha gak boleh sedih. Harus senyum!” seru Anna membuat Shafa tersipu.


“Diam deh lo!” Jantung Shafa mulai tak karuan saat Anna menyebut nama Reigha. Seakan tak percaya, tapi ini kenyataannya. Shafa akan segera menikah.


****


Saat semua sudah siap, Anna membantu Shafa untuk berjalan ke ruang tamu. Semua menatap Shafa tanpa berkedip, kecuali Bayu yang malah menatap pada Anna.


“Ayo berangkat!” seru Anna semakin membuat Shafa tak karuan.


“Pak, saya boleh minta nama lengkap suster Shafa dan nama lengkap Bapak, karena ‘kan Reigha gak bisa ngomong. Jadi, akad nikah saya yang mewakilinya,” ucap Bayu membuat Pak Reynand memahami keadaan Reigha.


Anggi menuliskan nama lengkap sang kakak dan sang Ayah di atas kertas putih, kemudian menyerahkannya pada Bayu.


“Maaf, karena Ayah kamu jadi menerima semua ini, Fa. Dan, maafkan saya, Pak Bayu, karena saya Pak Reigha jadi seperti ini,” ucap Ayah Reynand tampak penuh penyesalan.


“Udah, Pak. Jangan dipikirkan lagi, ayo segera kita berangkat,” ajak Bayu.


Sesampainya di rumah kediaman Papa Harun, mereka semua masuk kecuali Shafa yang masih ditahan di dalam mobil bersama Anggi dan juga Anna.


“Demi apapun, gue gak bisa berhenti deg-deg nih,” ucap Shafa.


“Udah, tenang dulu. Setidaknya sampai ijab qabul selesai, kita makan,” balas Anna membuat Shafa tertawa walau hatinya dag dig dug tak karuan.


Semua sudah tampak berkumpul di ruang keluarga yang sudah didekorasi sebegitu rupa menjadi sangat indah. Reigha hanya bisa duduk di kursi roda dengan tatapan menatap Bayu yang tengah berhadapan dengan penghulu.

__ADS_1


“Baik, dikarenakan mempelai pria sedang stroke, sekarang siapa yang mewakili mempelai pria untuk ijab qabul?” tanya penghulu.


__ADS_2