Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 73 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Dani asisten papa?” tanya Reigha.


“Iya, Gha. Gimana? Kamu mau gak?”


“Kebetulan sekali, Pa. Reigha tadi nyuruh HRD buka lowongan untuk asisten pribadi. Kalau gitu, Reigha telpon Puspa untuk batalin ke HRD,” balas Reigha segera menelepon Puspa.


Setelah berbincang dengan Puspa melalui telpon, Reigha kembali mengobrol bersama Papa Harun.


“Oke ... udah, Pa. Besok Dani langsung suruh ke kantor aja ya, Pa,” ujar Reigha.


“Baiklah. Makasih ya, Nak, Papa senang cara kerja Dani, sangat bertanggung jawab dan bisa diandalkan!” seru Papa Harun.


“Iya, Pa. Reigha kan juga udah kenal sama Dani. Tentu Reigha tau banget siapa Dani yang gak pernah neko-neko dan setia, Pa,” imbuh Reigha.


“Baiklah, Gha. Ini udah malam, Papa ke kamar dulu,” ucap Papa Harun berdiri.


Reigha juga segera berdiri dan masuk ke kamar.


Di dalam kamar, ternyata Shafa udah tidur. Shafa tampak begitu kecapean.


Reigha naik ke atas tempat tidur, memiringkan badannya menatap wajah cantik istrinya.


“Sayang, aku janji gak akan menduakan kamu. Apapun itu masalah yang akan terjadi pada keluarga kecil kita, aku akan selalu bersamamu, menjadi suaminu,” ucap Reigha lirih sembari merapikan rambut Shafa yang menutupi wajah istrinya itu.


Setelah itu, Reigha tidur memeluk Shafa.


Hari-hari sebelum keberangkatan Reigha, dia dan istrinya selalu bersama ke kantor dan pulang bersamaan. Bagaikan lem dan perangko.


Tak disangka, ternyata besok adalah hari dimana Reigha harus seger pergi ke Surabaya. Namun, kesehatan Shafa bagaikan tak memungkinkan untuk ikut Reigha ke Surabaya.


Kesehatan Shafa yang terus melemah, membuat Reigha mengambil penerbangan siang, karena sejak kemarin Shafa merasakan badannya gak enak, Shafa terus rebahan, jika bangun dari tidurnya, Shafa malah merasakan kepalanya pusing.


“Sayang, gimana kalau kita periksa aja ya? Biar kita tau kamu kenapa,” titah Reigha yang kembali mendapat gelengan dari Shafa.


“Mas, Shafa cuma masuk angin aja kok, gak usah ke dokter,” balas Shafa.


“Yaudah deh. Tapi, kamu gak usah ikut ke surabaya ya, Sayang, di rumah aja istirahat,” ujar Reigha membuat Shafa menoleh dan menatapnya serius.


“Jangan dong, Mas. Shafa ‘kan mau ikut, Shafa pengen jalan-jalan, Mas,” rengek Shafa.


“Emangnya kamu kuat? Kamu pucat loh, Sayang. Udahlah, jangan ngebantah, sekarang kita ke rumah sakit!” seru Reigha segera mengangkat Shafa dalam dekapannya.


Reigha menggendong Shafa keluar dari kamar dan segera berjalan menuju mobil.


Sebenarnya Shafa menolak, tapi dia merasa badannya lemas tidak bertenaga. Akhirnya, dia pun tak menolak di gendong suaminya.


Mama Dhiya yang melihat memantunya digendong pun langsung berlari kecil dan bertanya, “Eh, menantu Mama kenapa, Gha? Katanya kalian mau berangkat ke Surabaya, gak jadi?”


“Shafa sakit, Ma. Ini mau Reigha bawa dulu ke rumah sakit sebelum ke Surabaya,” jawab Reigha.


“Shafa sakit? Yaudah Mama ikut!” seru Mama yang khawatir dengan Shafa.


Mama Dhiya pun segera mengambil tas di kamar dan segera menyusul Reigha ke depan.

__ADS_1


Mbok Nah yang tadinya di dapur, kini pun berada di ruang tamu menatap khawatir pada majikannya.


“Mbok, tolong jaga rumah ya, saya dan Reigha mau antar Shafa ke rumah sakit,” ujar Mama Dhiya.


“Baik, nyonya. Hati-hati.” Mbok Nah segera menutup pintu rumah dan kembali ke dapur mengerjakan tugasnya.


Reigha melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit dengan perasaan khawatir memikirkan keadaan istrinya.


Sesampainya di rumah sakit, Reigha langsung membawa Shafa ke IGD.


“Lho, ini ‘kan Shafa. Apa yang terjadi, Pak?” tanya Dokter Ridwan yang berjaga di IGD ternyata masih mengingat Shafa selaku suster yang dulu bekerja di rumah sakit ini.


“Ini, Dok. Udah dua hari, istri saya merasakan badannya lemas dan pusing,” jawab Reigha.


“Silakan bapak keluar dulu, saya akan memeriksa istri bapak,” titah Dokter Ridwan, diangguki oleh Reigha.


Reigha keluar dan mendudukkan diri di samping Mama Dhiya.


“Ma, apa Reigha cancel aja ya keberangkatan Reigha ke Surabaya?” tanya Reigha cemas.


“Kita lihat dulu Shafa sakit apa, Gha. Barulah nanti kita bisa memutuskan,” jawab Mama Dhiya.


Lima belas menit kemudian, dokter memanggil Reigha sebagai suami Shafa.


Reigha segera masuk ke dalam dengan perasaan takut jika terjadi sesuatu pada istrinya.


“Bagaimana, Dok. Istri saya sakit apa?” tanya Reigha.


“Benarkah, Dok?” tanya Reigha terharu sambil menggenggam erat tangan Shafa.


“Benar, Pak. Untuk memastikannya, silakan bapak langsung ke poli kandungan ya,” jawab dokter Ridwan.


“Baik, Dok. Terima kasih banyak!” seru Reigha.


“Sayang, kamu di sini sebentar ya, Mas daftar ke poli kandungan dulu, kamu di temani Mama ya, Sayang,” titah Reigha.


“Iya, Mas. Mama tolong suruh masuk ya, Mas.”


Reigha pun mengangguk dan segera keluar.


Di luar, Mama Dhiya udah gak sabar ingin tau keadaan menantunya.


“Gimana, Gha, Shafa sakit apa?” tanya Mama Dhiya.


“Ma ... ”


Reigha yang ditanya bukannya menjawab malah langsung menangis memeluk sang Mama.


“Katakan, Gha. Shafa sakit apa? Menantu Mama kenapa, Gha? Jangan buat mama takut,” ucap Mama Dhiya.


“Shafa ... Shafa kemungkinan hamil, Ma,” balas Reigha bahagia.


“Alhamdulillah ... akhirnya Mama akan mempunyai cucu, Gha.” Mama Shiya pun ikut menangis haru.

__ADS_1


“Ma, Mama bisa temani Shafa sebentar, Ma? Reigha mau daftarin Shafa ke poli kandungan.”


“Iya, Nak. Pasti Mama temani, cepet sana!” seru Mama Dhiya segera masuk ke dalam menemui Shafa dan memeluk erat menantu kesayangannya itu.


“Fa, selamat ya sayang, kamu hamil,” ucap Mama Dhiya berhambur memeluk Shafa.


“Iya, Ma. Alhamdulillah Mama akan punya cucu, Ma,” balas Shafa tersenyum haru.


“Iya, Sayang, jaga baik-baik cucu Mama ya, Fa,” titah Mama Dhiya sambil mengelus perut Shafa yang masih tampak rata.


“InsyaaAllah, Ma. Shafa akan selalu hati-hati dan menjaga cucu Mama sebaik mungkin.”


Tak lama, Reigha masuk membawa kursi roda, Shafa heran melihat suaminya itu.


“Kok bawa kursi roda, untuk siapa, Gha?” tanya Mama Dhiya.


“Buat Shafa, Ma,” jawab Reigha segera mengangkat Shafa untuk didudukan di kursi roda.


“Mas, Shafa hamil bukan sakit dan gak bisa jalan, Mas,” lirih Shafa yang protes malu dilihat oleh dokter Ridwan.


“Sayang, kamu cukup duduk diam dan nurut, ya. Ini demi kebaikan anak kita,” balas Reigha lembut pada Shafa.


Setelah pamit pada dokter Ridwan, Reigha segera membawa Shafa menuju ruangan poli kandungan.


Sampai di sana, antrean masih dua orang lagi. Reigha duduk sambil mengelus perut shafa. Reigha tak henti-hentinya mengucapkan syukur.


Tiba giliran nama Shafa di panggil, Reigha mendorong kursi roda Shafa masuk ke dalam diikuti oleh Mama Dhiya yang tak sabar melihat kondisi cucunya di dalam perut Shafa.


“Selamat pagi, Pak. Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Dokter Amanda.


“Begini, Dokter, tadi kami dari IGD dan dokter Ridwan bilang kalau kemungkinan istri saya hamil,” jawab Reigha menjelaskan.


“Baiklah, Pak. Silakan istri bapak dibaringkan di brankar dulu ya, Pak.”


Reigha langsung menggendong Shafa dan membaringkan di brankar sesuai dengan apa yang dokter Amanda ucapkan.


Dokter di bantu perawat segera melakukan tugasnya.


“Kalau boleh saya tahu, kapan terakhir datang bulan ya, Bu?” tanya dokter Amanda.


“Kira-kira satu bulan yang lalu, Dok,” jawab Shafa.


“Baiklah, kita lihat di monitor ya, Pak, Bu,” titah Dokter membuat netra Mama Dhiya, Reigha, juga Shafa fokus menatap monitor.


Perawat segera menaikkan baju Shafa dan menuangkan gel pada perut Shafa. Dan disitulah Mama Dhiya, Reigha, dan Shafa tak lepas pandangan dari monitor.


Dokter segera menggerakkan alat yang udah ada di tangannya di atas perut shafa.


“Bapak dan Ibu bisa melihat yang di layar itu,” ucap dokter sambil menunjuk ke layar.


Reigha, Shafa dan Mama Dhiya mengangguk.


“Kok itu ada dua kantong ya, Dok? Apa berarti menantu saya hamil anak kembar?” tanya Mama Dhiya.

__ADS_1


__ADS_2