Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 125 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Masuk yuk kita ngobrol di dalam!” ajak Shafa diangguki oleh mereka berdua.


Saat mereka hendak masuk, tiba-tiba ada tamu yang datang.


“Assalamu’alaikum,” salam Mutia, mama dari Ivanka sekaligus teman mama Dhiya.


“Wa'alaikumussalam, temannya mama ya, Tante?” tanya Shafa menghampiri Mutia.


“Iya, kamu siapa ya?” tanya Mutia dengan angkuhnya.


“Saya Shafa, Bu, istrinya mas Reigha anak pertama mama Dhiya,” jawab Shafa.


“Oh, iya. Kenalkan saya Mutia, temannya mama mertua kamu,” balas Mutia memperkenalkan diri.


“Silahkan masuk, Tante. Tapi maaf, Tante ... mama lagi istirahat,” ucap Shafa sopan.


“Oh, iya gapapa. Ini siapa?” tanya Mutia yang netranya beralih menatap pada Zhafira dan Santi.


“Yang ini namanya Zhafira, Tante. Dia istrinya temannya mas Reigha, dan yang ini namanya Santi, istrinya asistennya mas Reigha,” jawab Shafa.


Dan tak lama kemudian, ibu Khalisa membawakan minuman untuk Mutia. Setelah itu, ibu Khalisa kembali ke dapur membantu mbok Nah untuk acara tahlilan nanti malam. Sedangkan Anna menemani mama Dhiya di kamar.


Tak berapa lama, Mutia pun pamit pulang. Setelah Mutia pulang, tak lama kemudian semua yang mengantar jenazah papa Harun ke pemakaman udah pulang. Reigha, bayu, Afkar, Dani juga ayah Reynand satu mobil dan mereka pun sampai duluan.


Mereka pun segera masuk rumah. Tak lama, Afkar dan istri, juga Dani dan istri pun segera pamit pulang.


“Bro, gue pamit pulang ya,” kata Afkar berpamitan.


“Iya, Bro. Makasih, ya, tapi nanti acara tahlilan jangan lupa datang,” balas Reigha.


“Siap, insyaaAllah kami datang,” ucap Afkar.


Setelah Afkar dan Zhafira pamit, giliran Dani dan Santi juga pamit pulang.


“Pak Reigha, pak Bayu kami pulang dulu ya,” ucap Dani.


“Iya. Makasih ya, Dan, nanti jangan lupa kesini lagi,” titah Reigha.


“InsyaaAllah, Pak.”.


Dan mereka pun pulang ke rumah. Setelah mereka keluar dari halaman rumah, Reigha dan Shafa pun masuk ke dalam. Bayu yang duluan masuk pun langsung ke kamar mama Dhiya.


Bayu melihat Anna menunggui mama Dhiya dan segera mengajaknya keluar.


“Sayang, keluar yuk, kamu makan dulu!” seru Bayu.


“Nanti aja, Bang, Anna masih belum lapar,” balas Anna.


“Sayang, jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi, kamu mengabaikan kesehatan, dan kita hampir kehilangan anak kita,” titah Bayu.

__ADS_1


Dan akhirnya Anna pun menurut.


Sementara di kamar Reigha, Reigha yang dari tadi menahan untuk kuat, sesampainya di kamar Reigha pun menangis.


Shafa yang baru masuk pun kaget melihat Reigha.


“Mas, kenapa? Kok nangis?” tanya Shafa.


Reigha pun memeluk Shafa erat dan berkata, “Biarkan seperti ini dulu, Sayang.”


Shafa pun membiarkan Reigha yang menangis di pelukannya.


Setelah lima belas menit berlalu, Reigha akhirnya berhenti nangis dan melonggarkan pelukannya.


“Mas, aku tau mas sangat kehilangan papa, Shafa juga, Mas. Tapi kita harus mengikhlaskannya. Papa udah tenang, sekarang kita harus merawat mama sebaik-baiknya dan jangan biarkan mama kesepian, Mas,” titah Shafa.


“Iya, Sayang, mas ngerti. Tapi, kenapa secepat ini papa pergi ninggalin kita,” balas Reigha.


“Ini udah kehendak Allah, Mas, kita gak tau umur kita sampai berapa tahun. Jadi kita jalani aja, Mas.”


Reigha pun mengusap air matanya dan berkata, “Makasih ya, Sayang. Kamu sangat pengertian.”


Shafa pun tersenyum, “Mas, sekarang mas ke kamar mandi, cuci muka jangan sampai kelihatan kalau habis nangis. Kasian mama nanti kalau melihat mas nangis. Dan setelah itu, ke kamar mama ya mas. Hibur mama, dari tadi pagi mama gak mau makan,” kata Shafa.


“Iya, Sayang.” Reigha segera berdiri dan menuju ke kamar mandi untuk membasuh mukanya.


Saat masuk ke kamar mama Dhiya, ternyata mama Dhiya sedang menangis di samping tempat tidur lebih tepatnya di lantai sambil memeluk baju papa Harun.


“Ma, mama kok duduk di situ?” tanya Reigha lalu mengangkat mama Dhiya dan mendudukkannya di ranjang.


“Ma, udah ya menangisnya,” ucap Reigha.


“Sekarang mama makan dulu. Reigha suapin,” titah Reigha dengan lembut.


“Mama gak mau makan, Gha, mama mau ikut papa,” kata mama Dhiya.


“Ma, gak boleh ngomong begitu, Ma, nanti mama ditemani cucu-cucu mama ya,” balas Reigha.


“Sekarang mama makan, ya,” pinta Reigha.


Reigha pun menyuapi mama Dhiya tapi mama Dhiya terus menolak. Mama tetap gak mau makan. Dan saat Reigha memijit kaki mama Dhiya. Ibu Khalisa datang ternyata mencari Reigha.


“Nak Reigha,” panggil ibu Khalisa.


“Iya, Bu,” balas Reigha menghampiri.


“Nak, tamu-tamu udah pada berdatangan, acara akan segera dimulai. Nak Reigha ke depan aja. Biar ibu yang nemenin mama Dhiya,” ucap Ibu Khalisa.


“Terima kasih, Bu, Reigha ke depan dulu.”

__ADS_1


Reigha pun segera ke depan menemui semua tamu-tamu, sedangkan Shafa di dapur dengan Anna menyiapkan kue-kue untuk acara tahlilan papa Harun.


Ibu Khalisa menemani mama Dhiya di kamarnya. Di depan udah ada Bayu dan ayah Reynand yang menyalami tamu-tamunya. Setelah udah banyak yang datang, acara tahlilan pun dimulai.


Si kembar dan Reza berada di rumah bayu di temani Jasmin dan Chayra diawasi oleh Santi. Karena Santi lagi hamil. Jadi agar Santi gak kecapean, jadinya Santi lah yang menemani anak-anak di rumah Bayu.


Zhafira di dapur membantu Shafa dan juga Anna.


Setelah selesai mempersiapkan kue-kue untuk tamu, Shafa pun ingin melihat keadaan mama Dhiya terlebih dahulu.


“Na, bentar ya. Fira, saya ke kamar mama dulu ya. Sebentar kok,” ucap Shafa menoleh pada Anna dan Zhafira.


“Iya, Fa, tenang aja. Kita jagain kok,” balas Anna diangguki oleh Zhafira.


Shafa pun segera ke kamar mama Dhiya. Saat masuk kamar, ternyata mama Dhiya dengan pandangan kosong menatap ke atas.


“Nak, apa gak sebaiknya mama kamu dibawa ke rumah sakit? Ibu khawatir,” ucap ibu Khalisa.


“Iya, Bu, nanti setelah acara selesai biar Shafa coba bilang ke mas Reigha. Tatapan mama kosong ya, Bu,” kata Shafa.


“Itulah, Fa, yang buat ibu khawatir. Ibu ajak ngobrol pun gak ada jawaban sama sekali, ibu suapi juga gak mau membuka mulutnya, Fa,” balas ibu Khalisa dengan raut wajah khawatir.


“Sebentar lagi acara tahlilan hampir selesai kok, Bu, nanti Shafa langsung temui mas Reigha,” ucap Shafa.


“Tolong jaga mama sebentar ya, Bu, Shafa siapkan dulu makanan untuk para tamu,” lanjut Shafa diangguki oleh ibu Khalisa.


Shafa pun kembali menuju dapur bersama Anna dan Zhafira juga mbok Nah.


Setelah acara selesai, para tamu pulang, Reigha yang masih ngobrol dengan Bayu, Afkar juga Dani pun dipanggil sama Shafa.


“Mas, bisa ke sini sebentar?” pinta Shafa membuat Reigha menoleh dan mengangguk.


“Bentar ya, Bro,” ucap Reigha yang segera mendekat pada Shafa.


“Ada apa, Sayang?” tanya Reigha.


“Mas, apa gak sebaiknya mama dibawa ke rumah sakit? Shafa khawatir, Mas,” jawab Shafa.


“Emang kenapa, Sayang? Mama masih belum mau makan?” tanya Reigha kembali.


“Mama gak mau makan, Mas. Dan, sekarang malahan pandangan mama kosong dan gak mau ngomong sama siapapun,” balas Shafa memberitahu.


“Yaudah, yuk kita lihat dulu, kita ke kamar mama sama-sama ya,” ucap Reigha.


Reigha dan Shafa pun bersamaan menuju ke kamar mama Dhiya, ternyata ibu Khalisa sedang memijiti mama Dhiya.


Dan saat Reigha melihat wajah mama Dhiya, Reigha pun tampak terkejut.


“Astaghfirullah, Mama ... ”

__ADS_1


__ADS_2