Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 111 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Kalau gitu, trus rumah yang udah Mas Fathir siapkan, gimana?” tanya Anggi.


“Gapapa kok, Gi, nanti bisa kita sewakan aja,” jawab Fathir.


“Yaudah, kalau semua setuju, besok ayah akan siap-siap untuk pindah ke warung saja sama ibu,” balas Ayah Reynand.


“Ayah di sana jaga kesehatan ya, tempatnya ‘kan gak sebesar di rumah, karena penuh dengan kursi dan meja,” ucap Shafa.


“Apa kita renovasi dulu aja, Yah, kita buat dua lantai, jadi untuk istirahat di atas,” saran Reigha.


“Udah, Nak ... itu gak perlu, di sana udah ada kamar satu. Dan, itu udah cukup,” balas Ayah Reynand.


“Baiklah kalau itu keputusan Ayah, tapi Ayah istirahat dulu ya,” titah Reigha yang diangguki oleh Ayah.


“Kapan rencana Ayah buka lagi warungnya?” tanya Ibu.


“Setelah badan udah gak capek, Bu, Lima hari lagi lah kita buka warung lagi, ya,” jawab Ayah.


Reigha yang mendengarnya pun manggut-manggut dan setelah itu dia punya ide untuk melakukan sesuatu.


Setelah mereka mengobrol, mereka pun segera masuk kamar masing-masing untuk istirahat.


“Ayah, Ibu, si kembar ganggu istirahat ayah dan ibu lagi, dia minta tidur sama kakek dan neneknya lagi malam ini,” ucap Reigha.


“Udah, gapakah kok. Besok pasti kami akan kangen sama si kembar, mereka udah mulai sekolah pasti jarang nginap nanti,” balas Ibu.


Dan mereka pun segera masuk kamar. Saat ini di kamar, Reigha segera menelpon Dani.


“Halo, Dan, belum tidur ‘kan?” tanya Reigha tatkala Dani telah terhubung dengan telpon Reigha.


“Iya, Pak. Belum nih, Pak, masih nyelesaikan pekerjaan. Ada apa ya, Pak?” balas Dani sembari bertanya kembali.


“Begini, saya mau minta tolong. Hmm ... tolong carikan tukang yang bisa cepat mengerjakan renovasi tempat hanya empat hari. Berapa pun akan saya bayar,” ucap Reigha menjelaskan.


“Baik, Pak. Secepatnya segera saya carikan, dan besok pagi saya pastikan siap untuk pekerjaannya. Tinggal bapak kirim alamatnya saja,” balas Dani.


“Oke, Dan. Terima kasih, ya,” tutur Reigha dan mengakhiri telponnya dengan Dani.


Selesai menelpon, Reigha pun merebahkan dirinya di ranjang, hari ini dia merasa sangat capek.


Tak lama, Shafa masuk membawa minuman herbal untuk suaminya, “Mas, pasti kamu kecapean, ini di minum, Mas.”


“Terima kasih, Sayangku,” ucap Reigha dan segera duduk dan meminumnya sampai habis.


“Sayang, duduk di sini sebentar, Mas mau minta tolong,” pinta Reigha.


“Iya, Mas, apa yang harus Shafa bantu?” tanya Shafa duduk di samping Reigha.


“Sayang, bisa tolong kamu mintakan kunci warung ke Ayah? Rencananya, Mas mau merenovasi warung ayah, tapi ayah jangan sampai tau, karena kalau ayah tau pasti menolak,” jawab Reigha menjelaskan.

__ADS_1


Shafa pun terharu, Shafa langsung memeluk suaminya, “Mas, kamu tuh perhatian banget sama keluargaku. Terima kasih ya, Mas. Besok pagi sebelum pulang, Shafa akan minta kuncinya, dan Shafa jamin ayah gak akan curiga.”


“Yaudah, sekarang tidur yuk,” ajak Reigha diangguki oleh Shafa. Dan mereka pun tidur berpelukan.


Pagi harinya setelah sarapan, Angii dan Fathir udah bersiap untuk bulan madu. Dan rencananya, Reigha dan Shafa yang mengantar ke bandara sekalian pulang ke rumah papa.


Shafa menemui ayahnya di ruang tamu, “Ayah, untuk menjaga ayah biar bisa istirahat total di rumah, kunci warung biar Shafa yang pegang ya. Nanti pas hari keempat, malanya, Shafa antar kuncinya.”


“Gak perlu, Nak, biar kuncinya tetap ayah pegang, ayah gak akan ke warung kok,” balas Ayah menatap putrinya.


“Oh ayolah, Ayah, Shafa juga rencana mau ambil sesuatu di warung. Jadi, daripada nanti Shafa balikin kuncinya ke sini ‘kan jadi bolak balik, kasian si kembar, Yah,” kata Shafa dengan tatapan memohon.


Dan akhirnya Ayah pun mengalah dan memberikan kuncinya ke Shafa. Setelah itu, mereka pamit pulang.


Setelah semua pergi, rumah ayah kembali sepi. Karena, tidak ada anak, menantu, dan juga cucunya. Tinggalah ayah dan ibu di rumah.


Di mobil, si kembar terus aja berceloteh terlebih lagi pada Daviana yang tampak begitu cerewet, semua yang mendengar pun tertawa.


Tak berapa lama, mereka sampai di bandara.


“Kami gak turun ya, Gi. Selamat berbulab madu, hati-hati di jalan!” seru Shafa.


“Fathir, setelah sampai bandara internasional Seoul Incheon, kalian nanti akan di jemput seorang yang bernama Chin Mae. Tenang aja, dia bisa berbahasa Indonesia, jadi nanti kalian aman di sana,” ucap Reigha pada Fathir.


“Baik. Terima kasih, Pak,” balas Fathir yang tak sadar memanggil Reigha dengan sebutan pak.


“Loh, kok manggilnya pak lagi? Kan Mas Reigha udah jadi kakak ipar kamu, panggil seperti Anggi manggil,” ucap Shafa.


“Eh, i—iya. Terima kasih ya, Bang,” kata Fathir yang gugup.


“Yaudah, masuk gih, cepat check-in. Kakak akan langsung pulang ya. Kabari kalau udah sampai,” titah Shafa.


Mereka pun bersalaman pada Reigha dan Shafa. Anggi mencium si kembar habis-habisan. Hingga Daviandra tampak protes oada auntynya itu. Kemudian, Reigha, Shafa dan si kembar kembali masuk ke mobil dan segera meninggalkan bandara.


Sementara Anggi dan Fathir langsung masuk ke bandara untuk check-in.


Reigha sekeluarga segera menuju ke rumah papa. Tapi, sebelum ke rumah, Reigha terlebih dahulu mampir dulu ke warung ayah karena Dani menelpon kalau dia dan tukang udah menunggu di lokasi warung ayah.


Saat udah sampai di warung ayah, Shafa segera membuka pintunya. Dan untuk material semua udah disiapkan oleh Dani. Dani benar-benar udah mempersiapkan semua.


Kemudian, tukang pun segera mengerjakan sesuai yang diinginkan oleh Reigha. Setelah berpesan ke dani, Reigha pun segera pulang sedang Dani setelah mengintruksikan semuanya, lalu Dani kembali ke kantor.


Saat sampai di halaman rumah, si kembar segera berlari masuk ke rumah mencari omanya.


“Sayang, hati-hati, Nak. Jangan berlarian!” teriak Shafa.


Reigha dan Shafa masuk dengan bergandengan tangan. Tak lama kemudian, si kembar kembali menemui Papa dan Mamanya.


“Pa, Ma, Oma kok gak ada kata sih?” tanya Daviana.

__ADS_1


“Iya, Ma, Oma gak ada di dalam, Pa, Ma,” imbuh Daviandra menimpali ucapan kembarannya.


“Loh, emang kemana Oma pergi sepagi ini ya?” balas Shafa menoleh pada Reigha.


“Sebentar ya, Sayang, mas panggil mbok Nah dulu,” ucap Reigha.


“Mbok, mbok Nah!” teriak Reigha memanggil mbok Nah.


“Iya, Den, ada apa?” tanya mbok Nah berjalan cepat menghampiri Reigha.


“Mbok, papa sama mama pergi ke mana?” tanya Reigha.


“Oh ... nyonya dan tuan ke rumah sakit, Den,” jawab mbok Nah.


“Rumah sakit? Siapa yang sakit, Mbok?” tanya Shafa.


“Itu, Non, budhenya Non Anna. Tadi nyonya pesan, kalau Non Shafa udah pulang, nyonya minta tolong jaga anaknya Den Bayu yang lagi main di kamarnya Den Bayu, Non,” jawab mbok Nah sambil menyampaikan pesan dari Mama Dhiya.


“Sayang, tolong kamu ke kamarnya Bayu, coba lihat Reza di sana. Mas akan telpon papa dulu,” titah Reigha.


“Terima kasih ya, Mbok. Sekarang, Mbok boleh kembali ke belakang,” lanjut Reigha.


“Oke, ayo sayang. Kita sekarang ke kamar papi, di sana ada Reza,” ajak Shafa sembari memegang tangan kedua anaknya.


“Horeee, kita main sama Reza, Bang!” seru Daviana.


“Ayo cepat, Ma!” Daviandra menarik jemari mamanya.


Shafa dan si kembar pun segera menuju ke kamar Bayu. Sedangkan Reigha, menelpon papa.


“Assalamu’alaikum, Pa. Papa dan Mama di rumah sakit?” tanya Reigha saat panggilan udah terhubung.


“Wa’alaikumussalam, Gha. Iya, ini budhe kritis. Jadi kami semua di rumah sakit,” jawab Papa.


“Baiklah, Pa. Reigha ke rumah sakit sekarang,” balas Reigha dan segera menutup telponnya.


Reigha segera menyusul Shafa di kamar Bayu. Dan memanggil istrinta supaya keluar dari kamar, agar si kembar dan Reza gak dengar apa yang dibicarakan.


“Sayang, bisa keluar sebentar,” pinta Reigha.


“Iya, Mas,” balas Shafa segera keluar kamar.


“Sayang, Mas ke rumah sakit ya, budhe kondisinya kritis. Kamu di rumah aja jaga anak-anak ya, Sayang,” kata Reigha berpamitan.


“Iya, Mas. Hati-hati, ya, terus kabari Shafa,” balas Shafa sambil bersalaman dan mencium punggung tangan Reigha.


“Iya, Sayang,” ucap Reigha mencium kening Shafa.


Reigha keluar dari rumah dan segera mengendarai mobil menuju ke rumah sakit.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Reigha segera menuju ke ruang ICU. Saat sampai di ruang ICU, tampak Anna sedang menangis di pelukan Mama Dhiya.


“Pa, Bay, ada apa ini?” tanya Reigha mendekat pada Papa dan juga Bayu.


__ADS_2