
Sementara Shafa menunggu di luar sambil memainkan ponselnya. Shafa tidak tahu kalau pada jarak kurang lebih 300 meter ada Binar yang memandangnya dengan sinis. Binar pun segera menelepon seseorang untuk mengatur rencana jahatnya, sambil sesekali melirik Shafa.
Setelah therapy selesai, Reigha langsung menemui dokter yang selama ini menangani Reigha.
“Gimana perkembangan Mas Reigha, Dokter?” tanya Shafa.
“Alhamdulillah, perkembangan yang signifikan. Dalam beberapa kali therapy lagi, insyaaAllah pak Reigha sudah tidak perlu menggunakan tongkat. Dan Shafa, minta tolong suaminya selalu diperhatikan untuk tangan kanannya terus dipijat supaya syarafnya bisa kembali normal,” jelas dokter yang membuat Shafa manggut-manggut paham.
“Baik, Dokter. Terima kasih,” ucap Shafa dan Reigha bersamaan.
Keduanya pun keluar dari rumah sakit menunggu Farhan di lobby. Beberapa menit kemudian, Farhan tiba di depan lobby rumah sakit. Shafa dan Reigha pun segera keluar. Mereka berdua tidak menyadari kalau sejak tadi ada yang mengikuti.
Saat di perjalanan, Reigha minta mampir dulu untuk makan siang, karena memang sudah jamnya untuk makan siang.
Atas perintah Reigha, Farhan pun segera menuju ke Restoran yang diinginkan oleh Reigha. Sesampainya di restoran, Shafa dan Reigha langsung masuk dan memesan makanan tak lupa mengajak Farhan yang awalnya menolak untuk makan bersama.
Setelah selesai membayar, mereka keluar meninggalkan Restoran tersebut. Farhan bergegas mengambil mobil di parkiran.
Reigha dan Shafa menunggu Farhan di depan restoran. Shafa berdiri sembari membalas pesan dari Anna, sementara Reigha menunggu sambil duduk di kursi depan Restoran.
Dari kejauhan, ada mobil yang sudah siap menabrak Shafa, tetapi Shafa tidak menyadari hal itu. Shafa terus saja berbalas pesan dengan Anna hingga mobil melaju kencang ke arahnya.
Netra Reigha menangkap mobil yang melaju pada arah istrinya, karena Reigha yang panik hingga tidak menyadari kalau dirinya berlari untuk menolong istrinya. Dan, selamatlah Shafa dari kecelakaan tersebut. Beruntungnya Reigha langsung beralih melihat plat mobil yang hampir saja mencelakai istrinya, sedetik kemudian, Reigha langsung ingat mobil tersebut.
Shafa masih shock. Dia terkejut dengan kejadian yang baru saja terjadi. Bahkan, Shafa baru menyadari kalau Reigha tadi berlari menolongnya tanpa memakai tongkat.
Shafa menitikkan air matanya, terharu. Dia senang karena Reigha kini bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat lagi. Dapat berjalan normal kembali.
“Mas ... Mas lihat deh, Mas. Kamu udah bisa berdiri tegak tanpa pakai tongkat lagi!” antusias Shafa yang tampak begitu senang.
Reigha pun kaget, dia tadi panik sampai-sampai lupa kalau dia jalan masih pakai tongkat. Reigha tersenyum sembari berkata, “Iya, Sayang ... Alhamdulillah."
“Mas, Shafa senang banget. Akhirnya, Mas Reigha sudah sembuh!” seru Shafa.
Tak lama, Farhan pun datang. Dia turun dari mobil menghampiri Reigha sembari berkata, “Saya minta maaf, ya, Pak. Tadi saya ke toilet dulu.”
“Iya, gapapa kok," jawab Reigha.
Mereka pun pulang ke rumah dengan perasaan bahagia. Sesampainya di rumah, Reigha langsung menuju ke kamarnya. Reigha masih memakai tongkat elbownya. Karena, dia masih agak takut kalau jalan agak jauh.
__ADS_1
Sementara Shafa masih mengobrol sama Farhan, “Setelah ini bisa pulang, nanti klo Shafa mau pergi lagi, Shafa telpon, ya.”
“Oke, Shafa. Terima kasih.” Farhan berjalan hendak mengambil motornya yang berada di garasi. Tiba-tiba langkah Farhan dihentikan oleh Shafa.
“Oh iya! Farhan, ini untuk gaji 1 bln, ya,” ucap Shafa sembari mengulurkan amplop coklat berisi uang lima juta ke Farhan.
Farhan yang heran dengan tebalnya amplop tersebut, langsung membukanya karena penasaran. Farhan pun kaget saat melihat isi amplop tersebut.
“Fa, kan aku baru masuk kerja hari ini, kok udah dikasih gaji?” tanya Farhan yang masih bingung.
“Gapapalah, Farhan. Siapa tau lagi butuh untuk acara si kecil,” jawab Shafa.
“Alhamdulillah, terima kasih banyak, Fa,” ucap syukur Farhan dan berpamitan untuk pulang. Farhan pun bergegas menuju garasi mengambil motor dan segera pergi untuk pulang ke rumahnya.
Shafa terlepas duduk di sofa ruang tamu. Pikiran Shafa melayang jauh hingga membuat Shafa tiba-tiba merasa sedih. Dia teringat dengan perjanjiannya pada Mama Dhiya, kalau Reigha sembuh, Shafa harus meninggalkannya.
Shafa merasa tidak rela, Shafa sudah jatuh cinta pada Reigha. Dia pun melamun hingga tidak menyadari kalau Reigha sudah duduk di sampingnya sambil menatap istrinya yang masih asik dengan lamunannya itu. Reigha melihat Shafa menitikkan air matanya. Hal itu tentu membuat Reigha mengernyit bingung.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Reigha tak dapat menyadarkan Shafa dari lamunannya. Shafa tidak bergeming sedikitpun.
Reigha pun memegang tangan istrinya. Shafa tampak terkejut dan bertanya pada Reigha, “Mas, sejak kapan di sini?”
“Enggak, Mas. Aku gapapa kok,” jawab Shafa berbohong. Shafa tidak mau kalau Reigha curiga.
“Sayang, kalau ada apa-apa, cerita sama Mas. Jangan di pendam sendiri, ya!” seru Reigha.
“I ... i—iya, Mas,” jawab Shafa gugup.
“Shafa ke kamar dulu, ya, Mas,” lanjut Shafa bergegas pergi ke kamar.
Shafa kini pergi ke kamar, dia menghindari Reigha. Shafa takut jika Reigha curiga dan akan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
Sampai kamar, Shafa pun masuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi dia menumpahkan air matanya kembali. Shafa merasa gak sanggup jika memang harus berpisah dengan Reigha. Cukup lama Shafa berada di kamar mandi hingga membuat Reigha kembali khawatir pada Shafa. Tidak biasanya Shafa seperti ini.
Reigha pun mengetok pintu kamar mandi.
Tok...Tok...Tok...
“Sayang, kamu kok tumben mandinya lama?” teriak Reigha bertanya dari depan pintu kamar mandi.
__ADS_1
“Iya, Mas. Ini udah mau selesai,” balas Shafa.
Reigha pun menunggu Shafa sambil memainkan ponsel Shafa.
Tak lama, Shafa pun keluar dari kamar mandi. Kedua mata Shafa tampak sembab karena menangis terlalu lama di dalam kamar mandi tadi. Reigha pun segera menghampiri Shafa.
“Sayang, kamu ini sebenarnya kenapa? Ayolah cerita sama Mas. Apa yg kamu sembunyikan?” tanya Reigha.
Shafa pun tak kuasa menahan air matanya lagi. Dengan sekuat-kuatnya Shafa menahan kesedihannya, tiba-tiba Shafa kembali menumpahkan air matanya. Shafa memeluk Reigha sangat erat dan menangis dalam pelukan Reigha.
Reigha heran, ‘ada apa dengan Shafa? Tadi di mobil sepertinya dia baik-baik saja,’ batin Reigha.
Reigha pun mendudukan Shafa di pangkuannya, Reigha mengusap air mata Shafa dengan lembut.
“Jangan ada yang kamu sembunyikan dari Mas, ya, Sayang. Kamu kenapa?” tanya Reigha kembali.
Shafa diam tidak menjawab. Jujur, saat ini Shafa bingung mau berterus terang atau tidak. Akhirnya, Shafa menyerah, dia pun mengungkapkan kegelisahannya yang sejak tadi mengusir pikirannya.
Di atas pangkuan Reigha, Shafa kembali memeluk Reigha sembari berkata, “Mas, sebenarnya shafa takut.”
“Takut kenapa, Sayang?”
“Aku takut berpisah sama Mas. Aku gak bisa hidup jauh dari kamu, Mas,” ucap lirih Shafa.
“Kenapa kamu tiba-tiba ngomong seperti itu Sayang ... percayalah, Mas gak akan ninggalin kamu. Mas sayang sama kamu, Fa,” balas Reigha.
Shafa pun bingung mau melanjutkan lagi.
“Mas, kamu ingat gak sih, kalau dulu pas Mas masih di rumah sakit sebelum kita menikah, Mama setuju kita menikah hanya kalau kita terikat pernikahan kontrak. Dan, Shafa gak pikir panjang telah menyetujui kesepakatan itu. Mama ‘kan bilang itu di depan Mas dan Bayu juga. Kesepakatannya, Shafa harus pergi ninggalin Mas saat Mas Reigha udah sembuh,” ucap Shafa menceritakannya.
“Dan, sekarang ‘kan Mas Reigha udah bisa jalan. Berarti sebentar lagi Shafa mau gak mau harus pergi dari rumah ini meninggalkan Mas Reigha,” lanjut Shafa ragu-ragu menjelaskan sambil menangis.
Dan terkejutlah Reigha. Dia tak sampai memikirkan ucapan Mama saat itu. Ternyata, hal itu yang membuat Shafa bersedih, bahkan Reigha pun sudah melupakan apa yang Mama ucapkan saat itu. Tapi, Shafa malah masih saja meningat hal itu.
Reigha langsung emosi, “Gak, Shafa! Kamu gak boleh ninggalin aku, aku cinta sama kamu. Kita akan hidup bersama selamanya. Tidak ada yang bisa memisahkan kita sekalipun itu Mamaku. Aku akan bicara nanti sama Mama.”
“Mas, tolong jangan emosi ... Shafa gak mau nanti Mama malah benci ke Shafa karena Shafa udah bilang ini sama Mas,” ucap Shafa.
“Trus menurut kamu gimana? Kamu mau kalau pernikahan kita berakhir gitu aja karena kesepakatan gak jelas itu?” tanya Reigha yang masih emosi.
__ADS_1