
Calvin pun duduk di ruang tunggu dan mencoba untuk menelpon Daviana ...
Sampai beberapa kali Calvin menelpon tapi Daviana tak segera mengangkat, akhirnya Calvin pun berhenti menelpon.
Di rumah Reigha, saat ini semua sedang menikmati makan malam, tiba-tiba Bayu datang dan mengajak Reigha ke ruang kerja.
“Assalamu’alaikum,” kata Bayu mendekati ruang makan.
“Wa’alaikumussalam ... Bay, ayo sini kita makan malam bareng,” ajak Reigha.
“Gue udah makan kok, Gha, ayo sekarang kita ke ruang kerja, Gha,” ucap Bayu yang balik mengajak.
“Ada apa? Sepertinya serius,” balas Reigha.
“Nanti lo juga tau, ayo buruan,” kata Bayu.
Reigha pun segera berdiri, dan setelah pamit sama anak dan istrinya, Reigha pun menuju ke ruang kerja. setelah masuk dan duduk Bayu pun memulai obrolannya.
“Gha, gue barusan dapat telpon dari dani, katanya HP lo ditelpon gak diangkat,” kata Bayu.
“Iya, HP gue di kamar. Ada apa Dani nelpon?” tanya Reigha.
“Dani ngabarin, kalau tadi sore besan lo tuh kecelakaan,” jawab Bayu memberitahu.
“Besan apa kata lo? Udah gak gue anggap besan kok,” balas Reigha.
“Trus ... menurut lo gue harus gimana? Jenguk dia gitu?” lanjut Reigha.
“Enggak, Gha, gue cuma ngabari itu, buat jaga-jaga kalau tiba-tiba Calvin kesini. Takutnya dia nyalahin Naima lagi,” balas Bayu.
“Awas aja kalau sampai dia buat putriku menangis lagi,” gerutu Reigha.
“Yaudah kalau gitu, gue pulang, Gha. Assalamu’alaikum,” kata Bayu yang langsung berpamitan.
“Wa’alaikumussalam,” balas Reigha.
Bayu pun segera keluar dari ruang kerja dan segera bergegas menuju ke rumahnya.
Sedangkan Reigha, karena saat keluar dari ruang kerja gak ada siapa-siapa lagi, akhirnya Reigha pun menuju ke kamarnya.
Sebelum ke kamar, Reigha melihat Daviana di kamarnya.
Saat akan masuk ternyata Daviana udah tertidur. Reigha pun segera menyelimuti putrinya.
Setelah itu, Reigha keluar dan menuju ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, ternyata Shafa juga udah tidur, Reigha pun segera merebahkan badannya di samping Shafa.
Keesokan paginya di rumah Reigha, Calvin tiba-tiba datang ke rumah. Tanpa menemui anggota keluarga lainnya, Calvin pun langsung masuk ke kamar Daviana yang ternyata kebetulan saat Daviana sedang berganti pakaian karena Daviana rencana pagi ini mau berangkat kerja ke rumah sakit.
Brak...
Suara pintu di buka keras oleh Calvin membuat Daviana terkejut.
__ADS_1
“Astaghfirullah, Mas ... ngapain kamu ke sini?” tanya Daviana.
“Kenapa? Kamu kan masih istri aku. Gak boleh ya kalau aku ke sini?” balas Calvin bertanya.
“Mas, tapi kita mau cerai, aku udah gak mau tinggal sama kamu apalagi satu kamar seperti sekarang, jadi lebih baik kamu keluar sekarang, kita obrolin baik-baik di ruang tamu,” ucap Daviana.
“Sekarang aku mau minta hak aku, karena kamu masih istri aku,” kata Calvin.
“Aku gak mau, Mas, kita mau bercerai!” seru Daviana mulai takut.
Calvin semakin mendekati Daviana, Daviana pun semakin dibuat ketakutan.
“Mas, kalau kamu macam-macam, aku akan berteriak,” kata Daviana.
“Silakan aja kamu kalau mau teriak, setelah apa yang sdh dilakukan orang tua kamu ke keluargaku, kamu kira aku akan takut?” balas Calvin.
“Emang apa yang dilakukan orang tuaku?” tanya Daviana.
“Papa dan papi kamu udah buat perusahaan papaku bangkrut sampai-sampai papaku kecelakaan dan sekarang di rumah sakit. Puas kamu hah?” bentak Calvin.
“Mas, aku sama sekali tidak tau, nanti aku akan bilang ke papa dan papi ya, kamu sekarang pulang aja,” kata Daviana.
“Nggak semudah itu, Daviana, berikan dulu hak-ku. Kamu itu masih istri aku,” balas Calvin.
“Mas, aku gak mau,” ucap Daviana semakin ketakutan.
Calvin semakin mendekat ke arah Daviana, Daviana semakin takut tapi dia gak bisa berlari karena dia udah terpojok.
“Tolong ... tolong!” teriak Daviana.
Sementara itu di ruang makan, semua orang udah duduk dan tinggal menunggu Daviandra dan Daviana.
“Pa, Andra ke mana kok belum datang ya?” lirih Shafa bertanya pada suaminya.
“Andra lagi ambil mobilnya Naima, Ma, kemarin kan Nai bareng kita,” jawab Reigha.
Tak lama kemudian, Daviandra datang ...
“Assalamu’alaikum, Pa, Ma,” ucap Daviandra menghampiri mama dan papanya kemudian menyalimi kedua orang tuanya.
“Wa’alaikumussalam, Nak ... ayo duduk dulu sambil nunggu Naima,” kata Reigha.
“Pa, Ma, ngapain Calvin ke sini?” tanya Daviandra.
“Calvin ... ke sini? Kapan?” balas Reigha yang tampak bingung.
“Loh ... itu mobilnya ada di depan, Pa, kirain papa dan mama tau,” ucap Daviandra.
“Astaga, Pa, Ma ... Naima!” seru Daviandra segera berlari ke kamar Daviana.
Reigha dan Shafa pun segera menyusul langkah Daviandra.
Saat sampai di depan kamar, Daviandra segera membuka pintunya, tapi pintu kamarnya terkunci.
__ADS_1
“Ma, kunci ganda pintu kamar Naima ada?” tanya Daviandra panik.
“Ada, Dra, tapi di mana ya ... mama lupa. Aduh, gimana nih,” jawab Shafa yang ikut panik.
“Udah-udah, Andra, kita dobrak aja pintunya. Cepat, Dra, papa takut adik kamu kenapa-napa,” ucap Reigha.
Daviandra pun dengan cepat mendobrak pintu kamar Daviana, tapi berapa kali dicoba pun tetap gak bisa, akhirnya Reigha ikut juga mendobrak tapi tetap gak terbuka.
“Dra, kita dobrak berdua bareng-bareng,” kata Reigha.
“Oke, Pa, hitungan ketiga kita dobrak ya, Pa,” balas Daviandra dan diangguki oleh Reigha.
satu ... dua ... tiga ...
Brakkkkkk
Dan pintu pun berhasil terbuka.
Shafa yang melihat kondisi Daviana pun langsung teriak.
“Ya Allah ... Naima!” teriak Shafa berlari masuk mendekat pada Daviana.
Reigha dan Daviandra segera melihat Daviana.
“Astagfirullah ... kurang ajar lo!” teriak Daviandra yang segera memukul Calvin hingga membuat Calvin pun jatuh tersungkur.
Shafa yang melihat Daviana ketakutan pun segera memeluk putrinya.
“Nai, Nai ... tenang ya, Nak, ini mama,” kata Shafa.
Daviana pun memeluk Shafa dengan begitu erat.
“Ma ... ma, Nai takut, Ma,” lirih Daviana.
Reigha yang melihat putrinya ketakutan pun segera mendekat ke Calvin dan saat Reigha mau memukul, Calvin pun bersuara.
“Pukul aja, Pa, pukul biar papa puas sekalian. Atau ... mau papa bunuh pun Calvin rela,” kata Calvin.
“Kamu udah menyakiti putriku, mati dengan mudah tidak akan membuatku puas,” ucap Reigha.
“Lakukan apapun yang papa mau, keluarga ku udah hancur karena papa,” kata Calvin.
“Keluarga kamu hancur bukan karena papa, tapi karena kamu yang menyakiti putriku dan mempermainkan putriku!” seru Reigha.
“Yang salah itu Calvin, Pa, bukan keluarga Calvin, harusnya papa balasnya ke Calvin, bukan ke keluarga Calvin kayak gini,” kata Calvin.
“Kamu gak usah menutupi apa-apa dari saya, saya tau kalau keluarga kamu memaksa menikahkan kamu sama Daviana. Apa itu yang namanya keluarga kamu gak salah?” tanya Reigha.
Dan saat Reigha mau memukul lagi, Shafa pun berteriak.
“Pa, Dra, udah cukup! Sekarang tolong Naima,” teriak Shafa.
Seketika Reigha dan Daviandra menoleh dan melihat Daviana pingsan.
__ADS_1
“Nai,” lirih Reigha yang segera mendekat ke Daviana dan segera menidurkan ke tempat tidur.