
“Budhe gimana kabarnya?” tanya Reigha.
“Alhamdulillah baik, Nak, itu Shafa kandungannya udah berapa bulan?” jawab Budhe seraya bertanya kembali.
“Alhamdulillah udah empat bulan, Budhe, do'ain sehat ya Budhe,” balas Shafa.
“Lah yo pasti toh, Fa, gak usah disuruh, Budhe pasti do’akan Anna dan Shafa,” ucap Budhe.
Reigha segera mengajak mereka semua untuk makan malam. Namun, saat semua menuju ke ruang makan, terdengar suara salam dari luar, ternyata penghulu yang merupakan sahabat Reigha tampak datang bersama istrinya.
“Assalamu’alaikum,” salam Afkar serempak dengan istrinya.
“Wa’alaikumsalam, masuk-masuk, Bro. Alhamdulillah akhirnya sampai juga ke sini,” balas Reigha. Kemudian Reigha dan Shafa menghampiri Afkar juga istrinya.
“Bro, kenalin ini istri gue, Zhafira,” ucap Afkar memperkenalkan.
“Sayang, ini sahabat aku, Reigha,” lanjut Afkar memperkenalkan Reigha pada istrinya.
Zhafira tampak sejak tadi terpaku karena mengenali sahabat suaminya.
“Eh, i-iya. Saya Zhafira, Pak. Saya istri Mas Afkar,” balas Zhafira.
“Iya, saya Reigha dan ini istri saya, Shafa.” Mereka pun saling berjabat tangan.
“Bro, Bayu masih di sini atau udah tinggal di rumah sendiri?” tanya Afkar.
“Oh, Bayu. Bentar gue panggil.”
Tapi saat akan di panggil, Bayu ternyata udah duduk di ruang makan. Akhirnya reigha pun segera mengajak Afkar dan istrinya untuk makan malam juga. Saat mau duduk di meja yang udah disiapkan, Bayu yang terlebih dahulu melihat Afkar datang langsung berdiri.
“Hey, Bro, lama gak ketemu, tambah cakep aja lo!” seru Bayu seraya memeluk Afkar.
“Lo juga lama gak ketemu tambah berisi,” balas Afkar bercanda, mereka semua pun ketawa.
“Kenalin, Bro. Ini istri gue, Zhafira,” lanjut Afkar mengenakan istrinya pada Bayu.
“Dah nikah aja. Bentar, kenalin juga itu yang duduk di sana itu istri gue, Anna,” balas Bayu.
Anna yang merasa di panggil pun datang, “Hai, Fira, lama gak ketemu ya, sejak gue nikah sudah gak boleh ke kantor sama Abang,” ucap Anna yang ternyata udah mengenal Zhafira.
“Eh, iya ya, Na. Lama banget, bahkan kemarin gue nikah lo juga gak datang,” balas Zhafira.
“Hehe iya, ya. Gue lupa deh gak dateng karena apa. Tapi, pas lo cuti, gue tau. Maafin gue ya, tapi do’a baik gue semoga pernikahan lo samawa!” seru Anna.
“Aamiin. Lo juga ya, Na, semoga samawa dengan Pak Bayu,” ucap Zhafira dan diangguki oleh Anna.
Saat Anna dan Zhafira ngobrol, yang lain nampak bengong.
“Sayang, kok kamu kenal istrinya sahabat aku?” tanya Bayu.
“Kenal dimana, Na?” timpal Reigha yang ikut penasaran.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Anna malah mengulum senyumnya. Kemudian berkata, “Maafin mereka ya, Fir, jangan dicontoh ya, Kak Afkar, masa sama karyawannya sendiri gak kenal.”
“Hah? Istri Afkar kerja di kantor kita?” tanya Bayu.
“Iya, Bang. Zhafira ini kerja di perusahaan Trengginas Jaya Abadi, kantor Kak Reigha,” jawab Anna.
Mereka semua tertawa melihat Bayu dan Reigha masih melongo.
“Kelihatan cueknya di kantor nih,” celetuk Afkar membuat Reigha menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Yaudah yuk, nanti di lanjut lagi ngobrolnya, kita makan aja dulu,” ucap Reigha yang diangguki oleh semuanya.
Mereka segera menikmati makan malamnya. Setelah selesai makan malam, mereka pun melanjutkan ngobrolnya di ruang tamu.
“Udah lama kerja di kantor?” tanya Bayu yang masih penasaran dan ingin memastikan.
“Lumayan sih, Pak,” jawab Zhafira.
“Lo nikah kok gak ngundang gue?” tanya Reigha pada Afkar.
“Niat hati mau menikahkan istri gue, malah gue yang jadi mempelai prianya. Gak ada persiapan dan undangan apa-apa ke saudara gue juga. Saudara gue aja gak ngerti, apalagi lo,” balas Afkar membuat Reigha dan Bayu semakin terheran-heran.
“Maksudnya?” tanya Reigha dan Bayu serempak.
“Lo yakin mau tau kisah cinta gue? Baca aja di cerita sebelah, judulnya Terpaksa Menikahi Penghulu,” jawab Afkar.
“Kok terpaksa? Kan suami lo ganteng gitu, Fir,” celetuk Anna membuat Bayu menoleh dan mendelik pada Anna.
“Ini Dani mana sih, Mas, kok gak ada kabar?” tanya Shafa.
“Gak tau dia kemana, Ketiduran mungkin, udah lebih tiga puluh menit kita nunggu,” balas Reigha menatap arlojinya.
Tak lama, Dani pun datang memasuki rumah, “Assalamu’alaikum semua, maaf saya terlambat.”
“Sangat terlambat, darimana aja kamu, Dan?” tanya Reigha.
“Yaudah yuk, udah gak usah di tanya-tanya. Dani, kamu mau makan dulu atau langsung berangkat?” sambar Shafa.
“Langsung berangkat saja, Bu, saya tadi udah makan,” balas Dani.
Akhirnya, mereka pun segera berangkat menuju ke rumah Santi.
Di mobil, Dani bertanya pada Reigha, “Pak, kok banyak banget yang ngantar lamarannya?”
“Ya alhamdulillah, banyak yang bahagia kamu dapat jodoh,” jawab Reigha sambil tersenyum.
Mereka pun sampai di rumah Santi. Pak Rudi yang mengetahui kalau hari ini anaknya akan dilamar udah menyambut calon menantunya di luar.
Mereka pun semua turun dari mobil dan masuk ke rumah Santi setelah di persilahkan oleh Pak Rudi.
Setelah berbasa basi dan drama permintamaafan Pak Rudi pada Reigha beberapa waktu lalu, akhirnya Reigha sebagai perwakilan pun menyampaikan maksud dan tujuannya ke rumah ini.
__ADS_1
“Jadi begini, Pak Rudi, maksud dan tujuan kami semua datang ke sini adalah untuk menjadi saksi dan untuk menikahkan Dani juga Santi,” ucap Reigha.
Dani yang mendengar pun terlonjak kaget, “Pak, melamar loh, belum menikah.”
“Anak-anakku meminta kamu langsung nikah aja sama Santi, lagi ngidam nih,” balas Reigha ngasal seraya berbisik pada Dani dan tertawa lirih.
“Jadi, kalau sekarang menikah kamu gak mau?” tanya Pak Rudi.
Dani yang ditanya langsung sama Pak Rudi pun jadi gelagapan, “Eh, bukan, bukan seperti itu maksud saya, Pak. Hanya aja, saya belum ada persiapan apa-apa.”
“Persiapan yang seperti apa? Kamu lihat, yang di sana pakai jas hitam itu, itu adalah penghulu dan ini ... ”
Shafa memberikan kotak perhiasan ke Reigha.
“Dan ini ... ini adalah maharnya. Gimana? mau alasan apa lagi?” lanjut Reigha yang membuat Dani tak berkutik.
“Gimana, Nak Dani, mau menikah sekarang?” tanya pak Rudi.
“Baiklah, Pak. Saya Dani Raharja akan siap menikahi putri bapak yang bernama Santi Saraswati,” jawab Dani dengan mantap.
Akhirnya, Reigha pun memanggil Afkar untuk duduk di samping Pak Rudi, juga Dani yang kini sudah duduk di depan Pak Rudi.
Shafa dan Anna juga Zhafira ke kamar untuk memberikan polesan make up ringan dan menuntun Santi untuk segera ke depan. Setelah semua kumpul, akad nikah pun dilakukan.
“Saudara Dani udah siap?” tanya Afkar sebelum memulai ijab qobul.
“Sudah, Pak.
“Baiklah, silakan berjabat tangan dengan Ayah dari mempelai wanita,” ucap Afkar.
Dani pun mengulurkan tangan dan diterima oleh Pak Rudi.
“Pak, ikuti apa yang saya ucapkan,” titah Afkar diangguki oleh Pak Rudi.
“Saya terima nikah dan kawinnya Santi Saraswati dengan mas kawin tersebut TUNAI,” ucap Dani dengan lantang.
Dan terdengar sahutan dari para saksi berucap, “Sah!”
Setelah Dani juga Santi resmi menjadi suami istri, mereka pun semua pamit pulang.
“Dani, selamat ya, semoga pernikahannya langgeng. Dan ini ada titipan dari Papa, Papa dan Mama minta maaf gak bisa datang. Mulai besok saya kasih cuti satu minggu ya,” ucap Reigha yang diangguki oleh Dani.
“Baik, Pak, terima kasih udah menyiapkan semuanya. Dan juga, terima kasih juga buat anak-anak Pak Reigha, ngidam kali ini menguntungkan,” balas Dani yang ternyata menganggap ucapan Reigha tadi serius dan benar adanya.
“Heh, jadi kamu mau menikah hari ini karena ucapan saya tadi?” tanya Reigha.
“Gak juga sih, Pak,” jawab Dani menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Bayu dan Anna pun mengucapkan selamat dan setelah semua memberikan selamat, mereka pun pamit pulang. Mereka semua menuju rumah Reigha.
Sesampainya di rumah Reigha udah tengah malam, orang tua Shafa dan Anggi juga Budhe langsung pulang di antar Vano.
__ADS_1
“Kak, Anggi harus pulang. Besok ujian,” ucap Anggi.