Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 128. - Menikahi Susterku


__ADS_3

Menjelang subuh, jenazah mama Dhiya pun dimandikan dan dikafani, setelah sholat subuh semua pelayat udah bisa menyolatinya.


Dan tepat jam 08.30 jenazah mama Dhiya pun diantar ke pemakaman tepat di samping makam papa Harun, saat tiba di pemakaman mereka pun di kejutkan dengan kedatangan om Andre dan tante Lucy juga Cantika.


Shafa yang mengerti keadaan dia segera menyapa om dan tante Reigha. Tapi, sapaan Shafa sama sekali tidak diindahkan, akhirnya rombongan Reigha yang membawa jenazah mama Dhiya segera melewati polisi dan 2 tahanan tersebut.


Mereka segera melakukan proses pemakaman mama Dhiya, setelah itu mereka pun kembali pulang ke rumah masing-masing. Tinggalah di situ Reigha dan Shafa, Bayu dan Anna, om Andre dan tante Lucy juga Cantika dan para polisi yang mengawal dua tahanan.


“Pa, sepertinya si Reigha itu kena karna ya, dia misahkan kita dengan Cantika ternyata dia yang terpisah selamanya dengan orang tuanya,” ucap tante Lucy.


Reigha yang mendengar pun saat akan membuka suara, segera di tahan oleh Shafa.


“Mas, jangan di tanggapi ya, lebih baik kita mendoakan papa dan mama,” ucap Shafa.


Reigha pun mengangguk. Bayu segera berdiri dan menghampiri om Andre dan tante Lucy.


“Om dan tante gak ingin mendoakan papa dan mama?” tanya Bayu.


“Gak perlu dido’ain, untuk apa buang-buang waktu,” jawab om Andre.


“Baiklah, kalau memang udah gak ada kepentingan lagi. Silakan om dan tante pergi dari sini!” seru Reigha.


“Pak polisi, silakan bawa dua tahanan ini kembali ke sel,” ucap Bayu.


“Hai, kamu itu gak ada urusan sama keluargaku. Darah keluargaku gak mengalir di darahmu, jadi jangan sok!” seru tante Lucy.


“Tante jangan keterlaluan, Bayu itu saudaraku, jangan bicara seperti itu. Pak polisi, silakan bawa dua orang itu pergi dari sini. Dan, terima kasih udah menghadiri pemakaman orang tua kami,” sambar Reigha.


“Gha, yang jelas-jelas saudara kamu itu kita. Harusnya setelah meninggalnya orang tua kamu, kamu tuh bebasin kami. Bukannya semakin gak menganggap kami keluarga. Dan ingat, bagian warisan om kasih ke Cantika,” kata om Andre.


“Pak polisi, bisa silakan bawa dua manusia gak tau diri itu menjauh dari kami? Tolong, Pak, kami lagi berduka,” ucap Bayu.


“Baiklah, kami akan segera pergi. Selamat siang,” kata polisi.


“Mari kita kembali,” lanjut polisi pada dua tahanannya.


“Tunggu setelah kami berdua bebas, setelah kami bebas, kamu semua gak akan bisa tidur dengan tenang!” seru om Andre.


Dan akhirnya mereka pun termasuk Cantika pergi meninggalkan area pemakaman.


Setelah polisi membawa om Andre dan tante Lucy keluar pemakaman, Shafa kembali menenangkan Reigha dan setelah selesai berdo'a mereka pun meninggalkan area pemakaman.

__ADS_1


Setelah sampai rumah, reigha mengajak bayu ke ruang kerja, “Bay, kita ke ruang kerja dulu ya.”


“Bentar ya, Gha. Gue ke kamar dulu, liat Anna,” balas Bayu.


“Oke, gue tunggu di ruang kerja.”


Reigha dan Bayu pun segera ke kamar menemui Anna. Sedangkan Reigha bergegas menemui Shafa dan si kembar terlebih dahulu. Setelah itu, Reigha masuk ke ruang kerja. Tak lama kemudian, Bayu masuk ke ruang kerja Reigha dan melihat Reigha yang udah duduk di sofa.


“Ada apa, Gha? Ngapain nih lo ngajak gue kerja?” tanya Bayu.


“Siapa yang ngajak lo kerja sih, Bay, gue cuma mau ngomongin masalah om Andre dan tante Lucy,” jawab Reigha.


“Emangnya ada masalah apa?” tanya Bayu.


“Hmm ... Bay, kata-kata om di pemakaman tadi jangan lo masukan ke hati ya. Bagi gue, lo itu adik juga sahabat gue, Bay,” jawab Reigha.


“Ya, Gha. Kalau masalah itu gue gak terlalu mikirin, Gha. Apapun kata-kata orang di luar, itu gak akan buat gue ninggalin lo dan keluarga ini,” balas Bayu.


“Syukurlah, makasih ya, Bay.”


“Gue yang harusnya terima kasih sama lo, Gha, karena mama dan papa sana lo juga. Gue jadi punya keluarga,” ucap Bayu memeluk Reigha.


“Kita sama-sama kehilangan, Bay, papa dan mama telah pergi. Gimana kita nanti menghadapi masa depan tanpa nasihat dari papa dan mama,” kata Reigha.


“Iya, Bay, sekarang tugas kita melindungi keluarga kita. Tadi lo ingat ‘kan, om Andre ngancam kita,” ucap Reigha.


“Iya, Gha, gue ingat. Tapi soal dia minta warisan gimana?” tanya Bayu.


“Bay, lo sendiri tau kan, perusahaan papa itu papa sendiri mendirikan, sedangkan perusahaan gue juga papa yang merintisnya, jadi om Andre itu gak punya hak apa, Bay,” jawab Reigha.


“Soal dia minta warisan, biar rumah kakek aja buat dia. Rumah kakek ‘kan besar juga,” lanjut Reigha.


“Tapi apa dia mau nerima, Gha?” balas Bayu kembali bertanya.


“Besok kita temui om Andre, jangan sampai karena harta, papa dan mama jadi gak tenang,” kata Reigha.


“Oke, gue setuju,” ucap Bayu.


“Yaudah ayo kita keluar, nanti malam ada tahlilan kan, pasti Shafa lagi sibuk buat nyiapin semua. Gue mau nengok si kembar dulu!” seru Reigha.


“Gha, lo lupa ya? Afkar dan Dani blm pulang loh, lo gak temui dulu?” tanya Bayu.

__ADS_1


“Astagfirullah lupa gue, yaudah yuk kita temui mereka,” ajak Reigha.


Mereka pun keluar kamar dan menuju ke depan. Ternyata di depan ada ayah Reynand, Fathir, Afkar dan juga Dani.


“Maaf ya semua. Maaf, Yah, tadi kami ngobrol sebentar bahas masalah om Andre dan tante Lucy,” ucap Reigha.


“Gapapa, Gha, gue ngerti kok, tapi gue pamit pulang dulu ya. Nanti malam insyaaAllah gue kesini lagi,” balas Afkar.


“Yaudah, maaf ya, Bro. Jadi banyak ngrepotin lo,” kata Reigha pada Afkar.


“Iya, Bro, jadinya kami kemarin nahan lo pulang ‘kan,” sambar Bayu.


“Gapapa kok, santai aja, Bro!” seru Afkar.


Akhirnya Afkar masuk menemui Zhafira di kamar tamu setelah itu mereka pamit pulang.


Setelah Afkar dan istrinya pulang, giliran Dani juga pamit pulang.


“Pak Reigha, pak Bayu, maaf kami pamit pulang dulu ya, Pak,” pamit Dani.


“Owhh, kamu ikut pamit juga, Dan. Kirain mau nginap di sini,” kata Bayu.


“Iya, Pak, kami pulang dulu. InsyaaAllah nanti malam acara tahlilan saya kesini lagi,” ucap Dani.


“Baiklah, kamu pulang istirahat dulu aja. Jangan lupa nanti kesini lagi ya!” seru Reigha.


“Baik, Pak, kalau gitu kami pamit,” kata Dani dan juga Santi yang sebelumnya udah pamit ke Shafa, Anna dan ibu Khalisa.


Dani pun segera meninggalkan rumah Reigha menuju ke rumahnya. Tinggalah ayah Reynand dan Fathir.


“Yah, ayah istirahat dulu aja. Nanti malah pusing kalau kurang istirahat,” titah Reigha.


“Iya, Nak, sebentar lagi.”


“Oh iya, Fathir, kamu gimana? Mau pulang dulu atau nginap di sini?” lanjut ayah bertanya pada Fathir.


“Fathir pulang aja, Yah, kami belum bawa baju ganti,” ucap Fathir.


“Baiklah kalau gitu, kamu masuk gih, temui Anggi dan juga pamit sama Shafa dan ibu Khalisa,” ucap Reigha.


“Baik, Bang. Sebentar ya, Yah, Bang,” balas Fathir segera pergi mencari istrinya.

__ADS_1


Dan tak lama mereka, pun keluar dan segera meninggalkan rumah Reigha. Namun, saat Fathir dan Anggi hendak meninggalkan rumah Reigha ...


__ADS_2