
“Lho, kamu sakit apa, Nak? Kok malah di tinggal sama suami kamu?” tanya Ibu Khalisa cemas.
“Emm ... Shafa gak sakit kok, Bu. Shafa ... Sha—Shafa ... hamil, Yah, Bu,” jawab Shafa gugup.
“Alhamdulillah, Ayah dan Ibu mau punya cucu. Sekarang kamu di rumah kan, Nak?” tanya Ibu Khalisa.
“Iya, Bu. Shafa ditemani Mama Dhiya. Mas Reigha udah terlanjur janji ke pimpinan anak cabang kalau hari ini ke Surabaya, Bu, gak enak kalau tiba-tiba batalin, lagian di sini ‘kan ada Mama dan Papa,” jawab Shafa menjelaskan.
“Ooo ... iya, Nak, kamu baik-baik di sana ya, jangan kecapean. Boleh gak nanti Ayah dan Ibu ke sana?” tanya Ayah.
“Boleh dong, Ayah. Silakan kalau mau ke sini. Baiklah, udah dulu ya, Ayah, jaga diri Ayah dan Ibu. Assalamualaikum,” jawab Shafa dan mengakhiri panggilannya.
“Wa’alaikumussalam, kamu juga ya, Nak,” balas Ayah Reynand.
Telpon pun berakhir dan Shafa segera beristirahat.
Sementara di Singapore, tak terasa besok mereka akan kembali ke Indonesia, hari ini rencana mau membeli oleh-oleh untuk keluarga di Indonesia.
Sambil menunggu Bayu, Anna pun menelepon Shafa.
“Assalamu’alaikum, Fa, besuk gue mau pulang. Lo mau oleh-oleh apa?” tanya Anna.
“Wa’alaikumussalam, Na. Gak udah deh, Na. Gue lagi males makan,” jawab Shafa dengan suara lemahnya.
“Lho, Fa, loe sakit?” tanya Anna.
“Enggak kok, Na. Tapi, gue ada kabar bagus untuk lo. Tapi tunggu lo pulang besok, baru gue kasih tau,” balas Shafa.
“Apa itu? Ngapain harus nunggu besok? Sekarang aja, Fa!” seru Anna di sebrang ponsel.
“Oke. Tapi, lo jangan kaget ya. Na, gue hamil,” kata Shafa.
“Hah? Apa? Fa, gue gak salah denger ‘kan?” tanya Anna dengan kaget.
Bayu yang kaget dengan suara Anna pun segera mendekat pada sang istri.
Shafa dan Anna pun mengobrol hingga Anna terganggu dengan Bayu yang ada di sampingnya.
“Udah dulu ya, Fa. Jaga dirimu baik-baik. Kita besok ketemu lagi. Assalamualaikum,” ucap Anna mengakhiri telponnya.
Setelah menutup telpon, Anna segera menoleh pada suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Ada apa, Sayang? Kenapa kamu sampai menangis, ada apa dengan Shafa?” tanya Bayu khawatir melihat air mata Anna yang sempat menetes pada pipi Anna.
“Shafa, Bang ... Shafa hamil, anaknya kembar,” jawab Anna terharu.
“Alhamdulillah, aku kira kenapa tadi. Habisnya, kamu menangis.”
“Anna terharu, Bang. Tapi, kasihan deh, Bang. Masa pas Shafa hamil, Kak Reigha malah ke Surabaya,” kata Anna berhasil membuat Bayu menoleh kembali.
__ADS_1
“Lah, udah berangkat ya?” tanya Bayu.
“Tadi Shafa yang cerita, Bang, katanya siang tadi berangkatnya,” jawab Anna membuat Bayu manggut-manggut.
“Yaudah, besok kita kan juga udah pulang. Sekarang yuk kita cari oleh" untuk semua,” ajak Bayu yang diangguki dengan semangat oleh Anna.
Mereka berdua pun pergi bersama untuk membeli oleh-oleh. Walau pikiran Anna tertuju pada Shafa.
Anna pun meminta sesuatu pada Bayu, dia meminta agar besok pulang ke Indonesia menggunakan penerbangan pertama agar lebih cepat sampai. Dengan senang hati, Bayu meng-iyakan permintaan Anna.
Pada sore harinya di Indonesia, kedua orang tua Shafa dan juga Anggi datang ke rumah papa Harun.
“Assalamu’alaikum,” ucap salam dari Ayah Reynand.
“Wa'alaikumsalam. Oh, ada besan, masuk sini, Pak!” seru Papa Harun saat pintu telah dibukakan oleh Mbok Nah. Kebetulan Papa Harun sedang di ruang tamu membaca koran.
Mereka pun segera masuk dan mengobrol bersama Papa Harun.
Ibu Khalisa pun menanyakan Mama Dhiya. Tapi, karena Mama Dhiya lagi nemenin Shafa di kamar, Papa Harun menyuruh langsung ke kamar Shafa saja. Tanpa menunggu lama, Ibu Khalisa dan Anggi melangkah menuju kamar Shafa.
Di Surabaya, Reigha udah sampai di bandara internasional Juanda, Surabaya. Ternyata sopir yang menjemput Reigha dan Dani udah menunggu. Reigha segera di antar ke hotel. Selama perjalanan, Reigha tak henti-hentinya memberikan kabar ke Shafa dan menanyakan kabar Shafa.
Sampai di hotel sudah malam, setelah membersihkan badannya, Reigha segera menelpon pimpinan cabang untuk membahas masalah besok pagi dan mengirimkan file untuk bahan meeting besok.
Reigha ingin segera menyelesaikan masalah di Surabaya supaya bisa segera pulang untuk menemani dan menjaga Shaga dan calon anaknya.
Keesokan paginya, Reigha segera berangkat untuk meeting di kantor anak cabang dan rencananya akan meninjau lokasi yang letaknya agak jauh dari kantor anak cabang tersebut.
Di tengah jalan, Reigha melihat seorang wanita hendak bunuh diri. Reigha pun segera meminta sopir untuk berhenti sebentar.
“Hei, tunggu. Tunggu, Nona. Apa yang nona lakukan itu tidak benar. Tolonglah turun dari situ!” seru Reigha.
“Apa peduli kamu, kamu siapa?” tanya wanita tersebut dengan isak tangisnya.
“Nona, saya tidak mengenal anda, dan anda tidak mengenal saya. Tapi, saya hanya mengingatkan anda kalau perbuatan anda ini tidak benar. Tolong anda turun, Nona!” seru Reigha kembali.
“Gak, gak mau. Gak ada yang peduli sama aku, gak ada yg mau ngertiin aku. Lebih baik aku pergi dengan cara ini,” ucapnya tak menggubris apa yang dikatakan Reigha.
“Tolonglah, Nona, apapun masalah anda, saya akan membantu. Tolong anda turun dari situ,” titah Reigha.
“Benarkah? Kamu mau membantu masalahku? Kamu gak akan mengingkarinya? Janji?” tanya wanita itu dengan semangatnya setelah mendengar kata Reigha yang akan membantunya.
“Iya, InsyaaAllah saya janji. Jadi, sekarang tolong anda turun dari situ,” ucap Reigha yang diangguki oleh wanita itu.
Dan akhirnya wanita itu turun. Namun, setelah menanjak tanah, wanita itu langsung pingsan. Reigha segera membawanya ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Reigha segera menelepon Dani.
“Halo, Dan, kamu udah sampai di lokasi?”
__ADS_1
“Ya, Pak, saya udah sampai dari tadi. Sekarang bapak di mana?” tanya Dani.
“Oke. Saya masih ada urusan, kamu tolong handle dulu ya kerjaannya. Nanti kamu laporkan saat kita di hotel,” jawab Reigha.
“Baik, Pak.”
Setelah di periksa, wanita itu segera dibawa ke ruang rawat inap. Reigha terus menungguinya. Saat Reigha hendak menelepon Shafa, terdengar suara ketukan dari luar.
Tok...Tok...Tok...
“Maaf, Pak, ini resep obat. Mohon segera ditebus,” ucap perawat tersebut.
“Baiklah, saya titip sebentar ya, Sus. Akan saya tebus dulu obatnya,” balas Reigha.
Setelah menebus obat, Reigha segera kembali ke ruang rawat wanita itu yang tak tau siapa namanya.
Saat masuk ke ruangan, Reigha di buat kaget. Karena ternyata perempuan itu adalah anak dari temannya Papa Harun.
“Lho, Pak Rudi, kok ada di sini?” tanya Reigha.
“Pak Reigha, kebetulan sekali. Ini anak saya, Pak. Pak reigha lagi ngapain di sini?” jawab Pak Rudi sembari bertanya kembali.
“Oh, ini anak bapak. Tadi saya ketemu sama anak bapak saat anak bapak mau bunuh diri.”
“Astaghfirullah, terima kasih ya, Pak Reigha. Anak saya ini mengalami depresi sejak kekasihnya meninggalkannya saat keadaan hamil. Bahkan sampai keguguran pun dia gak tau, Pak,” ucap Pak Rudi menceritakan.
“Lalu, kemana laki-laki itu, Pak? Apa bapak tidak mencarinya?” tanya Reigha.
“Sudah, Pak. Bahkan, saya udah temui laki-laki itu. Ternyata, dia udah menikah dan udah punya anak,” jawab Pak Rudi sedih.
“Hmm, begitu. Pak Rudi, sepertinya anak bapak mau sadar,” kata Reigha saat mengetahui kalau tangan anak Pak Rudi gerak.
“Bentar ya, Pak Reigha, saya panggil dokter dulu.” Pak Rudi segera keluar mencari keberadaan dokter.
Setelah pak Rudi memanggil dokter, dengan segera dokter memeriksa keadaan anaknya.
“Pak Rudi, Santi sebentar lagi sadar. Tolong jangan buat dia mengingat apa yang membuatnya depresi,” titah Dokter Lukman.
“Baiklah, Dokter Lukman. Terima kasih. Oh iya, terima kasih juga karena tadi anda sudah ngabari kalau Santi di rumah sakit ini,” ucap Pak Rudi.
“Pak rudi kenal sama dokternya?” tanya Reigha.
“Iya, Pak Reigha. Ini dokter Lukman yang menangani Santi sejak awal mengalami depresi,” jawab Pak Rudi.
“Oke, baiklah. Saya keluar dulu mau ke ruangan pasien yang lain.” Dokter Lukman pun melangkah keluar dari ruangan Santi.
Tepat saat dokter menutup pintu, Santi membuka matanya, “Pa ... Papa, aku dimana?” tanya Santi.
“Kamu di Rumah sakit, Nak, apa yang kamu rasakan?” tanya Pak Rudi.
__ADS_1
“Sudah lebih baik, Pa. Oh iya, Pa. Ini dia, Mas ini mau menikah sama Santi, Pa. Jadi, Mas ini yang akan jadi Ayah dari anak Santi,” jawab Santi seraya memberitahu pada sang Papa.