Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 20 - Menikahi Susterku


__ADS_3

Anggi yang merasa tertantang pun langsung menoleh pada Reigha dan bertanya, “Abang ipar, kalau misalnya sama Anggi, mau gak?”


“Mau dong, ‘kan Anggi gak kalah cantik dari Kak Shafa,” jawab Reigha yang sengaja membuat Shafa semakin kesal.


Shafa berniatan ingin pergi dari Reigha, tetapi tangan kiri Reigha mampu menahan kepergian Shafa seraya berkata, “Gitu aja kok ngambek? Tenang aja. Aku ‘kan gak akan mau pergi dari kamu. Dan, aku gak akan biarkan kamu pergi dari aku.”


Shafa tersenyum, dia benar-benar bersyukur dengan suaminya yang selalu membuat Shafa bahagia ntah itu dengan ucapannya atau dengan sikapnya.


****


Keesokan harinya, Shafa membantu Reigha mempersiapkan diri untuk ke rumah sakit hari ini karena ada jadwal kontrol.


Setelah dirasa sudah siap, Shafa pun bergantian mempersiapkan dirinya sendiri. Kemudian berjalan mendorong kursi roda Reigha menuju meja makan agar sebelum ke rumah sakit Reigha dapat terisi perutnya.


“Rapi banget pagi-pagi. Mau kemana?” tanya Bayu.


“Hari ini jadwal Mas Reigha kontrol dan therapy,” jawab Shafa.


“Gue gak bisa nemenin lo, karena hari ini gue harus belajar bareng sama mbak Puspa di kantor,” ucap Anna.


“Iya, gapapa kok, Na. Gue bisa antar Mas Reigha sendiri,” balas Shafa tersenyum.


“Udah, biar gue yang anter suster Shafa dan Reigha ke rumah sakit,” ujar Bayu yang diangguki oleh kedua orang tua Reigha dan juga Anna.


Setelah semuanya selesai sarapan, kini Shafa mendekat pada Mama dan Papa. Menyalimi keduanya kemudian mendorong kursi roda menuju mobil yang telah terparkir di depan rumah.


“Na, ayo masuk!” seru Bayu. Anna pun membuka pintu, masuk kedalam mobil.


“Kenapa kok gue jadi ikutan masuk? Kalau gue ikut lo, jadinya lo harus jagain gue dan Shafa, Bang!” seru Anna.


“Gue yakin lo aman, Na. Kalau lo mau ikut gapapa. Tapi kalau lo gak ikut hanya karena Rendra, ya gue gak maksa,” ujar Shafa membuat Anna bungkam.


Bayu tampak mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


“Hallo, Puspa. Saya mungkin agak lama ke kantor, karena harus antar pak Reigha ke rumah sakit untuk kontrol. Untuk Anna, nanti datang ke kantor bareng sama saya,” ucap Bayu pada Puspa disebrang telpon.


Bayu menutup ponselnya dan memasukkan kedalam saku.


Saat diperjalanan, hanya terdengar suara Shafa dan Reigha yang tengah mengobrol. Sementara Bayu dan Anna hanya diam dengan pikirannya masing-masing.


Sesampainya di rumah sakit, Shafa membantu Reigha turun dari mobil agar dipindahkan ke kursi roda. Bayu pun memarkirkan mobilnya ke area parkiran.

__ADS_1


Shafa dibantu dengan Anna masuk kedalam rumah sakit, melakukan pendaftaran dan menunggu di lobby rumah sakit. Tiba-tiba, Shafa didatangi oleh seorang laki-laki yang memakai baju perawat. Dia adalah mantri rumah sakit tersebut yang tak lain adalah Rendra.


“Hai, Shafa. Apa kabar?” tanya Rendra duduk disamping kursi Shafa yang kosong.


Padahal, Shafa duduk tepat disamping Reigha menunggu Anna yang tengah melakukan pendaftaran.


“Baik,” jawab Shafa.


Bayu tiba-tiba masuk dan mendekat pada Reigha. Kemudian, Bayu kaget saat melihat adanya Rendra disamping Shafa.


“Lo ngapain di sini?” tanya Rendra yang ternyata juga menyadari kehadiran Bayu.


“Bukan urusan lo!” seru Bayu.


“Fa, ini udah selesai. Kita tinggal nunggu dokternya aja nih,” ucap Anna yang belum menyadari adanya Rendra diantara mereka.


“Oh pantes aja lo disini. Ternyata ada Anna!” celetuk Rendra membuat Anna menoleh pada sumber suara.


Anna kaget. Anna pun tampak ketakutan. Dia berjalan kecil mendekat pada Bayu.


“Ren, lo kenapa selalu buat Anna ketakutan?” tanya Shafa.


“Perbuatan lo yang keterlaluan, Ren!” seru Shafa membuat Rendra mendelik.


“Lo gak tau apa-apa, Fa,” balas Rendra kembali.


Shafa sudah malas menanggapi Rendra, Shafa pun mendorong kursi roda Reigha diikuti oleh Bayu dan Anna untuk menuju ruangan dokter menunggu kedatangan dokter di tempat tunggu yang tepat berada di depan ruangan dokter tersebut.


Rendra tampak tak mengikuti mereka bertempat, ntah kemana dia pergi.


Cukup lama memakan waktu, hingga dua jam pun telah berlalu dokter baru datang. Setelah selesai di ruangan dokter, Reigha langsung ditherapy empat puluh lima menit. Kemudian, bersiap untuk kembali pulang.


Saat mereka hendak pulang, Shafa tiba-tiba dipanggil oleh salah satu suster.


“Suster Shafa, lama banget gak kesini?” tanyanya.


Semakin lama berbincang, dia malah mengajak Shafa untuk pergi berdua. Awalnya, Bayu dan Anna berhasil menghalangi, tetapi dia seakan meyakinkan Anna kalau Shafa akan aman. Shafa pun berhasil dibawa oleh suster tersebut hingga Shafa pun tiba di salah satu ruangan.


“Eh, lo mau kemana?” tanya Shafa yang kaget saat suster tersebut malah meninggalkan dirinya.


“Dia mau keluar karena udah selesai dengan tugasnya, Fa,” jawab Rendra.

__ADS_1


“Ren, lo tuh mau apa? Kalau mau ngobrol ‘kan bisa diluar,” ujar Shafa.


“Fa, lo harusnya sadar kalau gue itu suka sama lo. Tapi, kenapa lo malah nikah sama orang yang sakit-sakitan gitu? Kayak lo gak laku aja!” seru Rendra.


Shafa berjalan menuju pintu berniatan untuk keluar. Tapi, ternyata pintu tersebut dikunci.


“Biarkan gue pulang, Ren!” seru Shafa.


“Gue gak mau ngelepasin lo untuk kedua kalinya, Fa,” balas Rendra membuat Shafa geram.


Sementara Reigha yang sejak kepergian Shafa mulai merasa cemas, dia pun mengeluarkan suaranya.


“Bayu, tolong cari Shafa,” ucap Reigha.


“Gue kenal sama suster yang bawa Shafa. Biar gue coba cari dulu. Bang, lo jagain suami Shafa di sini deh,” balas Anna yang dapat anggukan dari Bayu.


Anna pun berjalan menelusuri rumah sakit dari lobby hingga ke Nurse Station mencari keberadaan suster yang membawa Shafa. Anna kenal dan tau betul wajah suster tadi. Tetapi, Anna lupa siapa nama suster tersebut.


“Sus, lihat Shafa gak? Tadi dia ke rumah sakit buat nemenin suaminya kontrol,” ucap Anna bertanya pada dua suster yang sedang mengobrol di depan ruangan. Anna tau betul kalau keduanya itu kenal dengan Shafa.


“Gue tadi lihat, Shafa jalan ke sana,” jawab salah satu suster.


Anna pun berterima kasih dan berjalan menelusuri lorong yang membawanya ke ruangan yang telah lama tidak digunakan.


“Apa dia tadi bohongin gue, ya? Mana mungkin Shafa ke sini. Gak jelas banget!” seru Anna. Kemudian, putar balik mencari ke arah lain.


Anna pun akhirnya menyerah dan kembali pada Bayu dan Reigha yang tengah menunggu kabar baik dari Anna.


“Gimana?” tanya Bayu yang melihat Anna kembali sendirian.


“Gue udah cari kemana-mana, tapi gak nemu. Kok bisa hilang tiba-tiba sih!” jawab Anna kesal.


“Gini aja. Gue antar Reigha dan lo ke rumah. Lo tolong jagain Reigha. Biar gue coba bantu cari suster Shafa di sini. Kalau gue bawa lo, gue yakin lo bakal jadi sasaran Rendra,” ucap Bayu yang diangguki oleh Anna.


Bayu beralih menatap pada Reigha seraya bertanya, “Gapapa ‘kan, Gha?”


“Iya. Tolong temukan istri gue, ya,” jawab Reigha dengan tatapan kosongnya.


Bayu pun mengangguk. Anna mendorong kursi roda Reigha menuju lobby rumah sakit sembari menunggu Bayu yang tengah mengambi mobil di parkiran.


“Na, apa mungkin Shafa dibawa Rendra?” tanya Reigha lirih pada Anna saat keduanya masih menunggu Bayu di lobby rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2