
“Bismillah … dengan mengucap kata bismillah, lamaran dari mas Calvin aku terima,” ucap Daviana dengan wajah yang masih menunduk.
“Alhamdulillah,” kata semua orang serempak.
Namun, tidak dengan Reza yang bagaikan disambar petir kala itu. Mendengar ucapan Daviana membuatnya ingin pergi saat itu juga.
‘Nai, apakah kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan itu? Keputusan kamu terlalu terburu-buru,’ batin Reza yang saat ini tampak memperhatikan Daviana.
Pergerakan Reza pun tertangkap oleh netra Reigha.
‘Maafkan papa, Nak, andai saja papa lebih cepat menyadari perasaan kamu pada Daviana, pasti kamulah yang ada di posisi Calvin saat ini,’ batin Reigha.
“Baiklah, bagaimana ini, Pak Reigha … apa kita langsung menentukan hari baiknya saja?” Tanya pak Hartawan. Namun, tak direspon karena Reigha tengah melamun saat ini.
“Pak Reigha,” panggil pak Hartawan kembali.
“Mas, dipanggil tuh,” ucap Shafa sembari memegang lengan suaminya.
Reigha sentak tersadar dari lamunnya dan menoleh pada istrinya seraya bertanya, “Ada apa, Sayang?”
“Itu kamu dipanggil sama pak Hartawan, Mas,” jawab Shafa.
“Eh … iya, ada apa, Pak?” tanya Reigha menoleh pada Pak Hartawan.
“Bagaimana … apa kita langsung menentukan hari baiknya saja?” balas pak Hartawan kembali bertanya.
“Coba tanyakan pada anak saya saja. Keputusan ada padanya, Pak,” jawab Reigha mengedarkan pandangannya menatap pada putrinya.
“Bagaimana, Nak?” tanya pak Hartawan yang kali ini bertanya pada Daviana.
“Emm … om, saya minta waktu untuk mengenal dekat dengan mas Calvin,” jawab Daviana dan disetujui oleh pak Hartawan.
“Kalau begitu … Calvin, kamu harus bisa meluangkan waktu untuk Daviana,” kata pak Hartawan.
“Iya, Pa.” Calvin menoleh sedikit pada papanya kemudian melirik Daviana sekilas.
Pembahasan mereka pun telah diakhiri dan dilanjutkan dengan makan malam bersama dengan keluarga pak Hartawan. Hingga setelah selesai, pak Hartawan dan keluarganya pun pamit pulang.
“Pak Reigha, terima kasih untuk makan malam yang istimewa ini dan juga jawaban yang membahagiakan dari anak pak Reigha. Semoga anak kita berjodoh ya, Pak,” kata pak Hartawan dan mendapat anggukan mantap dari ibu Monica.
“Sama-sama, Pak. Aamiin,” ucap Reigha sembari tersenyum kecil.
Reigha, Bayu, dan istri-istri mereka pun mengantarkan pak Hartawan dan keluarga hingga mobil pak Hartawan pun meninggalkan kediaman rumah Reigha. Setelah itu, mereka pun memutuskan masuk ke dalam rumah.
Reigha, Bayu, dan istri-istrinya pun kembali duduk di ruang tamu karena melihat Daviana yang menyender pada bahu Daviandra juga ditemani oleh nenek Khalisa, serta om dan tantenya.
“Nak, apakah jawaban kamu tadi membuat pikiran kamu kacau?” tanya Reigha yang saat ini duduk di sebelah Daviana.
“Nggak, Pa. Nai baik-baik aja,” jawab Daviana yang kini menatap dalam pada netra sang papa.
__ADS_1
“Kamu gak membohongi papa ‘kan?” tanya Reigha yang sadar akan tatapan putrinya itu.
“Tentu enggak, Pa,” jawab Daviana.
“Emm … Pa, Ma, Pi, Mi, Nek, Om, Aunty … Nai ke kamar duluan, ya,” lanjut Daviana yang berpamitan untuki ke kamar.
“Kamu gapapa ‘kan, Nai?” tanya Anggi yang ikut heran dengan pertanyaan Reigha juga raut wajah Daviana yang tampak bingung dengan keputusannya sendiri.
“Gapapa, Aunty,” jawab Daviana berjalan mendekat pada Anggi kemudian memeluknya erat. Karena, sejak dulu Daviana sangat dekat pada Anggi.
Semua Netra menatap pada Daviana, mereka tau Daviana belum sepenuhnya yakin dengan keputusannya sendiri. Sementara Daviana kini tengah menangis dalam diamnya. Setelah Daviana melepas semua, dia pun segera berlalu pergi menuju ke kamarnya.
“Sebenarnya ini kenapa?” tanya nenek Khalisa.
“Apakah ini karena paksaan kalian?” lanjut nenek Khalisa bertanya pada anak juga menantunya.
“Kami gak maksa sama sekali, Bu,” jawab Reigha.
“Sepertinya cucuku butuh waktu untuk memberi kenyamanan diri dengan keputusan yang udah diambilnya,” ungkap nenek Khalisa dan membuat mereka semua manggut-manggut.
“Hmm ... Nek, Pa, Ma, Pi, Mi, semuanya … Reza pamit duluan mau ke apartemen,” ucap Reza berlalu pergi meninggalkan rumah kediaman Reigha.
“Loh, Za ... emangnya kamu gak mau tidur di rumah aja?” tanya Anna pada putranya.
“Gak, Mi, Reza mau di apartemen. Ada yang harus dikerjakan,” dusta Reza.
“Kamu hati-hati di jalan, ya,” titah Shafa.
Reigha mengajak Bayu ke ruang kerjanya.
“Bu, Reigha mau ke ruang kerja dulu,” pamit Reigha.
“Iya, Nak. Pergilah,” balas nenek Khalisa.
“Bay, ayo ikut gue bentar,” kata Reigha.
“Ngapain?” tanya Bayu.
“Ayo aja!” seru Reigha.
Mereka berdua pun berjalan menuju ke ruang kerja Reigha. Sesampainya di ruang kerja, Reigha tampak duduk di sofa bersama Bayu.
“Kenapa lo, Gha?” tanya Bayu.
“Dari tadi gue perhatikan, Reza itu sedih, Bay. Perasaan dia akan terbuang sia-sia gitu aja,” jawab Reigha.
“Lah, trus gue harus gimana?” balas Bayu bertanya.
“Gue juga bingung gimana caranya agar Daviana gak jadi sama Calvin,” ucap Reigha.
__ADS_1
“Udahlah, Gha. Gak bisa dipaksain kalau emang gak jodoh,” kata Bayu.
“Tapi, Reza ... ”
“Udah, jangan pikirkan Reza. Nanti gue yang nasehati,” ucap Bayu dengan penuh keseriusan.
Sementara di ruang tamu, Shafa terlihat khawatir dengan putrinya pun segera menuju ke kamar Daviana.
Tok...Tok...Tok...
“Nak, ini mama,” kata Shafa.
“Masuk aja, Ma. Gak dikunci kok,” balas Daviana.
Shafa pun segera membuka dan mendekat pada putrinya yang tengah tengkurap di kasur.
“Kamu nangis?” tanya Shafa.
“Nggak kok, Ma. Mama gak perlu khawatir,” jawab Daviana.
“Kamu udah gak pernah mau cerita apa-apa lagi ke mama. Kenapa sih, Nak?” balas Shafa.
“Nai cuma takut salah ambil keputusan, Ma. Menurut mama, Nai harus gimana? Nai bingung, Ma,” kata Daviana.
“Nak, mama rasa tindakan mu untuk mengenal lebih jauh itu udah benar. Dari situ nanti kamu bisa melihat bagaimana Calvin ke kamu. Keputusan masih bisa kamu ubah kok selama kamu ada alasan untuk menolak dia saat masa pendekatan ini,” ucap Shafa.
“Jadi, Nai jalani aja dulu masa pendekatan ini ya, Ma?” tanya Daviana.
“Iya, Nak. Lebih baik begitu,” jawab Shafa sembari tersenyum.
“Mama yakin kamu pasti bisa menentukan mana pilihan terbaik kamu, Nak. Tapi kamu harus ingat satu hal, jangan kamu menerima Calvin hanya karena dia anak dari teman papa kamu, ya,” titah Shafa.
“Iya, Mama. Makasih ya, Ma.” Daviana bangun dan segera memeluk erat mamanya.
“Kalau ada apa-apa itu cerita, Nak. Jangan terlalu dipendam sendirian, mama jadi ikut kepikiran, Nak,” ucap Shafa.
“Iya, Ma. Maafin Nai ya,” balas Daviana.
“Yaudah kalau gitu kamu istirahat, mama mau ke bawah ngobrol sama nenek dan aunty,” kata Shafa.
Shafa pun segera meninggalkan kamar Daviana dan berjalan menuju ke ruang tamu kembali. Di sana udah ada Reigha dan Bayu yang kembali dari ruang kerja.
“Dari mana, Ma?” tanya Reigha.
“Dari kamar Naima, Pa. Mama khawatir tadi,” jawab Shafa.
“Anak kita gapapa ‘kan?” balas Reigha kembali bertanya.
“Gapapa kok, Pa. Nai hanya butuh waktu aja untuk mengenal Calvin lebih jauh,” ucap Shafa membuat Reigha manggut-manggut.
__ADS_1
“Reigha, Shafa, ibu mau nanya ... atas dasar apa perjodohan ini? Apa karena bisnis?” tanya nenek Khalisa hingga membuat Reigha dan Shafa saling tatap.