Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 28 - S2 Menikahi Susterku


__ADS_3

“Bentar gue coba dulu ya,” kata Reza sambil menyendokan makanannya dan memasukkan di mulutnya.


“Ini ... kok ini sepertinya masakan ...” lirih Reza.


“Hah? Masakan siapa, Za?” tanya Antonio yang gak sasaran mendengar jawaban dari Reza.


“Ini ... kok sepertinya masakan mama ya,” lirih Reza.


“Ma? mama lo di sini?” tanya Antonio.


Dan ditengah kebingungan mereka, tak lama Shafa keluar dari kamar sembari berkata, “Ternyata kamu masih ingat masakan mama, Nak.”


Reza dan Antonio pun menoleh. Dan Reza pun langsung memeluk Shafa.


“Ma, kok mama ada di sini? Kapan mama datang?” tanya Reza.


“Mama datang udah dari tadi, Za. Mama dikasih papa kamu kunci apartemen ini, jadi mama bisa langsung masuk,” jawab Shafa.


“Kok mama gak ngabari Reza, Ma ... kalau mama ngabari, ‘kan Reza bisa jemput mama,” balas Reza.


“Gimana mau ngabari, Za, kamu aja seakan-akan menghindar dari kami,” kata Shafa.


“Ma’afkan Reza, Ma,” ucap Reza.


“Yaudah, yuk makan. Sekalian ajak teman kamu!” seru Shafa.


“Wah, saya boleh ikut makan, Tan?” tanya Antonio.


“Tentu boleh dong, ayo sini kita makan bareng,” jawab Shafa.


Dan mereka pun makan bersama. Setelah makan dan mengobrol sebentar, Antonio pun segera pamit pulang, setelah mengantar Antonio sampai pintu, Reza pun segera duduk di samping mama Shafa.


“Ma, ada acara apa mama ke sini temui Reza?” tanya Reza.


“Masa mama kangen sama anak mama sendiri gak boleh,” balas Shafa.


“Ya boleh dong, Ma, mama tinggal di sini selamanya sama Reza pun ... Reza sangat senang,” ucap Reza.


“Kamu ini, Za, kalau mama di sini selamanya ... trus papa kamu gimana,” celetuk Shafa.


“Hehehe, siapa tau aja ... mama mau nemenin Reza,” lirih Reza sembari tersenyum.


Shafa pun segera menatap lekat Reza. Sementara Reza yang dihadapkan oleh Shafa pun jadi gugup.


“Ehmm ... mama kenapa natap Reza seperti ini?” tanya Reza gugup.


“Za, kamu kenapa gak bilang ke mama kalau kamu cinta sama Naima? Kalau aja mama tau dari awal, pasti mama akan sangat bahagia kalau kamu bisa menikah sama Naima, Nak,” ucap Shafa.


Sontak saja Reza kaget entah dari mana mamanya tau tentang hal ini.


“Mama tau tentang ini dari mana?” tanya Reza.


“Waktu itu ada kejadian hingga papa kamu menceritakan hal ini pada mama,” jawab Shafa.

__ADS_1


“Tapi mami gak tau ‘kan, Ma?” tanya Reza kembali untuk memastikan.


“Mami kamu gak tau kok. Hanya papa, papi, dan mama yang tau tentang kamu,” balas Shafa membuat Reza manggut-manggut.


“Maafkan Reza ya, Ma ... Reza terlambat menyadarinya. Tapi, gapapa kok, Ma. Semoga saja, Naima bahagia bersama suaminya nanti,” kata Reza yang malah malah membuat Shafa menitikan air matanya.


“Ma, mama kenapa nangis?” tanya Reza memeluk Shafa.


“Maafkan kami ya, Za ...gara-gara Naima mau nikah, kamu jadinya ninggalin keluarga kamu sampai harus pergi jauh gini,” lirih Shafa.


“Ma, mama kok ngomong seperti itu ... Reza gapapa kok, Ma,” ucap Reza seakan meyakinkan mamanya.


“Yaudah yuk, Ma, kita istirahat. Besok Reza akan ajak mama jalan-jalan,” lanjut ucapan Reza.


“Emangnya besok kamu gak sibuk?” tanya Shafa setelahnya.


“Karena mama ada di sini, besok seharian Reza akan temani mama,” jawab Reza.


“Makasih ya, Nak, kamu memang anak mama yang baik,” balas Shafa.


Reza pun hanya tersenyum, kemudian berkata, “Dah ... ayo, Ma. Pasti mama capek, ayo kita istirahat.”


“Iya, Nak ... ayo kita istirahat,” balas Shafa sembari tersenyum.


Dan mereka pun masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat.


Sementara di Indonesia, tepatnya di rumah kediaman Reigha. Tampak Reigha dan anak-anak baru sampai rumah, mereka di sambut oleh Bayu dan Anna yang sengaja menunggu anak-anak di rumah Reigha.


“Aduh... senangnya yang habis jalan-jalan sama papa,” celetuk Bayu.


“Hahaha ... bener itu, kalau ada mama, papa pasti maunya di rumah terus nempel sama mama,” imbuh Vilia.


“Hei, anak kecil ... kamu itu ngomongnya udah kayak orang besar aja,” ucap Daviana.


“Hehehe, itu fakta loh, Kak, papa tuh kalau ada mama gak akan mau jauh-jauh dari mama,” balas Vilia.


Reigha yang diomongin hanya diam saja sambil berbalas pesan dengan Shafa, Bayu yang melihatnya pun malah tertawa kemudian berkata, “Hahaha ... kalian ngomongin papa kalian, eeehh dia-nya lagi berbalas pesan sama mama kalian tuh.”


“Ah, kan ... papa tuh kalau udah ada mama, bakalan lupa sama kita,” celetuk Vilia.


“Kalian ngomongin apa sih?” tanya Reigha membuat Bayu semakin tertawa kencang.


“Hahahaha ... udah-udah, kalian ini gak kasihan sama papa lagi LDR gitu sama mama,” celetuk Bayu.


“Bay ... lo ngajarin apa ke anak-anak gue?” tanya Reigha setelahnya.


“Gue gak ajarin apa-apa. Mereka duluan yang mulai,” jawab Bayu.


“Udah ... ga usah diperpanjang. Ayo anak-anak, kalian ke kamar masing-masing bersih-bersih. Mami mau masak untuk makan siang,” ucap Anna menengahi.


“Mi, Al pulang dulu, ya,” kata Almeera.


“Kenapa kak Almeera pulang?” tanya Vilia.

__ADS_1


“Aku mau mandi di rumah, kan baju ku di rumah, Vil,” jawab Almeera.


“Oh iya deh, gapapa,” balas Vilia.


“Iya gapapa, Nak. Nanti kamu ke sini lagi setelah mandi, ya. Kita makan siang bareng di sini,” kata Anna setelahnya.


“Iya, Mami ... nanti Al langsung ke sini lagi kok,” ucap Almeera.


“Yaudah, ayo cepetan semua mandi!” seru Anna.


Anak-anak pun bubar menuju ke kamar masing-masing, sementara Reigha duduk di samping Bayu sembari masih berbalas pesan dengan Shafa. Anna pun tak mau mengganggu langsung ke dapur untuk memasak.


“Gha, gimana Shafa?” tanya Bayu.


Namun, pertanyaan Bayu tak didengar oleh Reigha. Bayu pun menemukan pundak Reigha hingga membuat Reigha kaget.


“Astagfirullah ... kenapa, Bay?” tanya Reigha.


“Lo tuh ... kalau udah ketemu sama istri beneran lupa sama sekitar. Udah gede-gede anak, udah mau nikah anaknya tetep aja ngebucin,” celetuk Bayu.


“Ya ... sory, kenapa, Bay?” tanya Reigha kembali.


“Gimana Shafa? Udah sampai sana?” balas Bayu kembali mengulangi pertanyaannya.


“Alhamdulillah udah sampai dan udah ketemu juga sama Reza,” jawab Reigha.


“Alhamdulillah ... di sana berarti udah malam ya?” tanya Bayu.


“Iyalah, Bay. Makannya udah pada istirahat, katanya Reza udah tidur dan besok mereka mau jalan-jalan,” balas Reigha.


“Ooo iya, baguslah. Setidaknya mereka menghabiskan waktu bersama,” ucap Bayu dan Reigha pun manggut-manggut.


“Yaudah, gue bersih-bersih dulu, Bay. Gerah,” kata Reigha.


“Oh pantes bau, yaudah sana lo!” seru Bayu.


“Haha, gak gitu juga lah, Bay,” celetuk Reigha sembari memaparkan bantal kecil sofa pada Bayu.


Kemudian Reigha pun berlalu pergi menuju ke kamarnya. Sementara Bayu membuka ponsel mengecek kantor.


Di kamar, bukannya Daviana mandi, dia malah asik dengan lamunannya setelah dia membuka ponsel.


“Kenapa Reza gak nelpon lagi, ya, dia gak aktif lagi,” lirih Daviana.


“Padahal, gue bentar lagi mau nikah. Masa Reza gak dateng lagi ke acara gue,” lanjutnya.


Kemudian, ketukan pintu kamar pun membuyarkan lamunannya.


Tok...Tok...Tok...


Daviana berdiri dan berjalan menuju pintu kemudian membukanya. Ternyata Vilia yang mengetuk pintu.


“Kenapa, Vil?” tanya Daviana.

__ADS_1


“Loh, Kakak kok belum mandi? Ayo kita turun, Kak,” balas Vilia.


__ADS_2