
Tak lama, Anna keluar dari kamarnya dan segera menemui Mama. Tapi, saat sudah dekat dari tempat Reigha yang asik makan makan durian, Anna langsung mual dan segera masuk ke kamar mandi. Anna pun muntah-muntah di kamar mandi.
“Mas, kasihan Anna, dia mual nyium bau durian, udah ya, Mas,” titah Shafa.
“Sebentarlah, Sayang, enak banget ini. Papa dan Mama mau gak?” ucap Reigha menawarkan.
“Udah, kamu aja yang makan,” balas Papa, diangguki oleh Mama.
“Fa, Mama beres-beres baju dulu, ya, besok ‘kan Papa dan Mama berangkat,” ucap Mama.
“Iya, Ma. Shafa juga akan ke kamar.”
Papa dan Mama pun akhirnya meninggalkan Reigha dan Shafa.
“Mas, Shafa duluan ke kamar, ya. Shafa mau istirahat dulu, pinggang Shafa capek,” ujar Shafa.
Setelah mendapat anggukan dari Reigha, Shafa pun melangkah ke kamar mengistirahatkan tubuhnya.
Keesokan harinya, saatnya Papa dan Mama pergi meninggalkan kedua menantunya yang sedang hamil.
“Sayang, Mama dan Papa berangkat dulu ya kalian hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa cepet telpon suami-suami kalian ya, Nak,” titah Mama.
“Iya, Ma. Mama gak perlu khawatir, kami akan jagain anak dan cucu Mama,” balas Shafa, diangguki oleh Anna yang berada di samping Shafa.
Setelah memeluk para menantunya, Mama dan Papa segera pergi ke bandara diantar oleh Bayu. Reigha pagi ini tidak bisa ikut mengantar ke bandara karena ada meeting penting. Di dalam mobil, Papa berpesan pada Bayu.
“Bay, kalau nanti Papa belum pulang dan Dani menikah, ambil amplop yang udah Papa siapkan di ruang kerja ya. Dan juga, kalian harus sempatkan datang di pernikahan Dani tanpa melihat masa lalu Santi. Santi berlaku seperti kemarin karena dia depresi, jadi jangan membencinya,” tutur Papa Harun.
“Dan untuk kamu dan Reigha, harus ekstra sabar menghadapi istri hamil, karena wanita hamil itu sensitif. Jangan sampai menolak apapun keinginannya,” imbuh Mama Dhiya.
“Iya, Pa, Ma, kami akan sabar menghadapi Anna juga Shafa.”
Kini, mereka pun sampai di bandara. Setelah Papa dan Mama check-in, Bayu segera pergi meninggalkan bandara.
Di dalam bandara, Mama berkata, “Pa, sebenarnya Mama itu gak tega ninggalin mereka loh, apa kita tunda dulu aja ya, Pa?”
“Ma, sebenarnya selain kita akan pergi jalan-jalan untuk mengganti waktu Papa yang selama ini dihabiskan untuk bekerja. Papa juga ingin kedua anak kita mandiri. Bagaimana cara mereka menghadapi istrinya, menghadapi setiap masalah yang datang padanya. Kita gak bisa terus-terusan membantu mereka menyelesaikan masalahnya, Ma, kapan nanti dia bisa bersikap dewasa, kapan nanti dia bisa mendidik anak-anaknya kalau tiap ada masalah kita yang bantu menyelesaikan,” balas Papa Harun menjelaskan.
“Baiklah, Pa, Mama ikuti apa kata papa.”
Dan panggilan untuk penumpang pun terdengar, mereka pun segera naik pesawat meninggalkan Indonesia.
Setelah meninggalkan bandara, Bayu langsung mampir ke kantor Reigha untuk ngobrol sebentar dengan Reigha. Namun, saat di lobby ternyata Ivanka tampak tengah menunggu Reigha yang sedang meeting.
__ADS_1
Saat Bayu masuk kantor, Ivanka yang tau pun segera menghampiri, “Bay, baru datang? Apa kabar?”
“Baik, iya baru datang. Istri gue lagi hamil jadi gue harus memastikan dulu dia baik-baik aja baru berangkat ke kantor,” jawab Bayu.
‘Apa? Anna hamil?’ batin Ivanka geram.
“Oh, selamat ya, Bay, semoga bayinya selamat,” balas Ivanka membuat Bayu mendelik.
“Bayinya selamat? Maksud lo do'ain Anna yang gak baik, gitu?” kata Bayu dengan emosi.
“Eh, enggak gitu juga, Bay. Maksud aku ... ”
Bayu pun segera melangkah menuju lift tanpa apa yang akan Ivanka ucapkan padanya. Sebelum masuk lift, Bayu bertemu OB, “Tolong buatkan minuman buat saya dan antar ke ruangan Pak Reigha.”
“Baiklah, Pak,” balas OB tersebut langsung melangkah menuju pantry.
Bayu pun langsung masuk ke lift menuju ke ruangan Reigha. Ivanka yang sempat mendengar pun merasa ada kesempatan.
‘Baiklah, segala cara udah gue coba, sekarang gue nekat. Untung gue selalu bawa, jadi segera bertindak aja, lagian Pak Reigha meetingnya masih satu jam lagi, cukuplah untuk gue bisa jadi istri kedua Bayu,’ batin Ivanka sambil tersenyum smirk.
Ivanka segera mengikuti OB tersebut ke pantry. Ivanka terus mengawasi OB tersebut. Saat sudah siap, OB tersebut di panggil oleh Ivanka.
“Permisi, bisa minta tolong sebentar? Saya dari tadi nyari OB tapi gak ketemu. Tuh tolong di toilet sepertinya ada yang jatuh, dan saya gak bisa membantu karena saya udah di tunggu Pak Reigha,” ucap Ivanka dengan raut wajah yang dibuat-buat tampak cemas.
Ivanka segera menyampurkan minuman Bayu dan segera mengaduknya.
“Udah saya hubungi teman saya, Bu. OB yang lain saat ini segera menuju toilet, permisi,” ucap OB tersebut dan akan segera pergi ke ruangan Reigha mengantarkan minuman untuk Bayu.
“Huft, lancar ... tinggal tunggu reaksinya,” lirih Ivanka tersenyum puas.
OB tersebut menuju ke ruangan Reigha dan segera mengetuk pintu.
“Masuk!” sahut Bayu.
“Ini minuman yang bapak minta, Pak,” ucapnya seraya meletakkan gelas di hadapan Bayu.
“Oke, terima kasih, kamu boleh pergi.”
OB pun segera meninggalkan ruangan Reigha. Sambil menunggu Reigha, Bayu menelpon Anna sekedar memberi kabar dan bertanya sedang apa. Sambil mengobrol di telpon, Bayu sesekali meminum minuman yang udah dicampur sesuatu tadi sampai habis setengah.
Saat udah mengakhiri telponnya dengan Anna, tiba-tiba Bayu merasa badannya terasa panas.
‘Apa yang terjadi denganku, badannya gue rasanya panas banget, apa AC-nya Mati ya,’ batin Bayu.
__ADS_1
Saat Bayu merasa gerah, Ivanka mengetuk pintu.
Tanpa tau siapa yang mengetuk pintu, sangking gak konsentrasi, Bayu menyaut dan langsung menyuruh masuk.
Saat masuk ke ruangan Reigha, Ivanka sengaja berjalan sambil menggoda Bayu, kancing bajunya dibuka agak ke bawah dan roknya dinaikkan ke atas.
“Loh, kok kamu yang di ruangan, Pak Reigha mana, Bay?” tanya Ivanka pura-pura tidak tau.
Bayu tidak menjawab, dia merasa saat melihat Ivanka tubuhnya langsung bereaksi. Untung saja Bayu masih menahan hasratnya. Pikirannya masih bisa mencerna kalau itu gak boleh dilakukan.
Ivanka pun menghampiri Bayu, karena Ivanka tau kalau di pegang maka akan tak terkendali hasratnya.
“Bay, kamu kenapa?” tanya Ivanka sambil mendekat dan memegang paha Bayu.
“Akh! jangan pegang gue, Ivanka.”
Ivanka malah semakin berani, Bayu yang udah gak kuat menahan hasratnya segera masuk ke kamar mandi Reigha dan segera menguncinya dari dalam.
“Bay, buka pintunya. Gue akan bantu lo!” teriak Ivanka. Tapi, Bayu gak merespon sama sekali, hingga suara pintu di buka. Ternyata, Reigha udah kembali ke ruangan.
“Sial. Lagi-lagi gue gagal.” Ivanka segera merapikan bajunya dan berjalan keluar melihat siapa yang datang.
“Loh, Bu Ivanka, ngapain di sini?” tanya Reigha yang heran melihat adanya makhluk seperti Ivanka keluar dari ruang istirahat yang berada di ruangan Reigha.
“I-itu tadi saya menunggu anda, Pak, ada yang mau saya bicarakan,” jawab Ivanka gugup.
“Tapi kenapa anda keluar dari ruang istirahat saya? Apa yang udah anda lakukan di ruangan saya?” selidik Reigha.
“Gak, Pak, saya gak ngapa-ngapain. Itu tadi saya melihat Pak Bayu sepertinya sedang tidak enak badan, sampai keringat dingin. Tapi, sekarang dia di kamar mandi, saya khawatir itu aja,” elak Ivanka.
“Baiklah sekarang anda ada perlu apa, biarkan Bayu di kamar mandi, itu nanti akan jadi urusan saya.”
Lalu ivanka dengan dongkolnya membahas masalah kerja samanya dan kurang lebih tiga puluh menit pembahasan selesai. Reigha pun menyuruh Ivanka pergi.
“Baiklah, karena pembahasan sdh selesai, silakan abda meninggalkan ruangan saya,” titah Reigha.
“Tapi, Pak, gimana dengan Pak Bayu?” tanya Ivanka yang ternyata masih berusaha ingin menemui Bayu.
“Itu biarlah jadi urusan saya, silakan anda pergi!” balas Reigha.
Tanpa pamit, Ivanka pun meninggalkan ruangan Reigha dengan emosi, “Huh, lagi-lagi rencana gue gagal.”
Setelah Ivanka keluar, Reigha segera mengunci pintu ruangannya. Kemudian, Reigha segera menuju kamar mandi.
__ADS_1
“Bay, Bay, ini gue. Lo kenapa?” tanya Reigha dari luar pintu kamar mandi.