Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 7 - S2 Menikahi Susterku


__ADS_3

Tak lama kemudian yang di tunggu pun keluar dari ruang kerja.


“Nah, tuh mereka baru keluar,” kata Shafa membuat netra Anna mengikuti arah tangan Shafa.


“Yaudah ya, Fa, gue pulang dulu,” ucap Anna.


“Iya, gak nunggu dulu?” tanya Shafa.


“Ditunggu sambil jalan ajalah. Mereka tuh kalau udah berdua suka lupa waktu,” jawab Anna.


Shafa pun tersenyum dan mengangguk membenarkan. Anna pun udah keluar dari rumah Reigha.


“Gha, gue pulang dulu. Tuh istri gue udah duluan keluar dari rumah,” ucap Bayu berpamitan setelah menyadari Anna yang barusaja keluar rumah.


“Yaudah, lanjut besuk aja ... susulin gih istri lo!” seru Reigha.


Bayu pun segera keluar rumah menyusul langkah Anna, sebelum keluar rumah terlebih dulu Bayu menyapa Shafa, setelah itu mereka pun pulang ke rumah. Shafa dan Reigha segera masuk ke kamarnya untuk beristirahat.


Keesokan paginya, seperti biasa setelah mereka sarapan mereka segera beraktifitas seperti biasanya.


Vilia hari ini sekolah diantar Daviana, karena perjalanan mereka searah, sedangkan Daviandra dan Reza segera bersiap untuk ke kantor.


Sementara Shafa dan Anna sejak pagi, udah sibuk di dapur karena harus memasak untuk menyelesaikan pesanan dari kolega Reigha. Sedangkan Reigha, udah berangkat kerja dari setelah mereka sarapan.


Di kantor, Daviandra, Reza dan bu Maya dipanggil Dani untuk ke ruangannya.


Bu Maya segera datang lebih dulu menemui Dani, sedangkan Daviandra dan Reza menyusul belakangan.


“Ada apa ya pak Dani, kenapa memanggil saya?” tanya bu Maya.


“Tunggu sampai kedua OB bru datang, biar gak bolak balik menjelaskan,” jawab Dani membuat Maya mencurutkan bibirnya.


Tak lama kemudian, Daviandra dan Reza datang.


“Silahkan duduk!” seru Dani ketika Daviandra dan Reza masuk ke ruangannya.


“Karena semua udah datang, saya hanya ingin memberikan kertas ini ke kalian semua, bacalah dulu. Kemudian, kalau ada yang ditanyakan ... silakan,” titah Dani mengeluarkan 3 lembar kertas dan disodorkan pada tiga orang tersebut.


Mereka pun segera membaca kertas yang diberikan Dani. Setelah itu, Bu Maya langsung protes.


“Kenapa sih, Pak, sepertinya mereka sangat diistimewakan?” tanya bu Maya.


“Kalau mau protes, langsung ke yang tanda tangan. Lihat ‘kan itu siapa yang tanda tangan,” jawab Dani.


Netra bu Maya pun langsung turun pada tulisan paling bawah dan ternyata yang tanda tangan bukan hanya Reigha tapi juga Bayu.


“Tapi kenapa mereka jam kerjanya gak tentu sih, Pak?” tanya bu Maya.

__ADS_1


“Mereka kerja sesuai jadwal kuliahnya,” jawab Dani.


“Wahhh enak banget. Bisa-bisa, mereka ngelunjak nanti, Pak,” celetuk bu Maya.


“Bu Maya, saya minta anda ke ruangan HRD minta surat pemberhentian kerja!” seru Bayu yang langsung masuk ke ruangan Dani.


“Pagi, Pak Bayu. Maaf sebelumnya, saya hanya membela yang lain aja, Pak. Kenapa hanya mereka yang diistimewakan,” balas bu Maya.


“Baiklah, akan saya jelaskan. Tapi saya harap anda jangan kaget ya. Dan setelah saya jelaskan, segera ke HRD ambil uang pesangon, karena hari ini merupakan kerja terakhir anda, Bu Maya,” kata Bayu.


“Baiklah, Pak, setidaknya saya keluar tidak dengan penasaran,” celetuk bu Maya.


Bayu segera menyuruh Daviandra dan Reza mendekat, “Kalian mendekat ke bu Maya.”


Daviandra dan Reza pun segera mendekat ke bu Maya.


“Dani, tolong buka samaran mereka!” seru Bayu.


Dani pun menurut dan saat mereka udah melepas penyamaran, terkejutlah bu Maya.


“Mas Daviandra, mas Reza ternyata anda ... apa maksud semua ini?” tanya bu Maya marah karena merasa di bohongi.


“Maafkan kami, Bu, kami bukan bermaksud membohongi bu Maya, kami hanya gak ingin dikenali semua karyawan di sini. Dan kami kerja ingin dimulai dari bawah dulu,” jawab Daviandra.


“Tapi gak begitu juga caranya, kamu ingin anak-anak saya gak makan,” protes bu Maya.


“Maaf, Bu, kalau masalah itu salah ibu sendiri. Udah berapa kali saya dan pak Samsul menegur anda agar jangan perlakuan mereka seperti itu. Tapi, anda tidak mau mendengarkan. Jadi, bukan salah mereka,” sambar Dani.


“Pi, om Dani, jangan seperti ini, kasihan keluarganya. Jangan sampai bu Maya dipecat,” pinta Daviandra.


“Dia memang pantas dipecat, Dra, dia gak bisa menghargai orang lain,” balas Bayu.


“Tapi, Pi ... gimana dengan keluarganya?” tanya Reza.


“Papa kamu udah menyiapkan pesangon yang cukuplah untuk enam bulan kedepan. Jadi, selama bu Maya belum dapat kerjaan, dia akan masih menerima gaji dari kantor ini,” jawab Bayu.


“Tapi, lirih Daviandra tapi segera disambar oleh Bayu.


“Udahlah, Andra, Reza, kalian ada jadwal kuliah ‘kan. Udah sana berangkat!” seru Bayu.


“Iya, Pi, kami berangkat dulu ya. Mari, Om,” kata Daviandra dan Reza sambil keluar dari ruangan. Kemudian, menuju ke ruangan Reigha untuk berpamitan.


Setelah berpamitan, mereka pun menuju ke kampus tempat mereka melanjutkan S2-nya.


Di tempat lain, setelah Chayra mengantar Adrian, Chayra pun segera meluncur ke kampus. Saat memasuki halaman kampus, Chayra heran karena ada keramaian di lapangan basket.


Chayra segera mendekat ke temannya, Dira dan bertanya, “Dir, sebenarnya ada apa sih? Kok tumben banget ramai di lapangan basket jam segini?”

__ADS_1


“Itu loh, Bestie, di lapangan tuh ada cowok sedang main basket,” jawab Dira membuat Chayra manggut-manggut.


“Hmm ... tumben. Biasanya agak siang deh lapangan basket mulai dipakai,” balas Chayra.


“Itu sepertinya mahasiswa baru deh. Soalnya, aku belum pernah lihat sebelumnya,” kata Dira.


“Siapa sih, Dir?” tanya Chayra kembali sambil melongok melihat ke depan dan Chayra pun terkejut karena ternyata yang dikerumuni adalah anak teman papanya.


“Loh ... astagfirullah. Itu ‘kan kak Andra dan kak Reza. Kok mereka ada di sini,” monolog Chayra.


“Ayodeh, Dira, kita ke kantin dulu setelah itu kita ke kelas. gak usah ikut-ikutan yang lain ngerubungi cowok main basket,” ucap Chayra.


Chayra dan temannya pun segera menuju ke kantin. Saat mereka masih di kantin tiba-tiba ada dua cowok duduk di depannya.


“Kita gabung ya,” ucap Reza.


“Silahkan, Kak,” balas Chayra.


“Hey, Chayra, udah lama gak ketemu tambah cantik aja,” puji Reza sembari tersenyum.


“I—iya, Kak. Makasih,” ucap Chayra gugup.


‘Itu si es balok kok gak negur gue ya,’ batin Chayra.


Dan karena waktunya Chayra masuk pada mata kuliah selanjutnya, Chayra dan temannya pun pamit.


“Kak, kami duluan ya,” kata chayra dan Dira pun tersenyum.


“Silakan. Salam ya sama om dan tante,” balas Reza.


“InsyaaAllah nanti Chayra sampaikan. Mari, Kak. Assalamu’alaikum,” salam Chayra meninggalkan Daviandra dan Reza.


‘Huh, dasar kulkas dua pintu, dingin banget. Gak nyapa gue sama sekali,’ gerutu Chayra dalam hati. Dan perubahan wajah Chayra pun tak luput dari penglihatan Dira.


“Lah, lo kenapa bestie? Kok gue lihat dari keluar kantin tadi, cemberut aja?” tanya Dira.


“Ah gapapa ... gue hanya kepikiran tugas aja, ada yang lupa gue belum kerjain,” jawab Chayra.


Dan mereka pun masuk ke kelas, tak lama kemudian dosen datang, pelajaran pun dimulai.


Sedangkan di kantin, Daviandra dan Reza masih mengobrol, saat mereka akan pergi dari kantin, gak sengaja Daviandra menabrak seseorang.


“Aduh,” kata perempuan itu yang terjatuh.


Daviandra pun refleks menolong dan berkata, “Lain kali hati-hati.”


“Iya, Kak, terima kasih,” balas perempuan itu.

__ADS_1


“Loh ... Jasmin, masuk pagi juga kuliahnya?” tanya Reza.


Ya, perempuan itu adalah Jasmin anak dari Dani dan Santi.


__ADS_2