
“Oh, calon istri Pak Bayu, ya?” beo Ivanka sembari memandang Anna dari atas hingga bawah dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
Bayu belum menyadari kalau Ivanka adalah teman Bayu waktu SMA, karena Ivanka dulu adalah siswa yg kutu buku berkacamata tebal. Perubahannya sangat signifikan hingga membuat Bayu tidak mengenalinya. Ivanka udah jatuh cinta dari zaman SMA pada Bayu. Tetapi, Bayu sama sekali tidak meliriknya.
Selama meeting berlangsung, Ivanka mengagumi Bayu dan itu tak luput dari penglihatan Anna.
Meeting pun selesai dan mencapai kesepakatan, setelah tanda tangan kontrak Bayu pun pamit pulang. Namun, Ivanka mengajak sekalian menunggu untuk makan malam. Tetapi, Bayu menolaknya. Dan akhirnya, Bayu dan Anna pergi meninggalkan cafe tersebut.
Ivanka memandang Bayu dan Anna sambil bergumam, “Aku pasti akan mendapatkan mu Bayu. Gak ada wanita manapun yang bisa memilikimu termasuk perempuan itu.
Di dalam mobil, sepanjang perjalanan Anna terdiam dan bayu pun mulai bertanya, “Ada apa, Sayang .... dari tadi Abang perhatikan kamu diam aja?”
“Bang, Anna merasa Ibu Ivanka tadi tertarik sama Abang,” ucap Anna dengan pandangan lurus ke depan.
Bayu pun tertawa saat mendengar ucapan yang baru saja Anna lontarkan. Jangan berlebihan, Sayang. Mana mungkin Ibu Ivanka tertarik sama Abang. Dari dulu, kalau meeting sama putri CEO itu biasanya tujuannya perempuan itu naksir sama Reigha, bukan Abang,” kata Bayu menjelaskan.
“Feeling Anna seperti itu, Abang. Kita buktikan aja nanti,” ucap Anna menatap pada jalanan yang tampak basah karena guyuran air hujan.
“Yaudah, gak usah di bahas lagi. Ini kamu gimana, Sayang? Langsung ke rumah Budhe, atau nginap di rumah Papa?” tanya Bayu berhasil membuat Anna menoleh kembali padanya.
“Gimana ya, Bang? Besok emangnya Shafa berangkat jam berapa?” tanya Anna.
“Mungkin jam tujuh pagi, Sayang. Nginap di rumah Papa, gimana? Biar besok bisa langsung nganterin Reigha dan Shafa,” balas Bayu memberi usulan pada Anna.
“Oke deh, Bang. Anna nginap di rumah Om Harun aja malam ini,” ucap Anna yang mendapat anggukan kecil dari Bayu.
Mereka pun langsung pulang ke rumah Papa Harun. Reigha yang sudah selesai meeting juga langsung pulang.
Saat di rumah Papa, Reigha bertemu Bayu dan Anna di halaman rumah dan masuk ke dalam rumah bersamaan.
“Assalamualaikum,” salam mereka bertiga.
“Wa'alaikumsalam,” balas Mama Dhiya yang langsung datang menghampiri mereka.
“Langsung bersih-bersih trus ngumpul di ruang makan, ya,” kata Mama Dhiya.
“Papa udah pulang, Ma?” tanya Reigha.
“Udah, Gha. Tapi, Papa langsung ke luar kota tadi sore. Salam dari Papa minta maaf besok gak bisa antar kalian ke bandara,” jawab Mama.
“Iya, Ma. Gapapa. Reigha ke kamar dulu ya,” ucap Reigha pamit segera berjalan menuju kamarnya.
“Bayu dan Anna juga ya, Ma,” ucap Bayu.
__ADS_1
“Iya. Tapi, Bayu dan Anna belum boleh sekamar lho,” ucap Mama Dhiya bercanda.
“Iya, Ma. Maksudnya pergi ke kamarnya tuh bareng. Tapi, beda kamar. Hmm ... kalau Mama bolehin gapapa sih satu kamar,” balas Bayu berceletuk sembari tertawa.
“Oh ... awas aja kalau sampai berani!” seru Mama sambil tersenyum.
Semuanya sudah berpencar pergi ke kamar masing-masing. Sementara Mama Dhiya ke dapur untuk menyiapkan makanan dibantu oleh asisten rumah tangga.
Saat di kamar, Reigha tampak mencari Shafa. Ternyata, istrinya tengah di kamar mandi. Reigha pun menunggu Shafa duduk di atas sofa.
/ceklek
Pintu kamar mandi terbuka menampilkan Shafa yang udah tampak segar setelah mandi.
Shafa pun mendekat pada Reigha dan segera menyuruh Reigha untuk mandi. Namun, sebelum bergegas masuk ke dalam kamar mandi, Reigha terlebih dahulu mengecup dahi Shafa Lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara Mama Dhiya duduk di ruang makan menunggu semua keluar dari kamarnya.
Lima belas menit kemudian, semua udah berkumpul di ruang makan, kecuali Reigha dan Shafa.
Tak lama, tampak Reigha yang merangkul pinggang Shafa berjalan bersamaan menuju ruang makan.
Reigha duduk, sementara Shafa langsung mengambilkan sepiring makanan untuk suaminya. Kemudian, Shafa ikut duduk disamping Reigha.
“Alhamdulillah lancar, Gha. Bahkan udah tanda tangan kontrak,” jawab Bayu.
“Syukurlah ... trus kapan rencananya pihak dari PT. MAKMUR SENTOSA datang ke kantor?” tanya Reigha kembali.
“Mereka sih bilangnya dua hari lagi,” jawab Bayu sembari menyuap makanan ke dalam mulutnya.
“Baiklah. Lo atur aja dan lo temui, gue kan belum pulang berarti,” balas Reigha yang diangguki oleh Bayu.
Anna tampak diam dan tak luput dari pandangan Shafa.
“Kamu kenapa, Na? Tumben diam aja,” ucap Shafa bertanya.
Tetapi, Anna yang ditanya oleh Shafa tidak menyadari hal itu, ternyata Anna lagi melamun.
Semua mata melihat Anna mereka baru tau kalau dari tadi Anna melamun.
Mama Dhiya pun menepuk pundak Anna pelan.
“Na ... Na, kamu kenapa? Apa yang kamu lamunin, Nak?” tanya Mama Dhiya.
__ADS_1
“Eh, emm ... gak ada kok, Tan. Tante, boleh Anna pamit ke kamar duluan? Anna udah selesai makan dan Anna capek. Maaf kalau gak sopan,” ucap Anna panjang, berpamitan.
“Iya, Na. Duluan aja gapapa kok,” balas Mama Dhiya.
Anna pun langsung menuju ke kamar tamu. Segera meninggalkan ruang makan dan menenangkan pikirannya di kamar.
“Anna kenapa, Bay?” tanya Mama Dhiya.
“Gak tau, Ma. Dari pulang meeting tadi, Anna melamun terus,” jawab Bayu seadanya.
Mendengar jawaban dari Bayu, Shafa yakin ada yang Anna sembunyikan. Shafa pun berniat menghampiri Anna di kamar.
“Mas, Shafa ke kamar Anna sebentar. Boleh?” ucap Shafa meminta izin.
“Boleh, Sayang. Jangan lama-lama, ya,” balas Reigha mengizinkan membuat Shafa mengembangkan senyumnya pada Reigha.
“Ma, maaf Shafa ke kamar tamu dulu, ya,” ucap Shafa yang diangguki oleh Mama Dhiya.
Shafa segera berjalan menuju kamar tamu dan mengetuk pintu kamar tersebut.
Tok...Tok...Tok...
“Na, boleh gue masuk?” tanya Shafa.
“Masuk aja, Fa,” balas Anna sedikit berteriak dari dalam kamar.
Shafa pun masuk dan duduk di kasur berhadapan dengan Anna.
“Lo kenapa, Na? Ceritalah ke gue,” ucap Shafa.
Anna pun diam dan berpikir. Kemudian, dia menjawab pertanyaan Shafa.
Anna pun mulai bercerita, “Tadi gue sama Abang meeting di cafe, gue kira yang datang itu CEO-nya. Tapi, ternyata yang datang putrinya. Dan lo tau, Fa, selama meeting Ibu Ivanka trus menatap Abang. Sepertinya wanita itu naksir Abang deh. Gue kepikiran, gimana kalau Abang juga tertarik sama wanita itu, secara wanita itu lebih sempurna dari pada gue.”
“Lo jangan berpikiran seperti itu, Na. Gue yakin Bayu gak seperti itu, Bayu kelihatan loh cinta banget sama lo. Dan, lo pasti lihat sendiri ‘kan sikap Bayu gimana sama Ivanka dan gimana sikap Bayu ke lo. Sekarang, lo pikirkan dan renungkan lagi,” kata Shafa menasihati dan langsung keluar dari kamar Anna. Memberikan Anna waktu untuk berpikir.
Shafa pun kembali ke ruang makan. Melihat sekembalinya istrinya, Reigha pun bertanya, “Sayang, Anna kenapa? sakit?”
“Iya, mas. Anna sakit. Tapi, yang sakit bukan badannya. Emm ... hatinya yang sakit,” balas Shafa sambil tersenyum.
“Sakit hati? Emang kenapa?” tanya Mama Dhiya dengan tatapan tajamnya yang kini menatap serius pada Bayu.
“Itu, Ma ... tadi waktu meeting, ternyata klien-nya wanita cantik. Trus wanita itu lihatin Bayu terus, jadinya Anna badmood,” jawab Shafa menjelaskan.
__ADS_1
“Ha? Masih masalah itu? Kirain dah selesai,” ucap Bayu kaget sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena sejak tadi ditatap horor oleh Mama Dhiya.