Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 76 - Menikahi Susterku


__ADS_3

Tepat saat dokter menutup pintu, Santi membuka matanya, “Pa ... Papa, aku dimana?” tanya Santi.


“Kamu di Rumah sakit, Nak, apa yang kamu rasakan?” tanya Pak Rudi.


“Sudah lebih baik, Pa. Oh iya, Pa. Ini dia, Mas ini mau menikah sama Santi, Pa. Jadi, Mas ini yang akan jadi Ayah dari anak Santi,” jawab Santi seraya memberitahu pada sang Papa.


Reigha sangat terkejut dengan kata-kata yang Santi lontarkan, begitu juga dengan Pak Rudi pun tak kalah terkejutnya. Tapi, Pak Rudi masih mau menanyakan ke Reigha terlebih dulu.


“Udah ya, Nak. Kamu istirahat dulu. Papa dan Pak Reigha keluar sebentar,” titah Pak Rudi pada putrinya.


“Oh, namanya Reigha, ya Pa? Mas Reigha, sini, kita blm kenalan. Padajal kita mau menikah. Mas, namaku Santi, Mas.”


Reigha yang bingung segera keluar ruangan disusul oleh Pak Rudi.


“Pak, gimana ini, saya gak menjanjikan akan menikahi Santi lo. Saya udah menikah, saat ini istri saya lagi hamil, Pak,” ucap Reigha dengan raut wajah bingung.


“Pak Reigha, tolong saya, Pak, bapak pura-pura setuju saja ya, Pak. Agar Santi tenang, nanti kalau Santi udah tenang dan sembuh saya akan pelan-pelan menjelaskan,” ujar Pak Rudi.


“Tapi, sampai kapan, Pak? Saya harus segera kembali ke Jakarta,” balas Reigha.


“Tolong saya, Pak. Saya mohon, demi kesembuhan anak saya satu-satunya,” lirih Pak Rudi sambil menangis.


Reigha pun gak ada pilihan lain. Dalam hatinya, dia merasa menyesal dengan menolong wanita itu. Tapi, apalagi daya, semua sudah terjadi. Mereka pun segera masuk ke dalam ruangan lagi.


Sementara di Jakarta, Shafa sedang mengobrol bersama Mama Dhiya, Ibu Khalisa juga Anggi yang sejak tadi sibuk mengelus-elus perut rata Shafa.


“Kak, pasti anak kakak comel kayak Anggi,” ucap Anggi membuat Shafa menoleh dengan mata yang menyipit.


“Sepercaya diri itu?” tanya Shafa membuat Anggi mencurutkan bibirnya.


Shafa sangat bersyukur dia dapat merasakan kebahagiaan ini. Orang tua juga mertuanya sangat bahagia dengan kehadiran malaikat kecil yang berada dalam perutnya.


‘Sayang, kalian berdua baik-baik ya, Nak. Mama dan Papa menanti kehadiran kalian,’ batin Shafa tersenyum menatap perutnya yang masih dielus oleh Anggi.


Berbeda dengan keadaan Reigha di Surabaya yang merasa pusing dengan masalahnya. Reigha melihat Santi tidur segera pamit karena waktu udah sore. Pak Rudi pun membolehkan asal kalau Santi mencari, Reigha harus segera ke rumah sakit.


Reigha pun segera keluar dari rumah sakit dengan pikiran yang berkecamuk. Dia segera ke hotel, setelah sampai kamar dia segera mandi di shower untuk mendinginkan kepalanya yg serasa mau pecah. Lebih dari satu jam Reigha diguyur oleh air dari shower.


Setelah selesai, Reigha segera ke ruang kerja untuk menelepon Dani dan menyuruh untuk datang ke kamar Reigha.


Tak berapa lama, Dani tiba di kamar Reigha dan berdiskusi masalah di lokasi tadi.


“Pak sepertinya masalah tidak begitu berat. Besok juga masalahnya selesai. Bapak mau dipesankan tiket untuk besok?” ujar Dani sembari bertanya pada Reigha.


“Kamu aja yang pesan. Saya lagi dalam masalah ini,” balas Reigha dengan tidak bersemangatnya.

__ADS_1


“Ada masalah apa, Pak? Siapa tau saya bisa bantu.”


Saat Reigha mau bercerita, Pak Rudi menelepon dan bilang kalau Santi mengamuk.


Reigha yang merasa capek, memutuskan tidak mau ke rumah sakit. Reigha malah menyuruh Dani kembali ke kamar dan Reigha langsung tidur.


Pagi harinya, Pak Rudi mendatangi kamar Reigha.


Tok...Tok...Tok...


“Pak, Pak Reigha, tolong buka pintunya!” seru Pak Rudi.


Reigha pun segera membuka pintu.


“Pagi, Pak Reigha. Apa saya boleh masuk?” tanya Pak Rudi.


“Silakan, Pak. Mohon maaf saya semalam capek banget jadi gak bisa ke rumah sakit,” balas Reigha.


“Tidak apa-apa, Pak. Saya juga gak bisa memaksa Pak Reigha. Lagian, saat ini Santi juga udah gak bisa apa-apa, Pak,” ucap Pak Rudi menunduk sedih.


“Maksudnya gak bisa apa-apa gimana, Pak?” tanya Reigha yang masih belum paham.


“Santi koma, Pak. Karena Pak Reigha gak datang, Santi mengamuk dan lompat dari lantai empat,” jawab Pak Rudi.


“Astaghfirullah ... maafkan saya, Pak Rudi. Saya bener-bener gak nyangka kalau kejadiannya seperti itu,” balas Reigha tak enak hati.


“Pak, tolong kalau sempat jenguk Santi ke rumah sakit ya, Pak. Saya pamit dulu,” kata Pak Rudi.


“Pak Rudi, kita ke rumah sakit barengan saja. Karena tugas saya di Surabaya udah selesai. Dan satu lagi, saya mau saja jika harus bertemu Santi, asalkan harus ada Pak Rudi agar kami tidak berduaan saja,” ujar Reigha yang diangguki oleh Pak Rudi.


“Baiklah, Pak jika itu yang bisa buat Pak Reigha mau membantu saya. Mari, Pak.”


Mereka berangkat pakai mobil Pak Rudi, setelah sampai rumah sakit Reigha langsung masuk bersama Pak Rudi di ruang ICU.


Reigha tak berbicara, hanya memperhatikan wanita yang tengah terkulai lemas di brankar.


Berbeda dengan Pak Rudi yang hanya mengusap rambut putrinya.


****


Satu bulan kemudian, Reigha masih berada di Surabaya dengan masalah yang masih menyelimutinya.


Selama di Surabaya tak ada pula dia bekerja, hari-harinya selalu duduk diam di samping brankar Santi yang masih berbaring koma.


‘Sayang, kamu apa kabar di sana? Apa kamu dan anak-anak merindukanku? Sayang, maafkan Mas yang meninggalkan kalian tanpa memberi kabar, jujur, Mas rindu pada kalian,’ batin Reigha menundukkan kepala.

__ADS_1


Reigha di dalam ruangan Santi tidak sendiri, sesuai yang Reigha katakan, dia tak mau hanya berduaan saja. Jadi, Pak Rudi membawa pekerjaannya ke rumah sakit.


Kali ini Pak Rudi yang baru saja selesai meeting online, mendekat ke arah brankar mengajak ngobrol Santi.


“Nak, Pak Reigha sudah sebulan di sini menemanimu. Apa kamu gak ingin melihatnya?” tanya Pak Rudi memegang tangan anaknya.


Reigha yang selama ini diam tak berbicara, kini dia memberanikan diri berbicara pada Santi yang koma.


Reigha segera berdiri di samping Pak Rudi, “Assalamu’alaikum, Santi. Kamu dengar saya?”


Pak Rudi melihat kalau jari tangan Santi bergerak. Pak rudi langsung memanggil dokter Lukman dan menceritakan apa yang dilihatnya.


Setelah di periksa dokter Lukman, “Sepertinya Pak Reigha ini yang membuat semangat Santi tumbuh lagi Pak Rudi. Baiklah, Pak Reigha saya sarankan jangan pergi jauh dari Santi sementara waktu ini.”


Reigha pun semakin bingung, bayangan Shafa trus berada di pelupuk matanya. Dan benar, tak lama Santi pun tersadar.


“Mas Reigha, kamu di sini ... jangan pergi lagi ya,” ucap lirih Santi dengan netranya yang menatap lekat pada Reigha.


Setelah diperiksa, keadaan Santi semakin membaik. Santi pun dipindahkan lagi di ruang rawat.


Reigha terus menunggui Santi karena Santi tidak membiarkan Reigha pergi dari sisinya. Dan karena itulah membuat pekerjaan Pak Rudi setiap harinya selalu di rumah sakit walau anaknya sudah sadar.


Di Jakarta, Shafa cemas karena udah sebulan Reigha tidak menghubunginya.


Semenjak kepulauan Bayu dan Anna dari Singapura, Anna selalu menemani Shafa di rumah dibantu dengan Mama Dhiya dan Mbok Nah.


“Lo kenapa, Fa?” tanya Anna yang melihat raut wajah Shafa.


“Gu—gue ... gue kepikiran Mas Reigha, Ba. Udah sebulan enggak ngabari gue sama sekali,” jawab Shafa.


“Sibuk mungkin, Fa. Kak Reigha pengen cepet-cepet pulang, makanya dia fokus ke kerjaannya dulu,” tutur Anna menenangkan.


“Mungkin gitu ya, Na. Yaudah gue istirahat ya. Bayu udah pulang?” balas Shafa seraya bertanya.


“Udah, Fa. Tuh lagi mandi. Gue ke kamar dulu ya. Mau siapin bajunya Abang.” Setelah mendapat anggukan dari Shafa, Anna segera berjalan meninggalkan kamar Shafa.


Di kamar Bayu, ternyata Bayu udah selesai mandi dan mau keluar, tapi Anna terlebih dulu masuk.


“Lho, Abang. Baru aja Anna mau nyiapin baju Abang,” ucap Anna saat berpapasan dengan Bayu di depan pintu.


“Gapapa, Sayang, Abang tau kok kamu jagain Shafa,” balas Bayu menarik Anna masuk ke dalam kamar.


“Bang, itu Shafa cemas karena Kak Reigha gak kasih Shafa kabar udah sebulan ini. Bang, Anna juga perempuan, kalau Anna di posisi Shafa, Anna gak kuat sebulan tanpa adanya kabar dari suami, Bang,” ujar Anna bercerita pada Bayu.


“Abang juga heran, Sayang. Kok bisa, Reigha yang gak bisa jauh dari Shafa sampai gak ngabari Shafa. Nanti coba Abang cari tahu ya,” balas Bayu yang diangguki dengan cepat oleh Anna.

__ADS_1


Anna izin pada Bayu untuk kembali menemani Shafa di kamar. Sementara Bayu langsung menghubungi Dani yang sudah jelas dialah asisten Reigha saat ini.


Dua kali panggilan sempat tidak diterima oleh Dani. Kini panggilan ketiga dari Bayu diterima oleh Dani, “Halo, Dan?”


__ADS_2