Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 21 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Na, apa mungkin Shafa dibawa Rendra?” tanya Reigha lirih pada Anna saat keduanya masih menunggu Bayu di lobby rumah sakit.


“Bisa jadi sih. Tapi, kemana ya,” balas Anna kembali menoleh ke belakang dengan tatapan nanar.


Bayu pun datang bersama mobil, Anna mendekatkan kursi roda pada mobil. Kemudian, Bayu membantu Reigha untuk masuk ke dalam mobil. Reigha duduk di bagian depan, dekat kursi kemudi. Sementara Anna duduk di kursi bagian belakang. Bayu masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya.


Bayu dengan cepat melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit untuk segera pulang ke rumah dan kembali lagi ke rumah sakit untuk mencari keberadaan Shafa.


Saat di jalan, Reigha tampak melamun. Bayu menyetir mobil sambil berpikir akan suatu hal.


“Gha, kayaknya gue pernah pasang GPS di ponsel Shafa!” seru Bayu membuat Reigha menoleh.


“Coba lo lacak,” balas Reigha.


“Gue turunin lo dan Anna di rumah. Baru gue cek dan lacak lokasi dimana Shafa berada,” ucap Bayu.


“Gak. Gue mau ikut lo!” seru Reigha.


“Gak usah, Gha. Lo di rumah aja,” jawab Bayu.


“Tapi, gue khawatir sama Shafa.”


“Gha, lebih baik kalau lo di rumah!” seru Bayu kembali.


“Yaudah, gue di rumah. Tapi, tolong cari istri gue, ya,” balas Reigha yang diangguki oleh Bayu.


“Gue janji, bakal cari Shafa sampai ketemu. Demi lo.” Bayu tersenyum membuat Reigha lebih tenang. Tetapi, tetap mengkhawatirkan sang istri yang jauh dari dirinya.


****


Di Rumah Sakit, Shafa dibawa oleh Rendra ke dalam mobil berwarna hitam menuju ke suatu tempat.


“Ren, tolong lepaskan gue!” seru Shafa. Namun, tak ada respon dari Rendra.


Rendra dengan secepat mungkin mengendarai mobilnya, hingga keduanya sampai di suatu tempat seperti pinggiran kota.


Sementara di rumah kediaman Papa Harun, tampak mobil Bayu terparkir tepat di depan rumah. Bayu membantu menurunkan Reigha, kemudian Reigha dibawa masuk oleh Anna dan disusul oleh Bayu yang membawa barang-barang.


Sesampainya di dalam rumah, Anna ditanya oleh Mama Dhiya, “Dimana, Shafa?”


“Shafa diculik, Tan,” jawab Anna.

__ADS_1


“Kok bisa? Sama siapa?” tanya Mama Dhiya yang semakin khawatir.


“Iya, Tan. Perkiraan kami, diculik sama Rendra,” jawab Bayu saat sampai di dalam rumah.


“Rendra yang wa—”


“Iya, yang itu, Tan,” sambar Anna menunduk sedih.


“Ya Allah... Shafa,” lirih Mama Dhiya duduk dengan tatapan kosongnya.


Reigha yang tak ingin berbicara pun hanya diam saja tanpa mengucapkan suatu kata pun.


“Yaudah, Bayu mau pergi ke rumah sakit lagi buat cari Shafa,” ucap Bayu.


“Kalau gitu, Anna pergi aja sama Bayu biar bersamaan carinya,” ujar Mama Dhiya.


“Tapi, nan—”


“Udah, gapapa. Yuk gue mau ikut lo, Bang!” sambar Anna yang diangguki oleh Mama Dhiya.


Akhirnya, mau gak mau pun, Bayu membawa Anna bersamanya. Keduanya menaiki mobil untuk menuju ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Bayu dan Anna bergegas menuju ke Nurse Station. Bayu melacak GPS-nya. Sementara Anna yang netranya tengah melihat satu per satu suster di Nurse Station pun mendapatkan suster yang membawa Shafa tadi.


“Shafa ‘kan udah lama keluar dari rumah sakit ini. Kenapa nanya ke gue?” tanya balik suster tersebut.


“Lo pilih jawab pertanyaan gue dengan jujur atau gue laporin lo ke suster Ratna?” balas Anna membuat suster itu terdiam sebentar. Kemudian, dengan beraninya dia mengeluarkan suaranya.


“Gu—gue ... gue disuruh sama Rendra buat bawa Shafa. Dan, gue sekarang gak tau Shafa dimana. Karena, dia dibawa keluar sama Rendra,” jelas suster tersebut membuat Anna geram.


Anna pun mendekat pada Bayu dan menceritakan apa yang dia dengar dari suster tersebut yang Anna sendiri tidak tau siapa namanya.


Bayu yang telah mendapatkan lokasi dari GPS Shafa dan mendapatkan info dari Anna pun membawa Anna bersamanya keluar dari rumah sakit dan bergegas ke arah lokasi GPS.


Bayu dan Anna menelusuri jalan hingga sampailah keduanya di pinggiran kota. Namun, saat sampai di sana hari sudah mulai gelap. Bayu turun dari mobil, disusul oleh Anna. Netra Bayu menelusuri sekitar, tak ada orang satu pun yang ditemukannya.


Bayu kembali membuka ponselnya melacak GPS yang ada di ponsel Shafa. Ternyata Shafa telah berpindah ke tempat yang lain. Dan, tidak memungkinkan bagi Bayu dan Anna ke tempat itu malam ini.


“Bang, kayaknya kita harus pulang deh,” ucap Anna yang tampak ketakutan.


“Iya. Bener kata lo. Kita lanjutkan pencariannya besok,” balas Bayu yang diangguki oleh Anna.

__ADS_1


Bayu dan Anna pun kembali masuk ke dalam mobil. Perjalanan pulang ke rumah. Cukup memakan waktu yang sangat lama hingga keduanya kini sampai di rumah.


“Om, Tan!” panggil Bayu.


Mama Dhiya mendekat pada Bayu yang ternyata sudah pulang. Mama celingukan ke arah pintu seakan menunggu seseorang untuk masuk ke dalam rumah.


“Shafa mana?” tanya Mama Dhiya.


“Belum ketemu, Tan. Sampai di lokasi, Shafa dibawa pergi ditempat yang lain lagi,” jawab Bayu yang tampak lelah.


“Siapa yang membawa Shafa pergi?” tanya Papa Harun.


“Rendra, Om,” jawab Anna.


“Reigha mana?” ucap Bayu menanyakan keberadaan Reigha.


“Sejak kalian bawa pulang Reigha, dia gak mau makan, gak mau minum obat, bahkan gak mau masuk kamar. Tuh, dia lagi di halaman belakang. Belum makan sama sekali dari tadi,” jawab Mama Dhiya yang prihatin pada putranya itu.


“Hmm ... biar Bayu yang ngomong.” Bayu bangkit dari duduknya, berjalan ke halaman belakang rumah.


Kini, tampak Reigha tengah menatap langit yang tampak gelap disertai dinginnya angin malam menemani kesendirian Reigha.


Bayu berdiri di samping kursi roda Reigha seraya berkata, “Dingin banget, ya, Gha. Masuk yok!”


“Lo udah nemuin Shafa?” tanya Reigha.


“Belum, Gha. Pas gue cek pertama, di pinggiran kota. Gue sampai sana, Shafa gak ada. Gue cek kedua, Shafa udah dibawa ke tempat yang kayaknya tuh hotel yang udah lama dikosongkan gitu.” Reigha tampak kaget dengan penjelasan Bayu. Reigha menoleh sembari mengernyitkan kedua alisnya.


“Lo sadar ‘kan yang lo omongin ini? Lo mau buat gue mati mendadak?” tanya Reigha.


“Yang gue ceritain ini bener, Gha!” jawab Bayu.


“Kapan lo mau cari Shafa lagi? Tolonglah ... tolongin gue!” seru Reigha yang seakan merasa Bayu tak ingin membantunya mencari Shafa.


“Besok pagi gue mau langsung cari Shafa, Gha. Gue mau nolong lo, tapi tolong ngerti gue. Kan gak mungkin gue kesana malam-malam gini. Daerah sana kita gak tau gimana, Gha,” balas Bayu yang diangguki oleh Reigha.


Reigha pun hanya penuh harap semoga Shafa disana baik-baik saja.


“Sekarang lo makan, ya,” ucap Bayu.


“Gak. Gue gak mau makan kalau Shafa belum ketemu,” balas Reigha.

__ADS_1


“Oke. Kalau lo gak makan, lo drop lagi. Trus Shafa kembali, lo udah koma di rumah sakit!” celetuk Bayu membuat Reigha terketuk hatinya.


“Bay ... Bayu!” panggil Reigha saat melihat Bayu meninggalkannya sendirian.


__ADS_2