
“Na, urusan lo sama Ivanka udah selesai ‘kan?” bisik Shafa saat Anna duduk di sampingnya.
“Sebenarnya belum sih, Fa. Tadi suami lo dan Abang ke restoran bertemu sama Ivanka. Rencananya proyek kerja sama mau di serahkan ke Pak Reigha. Tapi, Ivanka gak mau dan katanya kalau bukan Abang, Ivanka mau mutusin kontrak kerja sama aja,” jawab Anna menjelaskan dengan berbisik.
“Lah, kalau gitu berarti memang Ivanka suka sama Bayu, Na,” balas Shafa.
“Kalian kok bisik-bisik. Ada apa, Nak?” tanya Mama Dhiya.
“Oh ... gapapa kok, Ma, cuma nanya gimana Anna yang mau jadi pengantin baru nih. Pasti deg-deg banget,” jawab Shafa yang tak mungkin menceritakan masalah Ivanka di depan Mama dan Papa.
“Owalah. Yaudah yuk kita semua istirahat, pasti udah pada capek. Besok kita mulai mempersiapkan pernikahan Bayu dan Anna,” ucap Mama Dhiya dan diangguki oleh semuanya.
Mama dan Papa terlebuh dahulu masuk kamar dan beristirahat. Reigha mengajak Bayu masuk ke ruang kerjanya. Sementara Shafa dan Anna melanjutkan obrolan mereka di ruang keluarga.
“Na, jadi si Ivanka suka sama Bayu dong,” ucap Shafa.
“Iya, Fa. Bahkan ternyata Abang dan Ivanka tuh teman SMA,” balas Anna sontak membuat Shafa melongo kaget.
“Hah! Seriusan lo? Kok bisa?”
“Besok aja gue ceritain detailnya, besok kan kita pergi berdua gue gak ngantor,” kata Anna.
“Oh, oke. Kita istirahat dulu yuk!” ajak Shafa yang diangguki oleh Anna.
Anna berjalan menuju kamarnya. Sementara Shafa menuju ruang kerja Reigha.
“Mas, kerjanya dilanjut besok. Ayo istirahat,” ucap Shafa saat sudah berada di ruang kerja Reigha.
Reigha pun mengangguk dan segera merangkul istrinya. Sedangkan Bayu bergegas menuju masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Dan akhirnya mereka semua istirahat.
Keesokan paginya setelah sarapan, Bayu dan Reigha pergi ke kantor lebih pagi. Shafa dan Anna bersiap-siap mau pergi juga pagi ini. Mereka berdua hendak berpamitan sama Mama Dhiya tapi ternyata Mama dan Papa keluar bersamaan dari kamar.
“Lho, Mama dan Papa mau ke mana?” tanya Shafa.
“Itu, Fa. Ternyata Papa ngajak Mama pergi hari ini. Maaf ya, Na ... Mama gak bisa temenin kamu hari ini. Ditemenin Shafa dulu, ya. Shafa udah kenal sama teman Mama itu,” jawab Mama Dhiya sembari berkata pada Anna.
“Iya, Ma. Gapapa kok. Hati-hati, Ma, Pa,” balas Anna yang diangguki oleh Papa Harun dan Mama Dhiya.
“Oh iya, Fa, kamu bawa mobil Mama aja disopirin Vano. Mama pergi pakai mobil Papa kok,” ucap Mama Dhiya.
“Iya, Ma. Makasih ya, Ma.”
“Yaudah kalau gitu, Papa dan Mama berangkat dulu ya, kalian berdua hati-hati, ya!” seru Papa Harun berpamitan.
“Iya, Pa. Papa dan Mama hati-hati juga,” balas Shafa.
__ADS_1
Setelah Papa dan Mama pergi, Shafa pun segera mengunci semua ruangan, karena Bayu udah berpesan kalau pergi harus selalu mengunci semua ruangan. Setelah itu, mereka pun pergi ke butik untuk fitting baju.
Di dalam mobil, Anna menceritakan mengenai Ivanka secara lengkap pada Shafa.
Setelah panjang lebar Anna bercerita, Shafa pun berkata, “Kalau gitu, kamu harus hati-hati, Na. Kayaknya Ivanka bakalan nekat sama kayak Binar deh, Na. Harus waspada selalu.”
“Iya, Fa. Abang juga pesan gitu,” balas Anna.
Dan ternyata mereka tidak sadar ada mobil yang membuntuti. Ya, Ivanka lah ternyata membuntuti Anna.
Saat ini sampailah mereka di butik tempat Shafa kemarin fitting baju pengantin.
“Selamat pagi, Tante, masih ingat Shafa?” tanya Shafa saat masuk ke dalam butik berjumpa langsung dengan tante Dian.
“Pasti masih ingat dong, bahkan tadi Dhiya udah telpon ke tante minta disiapkan bajunya,” balas tante Dian.
“Oh iya, Tante. Ini calon istrinya Bayu, Tan,” ucap Shafa membuat tante Dian menatap pada Anna yang berdiri di samping Shafa.
Tante Dian pun berkenalan dengan Anna.
“Saya Anna, Tante,” ucap Anna memperkenalkan diri.
“Panggil tante Dian ya, Na. Wah wah ... anak Dhiya nih pinter-pinter cari istri. Cantik-cantik dan baik,” balas tante Dian memuji.
“Sebentar, tante ambilkan.”
Setelah beberapa menit, tante Dian membawakan lima gaun pengantin, “Nah, ini gaunnya. Pilihlah, Sayang, dan coba di sebelah sana, ya.”
“Fa, yang mana? Gue bingung nih,” ucap Anna lirih.
“Pilih aja dua atau tiga, Na. Satu untuk akad, dua lagi untuk resepsi. ‘kan resepsinya dua tempat, di rumah budhe dan di hotel,” balas Shafa.
“Fa, bantu pilih dong, gue gak enak ini mahal banget, Fa.”
“Gini aja deh, kamu ‘kan suka warna biru muda. Nah, ambil itu aja sama yang putih untuk akad. Dan, untuk satunya kesukaan Bayu warna mocca itu, gimana?” saran Shafa.
“Ide bagus, Fa. Oke, gue setuju. Bentar gue cobain gaunnya dulu, ya,” balas Anna segera pergi mencoba ketiga gaun yang telah dipilih.
Melihat hal tersebut, Ivanka melihat dari kejauhan dengan hati panas.
‘Kalau gue gak bisa dapetin Bayu, gue pastikan lo juga gak akan bisa dapetin bayu,’ batin Ivanka.
Saking seriusnya mengintip Anna, Ivanka tak sadar kalau ada pegawai tante Dian melihatnya mengintip. Pegawai itu pun memotret dan menghampiri Shafa sebagai tamu spesialnya.
“Maaf, Mbak, boleh saya tunjukan gaun untuk mbaknya di sebelah sana?” ucap pegawai butik tersebut.
__ADS_1
“Tapi, saya gak beli baju, Mbak. Saya mah cuma nemenin teman saya,” balas Shafa.
Dan pegawai butik pun segera menggandeng Shafa, mau tak mau Shafa pun mengikutinya. Shafa masih bisa melihat Anna keluar dari fitting room dan melambaikan tangannya.
Melihat tangan Shafa membuat Anna segera berjalan menuju di mana Shafa tengah berdiri dengan seorang pegawai butik di sana.
“Lo mau beli juga, Fa?” tanya Anna.
“Enggak, Na. Ini mbaknya ngajak kesini nunjukin gaun ini,” jawab Shafa.
“Maaf, Mbak sebelumnya, saya mau menyampaikan sesuatu kalau mbak berdua dari tadi ada yang mengawasi,” ucap pegawai butik sambil pura-pura menunjukan gaun yang lain agar Ivanka tidak curiga.
“Benarkah? Siapa, Mbak?” tanya Shafa.
“Tolong mbak jangan membuat dia curiga ya, tetap santai saja sambil pura-pura memilih gaun,” ucap pegawai itu sebelum menunjukkan sesuatu pada ponselnya.
“Ini mbak orangnya,” lanjut pegawai itu menunjukan foto yang dipotret olehnya tadi pada Anna dan juga Shafa.
“Lah, Na, bukannya itu Ivanka?” tanya Shafa pada Anna.
“Iya, bener itu ivanka. Gimana ini, Fa?” balas Anna. Tapi, tetap pura-pura melihat lihat gaun yang ada di hadapannya.
“Gini deh, Na, loe masuk lagi ke fitting room. Di sana lo segera telpon Bayu. Bawa satu gaun pura-pura deh buat lo cobain, gue nunggu lo di tempat tadi,” ucap Shafa segera diangguki oleh Anna.
Anna segera masuk kembali dengan membawa satu gaun di tangannya.
“Mbak, makasih banyak ya atas bantuannya. Saya duduk di sana lagi, takutnya wanita itu curiga, mbak bisa kembali ke tempat tadi, ya,” ucap Shafa yang berterima kasih pada pegawai butik tersebut.
“Iya, sama-sama, Mbak. Senang bisa membantu,” balas pegawai tersebut segera pergi meninggalkan Shafa terlebih dahulu dan berdiri di tempatnya yang tadi.
Shafa duduk sambil membaca koran agar Ivanka tidak curiga.
Sementara di kantor, Bayu sedang di ruangan Reigha. Bayu memberikan sementara kerjaan dia ke Reigha sambil memberikan jadwal meetingnya selama dua minggu.
“Gimana, Gha. Lo sanggup gak hundle kerjaan gue selama dua mingg? Kalau lo gak sanggup, honeymoon gue ditunda dulu,” ucap Bayu.
“Masalah kecil ini, lo jangan ngeremehin gue lah,” balas Reigha.
Dan saat mereka mengobrol, ponsel Bayu bunyi.
“Bentar, Gha. Anna telpon,” ucap Bayu segera menerima panggilan dari Anna.
“Assalamu’alaikum, Na. Ada apa? Kangen, ya?” tanya Bayu menggoda.
“Wa’alaikumussalam, Abang. Anna dan Shafa di butik dan Abnag harus tau. Ternyata Ivanka ngikutin kita sampai butik. Ivanka sekarang di butik lagi ngawasin kita. Gimana ini, Bang?” ucap Ivanka dengan raut wajah gusar.
__ADS_1