Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 58 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Gak bisakah kamu jujur pada Abang? Kamu gak mau terbuka ya sama Abang?” tanya Bayu membuat Anna pun memeluk Bayu begitu erat.


“Anna mencintai Abang. Tapi, kenapa kok rasanya berat sekali dapetin Abang,” lirih Anna memulai bercerita.


“Hey, Sayang ... kamu udah dapetin Abang, bahkan udah mau nikah juga kan kita,” balas Bayu.


Anna melepaskan pelukannya dengan Bayu, kemudian menarik napasnya dalam, “Tadi Ivanka menghampiri Anna, Bang. Ivanka mengancam Anna dan nyuruh Anna menjauh dari Abang.” Anna kembali menangis sesegukan.


Mendengar jawaban Anna, Bayu pun marah hingga menggebrak meja.


“Kurang ajar, berani banget Ivanka ngancam kamu!” teriak Bayu geram.


“Abang!” seru Anna memeluk Bayu, menenangkan.


“Yaudah, gak usah di pikirkan. Itu akan jadi urusan Abang, lagian dia gak akan bisa ngapa-ngapain kamu selama Abang ada di dekat kamu,” kata Bayu.


Bayu kembali menghubungi Puspa, “Halo, Puspa. Saya dan Anna harus segera pulang. Saya titip ruangan Pak Reigha dan ruangan saya. Jadi, jangan biarkan siapapun masuk tanpa izin saya.”


“Baik, Pak. Saya akan jaga dengan baik,” balas Puspa.


Bayu segera mematikan ponselnya dan berkata pada Anna, “ Yuk kita pulang aja, kerjaan Abang nanti dikerjakan di rumah aja, kamu siap-siap sana. Tunggu sebentar Abang beres-beres kerjaan yang dibawa pulang.”


Anna pun mengangguk dan keluar ruangan. Beberapa menit kemudian mereka berdua keluar kantor dan pulang ke rumah Papa Harun.


Sesampainya di rumah, Bayu segera mengajak Anna masuk ke dalam rumah menemui Mama Dhiya yang ternyata berada di ruang keluarga sedang menonton TV.


“Kalian cepet banget pulangnya,” ucap Mama Dhiya saat melihat Bayu dan Anna bersamaan masuk ke dalam ruang keluarga sembari mengalami Mama Dhiya.


“Hmm ... iya, Ma. Ini Anna lagi gak fokus kerja,” balas Bayu membuat Mama Dhiya khawatir.


“Lho, kenapa, Na? Kamu sakit?” tanya Mama Dhiya memegang dahi dan pipi Anna bergantian.


“Enggak kok, Tante. Hehehe,” jawab Anna diakhiri tawaan kecil darinya.


****


Sementara di Singapore, lebih tepatnya di kamar hotel. Reigha dan Shafa hari ini berencana akan pergi jalan-jalan sekalian membeli oleh-oleh untuk keluarga di Indonesia.


Tujuan pertama mereka pagi ini adalah ke Kampong Glam, Shafa ingin sekali pergi ke tempat tersebut. Karena, ia membaca di internet, kalau tempat tersebut menjadi pusat dari kebudayaan indie di Singapura.


Di situ juga terdapat Restoran yang dilukis mural dindingnya. Reigha dan Shafa mencari sarapan dulu karna kebetulan mereka yang belum sarapan. Shafa makan dan ber selfi ria lalu mereka pun melanjutkan jalan-jalannya menuju istana kampong glam.


Shafa sangat menyukai tempat tersebut, mulai dari masjid sultan, jalan Arab. Mereka memulai jalan-jalan di sekitaran haji lane kemudian jalan Arab dan saking asyiknya sampai tak terasa waktu zuhur udah tiba. Mereka berdua segera menuju ke masjid sultan untuk melaksanakan sholat zuhur.setelah sholat zuhur, mereka mencari makan untuk makan siangnya. Sambil menunggu makanan datang ashafa mengajak reigha berfoto.


“Mas ayo kita foto dulu, nanti dijadikan walpaper HP kita,ya mas. Ajak shafa.

__ADS_1


“Iya, Sayang. Apapun yang kamu minta pasti mas turuti,” balas Reigh membuat senyum Shaga mengembang sempurna.


“Mas, sekarang ganti posisi, duduk di sana yuk, Mas,” rengek Shafa.


Rengekan Shafa tepat pula dengan datangnya makanan di atas meja.


“Sayang, makan dulu. Itu makanannya udah datang!” seru Reigha.


Dan memang makanannya udah ada di meja mereka, Shafa pun buru-buru makan karna Shafa udah pengen melanjutkan jalan-jalan lagi.


“Sayang, jangan buru-buru gitu ah makannya, nanti tersedak,” ucap Reigha memperingati.


“Shafa gak sabar pengen jalan-jalan lagi, Mas,” balas Shafa membuat Reigha menggelengkan kecil kepalanya.


Dan setelah makanannya habis, mereka pun melanjutkan jalan-jalannya.


“Mas, ayo foto di sana,” rengek Shafa kembali menunjuk pada suatu tempat.


“Iyaa, Sayang ... kita berdua yang foto, ‘kan?” tanya Reigha.


“Mas Reigha aja yang foto. Biar Shafa fotoin,” jawab Shafa.


“Sayang, mas gak pernah foto-foto begituan,” elak Reigha yang merasa malu jika foto sendirian.


“Ayolah, Mas ... sebentar aja,” bujuk Shafa.


Shafa sumringah dan segera berkata, “Mas berdiri di sana. Agak nyender, trus pandangan matanya mengarah ke samping.” Shafa langsung mengarahkan pose Reigha.


“Setelah itu, Mas. Kakinya tuh ditekuk satu, Mas. Tangan kamu satunya taruh di saku. Bajunya agak di buka sedikit kaca matanya dipakai aja biar kelihatan ganteng, Suamiku,” lanjut ucapan Shafa sembari memegang lembut pipi Reigha.


Reigha pun menurut. Tetapi, dalam hati Reigha berdoa semoga tak ada yang melihat Reigha seperti itu.


Tak lama, Reigha yang sudah difoto oleh Shafa pun semakin menyebalkan muka dan menghampiri Shafa, “Sudah ya, Sayang, yuk lanjut lagi.”


Shafa yang diajak omong oleh Reigha hanya diam dan fokus pada ponselnya menatap foto Reigha yang begitu tampan baginya.


“Mas, ayo kita upload di IG. Pasti seru!” ajak Shafa dengan begitu semangatnya.


“Mas gak punya IG, Sayang,” balas Reigha.


“Hah! serius, Mas? Kenapa, Mas? Seru lo bisa nggibahin orang.” Shafa bertanya diakhiri dengan tawaannya.


“Mas gak ada waktu untuk sosial media, Sayang. Hidup mas dulu hanya untuk kerja, kerja, dan kerja,” jelas Reigha.


“Emang gak bosan ya, Mas?” tanya Shafa kembali. Tiba-tiba, Reigha berhenti dan menoleh menatap Shafa bingung.

__ADS_1


“Bosan karena apa. Hmm?” tanya Reigha.


“Gak bisa hidup tenang dan flat aja, cuma ke kantor tiap hari,” jawab Shafa.


“Hmm ... gak ada kepikiran bosan atau enggak, Sayang. Yang ada itu bangun tidur udah ditunggu untuk meeting,” balas Reigha sambil tersenyum.


“Ayo, Sayang ... sekarang kita berbelanja oleh-oleh dulu. Kita ke ion orchad,” ajak Reigha.


“Ayo, Mas. Itu yang aku tunggu-tunggu,” kata Shafa dengan semangat.


Shafa ternyata udag pernah googling kalau ion orchad itu berada di atas stasiun MRT. Di sana terdapat brand-brand terkenal dunia. Walaupun di Jakarta barang tersebut juga udah banyak yang di jual di mall-mall besar Jakarta. Hanya saja karena Shafa tidak suka kemewahan, jadi Shafa juga tidak membutuhkan.


Reigha langsung masuk ke pusat pakaian laki-laki, Shafa hanya mengikuti langkah Reigha saja. Reigha tampak memilih-milih dan beberapa jaket telah menjadi pilihan Reigha.


“Udah, Sayang, coba kamu yang milih deh, mana yang cocok untuk Ayah, Papa dan Bayu.” Mendengar ucapan Reigha, Shafa pun segera memilih baju sesuai yang Reigha katakan tadi dan juga memilihkan untuk suaminya juga.


Shafa yang tak sengaja melihat harganya pun terlonjak kaget dan bertanya, “Mas, ini gapapa beli banyak? Mahal loh ini, Mas.”


“Gapapalah, Sayang ... sekali-sekali beli oleh-oleh untuk keluarga,” balas Reigha.


Setelah membayarnya mereka menuju ke pakaian wanita, Shafa langsung memilihkan baju untuk Mama Dhiya saja.


“Kok cuma satu, Sayang. Untuk siapa itu?” tanya Reigha.


“Untuk Mama Dhiya, Mas,” jawab Shafa.


“Emm ... Ibu, Anna, dan Anggi kok gak kamu pilihkan? Kamu juga beli dong, Sayang,” ucap Reigha.


“Mahal loh di sini, Mas ... nanti aja beli di Jakarta,” balas Shafa membuat Reigha menghela napas kasar, gemas melihat kelakuan Shafa yang memiliki jiwa tak suka berbelanja.


“Sayang, udah. Pilihkan untuk Mama, Ibu, Anna, Anggi dan buat kamu juga. Kamu gak perlu takut uang kamu habis, nanti Mas yang bayar,” ucap Reigha sambil tersenyum.


Akhirnya mereka berdua pun sibuk memberikan oleh-oleh buat keluarga. Setelah selesai, langsung membayarnya dan kembali keluar.


“Trus, kita mau kemana lagi, Sayang?” tanya Reigha.


“Emm ... kita belikan oleh-oleh untuk Anggi ya, Mas,” kata Shafa minta persetujuan Reigha.


“Mau belikan Anggi apa, Sayang?” tanya Reigha.


“Nanti deh, Mas. Kita sambil lihat-lihat dulu aja,” jawab Shafa.


Mereka pun berkeliling mencari yang sekiranya bisa buat oleh-oleh Anggi. Saat melewati toko pakaian dalam toko La Senza "Comfortable, Romantic and sensual" exquisite lingerie is designed to make every woman feel like a million bucks. Reigha yang duluan masuk, dengan terpaksa Shafa pun segera mengikuti langkah Reigha masuk ke dalam.


“Mas, ngapain kita di sini?” tanya Shafa.

__ADS_1


“Bentar, Sayang. Kita lihat-lihat dulu.” Reigha sambil mengedarkan pandangannya seakan mencari sesuatu yang Reigha cari.


“Nah, itu sayang, itu pas di badan kamu,” kata Reigha menunjuk ke salah satu pakaian dalam berwarna merah maroon.


__ADS_2