Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 112 - Menikahi Susterku


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Reigha segera menuju ke ruang ICU. Saat sampai di ruang ICU, tampak Anna sedang menangis di pelukan Mama Dhiya.


“Pa, Bay, ada apa ini?” tanya Reigha mendekat pada Papa dan juga Bayu.


“Budhe baru saja meninggal, Gha,” jawab Bayu.


“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, semoga budhe husnul khotimah. Yang sabar ya, Na,” ucap Reigha.


“Iya, Kak,” balas Anna sambil menangis.


“Bay, lo urus gih kepulangan jenazah budhe, gue akan ke rumah budhe untuk memberikan kabar duka ke masjid dekat rumah budhe dan mempersiapkan semuanya,” kata Reigha yang disetujui oleh Papa dan Bayu.


“Oke, Gha, makasih ya!” seru Bayu dan segera mengurus kepulangan jenazah budhe.


Sedangkan Reigha pamit ke papa dan mama setelah itu langsung menuju ke rumah budhe.


Di perjalanan, Reigha menelpon Shafa, “Assalamu’alaikum, Sayang. Sayang, ada kabar duka, budhe meninggal. Kamu di rumah aja ya, Mas sekarang menuju ke rumah budhe.”


“Wa'alaikumsalam, Mas ... Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Iya, Mas.” Mereka pun segera menutup telponnya.


Sedangkan Reigha segera memberi kabar ke Ayah dan Ibu, juga dani asisten pribadinya.


Tak berapa lama, Reigha sampai di rumah budhe. Reigha segera minta tolong pada tetangga dekat untuk membantu persiapan kedatangan jenazah budhe, para tetangga pun dengan kompak langsung berdatangan membantu.


“Bu, untuk makanannya gimana ya biasanya?” tanya Reigha ke tetangga budhe.


“Kalau makanan biasanya nanti dari RW udah disiapkan, Pak, paling kalau bapak mau, kita beli roti dan aqua,” jawab tetangga tersebut.


“Baiklah, Bu, ini tolong ibu belikan apa yang dibutuhkan ya, Bu.” Reigha memberikan beberapa lembar uang berwarna merah.


“Baik, Pak, klo gitu saya permisi. Belanja dulu,” balas tetangga budhe berlalu pergi setelah mendapat anggukan dari Reigha.


Tak berapa lama, jenazah budhe pun tiba. Semua warga saling membantu dan setelah di sholatkan, jenazah budhe pun segera dimakamkan. Anna selama di rumah sakit sampai di rumah budhe tak berhenti menangis, saat jenazah budhe akan diberangkatkan pun Anna masih menangis dan tiba-tiba pingsan.


Bayu yang mengetahui istrinya pingsan, segera membopong dan membawanya ke kamar untuk istirahat. Setelah membaringkan Anna, Bayu keluar sebentar untuk menemui Mama Dhiya.


“Ma, tolong mama di rumah aja nemenin Anna ya, Ma, Bayu mau ikut mengantar jenazah budhe ke pemakaman,” ucap Bayu.


“Iya, Bay, mama akan jagain Anna di sini,” balas Mama tersenyum pada Bayu.


“Terima kasih, Ma.” Bayu segera keluar rumah untuk segera ikut mengantarkan jenazah budhe ke pemakaman.


***

__ADS_1


Pulang dari pemakaman, ternyata Shafa dan anak-anak udah datang, karena malam ini akan diadakan acara mendoakan budhe.


Setelah semua yang dari pemakaman masuk rumah budhe, mereka segera membersihkan badannya. Setelah mandi, Bayu segera menemui istrinya yang ternyata udah sadar dan sedang bersama Mama dan juga Reza. Sementara Shafa berada di dapur membantu persiapan untuk tahlilan nanti malam dan si kembar sedang bersama Ayah Reynand yang belum pulang karena menunggu acara tahlilan juga.


Shafa masuk ke kamar Anna dan memberikan minuman hangat juga makanan. Karena Anna terlihat sangat lemas, seharian belum makan.


“Na, makan, ya ... mau di suapin Bayu atau gue yang suapin?” tanya Shafa.


“Gue makan nanti aja, Fa,” jawab Anna dengan sangat lemas.


“Na, lo gak boleh seperti ini, budhe udah tenang di sana. Lo gak boleh terus-terusan meratapi. Lagian, lo kan lagi hamil, kasihan bayi lo kalau maminya gak makan makan,” titah Shafa.


“Iya, Fa ... nanti aja gue makan,” kata Anna kembali.


“Gak ada nanti-nantian, gue suapin lo sekarang!” seru Shafa.


Shafa pun segera memberikan minuman hangat dulu pada Anna, setelah itu langsung menyuapinya. Anna pun tak terasa menghabiskan makanannya.


“Udah, sekarang lo berbaring lagi, istirahat. Reza, ayo ikut mama ke depan, main sama si kembar,” titah Shafa.


“Iya, Ma. Mami, Eza ke depan ya, Mi,” pamit Reza pada maminya.


Anna pun memgangguk. Dan Shafa menggandeng Reza lalu keluar menutup pintu kamar Anna.


“Za, Eza ke sana ya. Itu ada papa, opa dan kakek, Mama mau naruh piring dulu di belakang, ya,” ucap Shafa.


“Iya, Mama.” Reza segera berlari menghampiri si kembar yang sedang main di dekat opa dan kakeknya.


Saat acara tahlilan mulai tak disangka Ivanka ikut menghadiri. Dia mengucapkan turut berduka cita kepada semua keluarga bayu. Bayu yang melihat pun jadi jengah dengan muka sok cari perhatiannya.


Ketika Ivanka mengajak bersalaman pun, Bayu seakan tidak melihat dan segera meninggalkan tempat dimana Ivanka berada.


Acara tahlilan pun berjalan lancar. Ivanka belum ingin pulang karena dia sedang mencari anaknya Bayu. Namun, anaknya Bayu tidak muncul-muncul karena Reza disuruh menemani Anna di dalam kamar.


Ivanka pun menghampiri Mama Dhiya dan menanyakan keberadaan Anna, karena Ivanka sangat yakin kalau anaknya Bayu pasti bersama ibunya.


Mama Dhiya yang gak tau siapa Ivanka pun memberi tahukan di mana letak kamar Anna.


Saat Ivanka akan memasuki kamar Anna, Bayu langsung menghadang Ivanka.


“Mau apa lo? Ngapain lo di sini?” tanya Bayu dengan ketus.


“A—aku ... Aku mau nemuin Anna, Bay, mau ngucapin berduka cita,” jawab Ivanka.

__ADS_1


“Udah, gak perlu. Istri gue sedang istirahat. Sekarang, lo pulang sana!” seru Bayu mengusir Ivanka.


“Bay, gue kesini punya maksud baik loh. Kok lo tega mengusir gue?” tanya Ivanka.


“Jangan lo kira gue gak tau maksud lo ya. Cepat lo pergi atau gue seret lo keluar!” bentak Bayu.


Ivanka pun segera keluar rumah dengan menggerutu, “Sial. Gue belum nemuin anak itu malah udah diusir.”


Ternyata ucapan Ivanka didengar oleh Reigha.


“Anak? Anak siapa yang anda maksud, Bu Ivanka?” tanya Reigha membuat Ivanka terlonjak kaget.


“Eh, bukan, Pak. Bukan anak siapa-siapa. Mari, Pak,” jawab Ivanka kaget dan segera meninggalkan tempat itu.


Reigha pun segera menemui Bayu untuk membicarakan apa yang baru saja ia dengar.


“Bay, ikut gue sebentar,” pinta Reigha.


Bayu pun segera mengikuti Reigha.


“Ada apa, Gha?” tanya Bayu.


“Lo harus hati-hati sama Ivanka. Sepertinya dia mengincar Reza. Dia punya maksud yang gak baik sama Reza, Bay,” jawab Reigha menceritakan.


“Gue juga merasa seperti itu, Gha, makanya anak buah gue standbay menjaga Reza dan Anna dua puluh empat jam,” balas Bayu.


“Baguslah kalau lo udah lebih dulu berjaga-jaga,” ucap Reigha.


“Gha ... lo, Shafa, dan anak-anak pulang aja. Gue dan Anna sementara di sini dulu sampai selesai acara tujuh harinya budhe. Gue titip Reza, ya.”


“Tenanglah, Reza pasti aman sama gue dan Shafa. Yaudah, gue panggil Shafa dulu,” balas Reigha.


Reigha pun segera ke belakang mencari Shafa. Sementara Bayu menemui Mama Dhiya dan Papa Harun.


“Pa, Ma, kalian pasti capek, mending Papa dan Mama pulang dulu ya, istirahat,” titah Bayu.


“Oh iya, Bay, rencana papa juga mau pulang, tapi nanti barengan sama Reigha juga,” balas Papa.


Tak berapa lama, Reigha, Shafa dan Ibu Khalisa datang, “Pa, Ma, Reigha pulangnya antar ayah dan ibu dulu ya.”


“Iya, Nak, kalau gitu mama dan papa pulang dulu ya,” ucap Mama Dhiya.


“Iya, Ma, Pa ... hati-hati ya di jalan,” kata Reigha.

__ADS_1


Papa Harun pun mengangguk dan segera pergi dari rumah budhe. Sedangkan Shafa dan Reigha juga anak-anak mengantar Ayah Reynand dan Ibu Khalisa dulu.


__ADS_2