
“Eh, Shafa. Udah mau pergi aja, gak betah, ya di rumah?” tanya Bu Sinta mulai sibuk dengan urusan orang lain.
Anggi yang mendengar hal itu pun, mulai mengepalkan kedua tangannya, seraya menatap sinis pada Bu Sinta.
“Oh iya. Panteslah gak betah. ‘Kan katanya mertua kamu lebih kaya daripada orang tua kamu. Makannya buru-buru pulang ke rumah mertua lagi,” lanjut Bu Sinta.
“Eh, Bu Sinta ... biasanya kalau orang udah berumur itu mulutnya cuma buat dzikir loh, Bu. Bukan buat ngatain orang!” seru Anggi dengan nada ketus.
Ibu Khalisa pun memanggil Anggi sembari menyuruh Anggi untuk masuk ke dalam rumah. Setelah Anggi masuk ke dalam, Reigha dan Shafa serta Bayu berpamitan pada Ayah Reynand dan Ibu Khalisa kembali, “Ayah, Ibu ... kami pamit pulang dulu, ya. Ayah dan Ibu di rumah jaga kesehatan. Kalau ada apa-apa jangan sungkan ngabarin kami.”
“Iya, Nak. Hati-hati di jalan. Terima kasih sudah mau menginap di rumah Ayah yang sederhana ini,” balas Ayah Reynand.
Dan ketiganya pun naik ke mobil pergi meninggalkan rumah Ayah Reynand. Saat di perjalanan Bayu dan juga Reigha mengobrol membahas masalah kantor.
Reigha melirik Shafa yang ketiduran di sampingnya. Dia pun membangunkan Shafa. Tapi, yang dibangunkan pun seakan tak terasa, sepertinya Shafa kecapean sehingga dia tidak bangun juga.
Kesempatan itu digunakan oleh Reigha untuk ngomongin apa yang kemarin di pikirkan olehnya, “Bay, lo bisa gak bantu gue carikan ruko di tempat yang strategis?” tanya Reigha.
Bayu mengernyit bingung. Kemudian bertanya, “Emang untuk siapa, Gha?”
“Rencananya, gue mau bantu Ayah Reynand. Kasihan, Bay ... Ayah udah tua harus jualan nasi goreng keliling,” jawab Reigha.
“Gue mau belikan Ayah ruko, biar Ayah gak kecapean jualan keliling lagi,” lanjut Reigha.
Bayu pun mendengar sambil manggut-manggut paham. Kemudian, Bayu berkata “Oh ... oke, Gha. Gue setuju. Segera gue carikan ruko yang tempatnya strategis buat Om Reynand.”
“Makasih, ya, Bay!” seru Reigha.
Akhirnya, sampailah mereka di rumah kediaman Papa Harun. Saat mobil berhenti, Shafa pun terbangun dan mengintip keluar, ternyata sudah sampai di rumah.
Ketiganya pun turun dan mendapat sambutan dari Mama Dhiya.
“Akhirnya, kalian datang juga. Mama udah kangen sama kamu, Nak,” kata Mama Dhiya sumringah.
“Iya, Ma. Alhamdulillah,” balas Reigha sembari tersenyum.
“Ma, kami bersih-bersih dulu, ya,” ucap Shafa.
“Baiklah, Nak. Kalian berdua pergilah ke kamar dulu,” ujar Mama Dhiya.
__ADS_1
Melihat Shafa dan Reigha berjalan masuk ke dalam rumah, Bayu pun langsung pamit pada Mama Dhiya, tak lupa menyalimi Mama dan berlalu pergi kembali ke kantor.
Di dalam kamar, Reigha langsung mandi. Sedangkan Shafa memberes-bereskan barang yang dibawa dari rumah Ayah Reynand.
Beberapa menit kemudian, Reigha keluar sudah dalam keadaan yang segar dan wangi. Lalu dia menghampiri Shafa dan memeluknya.
“Kamu gak mandi, Sayang?” tanya Reigha yang masih memeluk istrinya.
“Hmm ... iya, Mas. Ini masih beresin barang-barang yang tadi kita bawa,” jawab Shafa.
“Ada apa, Mas? Tumben banget kamu sampai peluk-peluk gini,” lanjut Shafa bertanya pada Reigha.
“Gapapa, Sayang. Aku senang aja bisa mengenal keluarga kamu. Keluarga kamu baik banget, Fa. Aku nyaman di sana,” jawab Reigha.
“Alhamdulillah kalau Mas Reigha nyaman di sana. Mama dan Papa juga baik, Mas. Shafa aja betah di sini,” balas Shafa.
“Oh iya, Sayang ... gimana tentang suami teman kamu? Udah ngabarin belum?” tanya Reigha.
“Belum, Mas. Tadi sih, katanya ibunya Sintia gak setuju klo kerja jadi sopir, tapi gak tau deh gimana jadinya,” jawab Shafa.
“Owh gitu ... yaudah kita tunggu aja sampai besok, ya, Sayang? Kalau gak ada kabar, nanti biar Bayu aja yang carikan,” kata Reigha yang diangguki oleh Shafa.
“Iya, Sayang,” jawab Reigha melepaskan pelukannya.
Shafa pun berlalu pergi masuk ke dalam kamar mandi.
****
Keesokan harinya, Farhan suami Sintia datang ke rumah, sesampainya di depan pagar ditanya oleh satpam yang berjaga di depan rumah, “Mencari siapa, Pak?”
“Saya mencari Shafa, ada?” jawab Farhan sembari bertanya kembali.
“Sebentar saya tanya Bu Shafa dulu, ya,” ucap satpam tersebut berlari masuk ke dalam rumah.
Untung saja langsung bertemu pada Shafa yang tengah bersih-bersih di ruang tamu. Pak satpam berjalan mendekat dan berkata, “Bu Shafa, di depan ada yang mencari.”
Shafa pun mengangguk dan berjalan mengikuti pak satpam menuju halaman rumah.
“Oh, Farhan. Masuklah! Sintia mana?” tanya Shafa.
__ADS_1
“Gak ikut, Fa,” jawab Farhan sembari berjalan masuk mengikuti Shafa hingga ruang tamu.
Farhan duduk di sofa sembari menanyakan apakah tawaran kerjanya masih berlaku. Dan kebetulan pula hari ini jadwal Reigha untuk therapy.
“Gimana, Han. Jadi menerima tawaran untuk jadi supir Mas Reigha?” tanya Shafa pada Farhan.
“Sebenarnya Bu Sinta gak setuju, Fa. Tapi, gimana lagi ... kami butuh uang untuk persiapan Sintia melahirkan,” jawab Farhan.
“Oke, Han. Rencana kapan mau mulai kerja? Sekarang bisa gak? Kebetulan, hari ini tuh Mas Reigha waktunya therapy dan ketemu dokter,” ucap Shafa.
“Oh gitu. Oke, Fa. Aku siap mulai kerja hari ini,” balas Farhan.
“Kalau gitu, langsung aja kedepan dulu, ya. Tolong minta kunci ke pak satpam yang tadi sekalian minta ditunjukin mobilnya yang mana. Shafa ke kamar sebentar manggil Mas Reigha.
“Oke, Fa. Terima kasih, ya!” seru Farhan berlalu pergi menuju pos satpam.
Sementara Shafa menuju ke kamar. Ternyata ... Mas Reigha di kamar tengah berbincang bersama Bayu melalui telpon membahas pekerjaan. Beberapa menit kemudian, Reigha sudah selesai telponnya. Kemudian, bertanya sama Shafa, “Sayang, gimana ini? Bayu gak bisa antar kita ke rumah sakit hari ini karena dia ada meeting penting pagi ini.”
Shafa tersenyum lalu memegang tangan Reigha sembari berkata, “Mas gak perlu khawatir. Suami Sintia udah di depan nunggu kita, Mas. Dia sekarang yang akan mengantar kemanapun kita pergi.”
“Alhamdulillah ... Yuk kita berangkat sekarang!” seru Reigha mengajak Shafa.
“Iya, Mas,” balas Shafa mengikuti langkah Reigha yang berjalan dengan bantuan tongkat elbow.
Sebelum pergi, tak lupa Shafa berpamitan pada Mama Dhiya. Shaga pergi ke kamar Mama untuk berpamitan, setelahnya Reigha dan Shafa langsung masuk ke dalam mobil yang di dalamnya sudah ada Farhan. Mobil pun segera melaju menuju rumah sakit.
Saat di perjalanan, Reigha bertanya pada Shafa, “Sayang, siapa nama mas ini?”
“Namanya Farhan, Mas,” jawab Shafa.
“Pak, panggil Farhan aja, gak usah pakai ‘Mas’. Toh, saya seumuran sama istri bapak,” ucap Farhan.
“Ya, tapi jangan panggil saya pak juga. Kan saya gak setua itu, panggil Reigha aja,” balas Reigha.
“Waduh, saya panggil Mas Reigha aja deh, gak enak banget panggil nama gitu,” ucap Farhan kembali.
Farhan dan Reigha pun mengobrol sepanjang perjalanan. Hingga setengah jam kemudian, sampailah mereka di rumah sakit. Kebetulan hari ini tidak terlalu ramai. Jadi, Reigha bisa langsung ditherapy.
Sementara Shafa menunggu di luar sambil memainkan ponselnya. Shafa tidak tahu kalau pada jarak kurang lebih 300 meter ada Binar yang memandangnya dengan sinis.Binar pun segera menelepon seseorang untuk mengatur rencana jahatnya, sambil sesekali melirik Shafa.
__ADS_1