Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 124 - Menikahi Susterku


__ADS_3

Sementara Anna mendekat pada Bayu dan berkata, “Abang, boleh gak kalau Anna ke rumah kita aja, temani anak-anak.”


“Iya, Sayang. Kamu istirahat di rumah kita aja sambil menunggu anak-anak, ya,” balas Bayu diangguki oleh Anna.


Dan saat Anna akan pergi lewat pintu samping tiba-tiba si kembar dan Reza datang sambil menangis memanggil opa-nya.


“Opa ... Opa!” panggil mereka bertiga berlarian hendak masuk ke dalam rumah.


Reigha dan Bayu segera menggendong anak-anaknya lalu mengajak lewat pintu samping.


“Papa, Andra mau lihat opa,” ucap Daviandra yang memberontak.


“Reza juga, Papi,” imbuh Reza.


“Nai juga, Pa. Kenapa sih papa gendong langsung kayak gini,” gerutu Daviana.


“Kalian pergilah ke tempat mami dulu ya, temani mami, kasihan mami sendirian,” pinta Bayu.


“Tapi kami ingin lihat opa dulu, Papi!” seru Daviandra.


“Kalian ganti baju dulu ya, nanti baru lihat opa,” titah Reigha


Dan akhirnya mereka pun setuju kemudian segera ke kamarnya untuk berganti baju.


Anna yang rencananya mau ke rumahnya pun mengurungkan niatnya dan masuk ke kamar Daviana untuk menggantikan bajunya.


Setelah berganti baju, Daviana dan Anna ke kamar Daviandra.


“Sayang, udah selesai ganti bajunya?” tanya Anna.


“Dikit lagi, Mi,” jawab Reza.


Anna pun menggandeng tangan Daviana untuk masuk dan mengunci pintunya.


Setelah Daviandra Dan Reza selesai berganti baju, Anna menyuruh semuanya untuk duduk di depannya Anna.


“Sayang, bisa mami ngomong sebentar sama kalian semua?” tanya Anna.


“Ada apa, Mami?” balas Daviana bertanya.


“Begini, Sayang, opa ‘kan udah meninggalkan kita semua, kita semua tentu merasa sedih banget karena opa meninggalkan kita. Tapi, apa kalian tau, Sayang, siapa yang paling sedih?” ucap Anna.


“Oma,” jawab Daviandra.


“Pintar. Iya, Sayang, oma yang paling sedih. Jadi, kalian jangan menangis ya. Kalian hibur oma agar oma gak larut dalam kesedihannya,” balas Anna.


“Oke, Mami, setelah kami melihat opa, kami akan menghibur oma agar oma gak sedih lagi,” kata Reza.


“Bagus, Sayang, jadi gimana? Kalian mau langsung keluar atau di kamar dulu?” tanya Anna.


“Kami keluar aja ya, Mami, kami ingin melihat opa dulu,” jawab Daviana.

__ADS_1


“Oke, baiklah. Ayo kita keluar!” seru Anna.


Dan mereka pun keluar kamar menuju ke depan.


“Sayang, kalian ke papi dan papa, ya, bilang ingin melihat opa sebentar, setelah itu segera kesini lagi, mami tunggu di sini. Ingat, mami menunggu kalian, ya,” ucap Anna.


“Iya, Mami,” balas mereka serempak.


Dan akhirnya mereka pun mendekat ke Reigha dan Bayu.


“Kok kesini, Sayang, gak di kamar aja?” tanya Reigha.


“Papa, boleh gak kalau kami melihat opa sebentar, kami ingin melihat opa,” rengek Daviandra.


“Boleh, Sayang, yuk papa antar,” ajak Reigha.


Reigha pun segera mendekat ke jenazah papa Harun, kemudian membuka penutup wajah papa Harun. Dan seketika si kembar dan Reza menangis tanpa suara.


“Udah melihat opa ‘kan? Sekarang, yuk kita ke depan lagi, mami nungguin tuh,” kata Reigha.


Mereka bertiga menurut. Dan segera menemui Anna, saat Anna akan mengajak masuk, Daviandra gak mau masuk.


“Kenapa, Sayang?” tanya Anna dengan lembut.


“Mami, Andra ingin di sini dulu, nanti baru kita ketemu oma,” jawab Daviandra.


Dan akhirnya ketiga anak itu pun duduk di samping rumah sambil menangis memanggil opa-nya. Anna yang gak tega melihat ketiganya yang menangis, lalu Anna pun mengusap air matanya.


“Tapi kita gak punya opa lagi, Mami,” lirih Daviana.


“Kata siapa kalian gak punya opa lagi, kakek ada di sini kok,” sambar ayah Reynand hingga membuat ketiga anak tersebut langsung memeluk kakek Reynand.


“Makasih ya, Kakek. Kakek mau datang kesini,” ucap Daviandra.


“Kakek pasti kesini demi ketiga cucu kakek tersayang, asal jangan nangis lagi, ya,” titah ayah Reynand.


“Iya, Kakek. Kami gak sedih lagi,” balas Reza.


“Baiklah, karena udah gak sedih lagi, sekarang kalian masuk dan hiburlah oma,” pinta ayah Reynand.


“Oke, Kakek,” kata mereka bersama. Dan mereka pun akhirnya masuk dan mendekat ke mama Dhiya.


“Oma, oma jangan nangis, Oma,” lirih Daviana sambil memeluk mama Dhiya.


Mama Dhiya yang melihat cucu-cucunya malah tambah menangis. Shafa dan ibu Ķhalisa menenangkan.


“Ma, kita ke kamar lagi yuk?” ajak Shafa.


“Nanti saja, Fa, mama mau di sini,” balas mama Dhiya.


Dan setelah selesai memandikan dan mensholati, tibalah sekarang mengantarkan papa Harun ke peristirahatan terakhirnya. Reigha segera meminta tolong temannya yg juga hadir untuk sambutan pelepasan jenazah.

__ADS_1


“Afkar, tolong lo wakil dari keluarga gue. Bantu untuk mengantarkan papa ke peristirahatan terakhir,” pinta Reigha.


Dan Afkar pun setuju. Saat Afkar mewakili keluarga untuk pelepasan jenazah papa Harun, mama Dhiya pun kembali pingsan. Reigha dan Bayu yang berdiri tak jauh dari mamanya segera membopong mama Dhiya dan membawanya masuk ke kamar.


Shafa yang mengikuti pun menemani mama Dhiya sedangkan Reigha dan Bayu mengantarkan papa Harun ke peristirahatan terakhirnya.


Mereka semua mengantarkan jenazah papa Harun. Ayah Reynand juga ikut, sedangkan ke tiga cucunya bersama ibu Khalisa dan Anna.


Saat rumah udah sepi, mama Dhiya pun sadar dan mencari papa Harun.


“Fa, papa mana, Fa?” tanya maa Dhiya.


“Ma, Papa udah diantar ke pemakaman,” jawab Shafa yang gak tega dengan kondisi mama Dhiya pun sampai menangis.


“Fa, papa itu cuma tidur, kenapa dimakamkan,” lirih mama Dhiya.


“Ma, mama sadar ya, ikhlas ya, Ma. Papa udah tenang, Ma,” balas Shafa menenangkan.


Mama Dhiya pun memeluk Shafa, “Fa, mama belum mau ditinggal sama papa, Fa. Mama mau bersama papa.”


Shafa yang gak tega melihat mama Dhiya pun menyuntikan obat penenang agar mama Dhiya bisa tenang dan beristirahat.


Setelah mama Dhiya tertidur Shafa pun keluar kamar. Menemui ibu Khalisa dan Anna.


“Gimana mama, Fa?” tanya Anna.


“Tadi gue kasih suntikan obat penenang, Na, biar mama istirahat. Gak tega gue,” jawab Shafa.


“Iya, Fa, gue juga gak tega,” balas Anna.


“Anak-anak pada ke mana ini, kok gak kelihatan?” tanya Shafa.


“Lagi sama Santi dan Jasmin di luar, juga Zhafira dan Chayra, lo belum temui kan,” jawab Anna.


“Iya, sebentar ya, gue ke depan dulu. Bu, Shafa ke depan ya.”


“Iya, Nak,” balas ibu Khalisa.


Shafa pun sampai depan dan menyapa Zhafira dan Santi.


“Fir, San, maaf ya baru bisa nemuin kalian sekarang,” ucap Shafa.


“Gapapa kok, Fa, kami ngerti kok. Gimana tante sekarang?” tanya Santi.


“Alhamdulillah lagi tidur sekarang. Semoga setelah bangun bisa tenang,” jawab Shafa.


“Aamiin,” balas Santi dan Zhafira serempak.


“Masuk yuk kita ngobrol di dalam!” ajak Shafa diangguki oleh mereka berdua.


Saat merek hendak masuk, tiba-tiba ....

__ADS_1


__ADS_2