Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 50 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Gimana ... tempatnya udah siap?” tanya Binar sembari tersenyum miring.


“Udah, Kita siap berangkat sekarang,” jawab salah satu orang suruhan Binar tersebut.


“Bagus. Sekarang, gue akan bawa dia kemari,” ucap Binar yang segera berjalan menuju ruangan di mana Shafa disekap.


Binar memaksa Shafa untuk jalan. Kini Binar dan orang suruhannya membawa Shafa masuk ke lorong bawah tanah. Mereka berjalan menggunakan senter. Setelah semua masuk pintu rahasia tersebut, segera pula di tutup oleh salah satu orang suruhan Binar.


Di tempat lain, Reigha udah tampak gelisah, dia semakin gak tenang.


“Sampai kapan kita diam di sini? Ayo segera kita bertindak!” seru Rejgha dengan tidak sabarnya.


“Sabar, Gha. Kita tunggu beberapa saat lagi,” balas Bayu.


“Gue ke sana sekarang,” ucap Reigha segera berjalan duluan masuk ke dalam gedung tua.


Tapi, seketika ponsel Reigha berdering dan segera Reigha menerima panggilan tersebut.


“Halo, ada apa?” tanya Reigha.


“Pak, kami dari pihak hotel blue star ingin mengundang bapak untuk menghadiri rapat kami di restoran hotel Volga. Bagaimana, Pak?” balas seseorang yang menghubungi Reigha yang tak lain adalah pemilik hotel Blue Star tempat Reigha melaksanakan resepsi pernikahan.


“Ya ... bagaimana baiknya, atur saja. Asal gak saat ini karena saya ada urusan yang tak bisa ditinggalkan,” ucap Reigha.


“Baik, Pak.”


Reigha memutuskan panggilan dan segera melanjutkan jalannya masuk ke dalam gudang tua tersebut.


Akhirnya semua mengikuti Reigha masuk ke tempat penyekapan Shafa. Mereka segera masuk ke gedung tua tersebut. Mereka berpencar mencari ke segala arah.


Ternyata Binar cukup licik. Reigha dan lainnya merasa tertipu. Binar serta orang suruhannya saat ini gak ada di tempatnya.


“Farhan, tadi kamu benar melihat mereka bawa istri saya ke sini?” tanya Reigha.


“I—iya. Benar kok, Pak. Mobilnya benar juga yang ada di depan itu,” jawab Farhan.


Andara yang mendengar percakapan antara Reigha dan Farhan pun segera berkata, “Kalau begitu, berarti ruangan ini ada tempat tersembunyi.”


“Maksud lo?” tanya Bayu yang belum paham ucapan Andara.


“Pasti di tempat ini ada pintu rahasia menuju ke luar. Tapi, kita gak tau menuju kemana pintu rahasia tersebut,” ucap Andara menjelaskan.


“Ya Allah, Sayang ... kamu di mana?” lirih Reigha.


Papa Harun memegang pundak Reigha sembari berkata, “Sabar, Nak. Pasti Shafa ditemukan dalam keadaan selamat.”


Mendengar perkataan Papa Harun, seketika Reigha teringat kalau tadi Shafa memakai kalung yang udah Reigha pasang GPS. Reigha segera melihat ponselnya, dia mengecek dimana keberadaan Shafa.

__ADS_1


“Pa, Bay, Andara, Farhan ... lihat ini. Shafa di sini,” kata Reigha sambil menunjukan layar ponselnya.


Mereka segera memperhatikan ponsel Reigha. Tak lama, Papa berkata, “Berarti Binar masih di sekitar sini dia belum jauh.”


“Bentar. Tapi, ini arah menuju ke pelabuhan. Apa Shafa mau di bawa pergi?” lirih Andara membuat semuanya kaget.


“Kalau gitu, kita harus segera menunggu di pelabuhan!” seru Reigha.


“Tunggu, sebelum kita ke pelabuhan, ada baiknya melakukan penyamaran,” ucap Bayu membuat semuanya mengangguk setuju.


“Oke. Akan gue siapkan,” balas Andara segera mempersiapkan penyamaran menyelamatkan Shafa.


Mereka berlim segera pergi ke pelabuhan. Andara menelepon anak buahnya supaya membawakan peralatan untuk penyamaran.


Di tengah jalan mereka bertemu dengan anak buah Andara dan segera mengambil peralatan penyamarannya.


Sesampainya mereka di pelabuhan, segera memakai peralatan penyamaran dan segera masuk ke dalam.


Namun, lagi-lagi langkah Reigha terhenti. Jika tadi dia dihentikan oleh dering ponsel, kini dia dihentikan oleh Andara, “Pak Reigha, coba bapak lihat. Posisinya sekarang dimana,” kata Andara.


Segera Reigha membuka ponselnya dan mengecek. Kemudian Reigha mengeluarkan suaranya, “Lihat. Ternyata, Shafa sudah di sekitar sini.”


Andara mendekat dan melihat ponsel Reigha, kemudian membenarkan ucapan Reigha.


Mereka pun segera masuk dan mengecek kondisi di pelabuhan. Ternyata, Shafa udah berada di kapal yang hendak berangkat, melihat hal tersebut, Andara dan Farhan segera masuk ke dalam kapal, supaya tidak menimbulkan kecurigaan. Karena, pastinya Binar tidak mengenali Andara dan juga Farhan.


Di sisi lain, Shafa udah diselimuti ketakutan. Dirinya takut tak bisa bertemu Reigha dan juga keluarganya lagi. Namun, hal tersebut tak akan dilibatkan pada Binar kalau Shafa tampak ketakutan.


“Heh, lo gak ucapin selamat tinggal pada kota ini? Atau lo gak mau ucapin selamat tinggal ke Reigha?” tanya Binar.


Shafa diam aja, dia tak merespon ucapan Binar. Orang suruhan Binar hanya membantu mengantar sampai pelabuhan.Binar yakin udah gak ada yang bisa menemukannya. Jadi, Binar hanya pergi berdua dengan Shafa.


Shafa berdoa dalam hati, “Ya Allah yang maha pelindung, tolong selamatkan hamba. Hamba tidak mau pergi jauh dari suami hamba.”


Shafa berdo’a dalam hati sambil memejamkan matanya. Waktu Shafa membuka matanya, dia melihat dua orang yang dikenal olehnya, yaitu Andara dan juga Farhan.


Shafa yang hendak membuka mulutnya, segera Farhan memberi kode untuk diam. Shafa merasa kalau dia akan selamat, pertolongan Allah telah datang perantara Farhan dan juga Andara.


Sedangkan Binar tidak menyadari kalau Shafa tengah memberi kode-kode pada Farhan dan juga Andara. Kapal udah mulai berjalan, Reigha semakin cemas dibuatnya.


Binar duduk dengan santainya, dia yakin rencananya telah berhasil. Shafa pun izin ke toilet, “Emm ... gue ke toilet boleh, ya?” tanya Shafa hati-hati.


“Lo jangan berusaha nipu gue, ya! Lo itu mau ke toilet atau mau kabur?” ucap Binar dengan penuh penekanan.


“Kalau gue mau kabur, artinya gue cari mati dong. Kapal aja udah jalan, gimana caranya gue kabur!” seru Shafa memutar bola matanya malas.


“Oke. Cepat sana, jangan lama-lama!” balas Binar.

__ADS_1


Melihat Shafa yang berhasil pergi, Andara pun segera menuju tempat kemudi untuk memberi tau nahkoda kalau dirinya adalah polisi yang sedang menyamar untuk menangkap buronan yang berada dalam kapal. Nahkoda yang telah diberikan kartu nama oleh Andara, segera memutar balikkan kapal.


Shafa sudah aman bersama Farhan sembari menunggu Andara yang kembali dari tempat nahkoda. Setelah Andara kembali, mereka bertiga bersiap menuju pintu untuk segera keluar.


Sementara di pelabuhan, Reigha yang melihat kapal putar balik pun tersenyum senang begitu juga dengan Papa Harun dan Bayu.


Tak lama, kapal kembali dan telah sampai di pelabuhan. Tentu hal tersebut membuat Binar heran kenapa kembali lagi.


Kapal sudah berhenti, Andara segera mengantarkan Shafa dan Farhan menuju Reigha yang telah menunggu di luar. Sementara Andara kembali lagi masuk menghampiri tempat dimana Binar tengah celingukan melihat sekitarnya.


Saat Binar hendak berdiri tiba-tiba Andara langsung menangkapnya Binar dan langsung memborgol tangan Binar.


“Eh, ada apa ini? Apa yg terjadi? Ngapain gue di tangkap? Lo siapa?” tanya Binar beruntutan dan mulai panik.


“Gue dari pihak kepolisian, gue menangkap lo karena lo udah berani menculik Shafa,” jawab Andara.


“Lo siapanya Shafa?” tanya Binar nyolot.


“Saudara Reigha. Tentu saudara Shafa juga bukan?” balas Andara membuat Binar kembali celingukan yang kali ini mencari Shafa.


“Shafa mana Shafa?” tanya Binar panik.


Binar pun segera keluar bersama Andara. Dan Binar melihat Shafa yang sudah di luar kapal berada dalam pelukan Reigha.


“Shafa, beraninya lo lolos dari gue. Ingat, Fa. Gue gak akan buat hidup lo tenang!” ancam Binar.


“Siapa kamu mengancam menantu saya?” bentak Papa Harun membuat Binar kaget karena adanya Papa Reigha tepat berada di samping Shafa.


“Alhamdulillah kamu selamat, Sayang,” ucap Reigha meninggikan suaranya agar Binar mendengar.


“Iya, Mas. Alhamdulillah, berkat bantuan Allah perantara kalian semua.”


Reigha semakin menenggelamkan Shafa dalam pelukannya. Hal tersebut membuat Binar semakin panas dan berteriak, “Gha, gak usah peluk-peluk dia, gue yang cinta sama lo, bukan dia!”


Reigha pun segera datang mendekat pada Binar, tepat berdiri di depan Binar.


“Gue akan tuntut lo. Dan, gue pastikan hukuman lo lama!” seru Reigha dengan tatapan tajamnya menyorot pada Binar.


“Gha, lo kok tega sih sama gue. Lihat, gue sengaja lakuin ini agar kita bisa bersama lagi,” ucap Binar dengan tatapan nanar pada Reigha.


“Jangan mimpi!” seru Reigha segera membalikkan badan meninggalkan Binar yang sudah diborgol sejak tadi oleh Andara.


Tak lama, tim kepolisian datang menghampiri Andara, “Maaf kami terlambat, Pak. Biar kami bawa ke kantor, Pak.”


“Baik, bawa dia!” seru Andara memberikan Binar pada tim kepolisian untuk dibawa ke kantor dan segera diurus.


“Tunggu, bebasin gue!” seru Binar.

__ADS_1


__ADS_2