Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 1 - S2 Menikahi Susterku


__ADS_3

Para tokoh dan nama-nama dari penerus cerita novel Menikahi Susterku yang kini season 2 :



Daviandra Najmu Abqari


Daviana Naima Abqari


Viliami Nazhiroh Abqari


Alfareza Arfan Pratama


Almeera Hasna Pratama




Mobil tampak baru saja terparkir di halaman rumah yang tampak begitu mewah. Sosok pemuda muda nan tampan itu keluar dari pintu mobil yang telah dibukakan oleh sopirnya.


Setelah pemuda itu mengucapkan terima kasih, dia berlalu masuk ke dalam rumah melewati ruang tamu.


“Udah pulang, Nak. Mau makan?” tanya Shafa, mama dari pemuda tersebut.


Pemuda itu bernama Daviandra Najmu Abqari, seorang CEO muda yang baru saja pulang dari kantor karena diutus oleh papanya.


“Iya, Ma. Andra mau bersih-bersih, kemudian makan,” jawab Daviandra berlalu pergi.


“Abang mah suka gitu, Ma. Nyelonong aja pergi gitu,” gerutu Vilia.


Viliami Nazhiroh Abqari, anak terakhir dari pasangan Reigha dan Shafa. Setelah si kembar berusia enam tahun, Shafa mulai mengandung Vilia saat itu. Tepat usia si kembar tujuh tahun, mereka udah mempunyai adek bayi yang sangat cantik.


“Vilia, jangan bilang gitu. Ntar abang kamu marah,” titah mama Shafa.


Vilia pun menghempaskan badannya duduk di samping mamanya.


Tak lama dari itu, tampak papa Reigha pulang bersama putrinya yang telah tumbuh besar itu. Reigha tak membiarkan Daviana pulang kerja sendirian. Reigha selalu menyempatkan waktu menjemput Daviana yang saat ini mengikuti jejak Shafa sebagai ahli medis di rumah sakit, dia sebagai dokter di sana.


“Assalamu’alaikum, Mama, Vilia,” salam Daviana menghampiri mamanya kemudian mengecup punggung tangan juga pipi mamanya.


“Wa’alaikumussalam. Capek, Nak?” balas Mama sembari bertanya.


“He’em. Nai capek, Ma. Pengen mandi dulu biar seger, trus tidur. Duh, kangen sama kasur!” seru Daviana.


“Makan dulu, Kak. Ntar kelaparan,” sambar papa Reigha yang mendudukkan diri di samping istrinya.


Papa Reigha mengecup singkat kening istrinya, hingga membuat Daviana protes, “Pa, kamar kosong tuh. Ada tempat untuk bermesra-mesraan. Soalnya ada anak dibawah umur di sini, Pa, Ma.”


“Eh, Kak. Enak aja ... Vilia udah SMA, ya,” protes Vilia.


“Masih kelas satu SMA ‘kan?” sambar Daviana tak henti-hentinya mengganggu adiknya.

__ADS_1


“Kakak!” teriak Vilia hingga Daviana yang berlari pun dikejarnya.


Saat hendak menaiki anak tangga, mereka bertemu Daviandra dan Daviana meminta perlindungan pada kembarannya itu.


“Mas, lihat tuh anak-anak udah pada gede. Ada aja tingkahnya,” ucap Mama Shafa menoleh pada Reigha.


“Entahlah, Ma. Ayo ke kamar aja!” ajak Reigha.


“Ngapain jam segini mau masuk kandang?” tanya Bayu yang tiba-tiba datang.


“Masuk rumah itu, ucapkan salam!” seru Reigha.


“Pa, tadi kami udah ucapin salam. Tapi gak ada yang nyaut,” balas Reza.


“Tuh, dengar anaknya ngomong,” celetuk Bayu membuat Shafa tertawa.


“Pa, tolong, Pa!” teriak Daviana yang masih saja berlarian karena dikejar oleh adeknya.


“Dek, udah, sini!” seru Reigha dan mau tak mau Vilia berlalu pergi meninggalkan Daviana yang masih saja bersembunyi di belakang Daviandra.


Vilia duduk diantara Reigha dan Shafa. Sementara Daviandra menarik lengan Daviana dan membawanya duduk bersama di ruang tamu.


“Papi,” ucap Daviandra menyalimi Bayu. Begitu juga dengan Daviana yang mengikuti apa yang Daviandra lakukan.


“Mana mami, Pi?” tanya Daviana.


“Lagi jemput Almeera, Nak,” jawab papi Bayu membuat Daviana manggut-manggut.


“Kalian udah makan? Kalau belum, makan bareng aja sama Mas Reigha dan anak-anak,” ucap Shafa pada Bayu.


“Belum dipersilakan udah duluan aja,” celetuk Reigha.


“Anggap aja seperti rumah sendiri. Ayo makan, Gha, kebetulan gue laper lagi,” balas Bayu dengan santainya.


Reigha hanya geleng-geleng kepala, kemudian mereka pun bersamaan menuju ke meja makan dan makan siang bersama.


Saat di ruang makan, Daviana yang hanya diam saja pun membuat Shafa heran, “Kamu kenapa kok berdiri aja di situ? Ayo makan, Nak.”


“Bentar, Ma. Nai belum mandi tau, Ma,” ucap Daviana.


“Gapapa. Makan dulu aja, Nak,” kata Shafa.


“Aaaa malulah, Ma. Ada papi sama Reza juga. Kalau cuma papa mah gak mandi pun gapapa langsung makan, Ma,” lirih Daviana sembari tersenyum menampakkan giginya yang tersusun rapi itu.


“Halah, gapapa. Duduk aja, Nai,” titah papi Bayu.


“Malulah, Pi. Bentar, Nai mandi dulu,” ucap Daviana berlalu pergi menuju ke kamarnya.


“Maklum, Ma ... cewek,” celetuk Reza mengulum senyumnya.


Mereka segera makan siang tanpa menunggu Daviana kembali. Setelah selesai makan siang, Mama Shafa membereskan ruang makan. Tak lama dari itu, Daviana datang kembali ke ruang makan dan terlihat semua udah selesai makan.

__ADS_1


“Tuh ‘kan ... gak nunggu-nunggu,” lirih Daviana mendudukkan diri di kursi sebelah papanya.


“Cewek ribet, mandinya lama. Keburu kelaparan papa dan papi!” seru Reza.


“Apaan sih lo, Za.” Daviana menyipitkan matanya melirik pada Reza.


“Ngapain lo lirik-lirik gue? Nanti tertarik lo,” kata Reza membuat Daviana mendelik kesal.


“Mama, Reza nyebelin, Ma!” rengek Daviana pada mamanya.


“Za, jangan membangunkan singa kelaparan,” ucap Daviandra sembari tertawa.


“Tuh kan ... Andra ikut-ikutan, Ma," rengek Daviana.


“Hey, kenapa kalian mengganggu putriku?” tanya Anna yang tiba-tiba datang dan menghampiri mereka yang masih duduk di atas kursi di ruang makan.


“Hmm ... biasalah, Na. Kelakuan mereka gak jauh lah dari papa dan papinya,” sambar Shafa sembari mengelap meja makan.


“Mami, tuh Reza sama Andra ngeselin tau, Mi,” adu Daviana pada Anna.


“Udah-udah ... Andra dan Reza ikut papa ke ruang kerja ya, sama papi kalian juga kok. Ada yang harus kita bahas,” ucap papa Reigha


“Ya, benar. Kalian kami tunggu di ruang kerjanya papa Reigha ya, Nak,” imbuh papi Bayu.


“Iya, Pa .... iya, Pi,” balas mereka berdua serempak.


“Kamu cepetan makan, Nak, bareng sama Almeera tuh,” titah mama Shafa.


“Duh, Mama ... Almeera capek banget, males makan. Mau tidur aja ah, Ma,” lirih Almeera yang hendak pergi ditahan oleh Daviana.


“Ayo makan dulu, masa aku sendirian,” ajak Daviana.


“Kak Nai, aku mau rebahan dulu,” ucap Almeera.


“Almeera Hasna Pratama,” ucap Daviana menatap lekat pada Almeera.


“Iya, Kak ... iya deh aku makan,” kata Almeera segera mendudukkan diri di samping Daviana.


“Kak Nai, Kak Meera, Vilia ke kamar dulu, ya. Mau ngerjain tugas. Atau ... kakak mau ngerjain tugas aku?” tanya Vilia.


“Gak mau,” jawab Daviana dan Almeera serempak.


Vilia pun bergegas menuju ke kamarnya meninggalkan dua kakaknya serta mama dan maminya.


Mama Shafa dan Mami Anna menuju ke dapur, sementara Daviana dan Almeera makan di ruang makan.


Setelah selesai mereka berdua makan, Daviana menaruh piring mereka berdua menuju ke dapur. Kemudian dia mengajak Almeera menuju ke kamarnya.


“Kenapa, Kak?” tanya Almeera saat berada di kamar Daviana.


“Kamu kan udah kelas tiga SMA, nih aku kasih buku-buku materi untuk ujian. Dibaca jangan cuma dibuat tidur,” jawab Daviana membuat Almeera manggut-manggut.

__ADS_1


“Makasih ya, Kak. Btw, aku mau cerita deh, Kak,” ucap Almeera membuat Daviana segera duduk di hadapan Almeera.


“Mau cerita apa? Cepet deh,” balas Daviana menatap lekat pada Almeera.


__ADS_2