
Tok ... Tok ... Tok ...
“Kak, boleh papa dan mama masuk?” teriak Shafa dari luar kamar.
“Iya, Ma, Pa, masuk aja ... pintunya gak aku kunci kok,” balas Daviana.
Reigha dan Shafa pun masuk ke kamar melihat Daviana yang duduk di tepi ranjang.
“Kak, kamu kenapa kok langsung masuk kamar? Nenek dan aunty Anggi khawatir sama kamu, Sayang,” kata Shafa.
“Gapapa kok, Ma, tadi Naima buru-buru ke kamar pengen ambil HP Naima. Nai mau lihat Reza chat apa nggak. Ternyata Reza nggak chat aku, Ma,” lirih Daviana sedih.
“Ya ... mungkin Reza kecapean, Nak, jadi langsung tidur,” balas Reigha.
“Tapi sekarang di sana udah pagi, Pa, masa belum bangun,” gerutu Daviana.
“Karena pagi, mungkin sekarang udah berangkat ke kampus, Nak,” kata Reigha.
Saat Daviana dan kedua orang tuanya ngobrol, tiba-tiba HP Daviana pun berdering.
“Bentar ya, Ma, Nai lihat dulu siapa yang telpon malam-malam gini,” ucap Daviana berdiri dan mendekat pada ponselnya yang diletakkannya tadi di atas nakas.
Dan saat Daviana melihat siapa yang menelpon, senyum Daviana langsung mengembang.
“Ma, Pa, Reza telpon,” ungkap Daviana tampak tersenyum sembari mengusap air matanya.
“Yaudah, angkat aja, Sayang,” kata Reigha.
“Papa dan mama di sini aja ya. Nai mau angkat telponnya dulu,” ucap Daviana dan diangguki oleh Reigha dan Shafa serempak.
“Assalamu’alaikum, Za, lo kok dari tadi gak aktif HP-nya? Trus juga ... kenapa gak pulang?” tanya Daviana.
“Wa’alaikumussalam ... baru nelpon udah nyerocos aja sih, jangan merajuk ya ... nanti cantiknya hilang loh,” balas Reza.
“Habisnya lo gak pulang, gue nungguin dari tadi, lo gak ngabari juga,” gerutu Daviana.
“Maaf ya, Nai ... aku sibuk banget jadi sampai lupa mau ngabari kamu. Gimana-gimana ... acaranya lancar ‘kan?” tanya Reza.
“Alhamdulillah lancar. Tapi ... gue akan lebih bahagia lagi kalau lo ada diantara kami, bulan depan lo harus datang ya, janji?” balas Daviana.
“InsyaaAllah ya, Nai, semoga gak ada halangan,” kata Reza.
“Gak gak. Gue gak mau tau, pokoknya bulan depan lo harus datang di acara nikahannya gue, Za,” ucap Daviana.
“Emm ... Nai, udah dulu ya, aku mau siap-siap ke kampus nih,” kata Reza.
“Za ... lo ini, udah jarang nelpon sekalinya nelpon cuma sebentar,” gerutu Daviana kembali merajuk.
“Hey, Nai ... kamu jangan merajuk ya, nanti cantiknya hilang loh, nanti kalau aku gak sibuk ... aku telpon lagi, oke?” balas Reza.
__ADS_1
“Yaudah, lo jaga diri di sana ya, jaga kesehatan karena kalau lo sakit, nantinya gak ada gue yang meriksa lo,” kata Daviana.
“Siap, Dokter cantik ... pasien istimewa kamu akan selalu jaga kesehatan di sini. Kamu jangan banyak pikiran ya, semoga persiapan pernikahan kamu lancar. Assalamualaikum, Nai,” ucap Reza yang langsung mematikan telponnya tanpa menunggu balasan dari Daviana karena udah gak sanggup untuk menahan air mata yang hampir tumpah.
“Ihhh ... Reza nih, belum juga gue balas salamnya udah langsung main tutup aja,” gerutu Daviana.
Shafa yang melihat mereka bertelpon pun sempat meneteskan air mata.
Dan karena telponnya udah selesai, Reigha menyenggol tangan Shafa agar mengusap air matanya.
“Kenapa, Nak?” tanya Reigha sembari mendekat pada Daviana yang masih menggerutu.
“Ini nih, Pa ... Reza belum juga selesai udah main tutup aja,” gerutu Daviana kembali.
“Yaudah, ‘kan Reza udah telpon. Nanti juga katanya mau nelpon lagi ‘kan, Nak ... sekarang kamu istirahat ya,” titah Reigha.
“Iya, Pa, lagian Daviana juga udah tenang karena Reza udah nelpon. Sekarang Nai mau tidur dulu ya, Pa, Ma,” kata Daviana.
“Iya, Sayang. Nai, besuk mama pergi dulu ya, tolong jaga adik-adik kamu saat papa kamu di kantor,” ucap Shafa.
“Emang mama mau kemana?” tanya Daviana.
“Papa nyuruh mama ke tempat teman papa karena istri teman papa lagi butuh teman, Nak,” jawab Reigha.
“Owhh ... yaudah gapapa, Ma. Rencana berapa hari, Ma?” tanya Daviana.
“Hmm ... belum tau, Sayang, nanti kalau mau pulang mama kabari ya,” jawab Shafa.
Reigha dan Shafa pun keluar dari kamar Daviana menuju ke ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu, nenek Khalisa mendekat dan bertanya, “Gimana? Kenapa cucuku?”
“Naima gapapa, Bu. Tadi hanya menunggu telpon Reza. Sekarang Naima udah istirahat,” jawab Shafa.
“Ooo yaudah kalau gitu, ibu dan Anggi pulang dulu ya,” balas nenek Khalisa.
“Ibu hati-hati, ya,” kata Shafa.
“Kak, aku suami dan anak-anak pulang dulu ya,” ucap Anggi berpamitan.
“Iya, Gi ... Kakak titip ibu, ya,” balas Shafa.
Shafa dan Reigha pun mengantar sampai depan rumah, setelah mobil menghilang dari pandangan, Shafa dan Reigha pun masuk ke dalam rumah.
Sementara di rumah Bayu, Anna tampak ngajak Bayu mengobrol.
“Bang, beneran tau aku gak salah lihat. Tadi tuh Shafa nangis,” ucap Anna.
“Udahlah, mungkin Shafa kepikiran sesuatu atau dia lagi ngerasain sakit,” balas Bayu.
__ADS_1
“Isss abang ... aku tuh bisa bedain mana nangis karena sakit mana nangis karena bener-bener sedih,” kata Anna.
“Udah ya, Sayang ... nanti coba aku tanyakan ke Reigha. Kamu istirahat, bentar lagi aku mau ke rumah Reigha bahas kerjaan sekalian bahas tentang ini,” ucap Bayu.
“Aku ikut ya bang, setidaknya aku ngelihat gimana keadaan Shafa. Aku khawatir,” lirih Anna.
“Kamu gak capek, Sayang? Di rumah aja lah sama Almeera,” ucap Bayu.
“Bang, kamu lupa ya Almeera kan lagi di rumah Shafa, masih main sama Vilia,” kata Anna.
“Astagfirullah ... iya juga ya, Sayang, yaudah kalau gitu ... kamu mau ikut aku ke rumah Reigha?” tanya Bayu.
“Iya, Abang. Ayo kita pergi!” seru Anna dengan semangat karena dia ingin mengobrol bersama dengan Shafa.
Bayu dan Anna pun lewat pintu penghubung hingga sampailah mereka di rumah Reigha.
“Eh, Bay ... kenapa lo?” tanya Reigha yang ternyata ada di teras.
“Kenapa apanya sih, Gha?” tanya Bayu kembali.
“Kenapa lo malam-malam balik ke sini? Emangnya lo gak capek,” ucap Reigha.
“Ada yang harus kita obrolin. Sekalian gue nanti mau jemput Almeera,” kata Bayu.
“Yaudah ayo ke ruang kerja gue!” ajak Reigha dan diangguki oleh Bayu.
Bayu dan Reigha berjalan menuju ke ruang kerja. Sementara Anna bergegas masuk ke dapur mencari Shafa.
“Fa, lo di mana?” teriak Anna.
“Mami, mama tadi pergi ke kamar,” balas Vilia yang ternyata tengah ambil minum ke dapur.
“Owh yaudah, Mami ke kamar mama dulu ya, Nak,” balas Anna.
“Iya, Mami. Kak Almeera belum diajak pulang ‘kan, Mi?” tanya Vilia.
“Belum kok, Sayang ... kalian main aja dulu, ya,” jawab Anna kemudian diangguki oleh Vilia.
Setelah itu, Anna pun berlalu pergi menuju ke kamar Shafa.
Tok ... Tok ... Tok ...
“Fa, ini gue,” panggil Anna.
Tak lama pintu terbuka dan menampilkan Shafa dengan wajah basahnya.
“Lo habis ngapain, Fa? Nangis?” tanya Anna.
“Nggak kok, Na. Tadi aku cuci muka. Kenapa, Na? Ayo sini masuk,” balas Shafa.
__ADS_1
Anna pun tak menunggu lama langsung masuk dan duduk di sofa kamar Shafa.
“Ada apa? Kenapa lo dari acara tadi nangis? Lo ada masalah? Ayolah, Fa ... lo cerita ke gue,” ucap Anna menatap Shafa dengan tatapan serius.