Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 89 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Bay, Bay, ini gue. Lo kenapa?” tanya Reigha dari luar pintu kamar mandi.


Bayu pun segera membuka pintunya dalam keadaan basah.


“Lo kenapa, Bay? Kok sampai basah gini? Kalau lo mau mandi kan ya harusnya baju lo lepas dulu,” ucap Reigha saat melihat keadaan Bayu yang sangat kacau.


“Hadeh, untung lo cepat datang, Gha. Brengsek tuh cewek, banyak akalnya,” gerutu Bayu dan Reigha pun tau pasti ini ulah Ivanka.


“Emang apa yang dia lakuin?” tanya Reigha.


“Nanti gue jelasin, tolong sekarang lo panggilkan OB kita si Susanto, Gha. Nanti lo akan tau. Gue pinjam baju lo, ya.”


Reigha segera mengambilkan bajunya di lemari dan membuka kunci ruangannya, kemudian keluar bertemu dengan Puspa, “Puspa, tolong panggil OB yang bernama Susanto.”


Setelah Bayu kembali rapi, Bayu segera duduk bersama Reigha di sofa. Beberapa menit kemudian, datanglah Susanto.


“Bapak memanggil saya?” tanya Susanto menghadap pada Reigha.


“Bayu yang manggil kamu,” jawab Reigha.


“Oh ... iya, Pak. Ada apa, Pak?” balas Susanto dengan tenangnya.


‘Kalau Susanto tenang, berarti dia gak tau apa-apa. Oke, gue tanya saja,’ ucap Bayu dalam hati.


“Tadi waktu kamu buatkan minuman buat saya, apa ada wanita datang ke pantry?” tanya Bayu.


“Iya ... ada, Pak. Tadi tamu Pak Reigha datang ke pantry, dia minta tolong katanya di toilet ada yang jatuh, akhirnya saya menelpon teman saya untuk memastikan. Setelah itu, saya antar minuman bapak. Apa ada masalah, Pak?” balas Susanto menjelaskan.


“Trus kata temanmu gimana? Beneran ada yang jatuh gak?” tanya Reigha.


“Gak ada, Pak, gak ada yang jatuh san toiletnya kosong.”


“Yaudah, terima kasih. Kamu boleh pergi, lanjutkan pekerjaanmu!” seru Bayu.


Setelah Susanto pergi, Reigha yang masih belum mengerti segera bertanya, “Sebenarnya ada apa sih, Bay?”


“Ivanka mencampurkan minuman gue yang dibuat oleh Susanto dengan obat p***ng**ng, Gha, agar gue melihat dia dan pastinya dia akan minta pertanggung jawaban dari gue. Huh, untung logika gue masih jalan, dan gue langsung ke kamar mandi untuk ngademin badan gue, Gha,” ungkap Bayu.


“Bener-bener ya tuh Ivanka, ambisi banget bisa dapetin lo. Padahal gantengan gue,” balas Reigha mendapat timpukan dari Bayu.


“Canda gue, sekarang apa yang akan lo lakuin?” lanjut Reigha bertanya.


“Gue pulang dulu, mau nuntasin ini bentar, pecah rasanya kepala gue. Nanti baru gue pikirin apa yang akan gue lakuin,” jawab Bayu seraya berdiri.


“Tunggu, gue temenin. Gue khawatir sama lo. Karena, reaksi obatnya belum hilang, ntar lo kenapa-kenapa lagi. Atau bisa jadi Ivanka masih nungguin di luar sama anak buahnya, bahaya!” balas Reigha.


“Iya, lo bener, Gha. Yaudah ayo!” seru Bayu.


Mereka pun keluar dan Reigha terlebih dahulu menemui Puspa, “Puspa, udah gak ada meeting lagi ‘kan hari ini, saya pulang dulu. Kalau ada berkas yang mau ditanda tangani kirim email aja ke saya, karena saya tidak kembali lagi ke kantor.”

__ADS_1


“Baik, Pak,” balas Puspa mengangguk paham.


Mereka pun segera keluar kantor dan menuju ke rumah. Setibanya di rumah, Shafa lagi duduk nonton TV bersama Anna.


“Assalamu’alaikum,” salam Reigha dan Bayu serempak.


“Wa’alaikumussalam. Loh, kok udah pada pulang?” tanya Shafa menghampiri Reigha dan mencium punggung tangan Reigha.


“Iya sayang, kalian ‘kan sekarang berdua di rumah. Jadi, Mas akan pulang cepat setiap hari dan pastinya nanti gantian sama Bayu,” balas Reigha mengecup singkat kening Shafa.


“Sayang, yuk ke kamar sebentar. Abang ada perlu!” seru Bayu.


“Bang, tapi Anna masih lihat sinetron setengah jam lagi selesai. Nanggung, Bang,” balas Anna.


“Ayolah, Sayang. Abang tunggu di kamar,” ucap Bayu langsung berlalu masuk ke dalam kamarnya.


“Bayu kenapa sih, Mas? Kok kayaknya lagi nahan sesuatu?” tanya Shafa pada Reigha. Anna pun masih belum beranjak dr depan TV.


“Tadi di kantor, Bayu dijebak sama Ivanka. Minumannya dicampur dengan obat yang membuat dia seperti itu. Untungnya Bayu masih bisa nahan, kalau enggak pasti Ivanka minta Bayu menikahinya,” jawab Reigha.


“Anna, pasti gak mau itu terjadi kan, Na? Cepet bantu Bayu,” lanjut Reigha membuat Anna kaget.


“Astaghfirullah, kasiannya Abang. Iya, Kak Anna ke kamar,” balas Anna dengan tersenyum malu.


“Hati-hati, Na. Jangan lari!” seru Shafa.


Anna pun segera ke kamar meninggalkan Reigha dan Shafa di depan TV.


“Nggak usah, Mas, kamu ‘kan juga capek habis meeting, mending kamu bersihkan badan dulu gih baru nanti ke sini,” balas Shafa.


“Oke, Sayang. Mas ke kamar ya. Oh iya, Mama udah kasih kabar belum?” tanya Reigha.


“Udah, Mas. Satu jam yang lalu mama udah sampai,” jawab Shafa.


“Alhamdulillah.” Reigha pun melangkahkan kaki menuju ke kamarnya.


“Duh, ada aja Ivanka. Nekat banget tuh cewek,” lirih Shafa sambil menggelengkan kepala.


Saat Shafa mau menyusul Reigha ke kamar untuk mempersiapkan baju Reigha, tiba-tiba Mbok Nah memanggil.


“Non, Non Shafa, itu di luar ada tamu mau bertemu Den Reigha dan Den Bayu,” ucap Mbok Nah.


“Siapa, Mbok?” tanya Shafa.


“Itu, Non, Pak Dabi sama perempuan,” jawab Mbok Nah.


“Oh, tolong suruh masuk dulu ya, Mbok. Saya akan panggilkan Mas Reigha,” balas Shafa.


Setelah Mbok Nah pergi, Shafa pun masuk kamar. Ternyata, Reigha sudah rapi.

__ADS_1


“Baru aja mau siapin baju buat Mas,” ucap Shafa.


“Gapapa, Sayang. Kenapa, hm?”


“Mas, di luar ada Dani dan Santi pengen ketemu Mas dan Bayu. Gimana, Mas? Bayu ‘kan masih belum keluar kamar,” kata Shafa sambil merapikan kerah baju Reigha.


“Biar aja dulu, Sayang, kita temui Dani dan Santi,” balas Reigha.


Akhirnya, mereka berdua pun keluar kamar menemui Dani dan Santi yang udah duduk di ruang tamu.


Dani juga Santi langsung berdiri saat melihat Reigha dan Shafa datang.


“Duduk aja, Dan, San. Gak usah sungkan,” ucap Shafa.


“Tumben nih ke sini berdua, ada yang penting?” tanya Reigha.


“Begini, Pak, saya ingin minta tolong sama Pak Harun, Pak Reigha, dan Pak Bayu untuk melamarkan Santi nanti malam. Karena, Pak Rudi sekarang ada di Jakarta,” jawab Dani.


“Pak Bayu ada, Pak?” lanjut Dani menanyakan Bayu.


“Bayu lagi istirahat, Dan. Nanti akan saya sampaikan, jam berapa acaranya?” tanya Reigha.


“Nanti jam delapan malam, Pak. Kami adakan sederhana aja,” jawab Dani.


“Baiklah, nanti kamu berangkat dari sini aja, ya. Biar kita berangkat bareng. Tapi, maaf Papa lagi pergi, tapi Papa minta tolong menyampaikan maafnya ke kamu karena gak bisa hadir,” tutur Reigha.


“Iya, Pak. Gapapa, terima kasih banyak, Pak.”


“San, kenapa kok diam aja?” tanya Shafa.


“Eh, gapapa, Bu Shafa. Sa—saya ... ” jawab Santi yang belum sempurna terlontar dari mulutnya karena langsung disambar oleh Shafa.


“Gak usah diingat-ingat yang dulu, San, kita akan jadi sahabat. Kita bertiga nanti akan sering-sering ketemu. Jadi, jangan sungkan ya,” sambar Shafa.


“Bu Shafa, anda baik sekali.”


Setelah banyak mengobrol, akhirnya Dani juga Santi pun pamit pulang.


Setelah kepulangan Dani, Reigha memikirkan sesuatu, “Sayang, gimana kalau nanti malam inini gak usah ada acara lamaran. Tapi, langsung nikah aja.”


“Boleh juga sih, Mas, tapi surat-suratnya gimana?” tanya Shafa.


“Kemarin itu, Mas ketemu teman Mas waktu SD dia sekarang jadi penghulu. Gimana kalau Mas minta tolong dia aja untuk menikahkan Dani,” jawab Reigha.


“Coba aja dulu, Mas.”


“Mas coba telpon teman Mas dulu ya. Ayo sayang, telpon di kamar aja, biar kamu bisa istirahat juga,” ucap Reigha sambil memegang tangan Shafa melangkah masuk ke dalam kamar.


Mereka berdua pun segera masuk kamar, Shafa langsung duduk bersandar pada headboard. Sedangkan Reigha mengambil ponselnya untuk menelpon temannya.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum, Pak penghulu, lagi sibuk nggak nih? maaf kalau gue ganggu,” ucap Reigha saat panggilan sudah terhubung.


__ADS_2