Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 126 - Menikahi Susterku


__ADS_3

Reigha dan Shafa pun bersamaan menuju ke kamar mama Dhiya, ternyata ibu Khalisa sedang memijiti mama Dhiya.


Dan saat Reigha melihat wajah mama Dhiya, Reigha pun tampak terkejut.


“Astaghfirullah, Mama ... ”


Reigha langsung menangis melihat mamanya yang diam dengan tatapan kosong.


“Ayo, Ma, kita ke rumah sakit,” titah Reigha.


Reigha segera membopong mama Dhiya dan keluar kamar. Sebelum keluar, Reigha minta tolong pada ibu Khalisa untuk menjaga anak-anak, karena Shafa juga akan ikut ke Rumah sakit.


Saat melewati ruang tamu, Bayu terkejut melihat kondisi mama Dhiya, “Ya Allah, Mama ... apa yang terjadi sama mama, Gha?” tanya Bayu.


“Ayo kita bawa ke rumah sakit, Bay,” ucap Reigha tanpa menjawab apa yang Bayu tanyakan.


“Sayang, biar Mas dan Bayu yang duluan ke rumah sakit ya, kamu siapkan aja baju ganti untuk mama trus minta tolong Vano untuk mengantar kamu,” titah Reigha.


“Fa, tolong bilang ke Anna ya, gue ke rumah sakit sama Reigha, dan tolong suruh Anna istirahat,” ucap Bayu.


“Iya, nanti gue sampaikan. Kalian hati-hati ya di jalan dan jangan panik!” seru Shafa.


“Iya, Sayang. Assalamu’alaikum,” salam Reigha


“Wa’alaikumussalam,” balas Shafa.


Reigha pun keluar mobil sebentar mengucapkan maaf pada sahabatnya setelahnya langsung masuk mobil dan mobil pun segera melaju menuju ke rumah sakit.


“Gha, kenapa mama bisa seperti ini?” tanya Bayu menitikan air mata.


“Sepertinya mama belum bisa menerima kepergian papa, Bay,” jawab Reigha.


Sesampainya di rumah sakit, mereka pun segera menuju ke IGD.


Dokter segera memeriksanya dan ternyata mama Dhiya terkena serangan jantung. Sehingga mama Dhiya merasa nyeri di dadanya. Dokter segera memberitahukan ke Reigha dan Bayu selaku keluarga pasien.


“Dokter, bagaimana keadaan mama saya?” tanya Reigha.


“Maaf, Pak, pasien terkena serangan jantung. Jadi, harus segera di bawa ke ICU,” jawab Dokter membuat Reigha kaget.


“Ya Allah ... apa lagi ini,” balas Reigha.


Bayu pun memeluk Reigha untuk saling menguatkan.


“Dokter tolong lakukan yang terbaik untuk mama saya,” pinta Reigha.


“InsyaaAllah ya, Pak, banyak-banyak berdoa,” ucap dokter.


“Silakan bapak urus administrasinya. Agar segera di siapkan ruangan ICU-nya, Pak,” lanjut dokter.


“Gha, lo di sini aja ya, biar gue yang urus administrasinya,” kata Bayu.

__ADS_1


“Baiklah, gue tungguin di sini,” balas Reigha. Dan Bayu pun segera mengurus administrasinya.


Saat Bayu kembali ke ruang IGD. Bayu melihat Reigha menangis. Bayu pun segera berlari dan bertanya.


“Gha, kenapa?” tanya Bayu.


“Mama, Bay, mama udah pergi ninggalin kita,” jawab Reigha sambil menangis.


“Lo ngomong apa sih, Gha, bukannya mama akan di bawa ke ICU?” tanya Bayu kembali.


“Tadi setelah lo pergi ngurus Administrasinya, mama tiba-tiba kritis, Bay, lalu dokter menyuruh gue masuk. Dan tak lama kemudian mama menghembuskan nafas terakhirnya,” balas Reigha menjelaskan.


“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, Mama ... kenapa mama pergi ninggalin kita juga,” kata Bayu sambil menangis. Kedua pria itu pun menangis bersamaan karena dalam waktu dua hari ditinggalkan dua orang yang paling mereka sayangi.


Reigha dan Bayu kali ini benar-benar terpuruk. Hingga dia sengaja belum memberikan kabar ini pada orang rumah.


“Malam, Pak, maaf jenazah akan kami bawa ke kamar jenazah,” ucap perawat.


“Silakan, Sus,” balas Reigha sambil menangis.


“Pak, karena tadi udah mengurus untuk kepindahan ke ICU, silakan kembali ke tempat administrasi sekalian minta surat kematian ya, Pak,” titah perawat pada Bayu.


“Bay, lo urus ke depan, gue tunggu di depan kamar jenazah,” ucap Reigha.


“Gha, apa gak kita bawa ke rumah aja? Biar mama gak kelamaan di dalam?” tanya Bayu.


“Gue butuh waktu satu sampai dua jam untuk menenangkan diri dulu, Bay, gue gak mau terlihat rapuh di depan anak dan istri gue,” jawab Reigha.


“Baiklah kalau gitu, gue minta disiapkan ambulan aja ya, nanti kalau kita udah siap pulang, kita kabari orang rumah,” balas Bayu.


Di rumah, Shafa terlihat sangat cemas karena belum mendapat kabar sama sekali.


“Bu, mas Reigha dan Bayu kok belum ngabari ya?” tanya Shafa.


“Kamu tenang dulu, Nak, anak-anak dimana?” balas ibu Khalisa bertanya pada Shafa.


“Anak-anak lagi tidur, Bu, di temani sama Anna dan Anggi,” jawab Shafa.


Saat Shafa dan ibu Khalisa mengobrol, Afkar dan Zhafira, serta Dani dan Santi datang bersamaan menghampiri.


“Fha, saya dan mas Afkar pamit ya, ini malam,” ucap Zhafira.


Santi pun juga berpamitan.


“Bisa gak kalian tinggal di sini dulu, temani kami?” tanya Shafa.


“Emm ... nanti kalau mas Reigha udah ngabari gapapa kalau mau pulang,” lanjut Shafa.


“Kalau mau istirahat biar mbok Nah tunjukan kamarnya. Tolong ya, soalnya perasaan saya dari tadi gak enak banget,” imbuh Shafa.


“Gimana, Mas?” tanya Zhafira menoleh pada Afkar.

__ADS_1


“Gini aja, aku pulang dulu ya, jemput adeknya Chayra, kamu di sini sama Chayra,” jawab Afkar.


“Baiklah, Mas,” balas Zhafira.


“Fha, kamarnya di mana ya? Biar Chayra saya tidurkan dulu,” tanya Afkar.


“Sebentar ya.”


“Mbok, Mbok Nah!” panggil Shafa.


“Iya, Mbak, ada apa?” tanya mbok Nah.


“Tolong antar mbak Zhafira dan suaminya ke kamar tamu, biar bisa istirahat,” jawab Shafa.


“Baiklah, Mbak. Mari saya antar,” ucap mbok Nah menoleh pada Afkar juga Zhafira.


Setelah Afkar dan Zhafira pergi giliran Santi dan Dani.


“Kamu mau pulang juga, Dan?” tanya Shafa.


“Sebenarnya ingin nungguin Pak Reigha, Bu. Tapi, Jasmin udah ngantuk,” jawab Dani.


“Tu di sana ada kamar tamu, bawa ke sana ajalah, setelah itu tolong kamu antar saya ke rumah sakit. Boleh ya, San?” tanya Shafa pada Santi.


“Ya pasti boleh lah, Fa, masa iya gue larang,” balas Santi.


“Baiklah, Bu, kalau gitu saya bawa Jasmin ke kamar tamu dulu,” ucap Dani segera menuju ke kamar tamu.


“Fa, gue ke kamar ya, kalau ada apa-apa telpon aja,” kata Santi.


Setelah mereka menuju kamar, Shafa bersiap hendak menyusul ke rumah sakit.


“Kamu beneran mau nyusul ke rumah sakit, Nak? Rumah sakit mana?” tanya ibu Khalisa pada Shafa.


“Shafa sih gak tau ya bu rumah sakitnya, tapi Shafa yakin mama pasti dirawat di rumah sakit yang kemarin,” jawab Shafa.


“Yaudah, kalau gitu cepetan, siap-siap dulu sana, nanti Dani malah kelamaan nunggu,” balas ibu Khalisa.


“Bu, titip anak-anak juga rumah ini ya,” pinta Shafa.


“Iya, kamu jangan khawatir, untuk rumah udah dijaga tuh sama ayah kamu, dari tadi belum masuk rumah,” balas ibu Khalisa.


“Iya, Bu. Makasih ya, Bu. Shafa ke kamar dulu.” Shafa segera masuk kamar untuk bersiap mau ke rumah sakit.


Setelah selesai bersiap, Shafa pun menunggu Dani di luar rumah.


Ayah Reynand bertanya ke Shafa, “Kamu mau kemana, Nak? Malam-malam begini?”


“Shafa mau ke rumah sakit, Yah, Shafa sangat khawatir, sampai sekarang mas Reigha juga Bayu belum ada yang kasih kabar.”


“Baiklah, hati-hati ya!” seru Ayah Reynand.

__ADS_1


“Iya, Ayah, Assalamu’alaikum.” Shafa mendekat dan mencium punggung tangan ayahnya.


“Wa'alaikumsalam,” balas ayah Reynand melihat punggung Shafa yang mulai menjauh masuk ke dalam mobil.


__ADS_2