
Di tengah jalan Reigha mendapat telpon, Reigha pun segera menghentikan mobilnya dan menjawab telpon tersebut.
“Assalamu’alaikum, Bay ... ada apa?” tanya Reigha.
“Wa’alaikumussalam. Lo di mana, Gha, aku ke rumah kok rumah kosong?” balas Bayu bertanya.
“Aku dan Shafa lagi keluar belanja, ada apa?” jawab Reigha.
“Gapapa, cuma mau main aja. Yaudah kalau gitu lanjutkan aja, aku tunggu di rumah. Assalamu’alaikum,” ucap Bayu.
“Wa’alaikumussalam,” kata Reigha dan mereka pun melanjutkan perjalanannya.
Tak lama kemudian mereka pun udah sampai di rumah Afkar.
“Assalamu’alaikum, Bro, lama gak jumpa,” kata Reigha.
“Wa’alaikumussalam. Wah, apa kabar nih CEO sukses?” tanya Afkar.
“Alhamdulillah,” balas Reigha.
“Dah ayo-ayo masuk. Dari tadi istriku udah nanyain jadi datang gak,” kata Afkar.
“Ya pasti datanglah, kan udah janji,” ucap Reigha.
“Fira di mana, Mas?” tanya Shafa.
“Sebentar aku panggilkan, silahkan duduk dulu,” balas Afkar mempersilakan. Dan ta lama, Afkar kembali keluar bersama istrinya. Zhafira keluar dengan membawa minuman dan juga cemilan.
“Hai, Fa, apa kabar?” tanya Zhafira sambil cium pipi Shafa dan kemudian bersalaman sama Reigha.
Mereka pun ngobrol-ngobrol ringan sampai akhirnya Reigha pun masuk ke inti pembicaraan.
“Hmm ... gini, Bro, sebenarnya maksud kedatangan kami ke rumah kamu ... selain bersilaturahmi juga ada tujuan tertentu,” ucap Reigha.
“Apa itu? Katakanlah, kok jadi serius gini ya,” kata Afkar.
“Memang kali ini agak serius dan semoga jawaban dari lo, gak mengecewakan,” balas Reigha.
“Ada apa, Bro, jangan buat penasaran. Cepatlah katakan!” seru Afkar.
“Maksud kami ke sini ingin melamar anak kamu, Chayra, untuk putraku Daviandra,” ucap Reigha.
Afkar dan Zhafira pun terkejut. Dia gak menyangka kalau tujuan Reigha dan istrinya ke rumahnya adalah untuk melamar putrinya.
“Ini serius? Apa aku gak salah dengar? Kenapa gini, Bro?” tanya Afkar.
“Sejak Chayra kuliah di luar negeri anak gue kayak berjalan tanpa arah, sering melamun dan menyendiri. Putraku jatuh cinta sama putri lo, Bro,” kata Reigha.
“Tapi gimana dengan putriku? Sepertinya dia menyukai seseorang tapi aku gak tau siapa dia,” balas Afkar.
__ADS_1
“Aku gak perlu jawaban lo sekarang, ini hanya antara kita saja, yang penting lo dan istri udah tau kalau putraku cinta sama putri lo. Masalah putri lo gimana, nanti kita tunggu sampai dia lulus dan kembali ke Indonesia, putraku ini gak tau kalau kami ke sini dan putraku juga gak mau ngungkapin perasaannya sebelum Chayra lulus,” ungkap Reigha.
“Baiklah, masalah ini kita lanjutkan setelah Chayra lulus ya. Semoga anak kita berjodoh,” kata Afkar dan di-aamiinkan mereka semua.
Setelah membicarakan tujuannya, mereka pun segera pulang. Setelah Reigha dan istrinya pulang, Afkar juga Zhafira pun membicarakan masalah tadi.
“Mas, gimana ini? Kalau sampai Chayra menyukai orang lain, kita gak enak sama kak Reigha dan Shafa,” tanya Zhafira.
“Udah, Sayang, gak usah dipikirkan. Kamu ingat gak, dulu Chayra sangat menyukai Andra. Semoga aja, pria yang disukai putri kita itu adalah Andra,” jawab Afkar.
“Iya, Mas. Aamiin,” kata Zhafira.
Di perjalanan, Shafa tampak diam memikirkan obrolan mereka tadi. Reigha yang menyadari istrinya diam pun bertanya, “Sayang, kamu kenapa?”
“Gapapa, Mas, lagi mikirin kata-kata Afkar tadi aja, Mas. Gimana kalau Chayra menyukai orang lain? Pasti putra kita akan patah hati,” lirih Shafa.
“Udahlah, Sayang, kita yakin aja, semoga mereka berjodoh. Kita pikirkan sekarang gimana lamaran Daviana besok malam. Nanti malam kita tanya ke Daviana udah dapat jawabannya apa belum,” kata Reigha.
“Iya, Mas, nanti setelah makan malam kita bicarakan sama Daviana,” balas Shafa.
Sesampainya di rumah, Bayu dan Anna udah menunggu. Anna tampak baru saja selesai memasak. Reigha dan Bayu segera mengobrol di ruang tengah sedangkan Shafa membantu Anna menyiapkan makan malamnya.
“Na, anak-anak udah pulang?” tanya Shafa.
“Udah kok, Fa. Lagi pada di kamar mereka. Reza juga ada di kamar Andra,” jawab Anna.
“Alhamdulillah ... makan malam nanti semua ngumpul,” balas Shafa.
“Nai, gimana tentang lamaran besok, apa kamu udah ada jawabannya, Nak?” tanya Bayu.
“Emm ... belum, Pi. Nai juga bingung ini, Pi,” jawab Daviana.
“Kenapa bingung? Emang kamu udah punya kekasih atau seseorang yang kamu sukai?” tanya Bayu kembali.
“Gak ada, Pi, selama ini Naima kan fokus ke belajar, jadi gak ada kepikiran tentang cowok,” jawab Daviana.
“Kesempatan kamu tinggal besok, Nak, dipikirkan betul-betul ya. Soalnya ini tentang masa depan kamu,” kata Reigha.
“Iya, Papa, semoga Naima gak salah ambil keputusan,” balas Daviana.
Reza yang mendengar pun jadi gelisah, ‘kira-kira apa ya jawaban kamu. Aku rasanya ingin ungkapin perasaan ini, tapi aku gak bisa,’ kata Reza dalam hati.
Akhirnya Reza pun memutuskan untuk pamit pulang ke apartemen karena Reza gak mau semua menyadari tentang kegelisahannya.
“Pa, Pi, Ma, Mi, semua ... Reza pulang ke apartemen dulu ya, capek banget,” kata Reza.
“Yaudah, Nak ... kamu hati-hati, ya,” titah Anna.
“Iya, Mami. Assalamu’alaikum,” ucap Reza sambil menyalami semua yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
Setelah Reza pergi, tak lama Daviana, Daviandra, Vilia, juga Almeera pun pamit ke kamarnya sedangkan Shafa, Anna, Reigha juga Bayu membahas lamaran besok.
Tak terasa hari udah malam, Bayu dan Anna pun akhirnya pamit pulang, begitu juga dengan Reigha dan Shafa pun ke kamarnya untuk beristirahat.
Keesokan harinya tepatnya malam hari. Semua tamu dan keluarga udah hadir di acara lamaran Daviana. Ayah Reynand dan ibu Khalisa juga Anggi dan Fathir serta anak-anak Anggi pun ikut hadir.
Setelah semua kumpul, keluarga Wijaya pun datang. Reigha dan Shafa pun segera menyambut kedatangan.
“Selamat datang, Pak Hartawan dan keluarga, mari silakan masuk,” kata Reigha mempersilakan.
“Terima kasih, Pak Reigha, maaf putra saya belum datang. Nanti menyusul,” kata pak Hartawan.
“Iya, Pak, sambil menunggu kita ngobrol-ngobrol aja dulu,” ucap Reigha.
Shafa pun mengajak ibu Monica duduk di dekat Daviana.
“Nak, kenalin ini ibu Monica Wijaya,” kata Shafa.
Daviana segera bersalaman dan tersenyum. Daviana sangat gugup karena sampai sekarang masih belum dapat jawabannya. Kurang lebih satu jam menunggu, putra pak Hartawan pun datang.
“Assalamu’alaikum,” kata Calvin, anak pak Hartawan Wijaya.
“Wa’alaikumussalam,” balas Reigha dan pak Hartawan pun segera berdiri dan mendekatinya.
“Pak Reigha, kenalkan ini putra pertama saya Calvin Adiputra Wijaya,” ucap pak Hartawan.
“Ayo, Calvin, beri salam sama pak Reigha,” lanjut ucapan pak Hartawan.
Calvin pun segera bersalaman dan Reigha pun mengajak duduk.
Setelah mengobrol sebentar tibalah acara lamaran. Calvin diajak masuk dekat Daviana dan mereka pun saling berkenalan. Setelah selesai berkenalan tibalah saat Daviana ditanya oleh Reigha tentang jawaban lamaran dari keluarga Hartawan Wijaya.
“Bagaimana, Nak, apakah lamaran Calvin putra Hartawan kamu terima?” tanya Reigha.
Reza yang mendengar pertanyaan dari Reigha pun semakin gelisah dengan harapan, ‘Semoga kamu menolak ya, Nai, aku gak tau kalau kamu menerima. Apa aku sanggup melihat kamu bersama pria itu,’ batin Reza.
Daviana pun belum memberi jawaban, Daviana masih bingung antara ditolak atau diterima.
‘Aduh ... bagaimana ini, jawaban apa yg harus aku berikan?’ ucap Daviana dalam hati.
“Nak, bagaimana? Jangan ragu ya, Sayang, coba kamu pejamkan mata kamu dan bismillah, semoga Allah memberi petunjuk,” titah ibu Khalisa.
“Iya, Nek,” balas Daviana.
Daviana pun memejamkan matanya dan berdoa dalam hati...
‘Ya Allah, apapun keputusan hamba, semoga ini yang terbaik,’ batin Daviana.
Dan setelah Daviana membuka matanya, dia merasa siap memberikan jawabannya.
__ADS_1
“Bismillah ... dengan mengucap kata bismillah, lamaran dari mas Calvin ... ”