
“Maya? Loh, kenapa dengan bu Maya, Mas?” tanya Shafa yang ternyata mendengar Reigha menyeru.
“Gapapa, Sayang, hanya sedikit masalah aja. Anak-anak udah selesai bersih-bersihnya?” balas Reigha bertanya.
“Belum, Mas. Bentar ya, aku siapkan makanannya lagi,” jawab Shafa dan segera berlalu pergi menuju ke dapur.
“Dan, menurut kamu gimana? Apa anak-anak saya masih lanjut dengan penyamarannya atau langsung naik aja ke bagian lain?” tanya Reigha pada Dani Setelah Shafa pergi ke dapur.
“Kalau saya, mending tanya ke mas Andra dan mas Reza aja, Pak. Mereka masih ingin menyamar atau enggak,” jawab Dani membuat Reigha manggut-manggut.
“Baiklah ... setelah makan malam ini, saya akan ajak mereka ngobrol dulu,” kata Reigha.
Obrolan mereka pun terputus karena Shafa kembali datang dan memberitahu kalau anak-anak udah menunggu di ruang makan.
Mereka pun segera makan malam yang terlambat termasuk Dani juga, “Pak, terima kasih makan malamnya. Kalau gitu, saya pamit pulang,” ucap Dani setelah selesai makan.
“Iya, Dan, sama-sama. Hati-hati di jalan,” balas Reigha.
“Salam buat Santi ya, Dan,” imbuh Shafa.
“Iya, Bu, insyaaAllah nanti akan saya sampaikan,” kata Dani. Lalu, Dani pun segera berpamitan dan keluar dari rumah Reigha.
“Andra, Reza, setelah makan malam, papa tunggu kaliam berdua di ruang kerja papa!” seru Reigha.
“Iya, Pa,” kata mereka serempak.
“Ma, papa ke kamar dulu sebentar, setelah itu menunggu anak-anak di ruang kerja,” ucap Reigha pada istrinya.
“Iya, Pa. Mau dibuatkan kopi trus di antar ke ruangan kerja, Pa?” tanya Shafa.
“Boleh, Ma ... makasih, ya,” jawab Reigha lalu meninggalkan ruang makan menuju ke kamarnya untuk mengambil sesuatu lalu keluar dan menuju ke ruang kerjanya.
Sementara itu di ruang makan, “Ayo, Nak, kalian udah ditunggu papa tuh di ruang kerjanya, mama mau ke dapur dulu buatin papa kopi,” kata Shafa.
“Iya, Ma ... ini dah selesai kok makannya, kami menemui papa dulu ya, Ma,” ucap Daviandra.
“Iya, Sayang.” Shafa pun segera menuju ke dapur sementara Daviandra dan Reza bergegas ke ruang kerja papanya.
Sementara itu di rumah Bayu, tampak Bayu yang mendekat pada Anna yang tengah duduk di ruang tamu menemani Almeera yang mengerjakan PR.
“Mi, papi mau ke rumah Reigha dulu ya, tadi Reigha nyuruh ke rumahnya,” ucap Bayu berpamitan.
“Sekalian ajalah, Pi, kita kesana bareng-bareng aja,” balas Anna.
“Yaudah, ayo buruan. Almeera, kamu ikut gak, Sayang? Kami mau ke rumah papa,” tanya Bayu.
“Almeera di rumah aja ya, Pi, lagian dekat juga ‘kan, nanti kalau PR Almeera udah siap, Almeera susul deh,” jawab Almeera.
Bayu dan Anna pun berangkat ke rumah Reigha lewat pintu samping. Sesampainya mereka di rumah Reigha, Bayu segera ke ruang kerja Reigha, sedangkan Anna menemui Shafa yang ternyata tengah di dapur.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, sudah hampir malam mobil Chayra masuk ke rumah Afkar.
Adrian yang sejak tadi menunggu kakaknya pun segera berlari menghampiri kakaknya.
“Kakak,” panggil Adrian.
“Apa sih, Dek, kenapa panggil-panggil seperti itu?” tanya Chayra.
“Dari tadi aku nungguin kakak, tapi lama banget pulangnya,” jawab Adrian.
“Hari ini mata kuliah penuh, Dek, jadi sampai malam,” balas Chayra.
Mereka mengobrol sambil berjalan masuk ke rumah. Hingga saat sampai ruang tengah, mereka melihat orang tuanya. Chayra pun segera bersalaman pada kedua orang tuanya.
“Kalau masuk rumah itu, biasakan memberi salam, Nak,” titah Afkar.
“Hehehe ... Assalamu’alaikum, Pa, Ma,” salam Chayra sembari tersenyum.
“Terlambat, Kak. Udah masuk ruang tengah baru mengucap salam,” celetuk Adrian.
“Kamu sih, Dek, ngajak ngobrol aja dari tadi,” balas Chayra mengerutkan keningnya.
“Udah-udah, berhenti berdebat. Kak, bersih-bersih dulu, Nak, trus kita makan malam,” ucap Zhafira menengahi.
“Iya, Ma, Chayra ke kamar dulu ya,” kata Chayra.
“Iya, Sayang,” balas Zhafira sembari mengangguk.
“Ada apa sih, Pa, Pi ... kok kita ngumpul di sini?” tanya Reza.
“Papa kamu cerita klo kalian hari ini di persulit sama kepala OB. Apa benar?” balas Bayu bertanya.
“Nggak dipersulit, Pi. Hanya diberikan pekerjaan agak berat aja,” jawab Daviandra.
“Kamu harus bisa membedakan mana dipersulit mana yang dikasih kerjaan berat, Nak,” sambar Bayu.
“Udah gini aja, kalian langsung pindah ke bagian marketing aja mulai besok!” seru Reigha.
“Nggak, Pa, masa baru datang sehari jadi OB besoknya jadi karyawan,” protes Daviandra.
“Yaudah kalau gitu, kalian kembali kuliah S2 dulu aja. Sambil tetap kerja, kerjanya disesuaikan jadwal kuliah kamu, gimana?” tanya Reigha.
Tok...Tok...Tok...
“Masuk!” sahut Reigha.
“Pa, ini mama bawain kopi sekalian untuk Bayu juga,” ucap Shafa masuk ke dalam ruang kerja Reigha sambil membawa nampan.
“Makasih ya, Ma,” balas Reigha.
__ADS_1
“Makasih, Fa,” imbuh Bayu.
“Iya, sama-sama. Kalau gitu aku keluar dulu, ya,” kata Shafa berlalu pergi meninggalkan ruang kerja suaminya setelah melirik anak-anaknya yang tampak melempar senyuman pada Shafa.
“Ekhm. Jadi gimana?” tanya Reigha kembali pada anak-anaknya setelah melihat Shafa menutup kembali ruang kerja.
“Oke, Pa, Reza setuju. Tapi, Reza mau kuliah S2 di sini aja,” jawab Reza.
“Gimana kamu, Dra?” tanya Bayu.
“Iya, Pi, Daviandra setuju juga,” balas Daviandra.
“Baiklah, besok biar om Dani yang akan urus, kalian tetap masuk kerja. Yaudah kalian istirahat sana. Papa mau ngobrol sama papi kamu,” kata Reigha.
“Iya, Pa. Kalau gitu, kami mau keluar dulu,” ucap Reza dan diangguki oleh Daviandra tanda setuju.
Dan setelah mendapat persetujuan dari Reigha dan Bayu, Andra juga Reza pun segera keluar ruangan Reigha. Lalu, Bayu segera mendekat ke tempat duduk Reigha dan bertanya.
“Jadi gimana nih, Gha? Apa Dani suruh panggil aja Maya dan langsung pecat aja dia?” tanya Bayu.
“Jangan, Bay. Nanti kalau anak gue tau, dia pasti gak akan mau kerja lagi. Andra tuh sifatnya seperti mamanya, mudah kasian sama orang,” jawab Reigha.
“Lalu gimana? Masa anak kita akan terus-terusan dibuat susah sama dia?” balas Bayu kembali bertanya.
“Udahlah, gini aja, gue akan minta Dani nulis apa aja tugas mereka. Setidaknya, Maya gak akan bisa ganggu gugat,” jawab Reigha membuat Bayu manggut-manggut.
“Oke, gue setuju.”
Obrolan mereka berganti topik dan masih membahas pekerjaan.
Di tempat Shafa dan Anna, Shafa dan Anna sedang membahas bisnis kecilnya yang baru saja dimulai, sejak anak-anak udah besar, Shafa dan Anna mulai membuka catering.
Dan malam ini, Shafa dan juga Anna sibuk karena ada pesanan untuk ulang tahun perusahaan kolega bisnisnya Reigha.
“Kira-kira kurang apa ya, Na?” tanya Shafa.
“Sepertinya udah siap deh, semua udah lengkap,” jawab Anna.
“Sendok-sendok juga udah, piring udah. Okelah udah siap dimasukkan ke mobil. Tolong, Na, panggilkan Bobby,” pinta Shafa.
Anna pun segera menelpon Bobby dan menyuruh masuk. Ya, sejak anak-anak besar Bobby membantu mengantar catering bersama teman-temannya yang dulu preman, mereka semua direkrut oleh Shafa untuk di jadikan karyawan cateringnya. Mereka pun dengan senang hati menerima dan bertobat jadi preman.
Bobby pun segera menemui Shafa dan bertanya, “Iya, Bu. Ibu memanggil saya?”
“Iya, Pak Bobby, ini semua sudah siap, silahkan di masukkan ke mobil. Untuk masakannya, besok pagi. Karena acaranya siang hari,” jawab Shafa.
“Baik, Bu. Saya akan panggil teman-teman dulu,” balas Bobby dan diangguki oleh Shafa.
“Nah, yaudah yuk, kita istirahat. Besok tinggal dimasak sebentar trus diantar ke tempatnya,” ucap Shafa pada Anna.
__ADS_1
“Ayuk, kita tunggu abang dan kak Reigha di ruang tengah ya, Fa,” balas Anna diangguki oleh Shafa.
“Iya, yuk!” seru Shafa.