Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 43 - S2 Menikahi Susterku


__ADS_3

Setelah berpamitan, Shafa pun kembali keluar dan segera pergi. Anna ikut mengantar sampai ke bandara untuk membantu Shafa dan Nai di bandara.


Seusai Shafa pergi, Reigha, Bayu dan Daviandra pun menyusul ke bandara.


Tak lama kemudian, Shafa dan Naima juga Anna pun sampai di bandara. Mereka langsung masuk sedangkan barang-barang di bantu Reigha, Bayu dan Daviandra untuk di bawa sekalian check-in.


Saat sampai di ruang tunggu, tiba-tiba Naima histeris.


“Mama ... mama ... Nai takut, Ma,” teriak Daviana histeris.


Shafa pun melihat sekelilingnya, Shafa cemas kalau ada Calvin di bandara tersebut. Tapi ternyata apa yang ditakutkan Daviana adalah melihat penumpang yang banyak laki-lakinya.


Akhirnya Shafa pun mengajak Daviana menuju private room sambil menunggu kesiapan pesawatnya.


Sementara Reigha dan Bayu yang dari kejauhan melihat bagaimana ketakutannya Daviana melihat penumpang laki-laki, akhirnya mereka pun memutuskan untuk membooking pesawat untuk ditumpangi oleh Shafa dan Daviana.


Akhirnya setelah dapat pesawatnya, Shafa dan Daviana pun segera menuju ke pesawatnya dan tak lama kemudian pesawat pun lepas landas menuju negara tujuan.


Reigha, Bayu dan Daviandra yang melihat keberangkatan mereka pun menatap dengan sedih.


Tak lama kemudian Anna pun menyusul Reigha, Bayu dan juga Daviandra.


“Bang, ayo pulang ... mereka udah berangkat,” kata Anna pada Bayu.


“Iya, Sayang ... Gha, Dra, ayo kita pulang, semoga dengan cara ini Nai cepat sembuh,” ucap Bayu dan di-aamiinkan serempak oleh mereka.


Mereka berempat pun segera keluar dan menuju ke mobilnya lalu mereka pun pulang.


Di jalan, Reigha yang disopirin oleh Daviandra, sepanjang jalan hanya melamun.


“Pa, papa kenapa?” tanya Daviandra.


“Papa hanya menyesal, Dra, apa yang dari awal papa takutkan, akhirnya kejadian juga. Adik kamu itu gak bahagia dengan pernikahannya dan berakhir seperti ini,” jawab Reigha.


“Gak perlu disesali, Pa, ini udah jadi jalannya Daviana untuk menjadi kuat. Sebaiknya kita segera mengurus perceraian mereka, Pa ... masalah cepat selesai,” balas Daviandra.


“Iya, Nak ... kamu benar. Sebentar ya, papa telpon om Dani dulu,” ucap Reigha.


Dan setelah mendapat persetujuan dari Daviandra, Reigha pun segera menelpon Dani.


Drrttt...Drrtt...Drrt...


“Selamat pagi, Pak ... ada yang bisa saya bantu?” tanya Dani.


“Dan, gimana tentang kasus perceraian putriku? Berkasnya udah masuk ke pengadilan agama?” tanya Reigha.


“ Udah, Pak, untuk mediasinya dilakukan dua hari lagi,” jawab Dani.

__ADS_1


“Pengacara kita juga udah mengabari kita, Pak,” lanjut ucapan Dani.


“Oke, Dan, tapi pastikan pengacara kita mempercepat proses perceraiannya ya, karena putriku kan juga tidak bisa menghadiri mediasinya,” balas Reigha.


“Iya ... Baik, Pak, pengacara kita udah tau apa yang kita inginkan,” ucap Dani.


“Good ... makasih ya, Dan,” kata Reigha yang setelahnya mengakhiri telponnya.


Bertepatan sampailah Reigha dan Daviandra di rumahnya, sedangkan Bayu dan Anna pulang ke rumahnya.


Beberapa jam kemudian, pesawat yang ditumpangi Shafa dan Daviana pun landing. Shafa segera mengajak Daviana keluar pesawat dan membawanya ke ruang private room.


Setelah itu, Shafa segera mencari Reza karena Reza udah mengabari kalau dia udah sampai di bandara.


“Ma,” panggil Reza.


Shafa pun merasa ada yang memanggil segera menoleh dan saat tau kalau itu reza, Shafa segera mendekat dan memeluk Reza.


“Nak, kamu udah lama?” tanya Shafa.


“Belum kok, Ma, mama tunggu sini dulu ya, temani Naima aja. Biar Reza yang ambil koper-koper mama,” jawab Reza.


“Iya, Nak ... makasih banyak ya,” balas Shafa.


Reza pun segera menuju ke tempat di mana koper Shafa dan Daviana berada. Setelah mendapatkannya segera Reza bawa ke mobilnya.


Setelah Shafa dan Daviana masuk mobil, mereka pun melajukan mobilnya beriringan keluar dari bandara.


Reza segera mengantarkan Shafa dan Daviana ke tempat yang udah disiapkan papa dan papinya.


Kurang lebih satu jam, mereka pun tiba di tempat yang sangat indah dan sunyi.


“Ma, ini kita di mana? Dan siapa mobil yang ada di depan kita, Ma?” tanya Daviana.


“Nanti kamu akan tau, Nak, ayo sekarang kita turun,” jawab Shafa mengajak putrinya.


Daviana pun menurut sambil melihat mobil depannya yang masih tertutup dan tidak ada tanda-tanda orangnya mau keluar.


Setelah Shafa dan Daviana masuk, Reza pun keluar dan mengeluarkan koper Shafa dan juga Daviana.


Karena Shafa langsung membawa Daviana ke kamarnya, Reza pun bisa langsung masuk ke rumah dan menaruh kopernya di depan pintu.


Reza menunggu Shafa di ruang tamu. Tak lama kemudian, Shafa pun turun.


“Za, makasih ya, Nak kamu udah jemput mama dan Nai,x kata Shafa.


“Iya, Ma, sebentar lagi dokternya akan datang memeriksa Nai,” balas Reza.

__ADS_1


“Iya, Za. Oh iya, kamu mau tinggal di sini juga?” tanya Shafa setelahnya.


“Kalau boleh sih, Ma, sambil jagain mama dan Nai. Takutnya ... mama dan Nai butuh apa-apa, kan Reza bisa langsung bantu,” jawab Reza.


“Ya boleh dong, Nak, kamu ini kayak sama siapa saja,” balas Shafa sembari tersenyum.


“Makasih ya, Ma, Reza tidur di kamar bawah aja ya, Ma. Mama dan Nai kan tidur di kamar atas,” ucap Reza.


“Kamu atur aja, Nak, mama ngikut kamu. Mama masak dulu ya, ada bahan-bahan makanan gak, Nak?” tanya Shafa.


“Nanti ajalah, Ma, Reza mau belanja dulu. Di mobil udah ada makanan untuk kita makan kok, bentar Reza ambilkan dulu,” balas Reza.


Shafa pun tersenyum dan segera mengambilkan peralatan makan untuk makan mereka.


Tak lama kemudian, Reza pun masuk membawakan beberapa kotak makanan.


“Ma, ini untuk nai, dan ini untuk mama,” kata Reza.


“Emang beda ya, Za?” tanya Shafa.


“Iya, Ma ... itu makanan kesukaan Nai, Ma,” jawab Reza malu-malu.


“Kamu masih ingat aja makanan kesukaan Nai, Za,” balas Shafa.


“Hehehe, mana bisa reza lupa, Ma ... walau setahun gak pernah jumpa, tapi apa yang Nai suka atau tidak suka masih tetap Reza ingingtanpa dicatat, Ma,” kata Reza.


“Oh iya, bentar ya ... mama lupa belum ngabari papa kamu. Za, kamu makan dulu ya, mama ke atas ngantar makanan Nai sekalian ambil HP mama,” ucap Shafa.


“Iya, Ma. Silakan,” balas Reza mempersilakan.


Shafa pun segera naik ke atas dan segera memberikan makanan pada Naima.


“Sayang, nih kamu makan dulu ya. Mama akan telpon ke Indonesia sebentar,” ucap Shafa pada putrinya.


“Iya, Ma ... Nai makan ya, soalnya Nai udah lapar banget,” kata Daviana.


“Iya, Sayang.” Dan Shafa pun berdiri agak jauh dari Daviana untuk menelpon Reigha.


Karena Shafa menelponnya sangat lama, Daviana selesai makan duluan. Melihat mamanya masih asyik bertelpon Daviana pun keluar kamar dan hendak ke dapur untuk mengambil air minum.


Saat turun dari tangga Nai pun pelan-pelan menuruni anak tangga sambil melihat-lihat di sekeliling rumah sampai mata Daviana tertuju sama sosok yang duduk sambil makan dan main HP.


Daviana yang melihatnya pun kaget dan gak sadar menjatuhkan piringnya karena terkejut melihat siapa yg ada di ruang tamu itu...


prangg.....prangggg....


“Mama!” teriak Daviana panik.

__ADS_1


__ADS_2