
“Ada apa sih, Mas?” tanya Shafa.
“Iya nih. Ada apa, Gha? Tumben banget ngajak ngobrol di jam segini,” imbuh Mama Dhiya yang ikut bertanya pada Reigha.
Netra Reigha tampak serius, kemudian menarik napasnya dalam dan mulai membuka suaranya, “Jadi gini, Ma ... ‘Kan sekarang Reigha udah sembuh. Jadi, rencana Reigha, mau buat resepsi pernikahan Reigha dan Shafa.”
Mendengar hal itu, Mama Dhiya spontan langsung tampak berbinar, senang.
“Bagus itu, Gha. Mama setuju. Kapan rencananya?” balas Mama Dhiya bertanya pada Reigha.
“Gimana kalau minggu depan aja, Ma?” tanya Reigha.
“Nah, oke. Jadi, Mama harus mulai siapkan semuanya dicicil dari sekarang!” seru Mama yang tampak bersemangat mempersiapkan hal ini.
Mama Dhiya tampak berpikir. Maklum jika ibu-ibu, sekalinya niat akan belanja langsung pikirannya traveling duluan.
Tak lama, Mama kembali mengeluarkan suaranya bertanya pada Shafa, “Fa, kamu mau resepsinya yg seperti apa? Mau Outdoor atau Indoor?”
“Ma, boleh Shafa minta tolong, Ma?” Bukannya menjawab apa yang Mama Dhiya tanyakan, Shafa malah ingin minta tolong pada Mama Dhiya. Entah apa yang Shafa mau saat ini.
“Tergantung apa yang akan kamu ucapkan. Kalau kamu minta tolong pernikahan ini dirahasiakan, Mama gak akan mau. Karena, Mama mau kamu dikenal banyak orang sebagai istri SAH Reigha, bukan suster pribadi Reigha lagi. Fa, kamu pas—”. Ucapan Mama seketika disambar oleh Shafa.
“Ma, Mama ... Shafa bukan mau ngomong itu. Ma, Shafa mau minta tolong kalau masalah urusan persiapan pernikahan ini, boleh gak kalau Mama aja yang urusin. Shafa ngikut aja apa kata Mama, gimana?” ucap Shafa membuat Mama manggut-manggut paham.
“Lho ... emangnya gapapa, Fa?” tanya Mama Dhiya.
“Gapapa dong, Ma. Apa yg mama pilih pasti itu yang terbaik dan tentunya Shafa pasti setuju,” jawab Shafa membuat senyum Mama Dhiya mengembang.
Mama Dhiya menarik napasnya dalam, “Hmm ... oke kalau gitu, Fa. Mama mau siapkan dulu semuanya!” seru Mama Dhiya bergegas menuju ke kamar untuk siap-siap dan meninggalkan keduanya yang masih duduk di sofa ruang tamu.
Reigha yang sejak tadi diam, kini menatap dalam wanita dihadapannya ini. Wanita yang dulu menjadi suster pribadinya yang kini dinikahinya. Wanita yang begitu dicintainya.
Kini Reigha mengeluarkan suaranya bertanya pada Shafa, “Sayang, emangnya gapapa kalau Mama yang urus semua? Emangnya, kamu gak punya gitu mimpi nanti kalau nikah mau gimana?”
“Emm ... enggak dong, Mas. Bagi Shafa, dengan mendapat restu dari Mama ... itu aja udah cukup. Lagian, Mama pasti pengen banget menyiapkan acara pernikahannya Mas Reigha. Karena, Mas anak tunggal,” jawab Shafa.
“Jangan sampai hanya karena selisih pendapat malah jadi renggang hubungan Shafa dengan Mama,” lanjut ucapan Shafa membuat Reigha mengangguk paham.
“Alhamdulillah ... ternyata Mas gak salah pilih istri. Kamu baik banget, Sayang!” seru Reigha memuji istrinya.
__ADS_1
Shafa mencurutkan bibirnya tatkala Reigha menarik hidungnya gemas saat reigha memuji dirinya tadi, “Apa sih, Mas. Muji terus, ntar aku jadi ke-PDan. Yuk deh Mas kita istirahat dulu.”
“Iya, Sayang. Yuk!” Reigha merangkul Shafa dan berjalan bersamaan menuju kamar.
****
Pada malam harinya, Bayu menemui Reigha di kamarnya.
Tok...Tok...Tok...
Shafa tampak membukakan pintunya sembari bertanya, “Iya, Bay. Ada apa?”
“Reigha lagi ngapain, Fa?” tanya Bayu.
“Oh ... Mas Reigha lagi nyiapin berkas di ruang kerja,” jawab Shafa.
“Yaudah, gue ke ruang kerja aja. Makasih, Fa.” Bayu pun menuju ruang kerja. Tanpa ketuk pintu, Bayu segera langsung masuk ke dalam ruang kerja.
“Gha, gue kemarin udah cek plat nomor mobil yang kemarin hampir nabrak Shafa. Ternyata, itu mobil rental, Gha. Dan kemarin katanya, yang menyewa atas nama Binar,” kata Bayu menjelaskan.
“Gak salah ternyata tebakan gue, Bay. Kemarin saat kejadian tuh gue curiga sama Binar. Ternyata beneran dia,” balas Reigha sembari manggut-manggut.
“Gak perlu, Bay. Sementara kita biarin aja. Cuma, lo tolong suruh orang untuk ngawasin Binar agar kita gak kecolongan lagi,” jawab Reigha.
“Oke, Gha. Kalau menurut lo gitu, gue nurut aja.” Bayu pun duduk dihadapan Reigha, karena sejak tadi dirinya berdiri disamping Reigha.
“Hmm ... tadi kata Shafa, besok lo udah mulai ngantor, ya?” lanjut Bayu bertanya pada Reigha yang asik dengan laptopnya.
“Iya, Bay. Gue udah kelamaan gak masuk kantor,” jawab Reigha yang netranya tak berpaling dari laptop.
“Oh oke. Kalau gitu, besok kita berangkat bareng aja!” seru Bayu yang bersemangat karena udah lama dirinya tak barengan bersama Reigha berangkat ke kantor.
“Udahlah, Bay. Gak usah. Lo ‘kan tiap pagi harus jemput Anna dulu. Nanti gue di antar Farhan aja,” balas Reigha.
“Oke kalau gitu. Gue keluar dulu, ya. Ngantuk nih. Gue mau tidur!” serunya sembari menguap.
“Iya, gue juga udah selesai kok. Ini mau ke kamar juga,” balas Reigha.
Akhirnya, mereka berdua pun keluar dari ruang kerja menuju kamar masing-masing. Mempersiapkan diri untuk bekerja besok pagi agar lebih fresh.
__ADS_1
Reigha pun masuk ke dalam kamar. Dia melihat Shafa yang baru saja selesai sholat isya dan masih duduk diatas sajadah.
“Sayang,” panggil Reigha yang langsung berbaring pada pangkuan Shafa.
“Emm ... Sayang, besok mas udah masuk kerja, ya. Besok kamu mau ikut ke kantor atau di rumah aja?” ucap Reigha bertanya pada Shafa.
Shafa tampak diam dan berpikir. Kemudian, Shafa memberanikan diri bertanya pada Reigha, “Mas, boleh gak kalau Shafa mulai kerja di rumah sakit lagi?”
“Shafa bosen tau, Mas ... kalau cuma di rumah aja dan gak kerjaan,” gerutu Shafa sembari mencurutkan bibirnya.
Reigha bangkit dan duduk dihadapan Shafa. Reigha meraih dan menangkup kedua pipi Shafa sembari berkata, “Fa, nanti kalau kamu kerja lagi, Mas gimana? Maaf, tapi Mas gak bisa jauh dari kamu, Fa.
“Kamu ikut Mas ke kantor aja, ya, Sayang,” lanjut Reigha.
“Tapi, Mas ... Shafa harus nungguin Mas di ruangan Mas terus? Shafa tuh pengen gitu ada kegiatan,” rengek Shafa pada Reigha.
“Yaudah, nanti dibahas lagi, ya. Ini udah malam. Yuk kita tidur aja,” balas Reigha yang diangguki oleh Shafa.
Akhirnya, Shafa melipat sajadah dan mukenanya. Sementara Reigha udah duluan naik ke atas kasur sembari menunggu Shafa yang sedang merapikan sajadah dan mukenanya.
Saat Shafa selesai, langsung naik ke atas kasur dan masuk ke dalam pelukan Reigha. Keduanya pun tertidur.
Pada pagi harinya, Shafa udah menyiapkan baju kerja buat Reigha. Shafa langsung keluar dari kamar untuk memasak bersama Mama Dhiya.
Reigha yang baru selesai mandi pun langsung keluar dari kamar mandi, dan melihat baju kerja yang dipilihkan oleh Shafa udah berada diatas kasur.
Makanan untuk sarapan telah siap, Reigha tampak berjalan keluar kamar seraya memanggil Shafa, “Sayang!”
Di meja makan sudah ada Papa Harun, Mama Dhiya dan juga Bayu yang menunggu kehadiran Reigha. Sementara Shafa masih di dapur membuatkan teh untuk Papa, Bayu, dan Reigha, sedangkan Mama Dhiya hari ini tak ingin minum teh.
“Sayang!” panggil Reigha kembali.
“Duh ... lo baru mau kerja hari ini, pagi-pagi keluar kamar udah nyariin istri lo!” celetuk Bayu.
“Iya nih. Kenapa sih teriak-teriak, Gha?” tanya Mama Dhiya menautkan alisnya.
“Istriku mana, ya?” tanya Reigha bingung.
Tampaklah Shafa yang membawa tiga cangkir teh hangat yang dibawanya diatas nampan. Shafa berjalan menuju ruang makan dan melihat Reigha yang berdiri dihadapan Mama Dhiya dan Papa Harun.
__ADS_1
“Kenapa sih kamu teriak-teriak, Mas?” tanya Shafa sembari memberikan teh dihadapan Reigha, Papa Harun dan juga Bayu.