Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 15 - S2 Menikahi Susterku


__ADS_3

“Lo sakit, Za? Nanti setelah kita makan, gue periksa,” kata Daviana dengan santainya, namun membuat Reza kaget dan menatap lekat pada Daviana.


“Eh, ng-enggak usah. Gue gapapa,” balas Reza yang tiba-tiba gugup.


“Heh, lo kenapa, Za? Tumben kayak orang bingung gitu,” tanya Daviandra.


“Gapapa, Dra. Ayo cepat selesaikan makan lo, trus kita ke kamar,” jawab Reza.


Reigha yang sejak tadi mengawasi pun semakin yakin kalau sebenarnya Reza ada rasa pada Daviana.


“Za, besok papa bisa minta tolong?” tanya Reigha.


“Minta tolong apa, Pa?” balas Reza kembali bertanya.


“Besok pagi tolong antar Almeera dan Vilia ke sekolah dan Daviana juga ke tempat kerjanya ya. Soalnya besok mobil Daviana mau papa pakai dulu, mobil papa lagi di bengkel,” kata Reigha.


“Kok Reza sih, Pa ... Andra kan ada,” ucap Reza.


“Gak bisa, Za. Andra besok ngantar mama belanja,” balas Reigha.


“Oh ... kalau gitu, Reza aja yang ngantar mama, Pa,” sambar Reza dengan segera.


“Za, kamu ngebantah omongan papa?” tanya Reigha.


“Eh, enggak, Pa. Maafin reza. Baiklah, besok Reza yang antar,” putus Reza akhirnya.


“Nah gitu, nurut kalau di suruh orang tua,” balas Reigha dan tersenyum.


“Emang mobilnya kenapa, Pa?” tanya Shafa.


“Cuma diservis aja, Sayang. Soalnya udah lama gak diservis,” jawab Reigha.


Dan setelah selesai makan semua pun berada di ruang tamu. Reza yang duduk di sebelah Daviandra sedangkan Daviana bergegas ke kamar untuk mengambil peralatan medisnya.


Setelah Daviana mengambil peralatan medis, dia pun segera menuju ke ruang tengah untuk memeriksa Reza.


“Za, ayo sini gue periksa!” seru Daviana.


“Kok diperiksa? Gue gak sakit, Nai,” balas Reza.


“Tadi kata lo perutnya sakit,cepat rebahan, Za!” seru Daviana kembali. Dan akhirnya reza pun menurut.


Saat di periksa, detak jantung Reza sangat cepat. Karena Reza memang gugup saat tangan Daviana memegang dada Reza.


“Semua normal kok, Za, bagian perut mana yang sakit?” tanya Daviana.


“Gak ada, Nai, gue udah sembuh. Mungkin tadi karena lapar aja,” jawab Reza.


“Owh ... yaudah, berarti gak usah gue resepin obat. Minum vitamin aja ya,” titah Daviana.


“Iya, Nai, makasih ya,” balas Reza.


Daviana pun mengangguk dan setelahnya pamit ke kamar.

__ADS_1


“Dra, ke kamar yuk!” ajak Reza.


“Lo tidur di kamar gue?” tanya Daviandra.


“Iya, gue nginap di sini ya,” jawab Reza.


“Yaudah yuk. Pa, Ma, kami ke kamar ya,” ucap Daviandra berpamitan.


“Iya, Pa, Ma ... Reza izin nginap di sini ya,” imbuh Reza.


“Iya, Nak. Lagian ngapain pakai izin segala,” balas Shafa.


Dan mereka pun segera ke kamar. Tinggalah Reigha, Shafa dan juga Vilia di ruang tengah.


“Pa, Ma, bang Reza aneh ya hari ini,” kata Vilia setelah Andra dan Reza pergi meninggalkan ruang tengah.


“Iya ya ... bener loh, Pa, yang Vilia bilang. Mama juga ngerasa, Reza tuh hari ini aneh. Biasanya dia santai dan penuh canda, hari ini nampak kaku banget,” imbuh Shafa.


“Mungkin Reza lagi jatuh cinta, Sayang,” celetuk Reigha dengan santainya.


“Pa, ada Vilia. Jangan ngomongin cinta-cintaan,” bisik Shafa tepat di samping telinga Reigha.


“Lagi bisikin apa sih, Ma, pasti main Rahasia lagi. Yaudah deh Vilia ke kamar aja ngerjain tugas,” kata Vilia.


“Iya, Nak. Kerjain tugasnya, belajar yang rajin ya, Sayang,” titah Shafa.


“Iya, Ma, Pa. Vilia ke kamar ya,” ucap Vilia berpamitan dan diangguki oleh Reigha dan Shafa.


Setelah Vilia pergi, Shafa yang penasaran pun segera meminta Reigha untuk melanjutkan ceritanya.


“Ya gak tau, Sayang. ‘Kan mas bilang mungkin,” balas Reigha.


“Yahh ... kalau Reza jatuh cinta sama gadis lain, Shafa agak kecewa sih, Mas,” kata Shafa.


“Loh loh ... kenapa kecewa, Sayang. Emang kamu suka sama Reza?” tanya Reigha.


“Ngawur kamu, Mas, masa Shafa suka sama Reza. Shafa tuh pengen Reza jadi menantu kita, nikah sama Naima, kan Reza walau seumuran sama kembar tapi Shafa gak pernah menyusui Reza. Jadi, Reza tuh boleh nikah sama Daviana, Mas,” ucap Shafa.


“Ya tapi kalau mereka gak jodoh gimana lagi, Sayang, kalau Reza atau Daviana jatuh cinta sama orang lain kita kan gak bisa maksain keinginan kita,” kata Reigha.


“Iya, Mas, kan itu cuma keinginan Shaga aja. Ya, kalo mereka ternyata jatuh cinta sama orang lain gapapa. Reza kan akan tetap jadi anak kita,” balas Shafa.


“Udah. Ayo sayang kita ke kamar, dah malam ini,” ajak Reigha. Dan mereka pun segera ke kamar.


Keesokan harinya, sesuai rencana semalam. Setelah mereka sarapan, Reza mengantar Daviana, Almeera dan Vilia sedangkan Reigha memakai mobil Daviana.


“Sayang, papa berangkat dulu ya,” kata Reigha.


“Iya, Pa, hati-hati ya,” balas Shafa.


Mereka kalau di depan anak-anak memanggilnya papa dan mama, tapi kalau sedang berdua memanggil seperti sebelum punya anak.


“Pa, Ma, kami berangkat ya,” pamit Reza, Daviana, Almeera dan Vilia.

__ADS_1


“Iya, Sayang. Kalian semua hati-hati ya,” balas Shafa dan Reigha serempak.


Dan setelah bersalaman, mereka pun pergi meninggalkan rumah Reigha.


Sedangkan Reigha mampir dulu ke rumah Bayu untuk berangkat bareng.


Tak lama kemudian, Daviandra keluar dan segera pergi mengantar Shafa dan Anna belanja.


Di mobil Reza, Almeera dan Vilia yang selalu heboh bercanda, sedangkan Daviana asik membalas WA.


Reza memperhatikan Daviana tapi Daviana gak tau kalau sejak tadi Reza memperhatikannya.


Tak lama kemudian, Almeera turun lalu Vilia juga turun tinggalah sekarang mereka berdua di mobil, suasana di mobil jadi sepi sejak Almeera dan Vilia turun.


Reza mencoba membuka percakapan, “Nai, daritadi sibuk sama HP aja. Lagi sibuk kerjaan ya?” tanya Reza.


“Nggak juga, Za. Cuma balasin WA teman,” jawab Daviana.


“Teman atau pacar lo, Nai?” tanya Reza kembali.


“Gue belum kepikiran sama pacaran, Za, gue mau fokus kerja dulu,” balas Daviana.


‘Berarti Naima belum punya pacar,’ batin Reza.


“Kok diam, Za?” tanya Daviana.


“Eh ... e—enggak, ini kita udah sampai di rumah sakit. Mau diantar sampai parkiran atau di sini aja?” balas Reza bertanya.


“Udah di sini aja. Thanks ya, Za,” kata Daviana.


“Oke. Nanti kalau udah waktunya pulang kabari aja, oke?” ucap Reza.


“Iya, oke. Assalamu’alaikum,” balas Daviana segera keluar dari mobil Reza.


Reza membalas salam dan segera meluncur ke kantor papa Reigha.


Setelah sampai kantor, Daviandra ternyata udah tiba duluan.


“Loh, Dra, kok lo dah datang? Katanya antar mama dan mami belanja?” tanya Reza.


“Iya, cuma ngantar aja, setelah itu sama mama suruh ke kantor, katanya nanti mama di jemput om Bobby,” jawab Daviandra.


“Owhh ... yaudah yuk kita selesaikan kerjaannya,” ucap Reza dan diangguki oleh Daviandra.


Saat Reza membersihkan lantai ruangan Reigha, Reza mendengar perbincangan antara Dani dan Puspa.


“Jadi tamu yang di dalam itu mau melamar Daviana putri pak Reigha ya, Pak?” tanya Puspa.


“Iya, tapi gak tau diterima atau enggak sama pak Reigha,” jawab Dani.


“Hah? Siapa yang mau melamar Naima?” lirih Reza.


Reza pun pura-pura membersihkan ruangan sambil melihat siapa orang yang melamar Daviana.

__ADS_1


Tak lama kemudian terdengar pintu di buka, Reza segera bersembunyi.


‘Hah, kok ... ’ batin Reza.


__ADS_2