
Mereka berdua pun segera masuk kamar, Shafa langsung duduk bersandar pada headboard. Sedangkan Reigha mengambil ponselnya untuk menelpon temannya.
“Assalamu’alaikum, Pak penghulu, lagi sibuk nggak nih? maaf kalau gue ganggu,” ucap Reigha saat panggilan sudah terhubung.
“Wa’alaikumsalam, CEO muda. Alhamdulillah baik. Ada apa nih tumben telpon gue?” balas Afkar —penghulu sekaligus teman Reigha.
“Begini, asisten gue ‘kan malam ini mau lamaran. Tapi, gue maunya langsung gue nikahkan aja. Kira-kira lo bisa gak bantu gue untuk ijab.i itu asisten gue?” tanya Reigha.
“Tenang aja, Bro, itu bisa di atur. Surat-surat bisa nyusul. Yang penting wali nikah dan mas kawin ada,” jawab Afkar.
“Oke, thanks ya. Gue tunggu di rumah jam tujuh malam. Ajak istri lo juga.”
“Oke, Bro. Shareloc aja nanti gue ke sana, dan pasti akan gue ajak istri gue.”
Mereka pun segera menutup telponnya, “Udah, Sayang. Beres! Sekarang, kita siap-siap yuk.”
Dan saat menoleh ternyata Shafa tertidur, Reigha yang melihat pun menggelengkan kepala.
Reigha segera menghubungi Ayah Reynand dan juga Ibu Khalisa serta Budhe mengundang datang ke rumah sebelum jam tujuh.
Setelah semua dikabari oleh Reigha, segera Reigha mendekat pada Shafa dan mengusap perut Shafa yang buncit.
“Pasti Mama kalian capek deh, Nak. Kalian sehat-sehat di dalam ya,” titah Reigha mengecup singkat perut Shafa.
“Sambil nunggu Shafa bangun, gue telpon mama dulu deh minta toko emas langganan Mama untuk nyiapin maharnya,” ucap Reigha kembali mengambil ponselnya dan memencet nomor Mama Dhiya.
“Assalamu’alaikum, Ma. Mama,Reigha bisa minta tolong pesankan perhiasan dilangganan? Untuk kado pernikahan Dani nanti tolong diantarkannya sebelum jam 7, Ma. Untuk modelnya Reigha serahkan ke Mama aja.”
“Oh, iya. Gha, nanti mama hubungi dan suruh antar ke rumah langsung,” balas Mama dari sebrang telpon.
“Iya, Ma. Makasih ya, Ma. Assalamu’alaikum.”
Reigha pun tersenyum setelah menutup telpon dengan Mama Dhiya.
“Perhiasan udah, sekarang tinggal bangunin Bayu. karena waktu tinggal satu jam lagi,” lirih Reigha dengan perlahan membuka pintu kamar.
Saat jalan mau ke kamar bayu, Reigha berpapasan Mbok Nah.
“Eh iya, Mbok, nanti masak yang banyak ya, malam ini akan ada tamu yang datang. Kalau waktunya gak cukup, beli aja ya,” titah Reigha.
“Baik, Den, akan mbok siapkan,” balas Mbok Nah.
“Terima kasih, Mbok.” Reigha pun segera berlalu ke kamar Bayu.
Sampai di depan kamar Bayu, Reigha mengetuk pintu berkali-kali.
Tok...Tok...Tok...
Bayu pun dengan muka bantalnya bangun dan membuka pintu kamar, “Apasih, Gha?”
“Bay, siap-siap gih, malam ini Dani minta tolong ke kita untuk lamarin Santi,” jawab Reigha.
__ADS_1
“Oke, Gha, gue siap-siap dulu,” balas Bayu kemudian menutup pintunya.
Bayu segera membangunkan Anna, “Sayang, siap-siap yuk ... kita bentar lagi akan pergi ke rumah Santi.”
“Mau ngapain sih, Abang?” tanya Anna dengan suara paraunya.
“Dani minta tolong kita untuk lamarin Santi, ayo, Sayang,” jawab Bayu.
Anna pun segera bangun dari tempat tidur, “Aduh, Abang, badanku remuk rasanya. Kamu gak kira-kira ih, aku kan lagi hamil,” gerutu Anna.
“Maaf sayang, pengaruh obat itu, jadinya gak terkendali.”
“Anna mandi dulu ya, Bang.” Anna beranjak masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Saat Anna mandi, Bayu pun keluar untuk mencari susu untuk menetralkan obat yang tadi diminum.
Ketika bayu masuk ke dapur, tampak Mbok Nah masih sibuk memasak.
“Loh, Mbok, masaknya kok banyak banget?” tanya Bayu.
“Itu, Den, kata Den Reigha nanti akan ada tamu jadi di suruh masak banyak,” jawab Mbok Nah.
Bayu pun manggut-manggut dan setelah mengambil susu dilemari pendingin Bayu segera keluar dapur.
Saat di ruang makan, Bayu melihat Reigha yang sibuk mondar-mandir dan kini membawa kotak perhiasan.
“Gha, kotak perhiasan untuk siapa?” tanya Bayu, kemudian meneguk susu di gelas yang ada di tangannya.
Bayu yang sedang minum pun langsung tersedak.
Uhuk...Uhuk...
“Untuk siapa?” tanya Bayu kembali untuk memastikan.
“Untuk Santi. Napa sih lo?” balas Reigha menautkan kedua alisnya.
“Gha, lo lagi nggak bercanda ‘kan? Gimana nanti kalau singa betina lo marah? Lagian, ngapain lo sok-sok.an beliin perhiasan!” seru Bayu.
Reigha pun mengetuk kepala bayu, “Dasar. Makannya, dengerin gue dulu. Itu perhiasan untuk Santi dari Mama. Jadi, rencana gue nanti itu Dani sama Santi langsung aja dinikahkan. Nah, ini nanti buat maharnya.”
“Oh ... kirain. Okelah, gue setuju, jam berapa tamu-tamu nanti datang?” tanya Bayu.
“Kok tamu-tamu? Cuma Penghulu dan Dani aja yang kesini, sama keluarga juga sih. Palingan setengah jam lagi sampai,” jawab Reigha.
“Yaudah, gue mandi dulu.” Bayu segera meneguk habis susunya dan segera masuk kamar untuk mandi.
Sesampainya di kamar, ternyata Anna sudah siap.
“Sayang, tunggu di depan ya, nanti kalau ada tamu suruh masuk aja,” ucap Bayu segera menyambar handuk dan berlari ke kamar mandi.
Anna pun mengangguk. Sebelum Anna keluar, terlebih dahulu Anna menyiapkan baju untuk Bayu yang senada dengan baju yang dipakainya. Kemudian, Anna keluar kamar untuk duduk di ruang tamu.
__ADS_1
Di kamar Reigha, Reigha tampak udah rapi. Tak lama, Shafa pun bangun.
“Mas, kok gak bangunin Shafa?” tanya Shafa.
“Kamu kecapean, Sayang, mandi gih, bentar lagi ada tamu yang mau ngantar Dani ke rumah Santi. Mas udah beliin baju couple buat kita karena Mas tau baju kamu pasti udah banyak yang gak muat. Itu, Sayang di dekat sofa bajunya. Ayo mandi dulu,” titah Reigha yang diangguki oleh Shafa.
Shafa pun bergegas masuk kamar mandi. Sambil menunggu Shafa selesai mandi, Reigha menghubungi temannya.
“Assalamu’alaikum. Gimana, Bro? Udah sampai mana?” tanya Reigha.
“Wa’alaikumussalam. Iya, ini udah dekat kok, sepuluh menit lagi sampai,” jawab Afkar dari sebrang telpon.
“Oke, gue tunggu.” Setelah mendapat jawaban dari Afkar, telpon pun berakhir.
Shafa udah selesai, dia pun juga udah rapi dengan baju yang dibelikan oleh Reigha.
“Mas, kok bisa tau ukuran Shafa? Padahal perut Shafa kan buncit, Mas ngukur pas Shafa tidur ya?” tanya Shafa.
“Tau dong, Mas kan yang paling tau apa yang terbaik buat kamu, Sayang,” balas Reigha melihat istrinya yang tampak cantik dilengkapi dengan perutnya yang tampak menjendul.
“Ayo kita keluar, Mas,” ajak Shafa.
“Sebentar, Sayang.” Reigha segera menyamai wajahnya tepat sejajar dengan perut Shafa.
Kemudian Reigha mencium perut Shafa seraya berkata, “Anak-anak Papa, kalian yang pintar ya. Nanti Papa mau mengajak Mama pergi sampai malam. Kalian baik-baik ya di dalam perut Mama.”
“Yuk, Sayang,” lanjut Reigha merangkul Shafa berjalan keluar kamar.
“Oh iya, Sayang, kotak perhiasannya di atas meja jangan lupa di bawa ya. Itu dari Mama untuk mahar Dani,” ucap Reigha.
Dan Shafa pun segera mengambilnya. Setelah dimasukkan ke totebag yang dibawa Shafa, mereka pun keluar kamar.
Saat di ruang tamu, ternyata udah tampak ramai. Ada Ayah Reynand, Ibu Khalisa, dan juga Anggi yang nampak hadir. Budhe Anna juga duduk di sebelah Anna.
Reigha dan Shafa segera bersalaman sama orang tua Shafa dan Budhe.
“Ayah, Ibu udah lama? Kok Mas Reigha gak bilang kalau Ayah dan Ibu kesini,” ucap Shafa.
“Alhamdulillah baik, Nak, gimana kandungan kamu, ngidam apa?” tanya Ibu Khalisa.
“Alhamdulillah kalau keadaan Ibu dan Ayah baik. Shafa gak ngidam, Bu. Yang ngerasain ngidamnya Mas Reigha,” jawab Shafa.
“Itu berarti suami kamu sayang banget sama kamu, Nak,” balas Ayah Reynand.
“Kejutan, Sayang, senang ‘kan?”
“Emm ... seneng banget, Mas, makasih ya, Mas,” jawab Shafa.
“Budhe gimana kabarnya?” tanya Reigha.
“Alhamdulillah baik, Nak, itu Shafa kandungannya udah berapa bulan?” jawab Budhe seraya bertanya kembali.
__ADS_1