
“Fa, itu bukannya Anna?” tanya Mama Dhiya membuat Shafa segera menoleh.
“Lho, iya. Kok bisa Anna jalan sendirian sambil melamun gitu sih,” balas Shafa yang langsung menelpon Bayu.
Panggilan pun terhubung.
“Hallo ... ya, Fa?” ucap Bayu.
“Bayu, Anna mana?” tanya Shafa.
“Ini gue juga lagi nyari, Fa. Dia kabur dari mobil gue,” jawab Bayu membuat Shafa mengernyit heran.
“Ini gue di Jalan Anggrek 5, gue lihat dia jalan kaki menuju halte bus. Lo mau jemput dia ke sini atau gue yang bawa dia jalan sama Mama?” ucap Shafa diakhiri dengan pertanyaan yang ditujukan pada Bayu.
“Oh, oke. Gue segera kesana, Fa. Gak sampai lima menit, soalnya gue gak jauh dari situ. Makasih infonya.” Bayu pun segera mematikan ponselnya dan segera menuju ke Jalan Anggrek 5 sesuai informasi dari Shafa.
Shafa kini menoleh kembali, dilihatnya Anna tengah duduk menunduk di halte bus. Cukup lama mobil Mama Dhiya berhenti mengawasi Anna dari jauh. Beruntungnya, Anna tak tau mana mobil Mama Dhiya.
Tak lama, tampak mobil Bayu tiba dan turunlah Bayu menghampiri Anna.
Melihat hal tersebut, Shafa pun mengeluarkan suaranya, “Pak Vano, ayo segera jalan.”
“Baik, Bu,” balas Vano yang segera melajukan mobilnya menelusuri jalan raya menuju butik.
Saat diperjalanan, Mama Dhiya bertanya pada Shafa, “Fa, sebenarnya Anna itu kenapa?”
“Entahlah, Ma. Shafa juga gak tau apa masalah Anna saat ini dengan Bayu,” jawab Shafa jujur.
“Kenapa kamu kasih tau Bayu? Kok gak kita ajak aja Anna jalan bareng kita,” ucap Mama kembali bertanya.
“Ma, Shafa mau menghabiskan waktu jalan berdua sama Mama aja. Selama ini kita hanya bertemu di rumah, itu pun sebentar. Gak salah dong, Ma ... kalau Shafa pengen berduaan sama Mama mertua Shafa yang baik ini,” balas Shafa membuat senyum Mama Dhiya mengembang sempurna.
Setibanya di butik, Mama Dhiya langsung disambut oleh pemilik butik tersebut.
“Hai, Jeng. Udah lama nunggunya?” tanya Mama Dhiya saat melangkah masuk ke dalam butik.
“Enggak lama juga, Jeng,” jawab pemilik butik yang netranya kini beralih menatap pada gadis cantik di samping Mama Dhiya.
“Lho ... bentar deh, ini siapa, Jeng?” tanya pemilik butik yang penasaran.
“Ya ... inilah menantuku, Jeng. Istrinya Reigha,” jawab Mama Dhiya.
“Wah wah ... MasyaaAllah, cantik banget, Jeng!” seru pemilik butik dengan sumringah.
Mama Dhiya kini menatap Shafa yang tepat ada di sebelahnya, mengelus kepala Shafa yang terlapisi oleh hijab sembari berkata, “Alhamdulillah, Jeng. Menantuku ini cantik dan sayang banget sama Reigha.”
“Gimana, Jeng. Apa udah disiapkan bajunya?” lanjut Mama Dhiya bertanya pada pemilik butik tersebut.
“Ya ... udah pastilah, Jeng. Tapi, kenalin dulu dong menantunya,” jawab pemilik butik.
“Oh iya ... sampai lupa enggak kenalin,” celetuk Mama Dhiya.
“Fa, kenalin. Ini tante Dian, pemilik butik ini. Dan ... Jeng, kenalin ini Shafa, istri Reigha,” lanjut Mama Dhiya memperkenalkan keduanya.
__ADS_1
Shafa segera menyalimi tante Dian sembari berkata, “Salam kenal, ya, Tante Dian.”
“Iya, Shafa. Salam kenal kembali. Dan, selamat datang di butik ini,” balas tante Dian seraya mengembangkan senyumnya.
“Ayo sini segera dicoba bajunya cocok yang mana sih untuk istri CEO muda dan tampan itu. Hmm,” ujar tante Dian sembari mengajak Shafa dan Mama Dhiya mengikutinya.
Saat tante Dian menarik lengan Shafa, tiba-tiba ponsel Shafa berbunyi membuat ketiganya menoleh pada benda pipih yang berbunyi itu.
Shafa segera melihat siapa yang menelponnya saat ini.
“Siapa yang telpon, Fa?” tanya Mama Dhiya.
“Mas Reigha, Ma,” jawab Shafa membuat Mama Dhiya manggut-manggut, memaklumi anaknya yang posesif itu.
“Diperhatiin banget sama Reigha, ya, Jeng,” bisik tante Dian pada Mama Dhiya sembari tersenyum.
“Maklumlah, anakku itu posesif banget!” seru Mama Dhiya.
Shafa menerima panggilan tersebut, “Iya, Mas ... Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam, Sayang. Kamu dimana?” tanya Reigha.
“Oh ... Shafa lagi di butik nih, fiting baju pengantin kita. Mas bisa kesini bantu pilih?” jawab Shafa sembari bertanya kembali.
“Hmm ... gitu, ya. Tapi, maaf banget. Mas gak perlu ke butik, ya. Apapun pilihan kamu, Mas pasti setuju,” balas Reigha yang dimaklumi oleh Shafa.
“Oo, iya ... gapapa kok, Mas. Yaudah, Mas lanjut kerja aja. Nanti Shafa kabari kalau udah selesai. Assalamu’alaikum, Mas,” ucap Shafa yang langsung mengakhiri obrolannya karena segan dengan tante Dian yang menunggu.
Shafa kembali memasukkan ponselnya dan mengikuti langkah tante Dian yang menunjukkan berbagai jenis gaun dan juga kebaya.
Kini, Shafa pun sudah selesai memilih baju. Pilihannya jatuh pada gaun warna hijau tosca yang terkesan sederhana tapi elegan. Untuk akadnya, Shafa memilih warna putih. Dan, mereka pun keluar dari butik berpamitan pada Tante Dian.
“Tante, Shafa dan Mama pamit, ya. Makasih udah bantu Shafa memilih gaun yang cocok. Oh iya, tante jangan lupa hadir di pernikahan Shafa, ya,” ucap Shafa berpamitan sekaligus mengundang tante Dian.
“Okey. Siap, Cantik!” seru tante Dian.
“Jeng, aku pamit, ya. Makasih loh,” imbuh Mama Dhiya berpamitan.
“Iya, sama-sama.”
Mama Dhiya dan Shafa pun berjalan keluar dari butik dan kembali masuk ke dalam mobil.
“Sekarang kita ke mall, ya, Vano!” seru Mama Dhiya.
“Baik, Bu,” balas Vano yang langsung melajukan mobilnya sesuai arahan dari Mama Dhiya.
Sesampainya di mall, Mama Dhiya mengajak Shafa untuk ke salon langganan Mama Dhiya.
Shafa memberi kabar lewat WhatsApp pada Reigha bahwa dirinya sedang berada di mall.
Kini keduanya tengah berada di salon, Mama dan Shafa dipersilakan duduk dan keduanya melakukan perawatan masing-masing selama kurang lebih dua jam.
Akhirnya, setelah selesai, keduanya pun keluar dari salon. Sekarang, Mama Dhiya mengajak Shafa untuk ke toko emas.
__ADS_1
“Shafa, sekarang kamu pilih mau cincin yang seperti apa?” ucap Mama Dhiya mempersilakan Shafa memilih.
“Gak perlu, Ma. Ini ‘kan sudah ada. Dan, Shafa pun udah pakai,” balas Shafa menunjukkan jari manisnya yang sangat jelas sudah adanya cincin yang melingkar di sana.
“Ayolah, Fa. Ini Mama yang mau kasih untuk menantu Mama. Demi Mama, kamu pilih yang paling kamu sukai!” seru Mama.
Shafa pun dengan tidak enak hati, akhirnya melangkah maju mendekat dan menelusuri cincin mana yang akan dipilihnya.
Saat melihat cincin mata bermata. Shafa sangat ingin memilikinya. Akhirnya, Shafa menunjuk cincin tersebut dan berkata, “Udah nih, Ma. Shafa pilih yang ini.”
“Oke kita bayar dulu ya.” Mama Dhiya berjalan menuju kasir untuk membayar dan Shafa menerima bungkusan kotak dari kasir tersebut.
Mama Dhiya dan Shafa pulang ke rumah setelah semua tampak sudah selesai. Ya, walau belum semua, setidaknya sudah dicicil beberapa dari sekarang.
Sesampainya di rumah, Mama Dhiya bergegas masuk. Namun, langkahnya terhenti, kemudian menoleh dan berkata pada Shafa, “Fa, Mama langsung istirahat, ya.”
“Iya, Ma. Terima kasih untuk hari ini, Ma,” ucap Shafa yang diangguki oleh Mama Dhiya.
“Hmm ... Ma, Shafa boleh gak kalau pinjam supir dan mobil Mama? Soalnya, Shafa mau antar bekal makan siang untuk Mas Reigha,” lanjut Shafa meminta izin pada Mama Dhiya.
“Emangnya kamu gak capek, Fa?” tanya Mama Dhiya.
“Alhamdulillah, enggak kok, Ma.”
“Oh ... yaudah, kamu pakai aja, Fa,” ucap Mama Dhiya mengizinkan.
“Makasih ya, Ma,” balas Shafa sumringah dan segera menuju ke dapur.
Shafa tengah berada di dapur. Bergegas dirinya membuka kulkas dan memasak masakan yang simpel dan cepat jadi.
Saat dirasa semua siap, Shafa pun membawa lima kotak bekal dan segera ke kamar untuk bersih-bersih terlebih dahulu dan juga ganti baju.
Tak lama kemudian, Shafa berjalan keluar rumah menghampiri Vano yang tengah mengobrol dengan Pak satpam.
“Pak Vano, bisa tolong antar saya ke kantor Mas Reigha?” tanya Shafa dengan lembut.
“Bisa, Bu. Sebentar,” jawab Vano segera mengambil mobil di garasi dan membawanya menuju gerbang dimana Shafa berdiri.
Shafa pun masuk dan segera mobil melaju meninggalkan rumah menuju ke kantor.
Saat Shafa sampai di kantor reigha, Vano pun disuruh menunggu di dalam mobil sembari Shafa memberikan satu kotak bekal padanya.
“Pak, tunggu di sini aja, ya. Saya nemani Mas Reigha makan siang di ruangannya, Pak Vano makan ini,” ucap Shafa mengulurkan tangannya memberikan kotak bekal tersebut.
“Baik, Bu. Terima kasih,” balas Vano.
Shafa segera masuk ke dalam lobby kantor. Security yang udah tau kalau itu istri Pak Reigha menunduk hormat dan mempersilahkan Shafa masuk.
Shafa mendekat pada bagian resepsionis, kebetulan pula orang yang di bagian resepsionis tidak mengenal Shafa.
“Selamat siang, Mbak. Apa saya bisa bertemu dengan Pak Reigha?” tanya Shafa.
“Maaf. Ada keperluan apa, ya?” balas Yola bertanya pada Shafa.
__ADS_1
“Saya mau antar makan siangnya, Mbak,” ucap Shafa yang membuat Yola mengernyit heran dan mengira Shafa adalah wanita yang terobsesi oleh Pak Reigha.
Dengan judesnya Yola menjawab kalau Pak Reighanya lagi sibuk. Shafa pun diminta untuk menunggu di ruang tunggu.