Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 37 - S2 Menikahi Susterku


__ADS_3

Shafa membawa makanan untuk dimakan bareng-bareng bersama Daviana.


“Udah siap, Sayang?” tanya Reigha.


“Udah, Mas ... yuk udah gak sabar aku pengen lihat kondisi putri kita,” jawab Shafa.


Reigha pun segera melajukan mobilnya menuju ke tempat Daviana.


Sesampainya di tempat Daviana berada, Reigha dan Shafa pun langsung masuk ternyata Daviana sedang membaca buku sembari duduk di atas ranjang menyendiri pada headboard.


“Assalamu’alaikum, Nak,” kata Reigha.


“Wa’alaikumussalam, Pa, Ma,” balas Daviana yang langsung turun dan bersalaman mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


“Sayang, kamu udah sarapan?” tanya Shafa.


“Belum, Ma ... lagi males, Ma,” jawab Daviana.


“Jangan begitu, Nak. Seberat apapun masalah kita, kita harus tetap jaga kesehatan. Itu mama udah bawakan sarapan, ayo kita sarapan bersama ... kebetulan papa dan mama juga belum sarapan,” balas Reigha.


“Iya, Nak, ayo sini kita sarapan,” ajak Shafa sembari menyiapkan makanannya.


Reigha dan Daviana pun mendekat dan langsung duduk, mereka pun segera sarapan bersama.


Serelah selesai sarapan, mereka pun mengobrol.


“Pa, Ma, Naima boleh lanjutin kuliah S2?” tanya Daviana.


“Boleh dong, Sayang ... rencana kamu, mau kuliah di mana? Di tempat kamu dulu gimana? Kalau di sana, ada Chayra, Nak,” jawab Reigha sembari bertanya kembali pada Daviana.


“Nggak, Pa, Ma ... Naima pengen kuliahnya di negara S,” balas Daviana.


“Yaudah gapapa, Nak ... gak terlalu jauh dari indonesia ‘kan, gak seperti yang waktu kamu kuliah S1 waktu itu,” kata Reigha dan Daviana pin manggut-manggut. Kemudian Daviana menoleh pada mamanya.


“Ma, kok mama diam aja?” tanya Daviana.


“Eh, gapapa kok, Nak, mama dukung kamu asal kamu bahagia, Sayang,” jawab Shafa sembari tersenyum.


“Makasih ya, Ma, Pa,” kata Daviana.


“Rencana ... kapan kamu mau berangkat, Nak? Biar om Dani yang uruskan,” tanya Reigha setelahnya.


“Setelah putusan sidang cerai, Pa,” jawab Daviana.


“Baiklah, Nak, papa dan mama setuju,” balas Reigha.


“Nak, ayo kita pulang ... Papa dan mama pengen kamu kumpul lagi sama kita dan saudara kamu di rumah,” kata Reigha.


“Iya, Nak, apalagi sebentar lagi kamu akan pergi kuliah lagi,” imbuh Shafa.


“Emm ... baiklah, Pa, Ma, hari ini Naima akan ikut papa dan mama pulang,” balas Daviana.

__ADS_1


“Alhamdulillah,” kata Reigha dan Shafa serempak.


Dan menjelang siang, mereka pun pergi meninggalkan hotel tersebut.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah Reigha. Di rumah, ada Bayu, Anna dan Daviandra.


Saat mendengar suara mobil masuk mereka pun segera keluar rumah dan melihat siapa yang datang.


Ketika melihat Daviana keluar dari mobil, Anna pun langsung memeluknya dengan erat.


“Nak ... kenapa kamu gak langsung ke sini? Mami khawatir sama kamu,” kata Anna.


“Maaf, Mi ... Naima kemarin ingin menenangkan diri dulu,” balas Daviana dan bergantian mendekat ke Bayu kemudian mencium punggung tangan Bayu.


“Papi,” panggil Daviana.


“Nai, kamu yang sabar ya, Nak ... kamu pasti kuat,” kata Bayu.


“Iya, Pi. Nai InsyaaAllah ikhlas dengan jalan hidup Nai,” balas Daviana.


Lalu Daviana pun bergantian memeluk Daviandra.


“Adikku yang cantik ... udah ya nangisnya. Sekarang saatnya kamu bahagia,” ucap Daviandra.


“Iya, Mas ... makasih ya kamu selalu ada untuk aku,” balas Daviana.


“Udah tugasku, karena aku anak tertua ... iya kan?” kata Daviandra dan Daviana pun mengangguk.


“Iya, ayo masuk!” seru Anna setelahnya.


“Pa, Ma, Pi, Mi ... Andra pergi dulu ya, mau jemput Vilia dan Almeera,” kata Daviandra.


“Baiklah, Nak. Hati-hati, ya,” balas Shafa.


“Iya, Ma ... Assalamu’alaikum,” ucap Daviandra sembari menyalimi semua orang di sana.


“Wa’alaikumussalam,” balas mereka serempak setelah itu Reigha pun masuk ke ruang kerja dan disusul oleh Bayu.


Saat Reigha dan Bayu di ruang kerja, Shafa dan Anna sibuk di dapur menyiapkan makan siang. Sementara Daviana izin untuk beres-beres di kamarnya.


Di ruang kerja, Reigha tampak sedang menunggu Dani sambil membahas kerjaan bersama dengan Bayu.


Tak lama kemudian, yang ditunggu pun datang dan mengetuk pintu ruang kerja Reigha.


Tok...Tok...Tok...


“Masuk!” sahut Reigha dari dalam ruangan.


“Selamat siang, Pak,” sapa Dani di depan pintu.


“Oh ... masuk, Dan, kami udah menunggu,” kata Reigha.

__ADS_1


“Iya, Pak. Ada apa ya, Pak?” tanya Dani.


“Begini, aku minta kamu uruskan dan daftarkan Naima putriku ke fakultas kedokteran di negara S. Naima mau lanjutkan S2-nya di sana sekalian kamu urus tempat tinggalnya juga,” balas Reigha.


“Baik, Pak. Apa ada lagi, Pak?” tanya Dani kembali.


“Gimana tentang perusahaan Wijaya?” sambar Bayu bertanya.


“Saham perusahaan Wijaya udah anjlok, Pak, dan mereka dipastikan bangkrut,” jawab Dani.


“Bagus, biar tau rasa dia!” seru Reigha.


“Terima kasih ya, Dani ... atas kerja kamu,” lanjut Reigha.


“Sama-sama, Pak, udah jadi tugas saya,” balas Dani.


Sementara di kantor Wijaya, pak Hartawan sama sekali tidak menyangka kalau perusahaannya dalam hitungan jam udah gulung tikar. Pak Hartawan sangat marah dengan putranya karena dia-lah penyebab perusahaannya bangkrut.


Pak hartawan keluar menuju ke rumah sakit untuk menemui putranya. Dia melajukan kendaraannya dengan sangat kencang hingga saat sampai di belokan, karena kendaraan yang dibawanya sangat kencang hingga mobil yang dikendarai pak Hartawan menabrak pembatas. Pak Hartawan pun mengalami kecelakaan.


Sementara di rumah sakit, mama Monica yang sedang tertidur, tiba-tiba bangun berteriak memanggil suaminya.


Mama Monica tiba-tiba merasakan ada yang terjadi pada suaminya. Mama Monica pun segera memanggil Calvin dan minta Calvin untuk menghubungi papanya.


Karena ditelpon tidak bisa juga, Calvin memutuskan untuk keluar dari ruang rawat dan segera menuju ke depan rumah sakit.


Saat melewati depan IGD, Calvin melihat ada korban kecelakaan, Calvin yang penasaran pun segera mendekat dan melihat, saat Calvin melihat, dia pun langsung terkejut. Karena korban kecelakaannya adalah papanya sendiri.


Calvin segera ikut masuk ke IGD untuk bertemu dengan dokter yang hendak menangani papanya.


“Dokter, ini papa saya, bagaimana keadaan papa saya, Dok?” tanya Calvin.


“Maaf, bisa keluar dulu? Saya akan memeriksanya dulu, setelah itu saya akan menemui anda,” balas Dokter.


“Baiklah, Dokter. Tolong berikan penanganan yang terbaik ya, Dok,” pinta Calvin.


“Baik, Pak. Silakan keluar dulu!” seru Dokter.


Calvin pun segera keluar dan menunggu di depan IGD.


Tak lama kemudian, dokter pun kembali keluar, “Keluarga pak Hartawan.”


“Iya, Dokter, saya putranya,” kata Calvin mendekat ke arah dokter.


“Maaf, Pak, saat ini pak Hartawan masih belum sadar, pasien masih perlu penanganan khusus. Pak Hartawan akan di pindahkan ke ruang ICU. Dan satu lagi, Pak ... tolong siapkan keluarga yang golongan darahnya sama, pak Hartawan saat ini membutuhkan transfusi darah segera,” kata Dokter menjelaskan.


“Baik, Dokter. Tolong lakukan yang terbaik buat kesembuhan papa saya,” lirih Calvin penuh harap.


“Baiklah, Pak. Kalau begitu ... saya permisi dulu,” kata dokter sambil berlalu pergi meninggalkan Calvin.


Calvin pun duduk di ruang tunggu dan mencoba untuk menelpon Daviana ...

__ADS_1


__ADS_2