Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 36 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Kenapa sih kamu teriak-teriak, Mas?” tanya Shafa sembari memberikan teh dihadapan Reigha, Papa Harun dan juga Bayu.


“Sayang, kamu lihat HP aku gak?” tanya Reigha.


“Diatas nakas, Mas. Masa gak kelihatan?” jawab Shafa sembari bertanya kembali.


“Oh ... kalau jam tangan aku dimana, Sayang?” tanya Reigha kembali.


Shafa berlalu pergi ke dapur meletakkan nampannya dan kembali di ruang makan.


“Mas, kamu duduk di sini. Biar Shafa ambilkan apa yang Mas cari. Kamu cari apa sih, Mas?” ucap Shafa.


“Sayang, tadi Mas cari HP gak ketemu, jam tangan juga gak tau dimana, trus juga dasi aku gak tau deh hilang kemana,” racau Reigha.


Shafa berlalu pergi ke kamar kembali dan mengambil tiga barang yang membuat Reigha menghebohkan rumah pagi-pagi. Shafa pun tampak kembali ke ruang makan dan mengulurkan tangannya memberikan ketiga barang tersebut pada Reigha.


“Mas, HP dan jam tangan ini berdampingan ada di nakas loh. Kalau dasi, tadi Shafa siapkan disamping jas kamu,” tutur Shafa dan memakaikan jam tangan pada Reigha.


“Oh ... iya, ya? Makasih, Sayang,” ucap Reigha mencium lembut tangan Shafa.


Papa Harun dan Mama Dhiya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Reigha yang terlanjur bucin pada Shafa. Bahkan, barang-barangnya pun dirinya tak bisa mencari sendiri tanpa bantuan Shafa.


Bayu yang hanya menjadi penonton pun, sesekali tertawa melihat Reigha yang dulunya sangat pendiam menjadi lebih banyak bicara karena hadirnya Shafa di kehidupan dan hati Reigha.


“Fa, yang sabar, ya. Reigha sejak dulu emang gak bisa nyari barang, sama kayak Papa. Dulu selalu panggil Mama, sampai Mama tuh bingung bantu Papa dulu atau Reigha dulu. Untunglah sekarang udah punya istri yang sabar dan telaten seperti kamu,” ujar Mama membuat senyum Shafa mengembang sempurna membuat lesung pipi Shafa kelihatan.


Shafa pun duduk disamping Reigha dan mengambilkan sepiring makanan untuk Reigha makan sebelum bekerja.


Papa yang sejak tadi diam pun mulai membuka suaranya bertanya pada Reigha, “Gha, udah mulai kerja nih. Emang udah kuat?”


“InsyaaAllah udah kuat kok, Pa,” jawab Reigha sembari menerima sepiring makanan dari sang istri.


“Yaudah, asal jangan terlalu kecapean!” seru Papa Harun.


“Iya, Pa.”


Semua pun makan dengan lahap. Setelah selesai sarapan, Mama bertanya pada Shafa, “Fa, kamu hari ini di rumah?”


“Iya, Ma. Kenapa?”


“Kamu temani mama yuk. Kita ke tempat catering dan ke butik. Nanti kita langsung ke salon,” ucap Mama mengajak Shafa.


“Gimana, Mas. Boleh?” tanya Shafa yang menoleh pada Reigha meminta izin.

__ADS_1


Reigha tersenyum dan menoleh pada Shafa, “Boleh dong, Sayang. Kamu ikut Mama aja biar jalan-jalan sekalian ‘kan.”


“Makasih, Mas!” seru Shafa memeluk Reigha.


Mama dan Papa yang melihatnya pun tersenyum haru melihat anaknya telah mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya.


“Bayu, tutup mata lo!” seru Reigha yang sejak tadi melihat Bayu menjadi penonton.


“Udahdeh, mending gue ke kantor duluan,” ucap Bayu sembari menutup matanya dengan telapak tangan membuat Shafa tertawa lirih.


“Om, Tante, Bayu pamit mau ke kantor duluan,” lanjut Bayu berpamitan.


“Lho ... gak barengan sama Reigha, Nak?” tanya Mama Dhiya.


Bayu tersenyum menggaruk tengkuknya yang tak gatal, “Anu, Tan ... Bayu mau jemput calon istri dulu.”


Ucapan Bayu sontak membuat Reigha dan Shafa geleng-geleng kepala.


“Kamu gak pernah cerita kalau udah punya calon. Kok gak pernah dikenalkan ke Tante?” tanya Mama Dhiya yang langsung mengintrogasi Bayu.


“Ngapain dikenali sih, Tan ... ‘kan tante udah kenal,” balas Bayu.


“Anna, Ma,” imbuh Reigha yang melihat Mama Dhiya bingung dengan ucapan Bayu.


“Belum lah, Tan. Do’ain, ya, Tan. Hehehe,” ucap Bayu yang langsung menyalimi Om Harun dan Tante Dhiya, kemudian bergegas berlari menuju mobilnya supaya tidak ditanya-tanya lagi oleh Tante Dhiya.


Selesai sarapan, Reigha langsung menuju ke depan rumah diantar oleh Shafa. Keduanya menghampiri Farhan yang berdiri di depan mobil.


Farhan yang melihat kedatangan Reigha pun langsung membukakan pintu mobil.


“Kamu hati-hati pergi sama Mama, ya. Daa, Sayang. Assalamu’alaikum,” ucap Reigha.


“Iya, Mas. Wa’alaikumsalam,” balas Shafa menarik lengan Reigha untuk disalami olehnya.


Selepas kepergian Reigha, Shafa segera ke kamar untuk bersiap-siap untuk pergi bersama Mama Dhiya.


Setengah jam berlalu, Shafa pun keluar kamar dan mendapati Mama Dhiya yang tengah duduk di sofa ruang tamu.


“Yuk, Fa. Udah siap belum?” tanya Mama Dhiya.


“Udah, Ma. Yuk!” seru Shafa yang berjalan berdua bersama Mama Dhiya menuju garasi.


“Ma, kalau kita pergi, Papa gimana?” lanjut Shafa bertanya pada Mama Dhiya.

__ADS_1


“Fa, kenapa kamu mikirin Papa? Toh, Papa aja setelah ini langsung pergi lagi keluar kota,” balas Mama Dhiya membuat Shafa manggut-manggut paham.


Shafa dan Mama Dhiya pun kini tengah di garasi bertemu dengan Vano selaku supir Mama Dhiya. Keduanya berangkat diantar oleh Vano.


“Kita mau kemana dulu, Bu?” tanya Vano bertanya pada Mama Dhiya.


“Ke catering langganan, ya, Vano,” jawab Mama Dhiya membuat Vano segera melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Papa Harun.


Shafa mengecek ponselnya melihat notifikasi masuk dari Reigha.


“Sayang, kamu udah dimana? Sama siapa?” tanya Reigha lewat WhatsApp.


“Ini masih di jalan menuju catering, Mas. Sama Mama Dhiya diantar Pak Vano,” balas Shafa.


Mama Dhiya melihat menantunya sibuk dengan ponselnya pun langsung bertanya, “Kenapa, Fa?”


“Hmm ... biasa deh, Ma. Suami posesif Shafa menanyakan keberadaan Shafa,” jawab Shafa membuat keduanya tertawa bersamaan.


Kini mobil telat terparkir di depan catering. Mama Dhiya dan Shafa segera turun dan masuk ke dalam bertemu dengan pemilik catering tersebut, Bu Sarah.


“Akhirnya yang ditunggu datang juga,” ucap Bu Sarah sembari tersenyum senang melihat kedatangan Mama Dhiya.


“Ini siapa, Mbak?” lanjut Bu Sarah bertanya pada Mama Dhiya menujuk Shafa yang disamping Mama Dhiya.


“Ini menantuku, istrinya Reigha,” balas Mama Dhiya membuat Bu Sarah mengangguk paham.


“Cantiknya istri CEO!” seru Bu Sarah membuat Shafa menunduk malu.


Mama Dhiya dan Shafa dihadapkan dengan banyaknya hidangan. Kemudian segera mencoba satu-satu hidangan testi yang sudah dipersiapkan.


Setelah semua dicoba, Mama Dhiya bertanya pada Shafa, “Gimana, Fa ... mau yang mana aja makanannya?”


Shafa pun memilih beberapa, dan Mama Dhiya memilih beberapa juga.


Kini keduanya telah mendapatkan pilihan kurang lebih ada sepuluh macam makanan yang dipilih oleh Shafa dan juga Mama Dhiya. Setelah itu, mereka pamit pada Bu Sarah. Keluar catering dan masuk kembali ke dalam mobil.


“Ma, kita mau kemana lagi?” tanya Shafa.


“Kita ke butik temannya Mama, ya,” jawab Mama Dhiya yang didengar oleh Vano. Vano pun tanpa bertanya kembali, langsung melajukan mobil menuju butik yang Vano sendiri tentu sudah tau dimana lokasi butik tersebut.


Saat diperjalanan, Mama Dhiya melihat Anna yang berjalan sendirian.


“Fa, itu bukannya Anna?” tanya Mama Dhiya membuat Shafa segera menoleh.

__ADS_1


__ADS_2