Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 55 - S2 Menikahi Susterku


__ADS_3

Tok...Tok...Tok...


Beberapa kali diketuk tapi gak ada sahutan dari dalam, akhirnya Reigha pun membuka pintunya.


Tampak Daviandra sedang tiduran dengan mata tertutup dan telinga tertutup dengan handsfree.


“Pantesan gak dengar papanya manggil, telinganya aja ditutupin gitu,” gerutu Reigha yang mendekati Daviandra.


“Dra ... Andra,” panggil Reigha seraya menepuk-nepuk pelan badan Daviandra.


“Apasihhh,” kata Daviandra sembari menepis tangan Reigha tanpa melihat tangan siapa yang ditepis olehnya.


Reigha segera melepas handsfree dari telinga putranya.


“Ada apa, Dra? Kenapa kamu marah? Kamu ada masalah?” tanya Reigha.


Daviandra yang mendengar suara papanya pun kaget dan segera duduk dan menatap sang papa.


“Eh, maaf, Pa ... tadi Andra gak tau kalau papa yang datang,” ucap Daviandra yang setelahnya menunduk.


“Kamu ada apa, Dra? Muka kamu kasut banget loh,” kata Reigha.


“Gak ada apa-apa kok, Pa,” balas Daviandra menutup-nutupi.


“Kamu itu gak bisa bohong sama papa, Dra, katakan apa yang terjadi, Nak,” ucap Reigha.


Daviandra pun segera mengambil ponselnya dan membuka sosial medianya Chayra dan menunjukan ke papanya.


Reigha pun menerimanya dan melihat foto Chayra yang bersama dengan seorang pria.


“Owh, karena ini ... kenapa gak langsung kamu tanyakan aja, Dra?” tanya Reigha.


“Enggak ah, Pa ... lagian, Chayra kan gak tau kalau aku lagi nunggu dia, Pa,” jawab Daviandra.


“Yaudah, nanti papa bantu tanya ke om Afkar. Dah, sekarang kamu cepet mandi dan kita makan malam. Mama udah nunggu tuh, kasian mama udah capek masak dan kita telat datangnya ke meja makan,” ucap Reigha.


Daviandra dengan malas pun bangun dan ke kamar mandi untuk cuci muka setelahnya menyusul papanya untuk makan malam bersama.


Sesampainya di ruang makan, Shafa udah duduk bersama Vilia, sementara Almeera udah pamit pulang setelah keluar kamar bersama Vilia tadi.


“Papa dan mas Andra kok lama sih, Ma? Vilia dah lapar banget loh ini,” gerutu Vilia sembari menopang dagu.


“Kenapa gak makan dulu kalau udah lapar, Dek?” tanya Daviandra sambil menarik kursi untuk duduk dan segera makan.


“Isshh ... gak sopan dong, Mas, kan harus papa dan mama dulu,” jawab Vilia.


“Pintar ya anak papa!” seru Reigha.


“Yaudah, ayo kita makan ... kasian tuh Vilia udah lapar,” kata Shafa. Dan mereka pun makan dengan tenang.

__ADS_1


Setelah selesai makan, mereka pun kembali ke kamar masing-masing. Sedangkan Reigha masih menunggu Shafa selesai beberes dapur lalu mereka pun masuk ke kamar.


Di dalam kamar, Shafa menanyakan tentang Reza dan Daviana.


“Mas, gimana anak-anak kita di Bali? Udah kasih kabar apa belum?” tanya Shafa.


“Udah kok, Sayang ... Reza pun tadi udah ngabari ke aku dan Bayu kalau mereka udah sampai hotel,” jawab Reigha.


“Semoga mereka selalu bahagia ya, Mas,” balas Shafa.


“Aamiin. Tapi, Sayang ... sekarang kita pikirin tuh putra kita,” ucap Reigha membuat Shafa mengernyit bingung.


“Andra, Mas? Kenapa dengan Andra?” tanya Shafa menatap Reigha dengan serius.


“Tadi dia cerita, kalau di sosmednya Chayra itu ... ada foto Chayra sama cowok. Jadinya, seharian ini tadi dia uring-uringan terus,” jawab Reigha.


“Ooo yaudah. Nanti coba aku tanya ke mamanya ya, Mas, siapa tau kan, Chayra cerita ke mamanya,” balas Shafa.


“Iya, Sayang, kasian tuh putra kita mau nanya gak enak, soalnya Chayra kan gak tau kalau putra kita lagi nunggu dia,” kata Reigha.


“Iya, Mas ... sekarang, Mas mau istirahat atau mau selesaikan kerjaannya?” tanya Shafa setelahnya.


“Aku mau ke ruang kerja sebentar ya, Sayang, paling satu jaman boleh kan?” balas Reigha.


“Ya boleh dong, Mas ... aku di kamar aja ya, atau mau aku buatin kopi dulu?” tanya Shafa kembali.


“Udah, gak usah ya, Sayang ... cuma sebentar kok. Kamu istirahat aja di kamar,” jawab Reigha sambil keluar kamar menuju ke ruang kerjanya.


Mereka juga udah makan malam, mereka pun menuju ke kamarnya. Setelah masuk kamar, Daviana langsung berbaring di ranjang.


“Aduhh, Bang ... Nai capek,” lirih Daviana.


“Kamu sih, diajakin pulang dari tadi gak mau ... kecapekan kan jadinya,” kata Reza.


“Habisnya ... aku suka banget sekitaran sini, Bang. Lautnta, pantainya, sangat indah,” ucap Daviana.


“Yaudah, sekarang mandi gih ... udah malam, Nai,” titah Reza.


“Iya, Bang ... Nai mandi dulu ya,” kata Daviana.


“Iya. Aku telpon Andra bentar ya,” balas Reza dan diangguki oleh Daviana.


Setelah Daviana masuk kamar mandi, Reza pun segera menelpon Daviandra.


Beberapa kali ditelpon tapi gak bisa juga, akhirnya Reza pun menelpon ke Reigha.


Saat Reza menelepon Reigha, ternyata Reigha sedang berada di ruang kerjanya.


Kring...Kring...Kring...

__ADS_1


“Assalamu’alaikum, Pa,” kata Reza mengawali.


“Wa’alaikumussalam, Nak, malam-malam gini telpon ada apa? Apa ada yang terjadi sama Nai?” tanya Reigha.


“Owh, enggak kok, Pa ... kami baik-baik aja di sini. Reza mau tanya aja, Pa, dari tadi Andra aku telpon kok gak diangkat, apa dia udah tidur, Pa?” balas Reza bertanya.


“Owh ... Kamu cari Andra ya, Nak. Andra itu sedang badmood dari tadi siang, Za, mungkin sedang gak mau diganggu aja dia tuh,” jawab Reigha.


“Loh ... apa ada yang terjadi? Ada apa, Pa?” tanya Reza.


Reigha pun segera menceritakan apa yang terjadi pada Daviandra, dan setelahnya, mereka pun mengakhiri obrolannya.


Saat Reza udah menutup telponnya, Daviana pun tampak udah selesai mandi. Lalu Daviana menghampiri Reza.


“Bang, ada apa? Kok melamun?” tanya Daviana.


“Owh ... gak ada apa-apa kok, Nai. Aku mandi dulu ya,” balas Reza sembari tersenyum.


Nai lalu mengangguk dan Reza pun masuk ke kamar mandi.


“Ada apa ya? Kenapa abang melamun? Apa ada yang abang rahasiakan dariku?” lirih Daviana sembari menatap pintu kamar mandi yang telah tertutup.


Daviana pun segera merebahkan badannya di ranjang dan pura-pura tidur tapi pikirannya entah ke mana-mana.


Bunyi ceklek menandakan yang di dalam mandi hendak keluar. Reza melihat Daviana udah tidur, Reza segera berganti baju dan berbaring di sisi Daviana.


“Nai, udah tidur?” tanya Reza. Tapi Daviana sama sekali tidak bangun.


Reza berpikir pasti Daviana kecapean jadi Reza pun membiarkan Daviana istirahat.


Karena Reza blm ngantuk, Reza pun meraih ponselnya dan melihat-lihat sosial medianya Chayra untuk memastikan ucapan papanya tadi.


“Owh ... ini yang di maksud? Siapa laki-laki ini ya? Kok Chayra gak men-tag username laki-laki ini,” ucap Reza pelan.


Dan ucapan Reza barusan di dengar oleh Daviana. Daviana pun perlahan membuka matanya dan melihat kalau Reza sedang melihat foto Chayra dengan laki-laki yang tak dikenalnya.


‘Kenapa abang melihat sosial medianya Chayra? Apa sebenarnya abang suka sama Chayra? Tapi kenapa aku yang dinikahinya?’ kata Daviana dalam hati.


Daviana trus melihat apa yang di lakukan oleh Reza pada sosial media Chayra.


Reza yang menyadari kalau ada yang mengawasinya pun menengok ke arah Daviana. Ternyata istrinya itu tengah memperhatikannya.


“Lho, Nai, bangun? Ada apa? Kamu lapar?” tanya Reza.


“Enggak, Bang,” jawab Daviana dengan ketus.


“Ada apa, Nai? Kenapa tiba-tiba marah?” tanya Reza.


“Nai gak marah kok, Bang, tapi mumpung belum terlalu lama, mending kita akhiri aja pernikahan ini. Aku capek, Bang,” balas Daviana.

__ADS_1


“Nai, kamu ini kenapa? Kenapa tiba-tiba ngomong seperti itu? Aku salah apa, Nai?” tanya Reza kembali yang merasa bingung pada istrinya.


__ADS_2