
Kemudian Anggi, Ayah Reynand, dan Fathir segera mengikuti perawat. Dani juga Santi hendak ikut melangkah. Namun, terhenti karena di panggil oleh Bayu.
“Dan, kamu mau ke mana?” tanya Bayu.
“Saya juga mau ikut perawat tadi, Pak, golongan darah kami B+ juga,” jawab Dani membuat Bayu manggut-manggut.
“Oh ... yaudah pergilah!” seru Bayu.
Tak berapa lama mereka semua kembali ke depan ruang ICU.
“Bang, kita ke kantin dulu yuk, ini udah sore, Bang, Kak reigha dan Abang belum makan. Kita juga belikan makan untuk semua,” ucap Anna.
“Iya, Sayang, tapi Abang gak tega ninggalin Reigha sendiri,” balas Bayu.
“Bang, tapi anak kamu juga butuh makan loh, kamu gak khawatir?”
“Astagfirullah, Sayang ... maaf-maaf, Sayang karena ikut panik sampai gak ingat kamu juga belum makan siang. Ayo kita ke ke kantin,” titah Bayu.
Bayu menghampiri Reigha, “Gha, gue antar Anna ke kantin dulu ya, anak gue minta makan.”
“Iya, pergilah. Kasihan bayi lo sampai lo lupain,” balas Reigha.
Anna dan Bayu pun pergi bersamaan dengan perawat yang datang memberitahukan kalau yang bisa mendonorkan darahnya adalah Anggi, Dani juga Fathir dan mereka pun segera melakukan transfusi darah.
Santi diberikan surat untuk memeriksakan keadaannya ke dokter Obgyn.
Bayu dan Anna datang membawakan makanan, “Om, Tan, silahkan makan dulu sambil nunggu Shafa. Jangan sampai gak makan ya. Nanti malah sakit.”
Anna pun memberikan satu makanan ke bayu, minta bayu memberikannya ke Reigha.
“Gha, makan dulu, lo belum makan dari tadi, dan lihat itu tangan lo berdarah. Gue panggilkan perawat ya, biar dikasih obat,” ucap Bayu.
“Kenapa apa tangan kamu, Nak Reigha?” tanya Ibu Khalisa.
“Tadi pas nemenin Shafa lahiran, gak sengaja luka pas Shafa mencengkram, Bu,” jawab Reigha.
“Gue panggilkan suster biar dikasih obat ya, Gha,” ucap Bayu.
“Gak usah, Bay, luka segini gak sebanding dengan perjuangan Shafa melahirkan anak-anak.”
“Yaudah kalau lo gak mau diobati, tapi lo harus makan!” seru Bayu.
“Iya nanti gue makan kalau keadaan Shafa udah membaik.”
“Gha, nanti lo sakit malah gak bisa jaga Shafa dan anak-anak lo,” ucap Bayu.
“Iya, nanti gue pasti makan.”
__ADS_1
Santi dan Dani pamit pulang karena Santi harus periksa sesuai keterangan dari perawat tadi. Dan setelah mereka melakukan pemeriksaan, ternyata Santi sedang mengandung.
Mereka pun sangat bahagia mendengar kalau dalam beberapa bulan lagi akan mempunyai anak.
Dani segera mengajak Santi pulang, karena gak mau istrinya kecapean.
Malam pun tiba, Reigha menyuruh Bayu dan Anna pulang, karena Reigha gak mau kalau Anna sampai kecapean, Reigha tak mau egois, dia tak ingin keponakannya kenapa-kenapa karena dia tau Anna juga lagi hamil.
“Bay, ajak istri lo pulang, kasian kecapean nanti, tidur di rumah sakit gak senyaman di rumah,” titah Reigha.
“Ayah, Ibu dan Anggi juga pulang aja dulu ya, ayah dan ibu istirahat di rumah aja. Besuk pagi kesini lagi,” lanjut Reigha.
“Tapi, Kak. Anggi khawatir sama Kak Shafa,” ucap Anggi.
“Nanti jika ada kabar, pasti Kakak kabari, Gi,” balas Reigha.
Walau berat hati, akhirnya ayah, ibu dan Anggi pulang untuk istirahat setelah kedua orang tua dan adik Shafa pergi, Bayu kembali mengeluarkan suaranya.
“Gha, kalau semua lo suruh pergi, lo di sini sama siapa?” tanya Bayu.
“Gue di sini biar ditemani Fathir. Udah, lo pulang aja, jaga istri lo, jangan sampai kecapean. Gue gak mau keponakan gue kenapa-kenapa,” jawab Reigha.
“Baiklah, gue pergi. Tapi, kalau lo butuh sesuatu cepat kabari gue!” seru Bayu.
Reigha pun mengangguk dan kembali berkata, “Bay, besok kalau lo ke sini tolong bawakan gue dan Shafa baju ganti, ya.”
“Fathir, kalau kamu ada kesibukan, kamu boleh pulang,” ucap Reigha.
“Tidak, Pak, malam ini saya akan temani bapak di sini. Mungkin, besok saya akan pulang untuk bekerja di kantor,” balas Fathir.
“Baiklah, terima kasih.” Mereka berdua pun menunggu di depan ruangan ICU.
***
Satu minggu sudah Shafa dirawat di ruang ICU dan selama itu juga Reigha tidak pernah meninggalkannya.
Papa dan Mama udah datang satu hari setelah Shafa melahirkan. Dan hari ini seperti biasanya pagi ini Reigha mengajak ngobrol Shafa yang masih terbaring lemah belum sadarkan diri.
“Sayang, udah satu minggu kamu tidur terus, bangun yuk, Sayang. Kamu gak gak mau lihat anak-anak kita? Mereka menggemaskan,” ucap Reigha.
“Mas sampai sekarang belum memberikan nama untuk mereka, Mas ingin kamu tau dulu nama mereka, menunggu persetujuan kamu. Sayang, bangunlah, Mas kangen suara kamu,” lanjut Reigha sambil memegang dan mencium tangan Shafa.
Tiba-tiba Reigha melihat tangan Shafa bergerak. Reigha langsung memencet tombol untuk memanggil perawat.
“Sus, tadi tangan istri saya bergerak,” ucap Reigha saat melihat salah satu suster datang menghampirinya.
“Sebentar ya, Pak, saya panggilkan dokter dulu.”
__ADS_1
Tak lama kemudian, dokter Amanda pun datang, “Pak Reigha, tolong keluar dulu ya, saya akan memeriksa istri bapak.”
“Baiklah, Dokter.” Reigha pun segera keluar dan menunggu di depan.
Reigha berjalan mondar-mandir menunggu keluarnya dokter atau suster yang membawa berita baik padanya. Sesekali dia duduk, lalu kembali berdiri dan pandangannya tak lepas dari pintu ICU.
Tak lama, dokter pun keluar, “Pak Reigha, selamat ya, istri bapak udah sadar. Tapi, saya akan pindahkan dulu ke ruang rawat. Pak Reigha bisa mengurus dulu untuk memindahkannya di ruang mana.”
“Baiklah, Dokter. Segera saya urus,” ucap Reigha dengan sangat bahagia.
Reigha pun segera mengurus kepindahan ruang rawat istrinya. Setelah selesai mengurus kepindahan ruangan, Reigha pun segera menelpon kedua orang tuanya dan kedua mertuanya juga Bayu untuk segera ke rumah sakit.
Tak berapa lama, Reigha diberitahu kembali oleh perawat kalau Shafa udah di ruang rawat dan Reigha udah boleh bertemu istrinya.
Reigha segera masuk dan langsung memeluk Shafa sangat erat.
“Mas, kenapa kok langsung meluk Shafa seperti ini? Kamu nangis, Mas? Kenapa?” tanya Shafa.
Kalimat pertama setelah seminggu hilang dari pendengaran Reigha, kini kembali terdengar.
“Mas takut kehilangan kamu, Sayang, terima kasih kamu udah melahirkan buah hati kita dan mempertaruhkan nyawa kamu,” ucap Reigha mencium seluruh wajah Shafa.
“Iya, Mas, aku bahagia akhirnya anak-anak kita bisa lahir dengan selamat,” balas Shafa.
“Mas, anak kita boleh gak dibawa ke sini? Shafa pengen lihat anak kita,” lanjut Shafa.
“Bentar ya, Sayang, Mas tanyakan dulu ke perawatnya.” Reigha segera keluar dari ruangan dan menanyakan apa boleh anaknya dipindahkan satu ruangan dengan istrinya. Dan perawat pun akan menanyakan dulu ke dokter.
Tak berapa lama kemudian, si kembar pun udah dipindahkan ke ruang rawat Shafa beserta dengan boxnya.
Shafa yang melihat si kembar masuk langsung ingin menggendongnya.
“Suster, biar saya gendong dulu,” pinta Shafa.
Dan perawatpun segera memberikan si kembar ke Shafa dan Reigha.
“Lihat anak kita, Mas. Sangat lucu. Apa Mas udah siapkan nama untuk mereka?” tanya Shafa.
“Iya, Sayang, Mas udah siapkan namanya, tinggal nunggu persetujuan dari kamu,” jawab Reigha.
“Siapa namanya, Mas?”
“Anak laki-laki kita namanya adalah Daviandra Najmu Abqari. Dan anak perempuan kita namanya adalah Daviana Naima Abqari. Gimana, Sayang?” balas Reigha memberitahukan nama si kembar pada sang istri dan pada readers.
“Daviandra dan Daviana. Bagus, Mas, Shafa setuju.”
“Hai, Daviandra, Daviana ... ini Mama, Sayang. Semoga kalian kelak akan menjadi anak yang soleh dan solehah ya, Nak,” lanjut Shafa.
__ADS_1
“Aamiin, Mama,” sahut Reigha membuat Shafa menoleh dan keduanya saling tatap.