
Bayu pun segera keluar untuk mengurus administrasi untuk kepulangan istrinya.
Namun, saat di lorong rumah sakit, Bayu dihentikan oleh seseorang dan menampar dirinya.
“Siapa anda? Kenapa menampar saya?” tanya Bayu terkesan protes.
“Saya adalah mamanya Ivanka. Kamu udah merusak masa mudanya karena sekarang dia di penjara. Saya minta bebaskan dia,” jawab mamanya Ivanka.
“Oh, maaf tidak bisa. Ivanka dipenjara karena kesalahannya dia sendiri, Bu, harusnya ibu menguatkan dia, siapa tau setelah Ivanka di penjara dia jadi manusia yang lebih baik lagi,” balas Bayu.
“Omong kosong, kamu dengar kan, segera ke kantor polisi dan cabut laporan kamu!” seru mamanya Ivanka.
“Maaf, gak bisa. Saya sedang sibuk karena istri saya sedang hamil dan sekarang dirawat di rumah sakit ini,” ucap Bayu.
“Heh, kamu berani melawan saya? Kamu gak tau siapa keluarga kami?”
“Kalau saya benar, saya gak akan takut, permisi.” Bayu berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut menuju ke tempat administrasi.
Setelah selesai membayar biaya rawat inap, Bayu pun segera kembali ke ruang rawat Anna dan ternyata Anna sedang mengobrol dengan mama Dhiya.
“Assalamu’alaikum, Ma. Kok kesini? Kita mau pulang, Ma,” kata Bayu.
“Wa’alaikumussalam, ya gapapa. Ayo kalau gitu kita pulang, mama udah bereskan baju-bajunya,” balas mama Dhiya.
“Terima kasih, Ma. Maaf ngrepotin,” ucap Anna.
“Gak repot kok, Na, masa gitu aja repot. Loh, Bay, pipi kamu kenapa?” tanya mama Dhiya.
Anna pun segera menoleh ke wajah suaminya, “Iya, Bang. Kamu seperti habis di tampar orang deh,” imbuh Anna.
“Gapapa kok, Sayang, yuk kita pulang!” seru Bayu.
Bayu segera keluar mengambil kursi roda, lalu membawa masuk, setelah di dalam Anna segera duduk di kursi tersebut dan segera di dorong keluar oleh mama Dhiya.
Bayu membawakan pakaian dan barang lainnya yang dibawa sewaktu Anna di rawat.
“Ma, Bayu duluan mau ngaruh barang-barang dulu. Lalu bawa mobil ke lobby ya,” ucap Bayu.
“Iya, Bay. Mama dan Anna tunggu di depan,” balas Mama Dhiya.
Bayu pun segera ke tempat dimana mobil terparkir. Setelah itu, Bayu segera melajukan mobilnya menuju ke lobby rumah sakit. Mama Dhiya dan Anna udah menunggu Bayu di lobby rumah sakit. Saat bayu mendekat ternyata mama Dhiya sedang berbincang akrab dengan perempuan yang menampar Bayu tadi.
Bayu langsung turun dan membawa Anna masuk, setelah selesai semua tinggalah mama Dhiya, bayu pun segera menghampiri mama Dhiya.
“Udah, Bay, yuk kita pulang. Jeng Mutia, saya pulang dulu ya. Sampai jumpa nanti!” seru mama Dhiya.
“Tunggu, Jeng, kok kamu kenal sama laki-laki ini?” tanya Mutia.
“Oh, iya, perkenalkan jeng, ini bayu putra kedua saya,” jawab mama Dhiya membuat Mutia selaku mamanya Ivanka kaget.
“Apa? Jadi laki-laki ini anaknya kamu, Jeng?” tanya Mutia.
“Iya, Jeng, kenapa sih kok kaget gitu?” tanya mama Dhiya.
“Gapapa kok, Jeng, nanti kapan-kapan kita ketemu lagi. Bye, Jeng. See you!” jawab Mutia sembari melambaikan tangannya.
__ADS_1
Mama Dhiya pun hanya membalas lambaian tangan setelah itu masuk ke mobil Bayu. Setelah itu, mobil melaju menuju ke rumah papa Harun.
Di tempat Shafa, sejak tragedi penculikan Reza, Shafa sengaja menunggui anak-anak agar Shafa lebih merasa tenang.
Bobby juga terlihat mengawasi sekeliling, takut ada yang mencurigakan.
Tak lama, terdengar ponsel Shafa berbunyi, adanya panggilan masuk.
“Assalamu’alaikum, Ma, ada apa?” tanya Shafa saat panggilan telpon udah terhubung.
Wa'alaikumussalam, Fa, kamu di rumah gak, Nak?” tanya mama Dhiya.
“Shafa lagi jagain anak-anak, Ma, takut kejadian kemarin terulang lagi,” jawab Shafa.
“Oh, yaudah kalau gitu, mama hanya mau ngabari aja kalau Anna udah pulang dari rumah sakit, Fa,” kata mama Dhiya.
“Alhamdulillah, nanti Shafa langsung pulang ya, Ma, kangen rasanya beberapa hari gak ketemu Anna,” balas Shafa.
“Iya, Fa. Yaudah, ya ... mama pulang dulu. Assalamu'alaikum,” ucap mama Dhiya.
“Iya, Ma. Wa’alaikumussalam,” balas Shafa.
Di dalam mobil, akhirnya mama Dhiya yang dari tadi penasaran pun mulai bertanya pada Bayu.
“Bay, sebenarnya siapa yang nampar kamu? Katakan jujur pada Mama, Bay,” titah mama Dhiya.
“Hmm, sebenarnya wanita yang tadi ketemu mama di lorong yang nampar aku, Ma,” kata Bayu membuat mama mengernyit bingung.
“Kamu itu punya masalah apa sama Mutia, Bay?” tanya Mama Dhiya.
“Lalu kok bisa gak kenal tapi nanpar gitu sih, Bang?” sambar Anna yang ikut bertanya.
“Dia ternyata adalah mamanya Ivanka, jadi beliau minta anaknya dibebaskan dari penjara,” jawab Bayu.
“Oh, gak. Mama gak setuju, jangan dibebaskan. Bahaya!” seru mama Dhiya.
“Emang Ivanka kenapa di penjara, Bang?” tanya Anna penasaran.
“Reigha yang masukin ke penjara, Sayang. Mungkin masalah kerja sama,” jawab Bayu yang tak mau menbuat Anna kepikiran.
“Oh, kirain Ivanka berulah lagi,” sambar Ivanka.
Akhirnya mereka pun sampai di rumah Bayu, “Ma, maaf ya, mama jadinya harus jalan kaki pulang ke rumah,” kata Bayu yang gak enak ini.
“Mama gapapa kok, Bay, penting Anna cepat istirahat dan cepat sembuh!” seru mama Dhiya.
“Iya, Ma. Makasih ya, Ma. Mama-lah yang selama ini dah baik sama Bayu,” ucap Bayu.
“Kamu nih apa-apaan sih, Bay, semua orang tua pasti akan baik sama anaknya,” balas Mama Dhiya.
Mereka pun segera masuk ke rumah , Anna segera istirahat, “Bay, mama pulang dulu ya.”
“Iya, Ma, makasih ya,” kata Bayu.
Mama Dhiya pun segera lewat pintu samping dan segera masuk ke rumah
__ADS_1
Saat siang tiba, anak-anak udah pulang ke rumahnya papa Harun dan tampak berlarian memasuki rumah.
“Assalamu’alaikum,” salam mereka serempak
“Wa’alaikumussalam,” ucap Mama Dhiya berhambur memeluk tiga cucunya.
“Gimana sekolahnya, Sayang? Menyenangkan?” tanya mama Dhiya.
“Iya, Oma, alhamdulillah Nai sangat senang sekolah di tempat itu,” jawab Daviana dengan bersemangat.
“Oma, papi dan mami kapan pulang?” tanya Reza.
“Papi dan mami kamu udah pulang, Sayang, sekarang ada di rumahnya. Eza pulang lewat pintu samping aja ya,” titah oma.
“Oke, Oma, Eza mau ketemu papi dan mami,” kata Reza berlari dan segera lewat pintu samping.
“Jangan lari-lari, Nak. Hati-hati!” teriak Shafa.
“Iya, Mama,” balas Reza tetap berlari hingga sampai di rumah Bayu.
“Assalamu’alaikum, Mami!” teriak Reza tatkala sampai di dalam rumah.
Tapi Reza melihat rumah yg tampak sepi, “Mami, papi kalian kemana?”
Akhirnya Reza memutuskan untuk masuk ke kamar maminya.
Ternyata maminya sedang tidur, Reza pun mencari papinya ternyata Bayu sedang menelpon Reigha.
“Baiklah, Gha, atur aja. Gue percaya sama lo,” kata Bayu kemudian menutup telponnya.
Serelah menutup telponnya, Bayu melihat ada Reza berdiri di depan ruang kerjanya.
“Sayang? Kenapa di situ? Ayo masuk!” seru Bayu.
“Iya, Papi. Pi, Eza kangen papi,” balas Reza sembari memeluk Bayu.
“Papi juga kangen sama Eza, kangen banget,” kata Bayu.
“Papi, mami masih sakit ya? Kok masih tidur aja?” tanya Reza.
“Mami masih masa pemulihan, Sayang, jangan diganggu dulu ya,” jawab Bayu.
“Yaudah, kalau gitu Eza ke rumah papa aja. Oma dan opa di rumah mau reza ajak main bareng Andra dan Naima,” balas Reza.
“Iya, hati-hati, Nak. Nanti di rumah oma makan siang dulu ya,” titah Bayu.
“Iya, Papi.”
Reza kembali melewati pintu samping hingga sampai di rumah papa Reigha.
“Assalamu’alaikum!” salam Reza berteriak.
“Wa’alaikumussalam, udah ketemu papi dan mami?” tanya Shafa.
“Mami lagi tidur, Ma,” jawab Reza.
__ADS_1
“Mama, Eza lapar,” ucap Reza memerangi perutnya.