
“Mas, gimana dong ini, sepertinya ada yang mengikuti kita nih, Mas, gimana ini?” ucap Shafa panik.
“Sayang, kamu tenang aja ya, suruh Vano hati-hati dan kunci mobilnya, shareloc ya, Sayang, kami akan menyusul kalian segera,” balas Reigha.
“Emm ... baiklah, Mas.”
Shafa menutup telponnya dan segera meminta Vano mengunci pintu mobil.
“Ada apa, Gha?” tanya Bayu penasaran.
“Itu, Shafa dan Anna ngantar sekolah diikuti sama seseorang,” jawab Reigha.
“Trus kita gimana? Gak mungkin kan kalau itu Alex?” balas Bayu.
“Gue belum tau pastinya, tapi sebaiknya kita secepatnya ikuti shareloc dari mamanya anak-anak,” jawab Reigha. Bayu segera mempercepat laju mobilnya karena dia mulai cemas.
Sementara di dalam mobil, Shafa yang juga cemas menyuruh Vano untuk melajukan mobilnya agar mobil yang mengikuti mereka gak bisa mengejarnya.
Si kembar dan Reza yang merasa ada sesuatu terjadi pun bertanya, “Ma, ada apa?” tanya Daviandra.
“Gapapa kok, Sayang, kalian tenang aja, ya,” balas Shafa lembut.
Dan secara kebetulan di depan ada polisi. Membuat Shafa segera menyuruh Vano menghentikan mobil, “Vano, itu ada polisi, kita berhenti aja.”
“Baik, Bu.” Vano pun segera menghentikan mobilnya. Polisi segera menghampiri mobil yang ditumpangi oleh Shafa dan lainnya.
“Selamat pagi, Bu, ada yang bisa kami bantu?” tanya salah satu polisi yang bertugas.
“Maaf ya, Pak, kami dari tadi diikuti sama mobil itu, Pak, yang warna hitam itu,” jawab Shafa sembari mengedarkan jari telunjuknya menunjuk ke mobil yang mengikuti mobil mereka tadi.
“Baik, Bu, saya akan langsung menanyakan ke pengendara mobil tersebut.” Polisi pun dengan segera menuju ke arah mobil yang ditunjuk oleh Shafa.
Namun, saat polisi semakin mendekat, mobil itu segera berbalik arah dan melaju kencang.
Polisi kembali ke tempat semula, dimana Shafa masih berdiri di sana.
“Maaf, Bu, saya belum berhasil meminta penjelasan pengendara mobil tersebut. Tapi, ibu gak perlu khawatir, saya udah mencatat plat mobilnya. Sekarang, silakan ibu ke kantor polisi untuk membuat laporan, agar penyelidikan segera di mulai,” jelas polisi tersebut pada Shafa.
“Baik, Pak, tapi saya mengantar anak saya dulu ya,” balas Shafa diangguki oleh polisi.
“Silakan, Bu. Dan, jangan lupa selalu berhati-hati ya, Bu,” kata polisi kembali berjaga.
“Terima kasih, Pak.” Shafa kembali masuk mobil dan menyuruh Vano bergegas ke sekolah si kembar dan Reza.
Di dalam mobil, Anna yang penasaran pun bertanya pada Shafa, “Fa, kira-kira siapa ya itu tadi?”
“Gue juga gak tau, Na, akhir-akhir ini memang ada yang meneror keluarga kita,” jawab Shafa.
“Iya, benar itu, semalam juga, pulang dari rumah budhe kami juga dihadang,” balas Anna.
“Makanya itu, kita perlu waspada dan hati-hati, Na,” kata Shafa.
__ADS_1
Dan tak lama ada sebuah mobil yang mengklakson agar mobil yang ditumpangi Shafa berhenti.
Shafa menoleh dan ternyata adalah mobil Reigha. Shafa meminta Vano menghentikan mobil.
Vano segera menepi dan berhenti, kemudian mobil Reigha pun ikut berhenti.
“Gimana, Sayang?” tanya Reigha.
“Mas, nanti dulu ceritanya ya, ini anak-anak mau sekolah takutnya telat,” balas Shafa.
“Yaudah, kami mengikuti dari belakang ya, Sayang,” kata Reigha dan diangguki oleh Shafa.
Mereka melaju hingga sampai di sekolah anak-anak. Shafa dan Anna turun dan mengantar anak-anaknya masuk ke kelas, setelah memastikan anak-anaknya aman mereka pun segera keluar dan bertemu suaminya.
“Sayang, kamu gapapa kan?” tanya Reigha.
“Aku gapapa kok, Mas, alhamdulillah tadi di jalan bertemu polisi jadi kami selamat, Mas,” jawab Shafa.
“Bang, kami di suruh ke kantor polisi untuk memberikan laporan. Gimana?” kata Anna menoleh pada Bayu.
“Na, loe pulang aja ya, istirahat, biar gue aja yang ke kantor polisi. Ingat, lo lagi hamil,” ucap Shafa.
“Bay, loe temani Anna ya, biar gue dan Shafa yang ke kantor kepolisian,” ujar Reigha.
“Oke, tapi setelah gue antar Anna, gue nyusul lo ya,” balas Bayu.
“Iya, gapapa. Tapi, Anna antar ke rumah mama aja,” ucap Reigha, dan Bayu pun memgangguk segera pergi menuju rumah papa Harun.
Di kantor polisi, ternyata Alex udah tampak menunggu, “Gue kira lo gak datang? Seorang CEO itu harusnya memberi contoh, datang tepat waktu bukannya terlambat seperti ini.”
“Sory, tadi istri gue diikuti orang gak di kenal, jadi gue harus memastikan keselamatan istri gue dulu,” balas Reigha.
“Ternyata banyak juga ya musuh lo,” celetuk Alex tersenyum sinis pada Reigha.
“Gue gak punya musuh dan gue gak mau mencari musuh!” seru Reigha.
“Mas, aku masuk dulu melapor ya,” ucap Shafa membuat netra Reigha dan Alex menoleh pada Shafa.
Dan setelah Reigha mengangguk Shafa pun masuk untuk melaporkan kejadian tadi.
Setelah Shafa masuk, tinggalah Reigha dan Alex, “Gimana? Ayo kita segera bebaskan Binar,” ucap Alex yang tak sabaran.
“Tunggu istri gue dulu, kalau dia udah selesai urusannya baru kita juga selesaikan urusan kita,” balas Reigha.
“Oke, gak masalah. Gha, istri lo ternyata cantik juga, dapat darimana? Kalau lo dah bosan, kasih ke gue aja,” kata Alex membuat Reigha kesal.
“Jangan kurang ajar, istri gue akan selamanya bersamaku. Dan gue gak akan bosan dengannya!” seru Reigha geram dan emosi.
“Oke, santailah, Bro. Lagian, gue juga gak maksa kok,” balas Alex.
Tak berapa lama, Shafa pun keluar dan bertepatan dengan datangnya Bayu juga pengacara Reigha.
__ADS_1
“Gha, gimana?” tanya Bayu yang udah di dekat Reigha.
“Itu Shafa bru selesai buat laporan, sekarang kita menuju ke tempat Binar di tahan,” jawab Reigha.
“Ngapain, Mas?” tanya Shafa berbisik.
“Sayang, nanti mas jelaskan ya, sekarang kamu ikut mas dulu,” jawab Reigha. Dan, Shafa pun menurut.
“Lex, kenalin ini pak Nugroho pengacara gue,” ucap Reigha memperkenalkan pengacaranya.
“Ngapain lo pakai pengacara segala,” protes Alex.
“Nanti sampai ruang tunggu lo juga tau,” balas Reigha dengan santainya.
Dan sampaikan mereka di ruang besuk. Mereka pun duduk menunggu Binar.
Setelah sampai, tatapan Binar menatap ke semua orang. Dan, tatapannya terkunci saat dia melihat shafa seketika dia langsung emosi.
“Ngapain lk kesini? Mau ngetawain gue?” teriak Binar yang ternyata tak berubah selama di penjara.
Shafa hanya diam aja dan memegang tangan Reigha. Reigha yang tau istrinya takut langsung berbisik, “Kamu tenang ya, Sayang, Mas akan selalu menjaga kamu.”
“Kak, ada apa ini? Kenapa kesini ramai-ramai?” tanya Binar pada Alex.
“Reigha akan membebaskanmu. Jadi kamu akan segera menghirup udara luar,” jawab Alex.
“Benarkah? Reigha kamu lakuin ini pasti karena kamu masih cinta sama aku kan?” ucap Binar dengan percaya dirinya.
Reigha tak menjawab, namun dia menyodorkan kertas perjanjian dan berkata, “Baca ini.”
Tak menunggu lama, Binar pun menerima dan membacanya. Setelah selesai membaca, keningnya tampak mengkerut dan menoleh pada Reigha.
“Apa-Apaan ini? Enggak, aku gak setuju, Gha,” protes Binar.
“Oke, baiklah, kalau gitu gue permisi. Buang-buang waktu saja!” seru Reigha yang memang udah malas jika bertemu dengan Binar.
Saat hendak berdiri, Alex pun menghentikannya, “Tunggu ... beri lima menit untuk menjelaskan ke Binar.”
Alex pun segera menjelaskan dengan jelas, kemudian Binar kembali protes, “Kak, apapun itu aku gak mau pergi dari Indonesia, dan aku akan tetap memperjuangkan cintaku.”
“Makin ke sini, makin ngawur lo, ya. Memperjuangkan cinta siapa? Bahkan Reigha saja udah gak ada rasa sama lo!” seru Bayu.
“Tutup mulut lo, gue akan buktikan kalau Reigha akan kembali sama gue,” balas Binar sangat percaya diri kalau dia akan mendapatkan Reigha kembali.
“Binar, tolong diam. Dan, tanda tangani segera!” seru Alex.
“Nggak, pokoknya gak mau, Kak, aku gak mau,” kata Binar protes pada Alex.
“Baiklah, kalau gak mau, kamu akan selamanya di penjara,” ucap Alex langsung pergi.
“Kak, kak, jangan pergi. Baiklah, aku akan ikuti kemauan kakak,” balas Binar menghentikan langkah Alex.
__ADS_1