Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 50 - S2 Menikahi Susterku


__ADS_3

“Ini, Fa … tadi Anna telpon gue untuk dijemput lo, bisa? Karena Reza itu tiba-tiba ada acara mendadak,” ucap Bayu.


“Bisa, emang di mana Anna?” tanya Shafa.


“Dia ada di kantornya Reigha, karena Reza sepertinya lama. Jadinya, bisalah sekalian lo anter makan siang Reigha dan Andra,” jawab Bayu dan setelahnya memberi saran pada Shafa.


“Oke. Itu ide bagus. Kapan lagi kan tiba-tiba datang ke tempat suami, kayak di novel-novel gitu,” kata Shafa.


“Nah, yaudah berangkat gih, kasihan istri gue nungguin lama nanti, Fa,” ucap Bayu.


“Bentar gue siap-siap dulu, sekalian siapin bekal makan siang buat suami dan anak gue,” balas Shafa dan diangguki oleh Bayu.


Dan selama Shafa bersiap-siap, orang WO udah dikabarkan oleh Bayu untuk segera berkumpul di pintu samping.


Tak lama kemudian, tampak Shafa menuruni tangga dan mendekat pada Bayu.


“Bay, gue pergi ya ... lo mau di rumah atau pulang ke rumah lo?” tanya Shafa.


“Gue di sini bentar, Fa. Gue mau ke ruang kerja Reigha ambil kontrak kerja PT Persada Hutama,” jawab Bayu.


“Oke, gue pergi dulu. Assalamu’alaikum,” kata Shafa.


“Wa’alaikumussalam,” balas Bayu.


Dan setelah Shafa pergi dan tak terlihat. Bayu segera membuka pintu samping dan orang WO yang sejak tadi udah bersiap pun segera masuk.


“Langsung dipersiapkan dengan cepat ya, di halaman belakang aja!” seru Bayu.


“Baik, Pak, akan secepatnya saya persiapkan,” ucap salah satu orang WO.


Sambil menunggu orang WO mempersiapkan semua, Bayu pun menelpon Afkar untuk mengundang ke acaranya dan mengatakan tentang rencananya. Setelah mendapat jawaban memuaskan dari Afkar, mereka pun mengakhiri telponnya.


Gak terasa persiapan pernikahan Reza pun selesai, Bayu tampak tersenyum puas atas kerja keras orang WO.


Sedangkan di kantor Reigha, Shafa langsung mencari Anna tapi belum ketemu akhirnya Shafa memutuskan untuk menuju ke ruangan Reigha untuk mengantarkan makan siangnya.


Tok...Tok...Tok...


“Masuk!” sahut Reigha dari dalam ruangan.


“Assalamu’alaikum, Mas,” ucap Shafa membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.


“Wa’alaikumussalam ... loh, sayang kok ke sini? Ada apa? Kok gak ngabari dulu?” tanya Reigha bertubi-tubi.


“Tadi Anna minta tolong aku untuk jemput ke sini, tapi sampai sini aku belum ketemu sama Anna, Mas,” jawab Shafa.


“Ya udah, ditunggu di sini aja ... nanti pasti dia telpon, sambil temani aku makan siang, ya,” kata Reigha.


“Iya, Mas ... itu punya Andra ya, Mas, ajak aja sekalian makan di sini,” ucap Shafa.


“Iya, Bentar ... mas telpon dulu,” balas Reigha dan diangguki oleh Shafa.

__ADS_1


Setelah menelpon Daviandra, Reigha duduk kembali di sebelah istrinya.


“Udah, sekarang kita makan dulu ... Andra biar nanti nyusul,” ucap Reigha.


Shafa pun mengiyakan dan mereka pun segera makan siang berdua. Tak lama kemudian, Daviandra tampak masuk tanpa mengetuk pintu.


“Assalamu’alaikum, Pa, Ma,” kata Daviandra masuk ke dalam ruangan.


“Wa’alaikumussalam, Nak ... ayo duduk sini trus makan,” titah Shafa.


Daviandra pun menurut dan duduk lalu ikut makan siang bersama papa dan mamanya.


Setelah selesai makan, Shafa pun segera menelpon Anna. Tapi di coba berapa kali tetap tidak direspon oleh Anna.


“Mas, gimana ini ... belum direspon juga sama Anna loh,” lirih Shafa.


“Yaudah kamu tunggu di sini aja, nanti kalau belum datang juga kita pulang bareng aja,” kata Reigha.


“Pa, Ma, Andra kembali kerja lagi ya,” pamit Daviandra.


Dan kedua orang tua itu hanya menganggukan kepalanya. Daviandra pun segera keluar dari ruangan papanya.


Sedangkan di tempat Reza dan Anna ...


“Mi, apa lagi, Mi? Ini banyak banget belajarnya, katanya cuma beli cincin,” ucap Reza.


“Kan sekalian, Sayang, namanya lamaran itu harus bawa hantaran juga,” balas Anna.


“Kamu tolong antar mami dulu ke kantor papa kamu, mama kamu nunggu mami di sana, kami mau ke salon dulu setelah itu kamu langsung pulang, barang-barangnya biar tetap di mobil aja. Kamu ngerti, Nak?” jawab Anna menjelaskan.


“Ngerti, Mami ... yaudah yuk kita ke kantor papa,” ucap Reza yang segera membawa mobilnya meluncur ke kantor Reigha.


Sesampainya di depan kantor, Anna segera turun setelah pamit Reza. Sementara Reza melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.


Setelah Reza udah tak terlihat, Anna pun segera masuk ke kantor dan langsung menuju ke ruangan Reigha.


Tok...Tok...Tok...


“Assalamu’alaikum,” ucap Anna membuka pintu ruangan Reigha.


“Wa’alaikumussalam, Na ... hmm, ni dia, katanya minta di jemput, tapi gue telpon gak diangkat,” gerutu Shafa.


“Hehehe ... iya, maaf ... tadi itu gue ketemu teman di kantin dan keasyikan ngobrol deh. Yaudah yuk kita pulang, Fa,” ajak Anna.


“Ayo. Mas, aku pulang dulu ya,” pamit Shafa pada Reigha.


“Iya, Sayang ... kalian hati-hati, ya,” balas Reigha.


“Iya, Mas. Iya, Kak,” kata Shafa dan Anna barengan.


Shafa dan Anna segera keluar dari ruangan Reigha dan segera menuju ke mobil Shafa.

__ADS_1


Di dalam mobil, Anna ingin mengajak Shafa ke salon dan sekalian make up untuk acara nanti malam.


“Fa, kita ke salon dulu yuk,” ajak Anna.


“Emm ... boleh deh, ayo kita ke salon langganan kita aja ya,” balas Shafa.


Dan mereka pun segera menuju ke salon langganan yang Shafa maksud.


Sesampainya mereka di salon, mereka segera melakukan perawatan dan setelah selesai, Anna meminta Shafa untuk make up. Walaupun Shafa bingung tapi Shafa nurut aja. Akhirnya mereka berdua pun bersandar dan memakai baju yang udah disiapkan oleh Anna.


Saat Anna udah selesai, tampak Shafa yang masih belum selesai dimakeup. Anna pun perlahan menjauh dan meminta beberapa orang salon menuju ke rumah Reigha dan berpesan untuk merias Daviana.


Tak terasa malam pun tiba, Shafa dan Anna udah tampak sampai di rumah Reigha.


Shafa terkejut karena di rumahnya sedang ramai tamu.


“Loh ... Na, ini ada acara apa ya?” tanya Shafa.


“Nanti kamu juga tau, Fa, sekarang kita lihat Naima dulu yuk,” ajak Anna.


Shafa dan Anna pun bergegas ke kamar Daviana.


Tok...Tok...Tok...


“Assalamu’alaikum, Sayang, mama dan mami boleh masuk?” teriak Shafa dari luar kamar.


“Masuk aja, Ma, Mi,” balas Daviana.


Saat Shafa masuk Shafa terkejut karena Daviana udah berdandan cantik. Sementara Anna tampak tersenyum puas dengan kerja orang salon yang begitu tepat waktu merias Daviana.


“Ma, Mi, ini sebenarnya ada apa sih?” tanya Daviana yang tampak bingung.


“Ayo sekarang kita ke depan, biar kalian gak bertanya-tanya lagi,” balas Anna dan diangguki oleh Shafa dan Daviana.


Saat mereka udah di depan, tampak di ruang tamu udah ramai orang, ada Reigha, Daviandra, Bayu dan Reza juga duduk di ruang tamu.


“Ayo kalian duduk dulu!” seru Bayu.


Setelah semua duduk, Bayu pun segera memulai acaranya.


“Baiklah karena semua udah berkumpul, sekarang Reza yang akan memberitahukan maksud diadakannya acara ini,” ucap Bayu.


“Ehmm ... Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat malam semua, mohon maaf sebelumnya kalo acara ini terkesan mendadak. Pa, Ma, Ndra ... maksud dari Reza, Papi dan Mami mengadakan acara ini adalah u—untuk ... untuk melamar Naima,” ucap Reza dengan lantang.


“Daviana Naima Abqari, aku Alfareza Arfan Pratama ... mau melamar kamu dan menjadikan kamu satu-satunya istri aku dan berjanji akan selalu membahagiakan kamu. Apa kamu bersedia menerima lamaranku?” lanjut ucapan Reza dengan lantang.


Reigha, Shafa, dan Daviandra yang mendengar pun terharu begitu juga dengan Daviana yang tampak mematuhi kaget. Daviana tampak tak kuasa menahan air matanya dan lolos begitu saja.


“Ma ... Pa ...,” lirih Daviana sambil terisak.


“Nak, semua keputusan ada di tangan kamu, papa dan mama mendukung sepenuhnya keputusan kamu,” kata Reigha.

__ADS_1


“Za, sebelum aku jawab, bisakah kita bicara empat mata sebentar?” pinta Daviana.


__ADS_2