Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 123 - Menikahi Susterku


__ADS_3

Dan saat Bayu hendak keluar ruangan, tiba-tiba papa Harun mengalami sesak nafas, mama Dhiya pun langsung panik dan segera memencet tombol darurat.


Perawat segera datang dan bertanya ke mama Dhiya, “Ada apa, Bu?”


“Itu, Sus, suami saya tiba-tiba mengalami sesak nafas,” jawab mama Dhiya.


“Sebentar ya, Bu.” Perawat pun segera keluar dan menelpon dokter.


Tak lama, dokter segera datang dan memeriksanya.


“Maaf, Bu, suami ibu harus dibawa ke ICU. Karena suami ibu sesak nafas dan nyeri perut. Jadi harus di lakukan penanganan lebih lanjut,” kata dokter memberitahu.


“Baiklah, Dokter. Tolong lakukan yang terbaik pada suami saya ya, Dok,” pinta mama Dhiya.


“InsyaaAllah ya, Bu. Tolong bantu do'a juga.”


Dan tak berapa lama, perawat pun membawa papa Harun ke Ruang ICU. mama Dhiya dan Reigha menunggu di luar.


Setelah papa Harun masuk ICU, Reigha segera menyuruh Bayu pulang ke rumah.


Bayu pun segera mengendarai mobilnya menuju ke rumah papa Harun. Setelah sampai rumah, Anna dan Shafa sedang menunggu di ruang tengah.


“Assalamu’alaikum,” salam Bayu melangkah masuk ke dalam rumah.


“Wa’alaikumussalam,” kata Shafa dan Anna bersamaan.


“Bang, gimana kabar papa?” tanya Anna.


“Papa di ruang ICU, Sayang, kita do'ain ya semoga papa cepat sembuh,” jawab Bayu.


“Aamiin,” balas mereka serempak.


Setelah mengobrol akhirnya mereka pun istirahat, Shafa yang sendirian akhirnya tidur di kamar Daviana.


***


Tujuh hari udah berlalu, papa Harun yang masih dirawat di rumah sakit dan kondisinya semakin lemah, trombosit semakin menurun. Selama satu minggu juga papa Harun masih di ruang ICU.


Hari ini setelah dokter memeriksa, papa Harun dikabarkan kondisinya kritis, mama Dhiya menangis mendengar kabar tersebut.


Bayu yang hari ini menemani mama pun segera menelpon Reigha, karena Reigha ada meeting yang tidak bisa diwakilkan.


“Assalamu’alaikum, Gha, lo udah selesai meetingnya?” tanya Bayu.

__ADS_1


“Wa'alaikumussalam, Bay, baru aja selesai. Ada kabar terbaru tentang papa?” balas Reigha bertanya.


“Gha, papa kritis, lo ke rumah sakit ya,” pinta Bayu.


“Ya Allah ... iya, gue ke rumah sakit sekarang juga.”


Tak lama kemudian telpon pun ditutup, Reigha langsung keluar kantor dan mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, ternyata Shafa dan Anna juga udah berada di rumah sakit.


“Sayang, kok kamu udah sampai sini?” tanya Reigha.


“Setelah Bayu ngabarin, kami langsung ke rumah sakit, Mas,” jawab Shafa.


"Gimana sekarang keadaan papa?” tanya Reigha kembali.


“Dokter belum keluar lagi, Mas,” jawab Shafa.


Dan tak berapa lama dokter keluar memberi kabar duka kalau papa Harun meninggal dunia. Semua pun kaget gak menyangka kalau papa Harun akan pergi secepat ini.


Mama Dhiya yang mendengar kabar tersebut langsung pingsan. Sedangkan Reigha dan Bayu merasa sangat kehilangan. Reigha dan Bayu langsung terpuruk di lantai rumah sakit dan menangis. Shafa dan Anna mendampingi suaminya dan memberikan kekuatan agar suami-suami mereka bisa kuat dan mengikhlaskan kepergian papa Harun.


“Mas, mas harus kuat, kalo mas g kuat gmn nanti dengan mama? Mama butuh kamu sebagai kekuatannya, Mas,” kata Shafa.


Tak lama, perawat pun datang meminta salah satu anggota keluarga untuk mengurus surat kematian dan administrasinya. Reigha pun langsung berdiri dan mengikuti perawat. Sedangkan bayu mengikuti perawat lain untuk membawa papa Harun ke kamar jenazah.


Shafa dan Anna ke ruangan dimana mama Dhiya terbaring pingsan. Shafa dan Anna menunggui mama Dhiya sampai sadar. Tak lama dari itu, mama Dhiya sadar dan langsung menangis memeluk Shafa.


“Ma, mama yang sabar ya, Ma. Ikhlas ya, Ma,” titah Shafa.


“Kenapa papa cepat banget ninggalin mama, Fa,” kata nama sambil nangis tersedu-sedu.


“Itu udah takdir, Ma, mama harus sabar ya,” balas Anna ikut memeluk mama Dhiya memberikan kekuatan.


“Mama mau ikut papa aja, Fa, Na, mama rasanya gak sanggup hidup tanpa papa,” kata mama Dhiya.


“Ma, mama hak boleh bicara seperti itu. Sadar, Ma,” ucap Shafa.


Setelah Reigha mengurus administrasi segera ke ruangan di mana mamanya berada


“Mama, Shafa, Anna, ayo kita pulang, bayu udah menunggu di ambulan bersama jenazah papa,” ucap Reigha menguatkan diri saat di depan mamanya.


Shafa dan Anna pun mengajak mama Dhiya untuk keluar ruangan menuju ke mobil Reigha. Saat sdh di luar, mama Dhiya melihat ambulan yang membawa jenazah suaminya pun langsung menangis lagi.

__ADS_1


“Ma, mama kuat ya, Ma. Mama jangan seperti ini,” kata Shafa yang ikut menangis gak tega melihat mamanya begitu terpukul saat melihat jenazah suaminya.


Mereka pun masuk ke dalam mobil Reigha. Saat di jalan, Shafa memberi kabar duka ke ayah Reynand Dan ibu Khalisa, juga ke Dani.


Shafa juga berpesan agar Dani segera membantu kedatangan jenazah papa Harun di rumahnya. Tak berapa lama, ambulan yang membawa jenazah papa Harun pun mulai terlihat masuk ke dalam pekarangan rumah.


Bunyi sirine ambulan semakin membuat mama Dhiya semakin sedih, di dalam mobil mama Dhiya tak henti-hentinya menangis. Sampai-sampai membuat Shafa dan Anna semakin gak tega melihatnya. Reigha berusaha sekuat tenaga menahan kesedihan hatinya terlebih melihat mamanya yang terlihat sangat rapuh.


Saat sampai di rumah papa Harun, rumah udah tampak ramai dengan para tetangga dan rekan bisnis yang melayat, Dani langsung mendekat ke mobil ambulan dan membantu membawa masuk jenazah papa Harun. Mama Dhiya saat melihat jenazah papa Harun kembali pingsan. Shafa pun segera memanggil Reigha.


“Mas,” panggil Shafa.


Reigha yang sedang membawa jenazah papa Harun pun segera meminta seseorang membantu membawa jenazah papa Harun, sedangkan Reigha berlari mendekat ke mama Dhiya dan segera membopong membawa ke kamarnya mama Dhiya dan membaringkan mamanya.


“Sayang, tolong temani mama, ya,” pinta Reigha.


“Iya, Mas, Shafa di sini aja. Mas, tolong bilang ke Bobby, anak-anak di ajak ke rumah Bayu dulu aja, Mas, nanti klo papa mau dibawa ke pemakaman baru diajak ke sini lagi,” balas Shafa.


“Iya, Sayang, nanti Mas telpon Bobby.”


Saat Reigha hendak keluar dari kamar, mama Dhiya pun sadar dan kembali menangis.


“Papa, kenapa papa tinggalin mama sendirian. Mama ikut papa,” lirih mama Dhiya.


“Mama, sadar, Ma. Jangan bicara seperti itu,” ucap Shafa.


“Fa, ayo antar mama ke depan, mama mau melihat papa,” pinta mama Dhiya.


“Mas, gimana?” tanya Shafa menoleh pada suaminya yang tadi mengurungkan niatnya keluar kamar mama.


“Ma, mama di sini dulu ya, Reigha dan Bayu akan mengurus jenazah papa dulu,” kata Reigha.


“Nggak, Gha, mama ikut ke depan aja!” seru mama Dhiya.


“Yaudah, Sayang, ajak mama ke depan aja,” ucap Reigha.


Akhirnya Shafa dan Anna yang menunggui mama di kamar, sekarang akan menuntun mama Dhiya ke depan dan para tamu pun mengucapkan bela sungkawa.


Sementara Anna mendekat pada Bayu dan berkata, “Abang, boleh gak kalau Anna ke rumah kita aja, temani anak-anak.”


“Iya, Sayang. Kamu istirahat di rumah kita aja sambil menunggu anak-anak, ya,” balas Bayu diangguki oleh Anna.


Dan saat Anna akan pergi lewat pintu samping tiba-tiba ....

__ADS_1


__ADS_2