Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 96 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Hai, Daviandra, Daviana ... ini Mama, Sayang. Semoga kalian kelak akan menjadi anak yang soleh dan solehah ya, Nak,” lanjut Shafa.


“Aamiin, Mama,” sahut Reigha membuat Shafa menoleh dan keduanya saling tatap.


Tiba-tiba terdengar ketukan dari luar, saat di buka ternyata udah ramai di luar kedua orang tua dari Reigha dan Shafa serta Anna, Bayu, dan Anggi pun turut hadir.


Mereka pun segera masuk untuk menanyakan keadaan Shafa, setelah itu mereka berhambur untuk berebutan menggendong cucu-cucunya.


“Kak, namanya si kembar siapa?” tanya Anggi mendekat pada Shafa.


“Daviandra dan Daviana, Gi,” jawab Shafa memberitahu.


“Fa, lucu banget sih. Jadi gak sabar nunggu bayi gue lahir,” balas Anna yang sejak tadi duduk di dekat Shafa.


Karena waktu udah malam, akhirnya kedua orang tua Shafa dan Reigha pamit pulang, karena mereka semua tau kalau Shafa butuh banyak istirahat. Si kembar pun satu ruangan dengan Mamanya.


“Sayang, kamu istirahat ya, nanti kalau si kembar bangun, kamu bangunin Mas aja, jadi kamu gak perlu bangun,” titah Reigha.


“Iya, Mas. Makasih ya, Mas, kamu perhatian banget.” Shafa tersenyum menatap suaminya.


Akhirnya mereka tidur terpisah, Reigha tidur di sofa sementara Shafa di brankar.


Saat tengah malam, Shafa terbangun karena merasa haus, Shafa pun segera duduk dan bersandar. Ketika akan mengambil minuman di atas nakas, ternyata gelasnya kosong.


“Aduh, gimana nih? Mau bangunin Mas Reigha tapi kasian, kalau gak aku bangunin, aku mau ambil minum di mana?” monolog Shafa menatap suaminya yang masih tertidur pulas di atas sofa.


Akhirnya Shafa memutuskan untuk membangunkan Reigha, “Mas ... Mas,” panggil Shafa.


Sampai beberapa kali dipanggil pun Reigha yang kecapean karena sejak Shafa melahirkan Reigha hampir tak pernah tidur, kini Reigha belum bangun juga.


“Ck. Mas, Mas, katanya kalau ada apa-apa minta dibangunin, tapi di panggil-panggil gak mau bangun,” gerutu Shafa.


Shafa pun mencoba membangunkan suaminya dengan melemparkan sesuatu, “Nah ini ada bantal kecil, coba aku lempar deh. Semoga aja Mas Reigha bisa bangun sebentar aja.”


Bugh.


Bantal itu pun mengenai punggung Reigha, namun Reigha tetap tidak bangun. Akhirnya, Shafa memencet tombol untuk memanggil perawat.


Tak lama kemudian seorang perawat pun datang, “Iya, Bu, ada yang bisa saya bantu?”


“Emm, maaf ya, Sus, saya ganggu malam-malam. Saya haus dan ini gelasnya kosong,” jawab Shafa.


Perawat pun menoleh ke arah Reigha yang sedang tidur di sofa. Kemudian netra perawat tersebut beralih menatap box bayi, semua tengah tertidur pulas.


“Sebentar ya, Bu, saya ambilkan dulu,” balas perawat dan segera keluar dari ruangan.


Tak lama kemudian, perawat tadi datang kembali membawakan minuman di botol dan juga sedotan, setelah membukakan tutup bot dan memasukkan sedotannya, perawat itu menyodorkan minumannya ke Shafa.


“Silakan, Bu,” titah perawat.


“Terima kasih ya, Sus.” Shafa segera mengambil botol yang suster berikan padanya, kemudian meneguk minumannya.

__ADS_1


“Apa ada yang lain, Bu?” tanya perawat.


“Gak ada, Suster. Terima kasih, ya.”


“Kalau begitu saya keluar dulu, nanti kalau ada yang dibutuhkan jangan sungkan untuk mengabari lagi,” ucap perawat diangguki oleh Shafa.


Saat perawat menutup pintu, Reigha tampak terbangun dan bertanya, “Siapa tadi, Sayang?”


“Itu perawat, Mas,” jawab Shafa.


“Oh ... mau ngapain, Sayang?” tanya Reigha kembali.


“Tadi Shafa haus dan pengen minum, Mas, jadi Shafa minta tolong perawat untuk ambilkan minum,” jawab Shafa menjelaskan.


Reigha mengerutkan keningnya, “Loh ... ‘kan ada Mas, Sayang, kenapa gak bangunin Mas aja,” ucap Reigha tanpa dosa.


Shafa pun melirik ke bantal yang tadi dia lemparkan ke Reigha, “Lihat deh itu, Mas, kok bisa ya bantal kecil itu di sofa.”


Reigha pun segera mengedarkan pandangannya melihat sofa yang ditunjuk oleh sang istri, Reigha pun langsung paham.


“Maaf ya, Sayang, kok bisa mas sampai gak terbangun,” ucap Reigha malu sambil mengusap tengkuknya.


“Gapapa kok, Mas. Shafa ngerti, Mas pasti kemarin-kemarin kurang tidur ‘kan?” balas Shafa.


“Iya, Sayang. Mas kurang tidur kadang juga gak makan, Mas sangat mencemaskan kamu, Sayang.”


“Mas, besok pagi pulang aja ya, istirahat di rumah. Besok biar Shafa biar ditemani Anggi,” titah Shafa.


“Kan kalau pulang Mas bisa istirahat dulu, jadi sore ke sini bisa segar lagi badannya,” ucap Shafa.


“Enggaklah, Sayang, Mas mau di sini saja.”


Tak lama kemudian, perawat masuk mau memeriksa Shafa, “Permisi, Bu, saya mau cek pendarahannya dulu ya, Bu.”


Perawat itu pun mengangkat kain yang berada di bawah Shafa.


“Kakinya tolong di buka lebar ya, Bu,” lanjut perawat memberikan arahan.


Shafa pun membuka kakinya lebar, walaupun sebenarnya Shafa malu, tapi Shafa tau kalau itu pemeriksaan medis dan juga perawatnya pun perempuan, jadi dia merasa tenang.


“Alhamdulillah bagus, tapi kalau nanti ibu merasa alirannya deras, jangan sungkan mengabari kami ya, Bu,” ucap perawat tersebut diangguki oleh Shafa.


“Iya, Sus. Terima kasih,” balas Shafa.


Kemudian, perawat pun pergi meninggalkan ruangan Shafa.


“Yaudah, lanjut lagi yuk istirahatnya,” ucap Reigha membantu Shafa merebahkan diri di atas brankar dan Reigha kembali di sofa.


Saat subuh tiba, Shafa merasakan dadanya kencang dan sakit.


“Awhh, aduhhh ... sakit,” lirih Shafa sambil menyentuh ***********.

__ADS_1


Mendengar suara Shafa meringis kesakitan, Reigha segera terbangun dan menghampiri Shafa.


“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Reigha.


“Awwhh ... ini, Mas, payudaraku sakit banget. Rasanya kenceng dan nyut-nyut gitu,” jawab Shafa masih meringis menahan sakit.


Reigha menyadari kalau bajunya Shafa tampak basah, “Baju kamu basah, Sayang, bentar ya Mas panggilkan perawat dulu.”


Reigha langsung menekan tombol untuk panggilan darurat. Tak lama kemudian, perawat pun datang.


“Iya, Pak, ada apa?” tanya perawat tersebut.


“Sus, tolongin istri saya, itu kenapa ya kok bajunya basah?”


“Oh ... iya, Pak, berarti asinya sudah keluar. Kalau gitu di coba aja bayinya di susui,” jawab perawat yang mendekat pada box bayi melihat Daviana udah bangun dari tidurnya.


Perawat langsung mengambil Daviana di box dan segera memberikan ke Shafa.


Perlahan Shafa pun mulai memberikan asinya. Shafa bergantian memberikan asi pada si kembar saat melihat Daviandra terbangun, Daviana digendong oleh Reigha dan bergantian Daviandra yang diberikan asi oleh Shafa. Shafa senang karena bisa memberikan asinya untuk kedua anaknya.


“Sayang, Daviana udah tidur. Mas taruh di box bayi, ya. Mas mandi dulu trus sholat. Kamu masih lama ‘kan ngasih asinya?” tanya Reigha.


“Iya, Mas, Mas sholat aja dulu. Ini kayaknya Daviandra masih lapar, biarkan aja dulu,” jawab Shafa.


Reigha pun segera menuju kamar mandi dan tak lama dari itu keluar untuk melaksanakan sholat subuh.


Sekitar pukul tujuh pagi, petugas rumah sakit datang untuk mengantarkan makanan.


“Ini sarapannya ya, Bu,” ucap petugas rumah sakit.


“Terima kasih.” Reigha segera mengambil alih piring yang berisi makanan kemudian mendekat pada Shafa.


“Sayang, ayo duduk dulu. Kamu sarapan dulu, ya,” titah Reigha.


Shafa pun tak menolak, karena sebenarnya Shafa udah sangat lapar. Reigha segera menyuapi Shafa dengan sangat telaten dan Reigha tampak senang karena Shafa makan dengan lahap.


“Mas, bisa gak nyuapinya yang cepet? Shafa sangat lapar, Mas,” ucap Shafa dibalas senyuman oleh Reigha.


“Tapi tetap hati-hati, jangan sampai tersedak ya, Sayang,” balas Reigha diangguki Shafa.


Tak berapa lama makanan pun habis tak tersisa. Dan perawat pun masuk untuk mengantarkan obat.


“Sus, kapan saya bisa pulang?” tanya Shafa.


“Tunggu dokter dulu ya, Bu, nanti dokter yang memberitahukan,” jawab perawat tersebut.


“Baik, Sus,” balas Shafa.


Perawat pun keluar dengan membawa si kembar, “Pak, Bu, si kembar saya bawa keluar ya, mau di mandikan. Tolong baju gantinya disiapkan, nanti akan ada perawat lain yang mengambilnya.”


“Iya, Suster. Akan saya siapkan.” Reigha pun segera mengambil perlengkapan mandi untuk si kembar. Setelah selesai, Reigha meminta air hangat untuk membersihkan badan istrinya.

__ADS_1


“Sayang, kamu Mas bersihkan dulu ya badannya, biar enakan,” ucap Reigha dengan lembut pada Shafa.


__ADS_2