
“Bobby, sini sebentar,” panggil Reigha.
“Iya, Pak, ada apa?” tanya Bobby.
“Saya dan istri mau ke rumah sakit karena istri pak Bayu mau melahirkan. Saya titip anak-anak ke kamu. Jaga mereka jangan sampai lengah,” jawab Reigha.
“Sebelum pergi, jangan lupa mampir ke rumah pak Bayu untuk menjemput Reza, ya,” lanjut Reigha.
“Baik, Pak, akan saya pastikan aman,” balas Bobby sembari tersenyum.
“Kalau begitu saya dan Vano pamit ya, Pak,” imbuh Bobby berpamitan.
“Iya, silakan. Hati-hati di jalan!” seru Reigha.
Mobil yang dibawa Vano pun segera melaju dan hilang dari pandangan Reigha.
“Ayo, Sayang, kita lewat pintu samping aja. Ke rumah sakitnya pakai mobil Bayu aja, ya,” ucap Reigha.
“Iya, Mas, sebentar. Mbok Nah ... mbok!” balas Shafa yang kemudian memanggil mbok Nah.
“Iya, Mbak. Ada apa?” tanya mbok Nah menghampiri Shafa.
“Mbok, saya mau ke rumah sakit karena Anna mau melahirkan, tolong mbok kunci pintu rumah dan pintu samping ya, Mbok, kami berangkat,” jawab Shafa memberitahu.
“Iya, Mbak. Hati-hati,” titah mbok Nah yang diangguki oleh Shafa.
Setelah itu, Reigha dan Shafa pun segera lewat pintu samping.
Sesampainya di rumah Bayu, tampak di ruang tamu Anna dan Bayu udah menunggu.
“Lama banget sih kalian,” celetuk Bayu.
“Hayo ... marah-marahlah, gue balik nih ke rumah,” balas Reigha menaik turunkan alisnya.
“Eh, jangan-jangan ... tega banget sih lo, Gha,” ucap Bayu.
“Lagian, lo itu gak sabaran banget, gue kan harus nyiapin anak-anak sekolah dulu,” kata Reigha.
“Udah-udah, kalau kalian berdebat terus kapan berangkatnya,” ucap Shafa menengahi.
“Ayo berangkat. Siapa yang nyetir? Lihat tuh, Anna udah kesakitan kalian masih aja berdebat yang berujung,” lanjut Shafa memggerutu.
Reigha pun segera menuju ke mobil Bayu kemudian Bayu duduk di sebelahnya. Lalu mereka pun menuju ke rumah sakit
Setelah sampai di rumah sakit, Anna langsung dibawa masuk ke ruang IGD sedangkan Bayu bergegas mengurus administrasinya.
Shafa dan Reigha menunggui Anna tepat di depan IGD. Setelah selesai memeriksa, Anna segera dibawa ke ruang bersalin.
Sesampainya di ruang bersalin, ternyata Anna udah pembukaan lima.
“Fa, tolong temani Anna ya. Gue tunggu di luar aja sama Reigha,” kata Bayu dengan tatapan memohon.
__ADS_1
“Oke, baiklah. Mas, Shafa masuk dulu ya,” ucap Shafa pada Reigha.
“Iya, Sayang,” balas Reigha sembari tersenyum.
Setelah Shafa masuk ke dalam, Bayu yang gak tenang pun mondar mandir sampai membuat Reigha ikutan pusing.
“Bay, lo tuh bisa gak sih diam, pusing gue ngelihatnya,” ucap Reigha.
“Gue cemas, Gha, tolong lo ngertilah,” balas Bayu.
“Ya kalau lo cemas tuh harusnya berdo’a bukan malah mondar mandir gak jelas,” celetuk Reigha.
“Bawel lo!” seru Bayu.
“Oke, gue panggil Shafa dan gue ajak pulang, mau lo?” tanya Reigha.
“Eh, jangan-jangan ... oke, oke. Gue akan nurut apa pun omongan lo,” jawab Bayu yang langsung duduk di samping Reigha.
Tak lama kemudian, terdengar tangisan suara bayi yang menggema dalam ruang bersalin. Bayu langsung mengucap syukur dan memeluk Reigha yang masih setia menunggu di samping Bayu.
“Alhamdulillah, Gha, anak gue udah lahir,” kata Bayu.
“Iya, alhamdulillah. Selamat ya, Bay,” ucap Reigha.
Tak lama dari itu, Shafa pun tampak keluar dari ruang bersalin karena Anna sedang dibersihkan oleh perawat.
“Bay, anak lo udah lahir, perempuan,” ucap Shafa memberitahu.
“Boleh, kan udah lahir,” sambar Reigha.
Shafa yang hendak menjawab pertanyaan Bayu, seketika Bayu udah langsung masuk. Dan, saat Bayu membuka tirai ternyata daerah inti Anna sedang dijahit dan darah masih keluar.
Bayu yang melihat pun langsung pusing dan akhirnya pingsan. Perawat kaget kemudian segera memanggil temannya untuk membawa Bayu ke IGD.
“Mas, tuh Bayu jadi pingsan kan ... mas tuh usil banget,” kata Shafa sembari mencubit kecil pinggang Reigha.
“Aw, sakit, Sayang. Hehehe, tadi itu kan cuma bercanda, Sayang, eh ditanggapin serius,” balas Reigha tersenyum.
“Yaudah, sekarang temani tuh Bayu ke IGD, Mas. Biar Shafa temani Anna sampai dibawa ke ruang rawat,” ucap Shafa.
“Yaudah, mas ke IGD ya, Sayang. Nanti kabari aja Anna dibawa ke ruang rawat mana ya,” kata Reigha.
“Iya, Mas. Udah sana ... nanti perawatnya nyari loh, Mas,” ucap Shafa.
Dan Reigha pun segera ke IGD menemani Bayu. Sedangkan Shafa masih menunggu Anna sampai Anna dibawa ke ruang rawat inap.
Setelah Anna dibawa ke ruang rawat, Shafa segera memberitahukan Reigha, sedangkan di IGD, Bayu baru sadar dan langsung melihat Reigha.
“Gha, lo tuh usil banget jadi orang. Gue kan jadi malu,” ucap Bayu.
“Lagian lo itu kalau urusan kerjaan dan masalah apapun pinter, giliran istri melahirkan di mana kepintaran lo? Lo tinggal di rumah? Udah tau istri gue baru keluar bentar karena Anna sedang dibersihkan, eeehhh lo percaya aja pas gue suruh masuk,” balas Reigha tertawa.
__ADS_1
“Ah, gak penting. Udah yuk, gue pengen ngelihat anak gue,” kata Bayu yang segera bangkit dan Reigha pun mengikuti Bayu dari belakang.
Sampai di depan ruang bersalin, Bayu berhenti membuat Reigha pun mengeluarkan suaranya untuk bertanya, “Ngapain lo berhenti di sini, Bay?”
“Anna udah selesai belum ya dibersihkannya, Gha,” lirih Bayu.
“Makanya, kalau gak tau, tanya dulu. Anna itu udah di ruang rawat ditemani sama Shafa,” ucap Reigha memberitahu.
“Astagfirullah, kenapa gak bilang dari tadi, Gha?” tanya Bayu geregetan.
“Lo gak nanya, jadi ya gue ikutin lo aja,” jawab Reigha cengengesan.
“Hmm, udah yuk. Di mana ruangannya?” tanya Bayu.
“Yuk, ikutin gue,” balas Reigha dan mereka pun menuju ke ruang rawat Anna.
Sesampainya mereka di depan ruang rawat Anna dan Bayu juga Reigha pun langsung masuk dan terlihat Anna di brankar sedang memangku putrinya.
“Assalamu’alaikum,” ucap Bayu dan Reigha serempak.
“Wa’alaikumussalam,” balas Anna dan Shafa.
“Sayang, maaf ya, Reigha tuh usil. Jadi, abang pingsan lagi ,” kata Bayu sembari menghampiri Anna. Sementara Reigha menghampiri Shafa dan menarik pinggang istrinya.
“Kamu tuh, Bang, anak udah dua, masa pingsan terus,” ucap Anna.
“Ya gimana lagi, Sayang, namanya juga phobia darah,” balas Bayu sembari tersenyum.
“Udah diadzani apa belum, Na?” tanya Reigha.
“Belum, Kak. Kak Reigha mau adzani?” balas Anna.
“Heh, enak aja. Dulu Reza udah Reigha tang adzani masak sekarang Reigha lagi. Nggak-nggak, sini biar gue aja yang adzani,” sambar Bayu.
Bayu segera mengambil anaknya lalu mengadzaninya. Setelah mengadzani, bayinya ditaruh ke dalam box bayi.
“Bang, udah disiapkan belum namanya?” tanya Anna.
“Udah dong, Sayang. Namanya, Almeera Hasna Pratama. Gimana?” balas Bayu memberitahu nama putrinya.
“Nama yang bagus. Ya ‘kan, Mas?” ucap Shafa menoleh pada Reigha.
“Iya bagus namanya,” kata Reigha yang kemudian mendekat ke Almeera.
“Hai ... Assalamu’alaikum, Almeera, ini papa kamu, Nak,” ucap Reigha tepat di samping box bayi.
“Heh, Gha. Gue yang papinya aja belum,” protes Bayu.
“Aduhhh ... ini dua bapak-bapak gak henti-hentinga berdebat. Pusing gue, Na,” kata Shafa.
Anna pun tersenyum kemudian berkata, “Itulah, Fa. Mumpung anak-anak belum pada gede, masih bisa deh mereka sempet-sempetin berdebat terus.”
__ADS_1
Mereka pun tertawa bersamaan.