
“Ini kan ... ” Reigha memutuskan ucapannya sembari menelusuri satu persatu barang yang ada di dalamnya.
“Ini ... astagfirullah,” lanjut Reigha tertegun.
Papa Harun yang melihat anaknya tertegun, langsung melihat apa isi tas tersebut. Ternyata tas itu berisi berkas atas nama Bayu dan Anna.
“Gak salah lagi, pasti terjadi sesuatu sama mereka,” ucap Bayu.
Sedangkan di kamar Anna, “Fa, ini kok belum mulai-mulai, ya, kenapa ini, Fa?” tanya Anna dengan cemas.
“Iya ya, Na. Ini dah mau jam sebelas lho. Kok belum dimulai, ya,” balas Shafa.
“Fa, coba lo ke depan. Tolong lihat, ada masalah apa di depan,” ucap Anna.
“Lo gapapa gue tinggal sebentar?” tanya Shafa.
“Gapapa, Fa. ‘kan ada Anggi di sini.”
“Baiklah, tunggu bentar.” Shafa pun keluar hendak bertanya pada Reigha, suaminya.
Ternyata, di luar semua terlihat panik. Entah apa yang terjadi hingga Shafa dan Anna tidak tau menau soal ini.
Shafa berjalan mendekat pada Reigha dan bertanya, “Mas, ada apa? Kok belum dimulai ijab qobulnya?”
“Itu, Sayang, orang dari KUA belum datang,” jawab Reigha.
“Lho, biasanya ‘kan gak pernah terlambat ya, Mas,” balas Shafa.
“Tadi Mas nyuruh Farhan ke KUA dan kata orang yang di sana petugasnya udah berangkat dari awal tadi dan cuma di satu tempat. Dan, sepulang Farhan dari KUA Farhan menemukan tas milik petugas KUA tergeletak di persimpangan depan,” kata Reigha menjelaskan.
“Mas, jangan-jangan ini ulah Ivanka yg pengen menggagalkan pernikahan Bayu,” bisik Shafa.
“Bisa jadi, Sayang. Soalnya udah jam dua belas belum ada tanda-tanda petugasnya datang,” balas Reigha berbisik juga.
Budhe dan juga Mama Dhiya udah khawatir kalau pernikahannya gagal, Pak modin mencoba terus menelpon petugas KUA dan penghulu. Namun, telponnya tidak aktif. Bayu dan Anna udah cemas takut kalau pernikahannya gagal.
Papa harun pun segera mengajak ngobrol Pak modin.
“Maaf, Pak, kalau petugas KUA tidak datang, apa ada solusi lain agar mereka tetap menikah?” tanya Papa Harun.
“Ada, Pak, bisa saya yang menikahkan mereka. Nanti tinggal surat-suratnya menyusul. Dan itu, tetap sah kok, Pak,” jawab Pak modin membuat keluarga, saudara, dan warga merasa sedikit lega.
“Alhamdulillah, baiklah. Kita tunggu sampai setelah sholat dzuhur aja. Kalau masih belum datang, mohon bapak bersedia untuk menikahkan mereka,” ucap Papa Harun.
“Iya, Pak, InsyaaAllah. Mari kita sholat dulu,” balas Pak modin.
Papa harun pun menjelaskan ke keluarga, saudara, juga warga kalau setelah sholat dzuhur petugas KUA belum datang, maka Pak modin yg menikahkan. Akhirnya semuanya tampak lega dan segera sholat dzuhur terlebih dahulu.
Melihat semuanya melangkah pergi ke masjid, Shafa kembali ke kamar Anna. Sementara Budhe dan Mama Dhiya menemui para tamu undangan.
__ADS_1
Di kamar Anna, Shafa segera membuka pintu kamar membuat Anna dan Anggi menoleh bersamaan.
“Gimana, Fa. Apa ada masalah?” tanya Anna.
Shafa pun merasa Anna jangan sampai tau terlebih dahulu agar tidak merasa cemas, “Enggak ada kok, cuma mereka lagi ke masjid untuk sholat dzuhur, setelah itu baru akad nikah.”
“Kok sampai molor dua jam, Fa,” lirih Anna mulai kepikiran.
“Lo tenang, ya. Itu tadi ada nikahan juga di tempat lain. Sabar, sebentar lagi pasti jadi nyonya Bayu kok,” ucap Shafa menenangkan.
Dan tiga puluh menit kemudian, yang dari masjid udah pulang dan masih belum ada tanda-tanda datangnya petugas KUA juga penghulu.
“Pak, sepertinya tetap belum datang. Silakan dinikahkan saja segera, Pak,” ujar Papa Harun pada Pak modin.
“Baiklah, Pak. Tolong pengantin perempuannya dipanggilkan!” seru Pak modin.
“Baik. Biar saya yang panggilkan,” balas Mama Dhiya.
Budhe pun mengangguk. Mama Dhiya mengajak Ibu Khalisa untuk menjemput Anna ke kamar.
“Nak, ayo ke depan. Ijab qobulnya akan segera dimulai,” ucap Mama Dhiya saat berada di kamar Anna.
Anna diapit oleh Mama Dhiya dan Ibu Khalisa. Sementara di belakang Anna ada Shafa dan juga Anggi.
Melihat itu, semua menatap Anna termasuk Bayu yang begitu terpesona dengan Anna.
Namun, berbeda dengan Reigha yang malah fokus menatap Shafa.
“Cantik banget sih, Sayang,” bisik Reigha membuat pipi Shafa bersemu merah.
“Mas, pengantin perempuannya itu, bukan ini,” balas Shafa menunjuk Anna.
“Mas gak mau lihat perempuan lain, kan istriku udah cantik. Yang lain, lewat,” goda Reigha yang langsung mendapat cubitan kecil dari Shafa.
Dan mulailah ijab qobulnya. Tak lama, terdengarlah para warga dan saksi nikah berseru mengucap kata, “SAH!”
Akhirnya, Bayu dan Anna pun resmi menikah.
Setelah selesai ijab qobul, Anna berbisik bertanya pada Bayu, “Bang, kok gak ada tanda tangan surat apa pun?”
“Nanti abang jelaskan, ya, sekarang kita aamiin-kan do'a dulu,” jawab Bayu.
Dan selesailah akad nikah Bayu juga Anna semua merasa lega. Walaupun ada kendala, tapi acara tetap sukses.
Di tempat lain, Ivanka merasa yakin kalau pernikahannya Bayu pasti gagal. Karena dua petugas sekarang disekap oleh anak buah Ivanka.
“Pasti mereka sekarang cemas karena pernikahannya terancam gagal. Hahaha!” tawa puas Ivanka.
“Setelah menjelang sore barulah mereka gue lepaskan. Pasti acara pernikahannya udah bubar,” lanjut Ivanka sambil tertawa.
__ADS_1
Dan dirasa Ivanka sudah bubar acara pernikahannya Bayu, dua petugas KUA yang disekap pun akhirnya dilepaskan begitu saja di jalanan.
Setelah mendapat telpon dari anak buahnya kalau petugas tersebut udah di lepaskan, Ivanka kembali tertawa puas dan meninggalkan tempat tersebut, kembali ke rumahnya.
Menjelang jam empat sore, anak buah bayu membawa petugas dari KUA serta penghulu yang ditunggu sejak jam sepuluh tadi.
“Maaf, Pak. Saya terlambat menemukannya,” ucap anak buah Bayu tepat dihadapan Bayu.
“Kalian menemukannya di mana?” tanya Bayu.
“Kami menemukan kedua bapak ini di Jalan Kapuas, Pak.”
“Baiklah, terima kasih. Kalian boleh pergi!” seru Bayu.
Saat anak buah Bayu melangkah pergi, tiba-tiba dihentikan oleh Anna.
“Tunggu! Ajak semua masuk, makanlah dulu,” ucap Anna pada anak buah Bayu.
“Iya, Bu. Terima kasih, nanti saja,” ucap anak buah Bayu menolak secara halus.
“Bang, tolong itu mereka disuruh masuk, mereka udah capek banyak membantu acara kita,” titah Anna.
“Baiklah, Sayang,” balas Bayu.
“Jangan tolak perintah istriku, cepat ajak semua masuk!” seru Bayu yang langsung diangguki oleh anak buahnya.
Anak buah bayu pun mengajak semua masuk untuk menikmati hidangan.
“Maaf, Pak. Kami tadi udah berangkat dari awal. Namun, sampai di persimpangan tiba-tiba kami di hadang oleh dua mobil. Dan, kami di suruh masuk, tas kami pun hilang. Akan saya urus ulang surat-suratnya, Pak,” ucap petugas KUA menjelaskan.
“Dan kalau nikahnya bisa saya nikah kan dulu, surat-suratnya menyusul,” imbuh penghulunya.
“Tidak perlu khawatir, Pak. Sebelumnya saya minta maaf buat bapak berdua seperti ini. Saya udah menikah tadi siang, dinikahkan sama bapak modin. Dan kalau untuk berkas-berkas, ini tas bapak,” ucap Bayu mengulurkan tangannya memberikan tas yang sempat Farhan temukan tadi.
“Alhamdulillah, lega saya, Pak. Saya gak enak kalau sampai pernikahannya gagal,” kata penghulu.
“Baiklah kalau begitu, segera tanda tangan saja, Pak. Untung saja pak modin juga belum pulang. Jadi, bisa sekalian tanda tangan,” ucap petugas KUA.
“Saya belum pulang, karena saya khawatir sama kalian,” balas pak modin.
“Kami berdua gak diapa-apain kok, Pak, cuma disekap aja, sepertinya ada yang pengen gagalin pernikahan Pak Bayu.”
Bayu, Pak modin serta petugas KUA segera mengurusi surat-surat dan juga tanda tangan.
“Baiklah, semua sudah selesai ditanda tangani. Kalau begitu, kami pamit pulang ya, Pak,” ucap petugas KUA.
“Tunggu, bapak berdua istirahat dulu menikmati hidangan di sini, ditemani Pak modin ya, Pak. Saya temui tamu-tamu,” ucap Bayu menghentikan kepergian petugas KUA.
Bayu melangkah pergi mendekat pada Papa Harun meminta tolong agar menemani petugas KUA, Pak modin serta penghulu.
__ADS_1
“Reigha ke mana? Kok gak kelihatan?” tanya Papa Harun.