
Vilia kembali duduk dan mendekat pada mama Shafa, “Beneran, Ma?”
“Iya, Sayang, mandi gih,” ucap Shafa dan Vilia pun segera bergegas mandi.
Tak lama kemudian, Vilia udah turun lagi dan sudah siap untuk ke rumah Almeera.
“Ma, Vilia ke rumah mami ya, Ma, nanti Vilia makan malam di rumah mami aja. Assalamu’alaikum,” kata Vilia.
“Iya, lewat pintu samping aja ya, Nak. Wa’alaikumussalam,” balas Shafa.
Dan setelah Vilia pergi, Reigha dan si kembar menuju ke ruang makan.
Saat makan malam suasana hening, Daviana banyak melamun. Begitu juga Daviandra yang juga sedang memikirkan Chayra yang di luar negeri.
Reigha dan Shafa saling menatap melihat kedua anaknya sedang melamun.
“Pa, mereka makan tapi pikirannya sedang gak di sini, lihat aja kita ngobrol, mereka sama sekali gak terganggu. Tetap melamun,” ungkap Shafa.
“Iya, Ma. Biarkan aja dulu, setelah makan baru kita ngobrol di ruang keluarga,” balas Reigha.
Dan mereka pun udah selesai makan malamnya, “Ayo semua pindah ke ruang keluarga, biar mama dan bi Wati yang membereskan ruang makannya.”
Bi wati adalah yang menggantikan mbok Nah, karena mbok Nah udah meninggal dunia, maka digantian oleh adiknya mbok Nah, yaitu Bi Wati.
“Iya, Pa,” kata si kembar.
“Sayang, mas ke ruang keluarga dulu ya,” kata Reigha.
“Iya, Mas, nanti aku nyusul,” balas Shafa.
Dan Shafa dibantu bi Wati segera membereskan meja makan. Sementara di ruang keluarga, Reigha memulai obrolannya.
“Papa dan mama daritadi memperhatikan kalian sedang melamun, apa yang kalian pikirkan? Kali ini papa minta jawab yang jujur jangan ada yang dirahasiakan, karena kalian udah dewasa. Masa depan, kalian sendiri lah yang menentukan,” ucap Reigha.
“Naima hanya mikirin masalah perjodohan kok, Pa. Karena ... jujur sampai sekarang, belum dapat jawabannya,” balas Daviana.
“Oke. Kalau kamu, Andra? Kalau gak jujur nanti kalau tiba-tiba ada yang minta dilamar sama papa, kamu jangan nolak ya,” kata Reigha.
“Andra udah punya pilihan sendiri, Pa, tapi Andra gak tau setelah dia lulus kedokteran, apa dia masih sendiri atau udah punya kekasih. Karena, jujur Andra hanya menunggu, belum berani mengungkapkan perasaan Andra,” ungkap Daviandra.
“Bang, emang siapa?” tanya Daviana.
“Besok aja, Dek, kalau udah pasti. Sekarang ini masih belum pasti,” jawab Daviandra.
“Baiklah, untuk kalian ... segera melakukan sholat istikhoroh minta petunjuk sama Allah,” titah Reigha.
“Iya, Pa. Andra ke kamar ya, Pa,” ucap Daviandra.
__ADS_1
“Naima juga ya, Pa, mau ke kamar,” imbuh Daviana.
“Iya, istirahatlah kalian, Nak,” balas Reigha sembari tersenyum.
“Loh loh loh ... mau ke mana? Mama mau duduk kalian malah pergi,” tanya Shafa.
“Mau istirahat, Ma, capek,” jawab Daviandra.
“Naima juga, Ma,” imbuh Daviana.
“Yaudahlah, istirahatlah,” titah Shafa.
Setelah si kembar pergi, Shafa pun duduk di dekat Reigha, “Anak tambah besar tambah susah diajak ngobrol ya, Mas, betah banget di kamar.”
“Kalau gitu gimana kalau kita nambah lagi, Sayang? Jadi nanti kamu di rumah ada temannya,” kata Reigha.
“Kamu itu, Mas, udah tua juga mau nambah anak aja,” lirih Shafa.
“Lah ... kan kamu butuh teman, Sayang. Jadi, nambah aja satu atau dua, gimana?” tanya Reigha.
“Emang kamu masih mau, Mas, ngerasain ngidamnya?” balas Shafa sembari tertawa.
Reigha pun kehabisan kata, hanya garuk-garuk kepala.
Tak lama kemudian, Reza datang ke rumah, “Assalamu’alaikum, Pa, Ma.”
“Wa’alaikumussalam, Za. Dari mana?” tanya Reigha.
“Udah makan apa belum, Za, ayo kalau belum makan ikut mama. Biar mama siapkan makanan buat kamu,” balas Shafa.
“Iya, Ma. Makasih, Ma. Pa, Reza ke belakang dulu ya,” ucap Reza.
“Iya, Za, papa di sini aja,” kata Reigha.
“Padahal papa pengen banget kalau kamu jadi menantu papa, Za, tapi sepertinya kamu cuma anggap Daviana saudara kamu,” lirih Reigha sambil melihat Reza dari belakang.
Makanan Reza udah disiapkan sama Shafa kemudian Reza pun makan sambil ditemenin Shafa.
“Ma, kenapa ngelihatin Reza seperti itu?” tanya Reza.
“Gak ada, Za, mama hanya mikir aja. Si kembar bentar lagi nikah, kamu gimana?” tanya Shafa.
“Ya belum ada calonnya, Ma, do'ain aja ya, Ma,” jawab Reza.
“Ya pasti, Za, kamu kan juga anak mama, pasti mama juga selalu do'ain kamu,” balas Shafa.
“Makasih ya, Ma. Andra dimana, Ma?” tanya Reza.
__ADS_1
“Ada di kamarnya, kamu mau tidur di apartemen kamu atau tidur di sini?” jawab Shafa sembari bertanya kembali.
“Reza nanti tidur di rumah papi, Ma, mau ke kamar Andra sebentar,” balas Reza.
“Ya udah, susulin sana di kamarnya ya,” ucap Shafa.
“Iya, Ma. Reza ke kamar Andra ya,” balas Reza.
“Iya, Za, udah sana ke kamar. Mama mau ke papa kamu dulu,’ kata Shafa berjalan ke ruang tengah. Di sana Reigha ternyata sedang melamun.
“Mas, melamunin apa?” tanya Shafa.
“Eh ... enggak, Sayang. Lagi mikirin aja, Sayang gimana kalau besok aku temui Afkar aja ? Mau ngomongin masalah Andra dan Chayra,” kata Reigha.
“Boleh juga, Mas, aku ikut ya ... udah lama gak ketemu sama Fira,” ucap Shafa.
“Iya, Sayang, besok aku akan pulang awal terus kita ke rumahnya. Sekarang kita tidur yuk,” ajak Reigha.
Dan Shafa pun mengangguk lalu mereka pun berjalan ke kamar.
Pada keesokan paginya setelah sarapan mereka segera melaksanakan aktivitasnya masing-masing dan mereka segera pamit ke Shafa.
Setelah kepergian mereka, Shafa segera bersiap untuk acara nanti sore. Shafa sengaja membuat kue untuk buah tangan ke rumah Afkar.
Tak terasa saking sibuknya membuat bermacam-macam kue waktu udah menunjukan jam 2, Shafa udah melupakan waktu makan siangnya. Saat Shafa sedang menikmati makan siang yang terlambat, telpon Shafa tiba-tiba berdering.
“Assalamu’alaikum, Mas, ada apa?” tanya Shafa.
“Wa’alaikumussalam, Sayang, kita ke rumah Afkar jam 3 ya. Mas udah telpon Afkar, dan dia jam 3 ada di rumah,” jawab Reigha.
“Owh ... gitu, Mas, ya udah aku siap-siap sekarang aja,” ucap Shafa.
“Iya, Sayang, sampai ketemu di rumah ya. Assalamu’alaikum,” kata Reigha.
“Wa’alaikumussalam, Mas,” balas Shafa dan menutup telponnya. Setelah Shafa menyelesaikan makan siangnya, ia segera bergegas ke kamar untuk bersiap pergi, tak lupa Shafa juga menyiapkan baju untuk Reigha.
Setelah Shafa siap, ia segera turun dan membungkus kuenya. Setelah selesai kue di taruh di ruang tengah dan ternyata Reigha baru sampai.
“Assalamu’alaikum, Sayang. Udah siap?” tanya Reigha.
“Udah, Mas, baju kamu juga udah aku siapkan di atas tempat tidur ya, Mas,” kata Shafa.
“Iya, Sayang. Makasih ya,” ucap Reigha sambil mencium pipi Shafa.
Cup.
“Mas ihh ... hilang nanti bedak aku,” gerutu Shafa.
__ADS_1
Reigha pun pergi sambil tertawa. Reigha segera mandi dan berganti pakaian setelah itu mereka pun menaikkan kue-kuenya dan berangkat ke rumah Afkar.
Di tengah jalan Reigha mendapat telpon, Reigha pun segera menghentikan mobilnya dan menjawab telpon tersebut.