Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 110 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Na, siapa yang sakit?” tanya Ivanka beralih pada Anna.


“Orang tua saya. Ibu Ivanka kok ada di sini?” jawab Anna sembari bertanya kembali.


“Oh, itu Papa saya juga di ICU,” kata Ivanka dan dengan gak tau malunya duduk mepet di sebelah Bayu.


“Bay, maaf ya ... beberapa tahun kemarin aku keluar negeri. Papa nyuruh aku menghandle perusahaan yang di sana, kamu pasti nyari aku ya,” ucap Ivanka dengan percaya dirinya.


“Heh, lo jadi orang jangan kepedean, ya, ngapain juga gue nyari lo. Jelas udah ada di samping gue istri dan anak-anak gue,” balas Bayu dengan ketus.


“Anak? Kamu udah punya anak, Bay? Mana anak kamu? Aku juga bisa memberi kamu anak, berapa pun yang kamu minta,” kata Ivanka.


“Dasar cewek gila!” seru Bayu dan langsung pindah ke tempat duduk di dekat Anna.


Tak lama kemudian, suster memanggil keluarga ibu Lasmini. Anna pun segera berdiri dan bertanya, “Bagaimana keadaannya, Sus?”


“Maaf, Bu, ibu Lasmini kondisinya semakin menurun, silakan kalau mau menemui, tapi bergantian ya, Bu,” jelas perawat.


Dan Bayu menyuruh Anna segera masuk, setelah Anna memakai baju steril, suster segera mengantar Anna ke brankar budhe.


Melihat budhe yang badannya terdapat alat-alat medis, Anna tak kuasa untuk menahan tangisnya.


“Budhe, kenapa kok budhe selama ini menyembunyikan sakit budhe? Anna gak tau kalau selama ini budhe sakit. Maafin Anna ya, Budhe,” tutur sambil Anna menangis.


Budhe sama sekali tidak bereaksi. Perawar hanya diam mendampingi. Anna terus mengajak budhe mengobrol walau pun sama sekali budhe gak meresponnya. Setelah perawat mengatakan kalau waktunya habis, Anna segera keluar dari ruang ICU.


Di luar ICU, Ivanka sama sekali gak menyerah untuk menggoda Bayu.


“Bay, kamu kenapa sih gak pernah menyadari kalo cintaku itu lebih besar dari cinta Anna. Aku rela kok kalau pun kamu mau jadikan aku istri kedua,” ucap Ivanka.


“Jangan mimpi, satu istri aja buat gue udah cukup, dan Anna orang yang tepat untuk gue. Lo, udah berapa kali gue bilang kalau gue gak suka sama lo. Jadi apapun dan bagaimana pun caranya, lo g akan bisa dapetin gue,” balas Bayu tanpa menoleh menatap Ivanka.


“Oke, akan gue buktikan!” seru Ivanka dan itu membuat Bayu geram.


Bayu melihat Anna keluar dari ruang ICU bersama perawat.


“Pak, silakan kalau mau menengok ke dalam,” ucap perawat.


Bayu tampak berpikir, dia ragu kalau meninggalkan Anna bersama Ivanka, karena Anna juga hamil dia takut kalau Ivanka akan nekat dan menyakiti Anna.


“Hmm ... gak perlu, Sus, yang penting istri saya udah masuk dan melihat keadaannya,” balas Bayu menekankan kata istri.


“Yaudah, sayang kita pulang sekarang?” lanjut Bayu bertanya pada Anna.


“Iya, Bang, kasihan nanti kalau anak kita bangun nyari kita,” jawab Anna.

__ADS_1


Ivanka yang mendengar nama anak langsung menatap ke Anna.


‘Oh, ternyata Bayu sama wanita ini udah punya anak, dan sekarang dia juga lagi hamil, gue harus cari tau,’ batin Ivanka.


Setelah berbicara dengan perawat, Anna dan Bayu pun pulang tanpa pamit ke Ivanka.


Mereka segera keluar dari rumah sakit menuju ke parkiran mobil.


Di tempat Ivanka, Ivanka segera menelpon orang suruhannya untuk mencari informasi tentang Bayu dan anaknya. Setelah menelpon, Ivanka segera melihat kondisi papanya.


Di dalam mobil Bayu, Bayu yang udah tau bagaimana watak Ivanka, segera menelpon anak buahnya.


“Halo, saya infokan ke kalian, mulai sekarang ada tugas untuk kalian. Tolong jaga keluarga saya saat keluar rumah tanpa saya. Jangan sampai lepas dari pandangan kalian. Terutama anak saya ya. Dan, tolong awasi wanita yang bernama Ivanka apapun pergerakannya yang mencurigakan segera kasih tau ke saya. Sebentar lagi saya kirim fotonya. Terimakasih,” ucap Bayu dan segera mengakhiri telponnya.


“Kenapa sih, Bang, kok sampai minta tolong anak buah abang?” tanya Anna.


“Abang merasa kalau Ivanka akan melakukan sesuatu yang nekat aja, Sayang. Jaga-jaga kan perlu,” jawab Bayu.


“Tapi nanti Reza pasti merasa tertekan, Bang. Dan, dia gak bisa bebas dia nanti,” kata Anna yang khawatir dengan putranya.


“Sayang, Reza gak akan menyadari kalau dia sedang di jaga. Kamu tenang aja, jangan banyak pikiran. Ingat kamu sedang hamil, Sayang,” balas Bayu lembut pada Anna.


Dan mereka pun sampai di rumah papa. Sesampainya di rumah papa, ternyata Reza udah bangun bahkan udah mandi juga. Reza sedang sama Omanya menonton TV.


“Assalamu’alaikum,” salam Bayu dan Anna serempak.


“Papi, Mami,” panggil Reza. Dan, Mama Dhiya pun mengikuti cucunya keluar rumah untuk menemui Bayu dan Anna. Lalu mereka pun segera masuk ke ruang tengah.


“Reigha dan Shafa belum pulang, Ma?” tanya Bayu.


“Mungkin besok, Bay. Reigha juga belum telpon mama. Mungkin masih sibuk,” jawab Mama Dhiya.


“Iya, Ma, sibuk nempel sama istrinya tuh,” celetuk Bayu sambil ketawa.


“He’em, bener kamu, Bay. Mama juga heran, Reigha sekalinya jatuh cinta langsung bucin banget. Nempel terus kayak perangko,” ucap Mama.


“Iya, Ma, dan gak mandang tempat, di tempat ramai pun nempel aja!” seru Bayu.


“Abang ih, Kak Reigha di sana pasti deh kalau lagi makan tersedak nih, karena diomongin gini,” kata Anna.


“Gimana budhe, Na?” tanya Mama mengubah topik pembicaraan.


“Budhe masuk ICU, Ma, dan kondisinya terus menurun, minta do’anya ya, Ma,” jawab Anna.


“Ya pastilah mama do’akan, Sayang,” balas Mama tersenyum.

__ADS_1


“Eh, kalian mau nginap atau pulang?” lanjut Mama bertanya.


“Ma, kalau pun kami pulang, tinggal lewat pintu penghubung aja udah sampai,” jawab Bayu.


Mama pun tertawa, tak lama kemudian Papa datang dan ikut duduk bersama Mama.


“Kalian dari mana?” tanya Papa.


“Itu, Pa, budhe masuk rumah sakit. Jadi mereka baru pulang dari rumah sakit,” jawab Mama.


“Trus gimana kondisinya budhe?” tanya papa kembali.


Bayu pun segera menceritakan juga tentang masalah Ivanka. Reza yang sedang asyik menonton TV, tampak tak begitu peduli apa yang dibicarakan orang tua dan juga oma opanya.


Di tempat Ayah Reynand, setelah para tamu dan saudara pulang, para tetangga membantu membersihkan rumah dan Ayah mengembalikan perabot yang di pinjam ke para tetangga, para tetangga pun juga pamit pulang. Ibu Khalisa yang udah menyiapkan bingkisan ucapan terima kasih pun segera memberikan ke para tetangga.


Malam harinya, Shafa menghampiri Reigha yang sedang duduk di ruang tamu.


“Mas, kita pulang atau nginap di sini lagi?” tanya Shafa.


“Di sini dulu aja, Sayang, besok pagi kita pulang,” jawab Reigha.


“Si kembar mana, Sayang?” lanjut Reigha bertanya.


“Mereka berdua udah tidur di kamar Ayah, Mas, kecapean sepertinya,” jawab Shafa.


“Yuk yuk sini ... kita ngobrol-ngobrol dulu,” kata Ayah Reynand. Dan mereka pun segera duduk, begitu juga pengantin baru yang ikut duduk bersama orangtua Shafa.


“Ayah ingin ngomong sesuatu. Fa, sekarang adik kamu udah menikah. Ini hanya usul aja kalau kamu keberatan ayah gapapa,” ucap Ayah mengawali obrolan mereka.


“Ada apa, Yah?” tanya Shafa.


“Bagaimana kalau rumah ini biar ditempati sama Anggi dan nak Fathir. Ayah dan Ibu akan tinggal di warung aja,” jawab Ayah.


“Shafa sih sama sekali gak keberatan, Yah. Lagian kalau ayah bolak balik warung ke rumah kan juga capek. Iya ‘kan, Mas? Gimana menurut kamu, Mas?” balas Shafa menoleh pada suaminya.


“Kalau Mas sih terserah Anggi dan Fathir aja. Mas sama sekali gak ada masalah, Sayang,” jawab Reigha.


“Maaf sebelumnya, Ayah, Ibu, Pak Rei—”


“Panggilnya samain kayak Anggi aja, Fathir. Di kantor ataupun di rumah, panggilan tetap sama, jangan pak pak lagi, ya,” titah Reigha.


“Owh, baiklah, Bang,” ucap Fathir mendapat senyuman dari Reigha.


“Jadi begini, sebenarnya sebelum saya mempersiapkan pernikahan, saya udah menyiapkan rumah untuk tempat tinggal kami. Tapi, kalau ayah ingin saya dan Anggi tinggal di sini, saya gak keberatan,” lanjut Fathir menjelaskan dengan sopan.

__ADS_1


“Kalau gitu, trus rumah yang udah Mas Fathir siapkan, gimana?” tanya Anggi.


__ADS_2