Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 14 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Lho, Binar kok di sini?” tanya Mama Dhiya yang baru sadar adanya tamu tak diundang ikut sarapan bersama keluarganya.


“Mau jenguk Reigha aja kok, Tan,” jawab Binar.


“Kamu tau, Reigha sudah menikah?” tanya Papa Harun.


“What?! Menikah? Sama siapa?” Binar kaget. Kemudian, dia berpikir wanita jelek mana yang mau menerima Reigha yang sakit-sakitan ini.


“Om, Tan, wanita mana yang mau sama Reigha? Pasti jelek ya?” tanya Binar menurunkan nada bicara pada akhir kalimatnya.


“Berani sekali kamu menghina anak saya!” seru Mama Dhiya.


“Wanita mana yang gak mau sama Mas Reigha yang tampan ini. Selain tampan, dia juga baik dan bertanggung jawab. Suami idaman sekali bukan?” ucap Shafa yang datang secara tiba-tiba.


Binar menoleh pada sumber suara. Ternyata wanita yang membukakan pintu tadi adalah istri Reigha. Bagaimana bisa? pikirnya.


“Lo istri Reigha?” tanya Binar.


“Saat ini bukan waktunya untuk mengobrol. Jangan sampai karena mengobrol, suami saya telat minum obat. Permisi,” balas Shafa berlalu pergi melewati Binar dan mendekat pada Reigha.


Mama Dhiya yang melihat Shafa melawan Binar, begitu bangga mempunyai menantu seperti Shafa. Mama Dhiya tampak tengah memperhatikan Shafa yang menyuapi Reigha dengan telaten. Begitu lembut perilaku dan tutur kata Shafa dibandingkan Binar.


Sembari menunggu Reigha mengunyah, Shafa mendekat pada Anna. Mengambilkan makanan untuk Anna seraya berkata, “Na, lo masih bisa makan sendiri? Kalau lo gak bisa, tunggu aku nyuapin Mas Reigha dulu, ya.”


“Gue bisa makan sendiri, Fa. Makasih usah ambilin buat gue,” ucap Anna dengan suara yang begitu lemas.


“Shafa, Anna kenapa?” tanya Mama Dhiya.


“Anna demam, Ma. Setelah makan, nanti Shafa ambilkan obat,” jawab Shafa.


Shafa pun kembali menyuapi Reigha hingga habis, kini gantian Shafa yang makan.


Setelah semua selesai makan, Shafa dan Mama Dhiyaa membereskan meja makan sekaligus mencucinya di dapur.


“Fa, Mama mau ucapkan terima kasih karena tadi kamu udah belain Reigha,” ucap Mama Dhiya.


“Shafa gak bisa lihat Mama dan Papa sedih. Shafa udah anggap Mama dan Papa keluargaku juga. Mau gimana pun, Mas Reigha suami kontrakku ‘kan ... yang harus Shafa jaga juga,” balas Shafa tersenyum kecil pada Mama Dhiya.


Setelah selesai membereskan, Shafa dan Mama kembali ke meja makan. Mama duduk di samping Papa, sementara Shafa berlalu ke kamar mengambil obat untuk Reigha dan Anna.

__ADS_1


Bayu tampak memperhatikan Anna yang tampak lemas. Anna menerima obat dari Shafa.


Kemudian Shafa berlalu pada Reigha, menyuapi obat dan memberikan Reigha minum.


“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Binar menatap pada Shafa.


“Bukankah sekarang lagi bicara?” ucap Shafa tak kalah menatap Binar.


“Oke. Lo itu siapa?”


“Suster pribadi sekaligus istri sah Mas Reigha,” jawab Shafa menekan kata ‘sah’ bukan kontrak.


“Oh. Kok lo mau sama Reigha? ‘Kan dia sakit-sakitan?” tanya Binar.


“Emangnya syarat nikah tertera tidak boleh sakit-sakitan? Trus, kalau Mas Reigha sakit, apa gak boleh nikah seumur hidup?” balas Shafa.


Prok...Prok...Prok...


“Keren, Sus. Lanjutkan!” seru Bayu yang merasa hanya suster Shafa-lah yang berani melawan Binar.


Bayu beralih menatap Reigha yang sama sekali tak mau menatap Binar. Kini, Bayu yakin seratus persen, cinta Reigha tulus hanya untuk satu orang, yaitu Shafa.


“Bukan. Om Harun tuh yang nyuruh mereka berdua nikah,” jawab Bayu.


“Kalau mau marah, ke saya. Jangan ke Bayu!” seru Papa Harun.


“Om, tapi om tau sendiri Binar udah lama pacaran sama Reigha, udah bertahun-tahun malah,” ucap Binar.


“Hmm ... pacaran bertahun-tahun cuma jagain jodoh saya, kok kayak gak ada kerjaan banget, ya!” celetuk Shafa.


“Mau sampai kapan disini pasang muka? Apa gak malu sama calon mertua gak jadi yang lagi duduk disana memperhatikan anda?” lanjut Shafa.


“Binar, kamu lebih baik keluar dari sini. Kamu katanya mau jenguk Reigha. Tapi, kamu malah menghinanya. Dan, sekarang kamu kena sendiri ‘kan akibat menghina Reigha!” seru Mama Dhiya.


“Reigha udah punya pasangan tuh. Kamu jangan berani deketin Reigha lagi,” imbuh Papa Harun.


“Aduh, kalau gue malu sih diusir gitu,” sindir Bayu.


“Mbak, kalau saya jadi mbaknya sih langsung lari keluar karena ga ada muka lagi. Udah deh, relain aja mantan mbak sama istrinya. Lagian, Mantan mbak aja udah punya pasangan, masa mbak masih gamon,” sambung Anna yang menyangka ada orang seperti itu.

__ADS_1


Padahal, dulu adalah pacarnya, sekarang malah menghina. Mau heran, tapi ini mantan Reigha, pikir Anna.


“Anna, kamu selesai di sini langsung masuk kamar istirahat, ya. Ma, Pa, Shafa mau ke kamar antar Mas Reigha biar istirahat. Oh iya, Bayu, tolong usir virus yang masih ada di sini, ya takutnya nular ke Anna,” ucap Shafa berlalu pergi mendorong kursi roda Reigha menuju kamar.


Sesampainya di kamar, Shafa memindahkan Reigha dari kursi ke atas kasur.


“Sayang, kamu jago banget ngomong sama Binar. Belajar darimana?” tanya Reigha.


“Udah deh, Mas. Aku tuh tadi Cuma mau belain kamu. Gak terima dong kalau suamiku dihina seperti tadi,” jawab Shafa.


“Tadi kamu bilang, aku tampan. Itu suatu pembelaan atau kenyataan?” tanya Reigha kembali.


“Kan emang tampan. Dulu aja di rumah sakit, aku tersepona melihat kamu. Tapi, dulu,” jawab Shafa.


“Terpesona kali, Sayang. Tapi, kok dulu? Sekarang gak dong?”


“Udah tau sih, cuma diplesetin dikit tadi. Sekarang ‘kan udah jadi suaminya aku jadi gak terlalu terpesona kayak dulu,” balas Shafa menahan senyumnya.


Reigha tak habis-habis menggoda istrinya, hingga membuat pipi Shafa merona.


Sementara di ruang tamu, Papa dan Mama mengobrol dengan Bayu, Anna, dan juga Binar yang tak kunjung pergi walau sudah diusir.


“Om, Tan, Reigha kok gak dibawa keluar kamar lagi sih?” tanya Binar.


“Bebas kali. ‘kan suami istri, ngapa lo yang sewot!” seru Bayu.


“Binar, kamu pulang aja sana!” usir Mama Dhiya.


“Tapi, Tan—“ balas Binar. Namun, belum sempat melanjutkan ucapannya, Mama Dhiya langsung menyambar.


“Reigha gak akan keluar kamar lagi, Binar. Kalau kamu gak pulang-pulang, nanti Shafa yang keluar dan ngusir kamu secara halus,” sambar Mama Dhiya yang tetap tak diindahkan oleh Binar.


Binar tetap saja duduk diam dan begitu santai tanpa mendengarkan orang-orang yang sudah mengusirnya sejak tadi.


“Om, mending suruh Reigha ceraikan cewek itu deh!” seru Binar.


“Makanya, siapa suruh putusin Reigha pas lagi sakit. Alhamdulillah Allah memberikan pengganti yang sangat amat baik buat anakku,” ucap syukur Mama Dhiya membuat Binar semakin panas.


Tak lama, setelah Reigha tertidur, Shafa pun keluar kamar.

__ADS_1


“Lho, Ma, Pa ... kok dia belum pulang?” tanya Shafa.


__ADS_2