Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 39 - S2 Menikahi Susterku


__ADS_3

Seketika Reigha dan Daviandra menoleh dan melihat Daviana pingsan.


“Nai,” lirih Reigha yang segera mendekat ke Daviana dan segera menidurkan ke tempat tidur.


“Sekarang lo pulang dan jangan sekali-kali kamu berani masuk rumah ini lagi tanpa izin!” seru Daviandra.


Calvin pun segera keluar tanpa mempedulikan keadaan Daviana.


Calvin segera keluar menuju ke rumah sakit melihat kondisi orang tuanya.


Daviandra segera menelpon dokter, sementara Shafa dan Reigha masih berada dekat dengan Daviana.


Tak lama kemudian, nampak Daviana akan sadar dari pingsannya.


“Ehhmm....” lirih Daviana dan terbangun.


Shafa yang melihat Daviana sadar pun segera memberikan minum.


“Minum dulu, Nak,” titah Shafa.


Daviana pun meminumnya dan saat melihat Reigha, Daviana segera menjerit.


“Aaakhh ... Ma, tolong, Ma ... Nai takut,” lirih Daviana yang tampak ketakutan.


“Sayang, ini papa, Nak, kenapa sama papa takut?” tanya Reigha.


“Ma, mama tolong suruh pergi, Ma. Nai takut, Ma,” kata Daviana yang menangis ketakutan.


“Pa, papa keluar dulu ya, sepertinya Nai trauma,” ucap Shafa.


Reigha pun segera keluar dari kamar Daviana. Namun, saat akan akan menutup pintu, tiba-tiba Daviandra masuk.


Daviana pun kembali histeris.


“Ma ... mama tolong Nai, Ma ... Nai takut,” lirih Daviana sembari menangis.


“Dra, tolong kamu keluar dulu, Nak ... adik kamu takut melihatmu, Sayang,” kata Shafa.


Daviandra pun bingung. Tapi langsung keluar menuruti apa kata mamanya.


Shafa pun memeluk Daviana sambil mengusap rambut putrinya dengan lembut.


“Nai, Sayang ... kamu tenang ya, Nak. Kamu aman, Sayang, tidak ada yang menyakitimu,” ucap Shafa.


Tak lama kemudian, dokter pun datang.


Tok...Tok...Tok...


“Selamat pagi,” sapa Dokter.


“Pagi, Dokter. Silakan memeriksa putri saya,” balas Shafa.


“Baik, Bu.” Dokter pun segera mendekat pada Daviana.

__ADS_1


“Ma, mama jangan keluar ya, Ma ... Nai takut,” kata Daviana.


“Iya, Sayang, mama akan selalu di dekat kamu kok,” ucap Shafa sembari mengelus rambut putrinya.


Setelah dokter memeriksa, dokter pun keluar. Shafa yang penasaran pun ingin menanyakan kondisi putrinya.


“Sayang, kamu di sini dulu ya, mama ambilkan kamu makan,” kata Shafa.


“Tapi, Nai takut, Ma ... mama jangan kemana-mana,” balas Daviana yang memegang erat tangan mamanya.


“Iya, Sayang ... mama gak ke mana-mana kok. Mama cuma mau ambilkan makan untuk kamu. Nai belum makan kan?” ucap Shafa.


Daviana pun mengangguk dan membiarkan Shafa pergi.


Shafa yang melihat Daviana meringkuk ketakutan pun gak tega sebenarnya. Tapi, Shafa ingin mendengar penjelasan dokter. Shafa pun akhirnya keluar dari kamar Daviana.


Shafa yang udah sampai luar kamar, ternyata udah ditunggu Reigha, Daviandra dan Dokter. Setelah udah kumpul, baru lah dokter menjelaskan kondisi Daviana.


“Maaf sebelumnya Pak, Bu ... mbak Daviana setelah saya periksa secara fisik, kondisinya baik-baik saja tidak ada luka yang serius, hanya kedua tangannya memar. Tapi, luka yang serius adalah psikisnya, Pak, Bu ... mbak Daviana sangat syok dan trauma dengan kejadian yang baru saja dialami olehnya, mentalnya sangat down untuk saat ini,” tutur dokter menjelaskan.


“Ya Allah, Putriku ... trus, apa yang bisa kami lakukan, Dokter?” tanya Reigha.


“Sebaiknya mbak Daviana dibawa atau dipanggilkan dokter psikiater, Pak,” jawab dokter.


“Baiklah kalau begitu, Dokter, saya akan segera menghubungi dokter yang anda maksud,” balas Reigha.


“Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu. Mari, Pak, Bu ... selamat pagi,” ucap dokter berpamitan.


“Pagi, Dokter,” balas Shafa dan Reigha juga Andra bersamaan.


“Pa, Andra lagi gak nafsu makan, Pa. Andra akan nemuin Vilia dan antar sekolah aja,” balas Daviandra.


“Kamu makan ya, Nak, sedikit aja nanti kamu sakit,” ucap Shafa.


“Mama, mana bisa aku makan kalau adikku sedang ketakutan melihat aku, Ma,” kata Daviandra yang menangis memeluk Shafa.


Shafa pun menangis dan membalas pelukan putranya.


“Udah-udah ... sekarang jangan nampakkan sedih kita di hadapan Nai, kasian nanti ... kita semua harus suport Naima, ya,” titah Reigha.


“Iya, Pa,” balas Shafa dan Andra serempak.


“Papa ke rumah papi dulu,” ucap Reigha berpamitan segera melangkah lewat pintu samping sedangkan Andra dan Shafa menuju ke ruang makan.


Shafa mengambilkan makanan untuk Naima sedangkan Andra menemani Vilia sarapan.


“Kalian dari mana aja sih, lama banget, nanti Vilia terlambat,” gerutu Vilia.


“Mas udah siap nih antar kamu, ayo cepetan makannya,” balas Daviandra.


“Ma, itu makanan buat siapa?” tanya Villia melihat mamanya sibuk menyiapkan makanan di atas piring kosong.


“Untuk kakak kamu, Nak. Kamu cepat berangkat ya, hati-hati di sekolah, belajar yang pintar. Mama ke kamar kakak kamu dulu,” balas Shafa.

__ADS_1


“Iya, Ma.” Vilia segera mengejar langkah Shafa untuk mencium punggung tangan mamanya, setelah itu dia segera minum lalu mengajak Daviandra berangkat.


“Mas, ayo kita berangkat. Tapi, kita ke depan rumah papi ya ... Kak Almerra udah menunggu,” ucap Vilia.


“Siap tuan putri kecil,” balas Daviandra.


Sementara di rumah Bayu, Reigha langsung masuk sambil memanggil-manggil Bayu.


“Bay, Bay ... Assalamu’alaikum, Bay!” teriak Reigha.


“Iya, Gha. Wa’alaikumussalam ... kenapa sih? Kok sepertinya lo panik?” tanya Bayu.


“Bay, tolong lo carikan dokter terbaik untuk putriku,” pinta Reigha tanpa menjawab pertanyaan Bayu.


“Kak, Bang ... ada apa ini?” tanya Anna.


“Gak tau nih, Sayang. Reigha belum cerita. Ada apa, Gha, ayo duduk dulu,” balas Bayu yang menyuruh Reigha untuk menceritakan terlebih dahulu.


“Tadi pagi tiba-tiba Calvin datang, dan dia langsung masuk kamar Daviana. Trus Calvin tuh akan memperkosa putriku,” lirih Reigha menitikan air mata.


“Astagfirullah ... trus gimana keadaan Naima sekarang, Kak?” tanya Anna.


“Nai sekarang trauma, tiap melihat laki-laki, dia akan ketakutan biarpun itu gue ataupun Andra,” jawab Reigha tampak sedih.


“Ya Allah ... Naima,” lirih Anna.


“Bang, Anna ke rumah kak Reigha, ya. Anna khawatir sama Nai,” kata Anna berpamitan.


“Iya, Sayang ... Almeera apa udah berangkat?” tanya Bayu.


“Udah kok, Bang. Tadi berangkat sama Andra dan Vilia. Anna ke Shafa ya, Bang,” jawab Anna yang kembali berpamitan.


Bayu pun mengagguk tanda menyetujui. Setelah sepeninggalan Anna, Bayu dan Reigha pun kembali ke obrolan awal.


“Gha, gue telpon dokter Renita dulu ya, dia dokter kejiwaan,” kata Bayu.


“Baiklah, suruh langsung ke rumah aja ya, Bay,” balas Reigha.


“Oke, Gha, lo tunggu di rumah aja, nanti gue ke sana sama dokter Renita. Gue tunggu dia datang dulu,” ucap Bayu.


“Oke, Bay. Gue pulang ya!” seru Reigha, dan diangguki Bayu.


Sesampainya di rumah, Reigha segera menuju ke kamar Daviana.


Reigha hanya berdiri di depan pintu kamar, Reigha takut kalau Daviana kembali histeris lagi jika melihat dirinya.


Tak lama kemudian, Bayu pun datang bersama dokter Renita.


“Assalamu’alaikum, Gha, kenalin ini dokter Renita,” ucap Bayu.


“Selamat siang, Dokter, kenalkan saya Reigha kakaknya Bayu,” sapa Reigha memperkenalkan diri.


“Siang, Pak Reigha, saya Renita teman kuliah Bayu,” balas dokter Renita.

__ADS_1


“Silakan masuk, Dokter, istri saya dan istri bayu ada di dalam,” kata Reigha mempersilakan.


__ADS_2